Jilid1 Api Di Bukit Menoreh terbit pada tahun 1968 dan terus berlanjut sampai terpaksa berhenti karena SH Mintardja menutup mata pada 18 Januari 1999 dalam usia 65 tahun. Awal membaca ADBM adalah dengan menyewa bukunya di kios pinggir jalan di Kota Purwokerto. Di sana pula buku silat Asmarawan S Kho Ping Hoo dan berbagai cerita komik Iniadalah Thread ane yang pertama. Semoga agan-agan dapat menerima. Ane sejak kecil hobi baca. Mulai dari komik, novel sampe e-book sekarang ini. Terutama ane hobi baca cerita silat. Dari cerita silat jawa sampai cerita silat cina. dari komik lama sampe komik-komik baru seperti Kungfu Boy, Long Hu Men. Nah.. kali ini ane mau share cerita silat jawa Apidi Bukit Menoreh (3), halaman 1/54 Api di Bukit Menoreh Seri 3 S.H. Mintardja “Nah, katakan, siapa engkau?” ulang Widura. Orang itu seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan kemudian ia bertanya kepada Agung Sedayu. RelawanHILMI-FPI Masih Tetap Bertahan di Lokasi Bencana Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Bogor. Berikut update korban : 3 orang meninggal dunia, 3 orang terluka dalam peristiwa banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di APIDI BUKIT MENOREH 2. Seperti yang terdahulu, saya ketengahkan ceritera ini dengan harapan yang sama. Ceritera yang dicari dibumi sendiri bertolak pada sifat manusia, dengki, iri, nafsu, cita2 namun juga cinta Yang melahirkan segala macam peristiwa, pertentangan, pertengkaran, perang, tetapi juga tuntutan keadilan dan kebenaran. Penulis RIWAYATAPI DI BUKIT MENOREH. Tulisan ini bukan mengulas tentang isi maupun maksud tujuan SH Mintardja membuat cerita panjang mengenai tokoh-tokoh fiksi yang dikisahkan hidup di awal berdirinya kerajaan Mataram Islam. Ini hanya tentang bagaimana awalnya saya mengenal, tertarik, mengoleksi dan merawat buku seri ADBM sejak beberapa Kitaharus berdaya upaya agar pedang ini jatuh ke tangan pendekar yang layak menerimanya. 331. agar sepasang pedang ini dapat dipergunakan untuk menentang kejahatan. Setidaknya sebuah di antara kedua pedang ini, harus jatuh ke tangan orang yang layak.”. Isterinya mengangguk, “Engkau benar. Selama70 jilid, Agung Sedayu dan Swandaru mengikuti gurunya Kiai Gringsing untuk memperdalam ilmu dengan mengembara hingga ke Menoreh dan bahkan singgah ke Mataram. Ilmu Kanuragan Agung Sedayu masih sederhana dan belum mendalam, perbedaannya dengan Swandaru juga maih belum seberapa. Tetapi, ketika konflik mulai memuncak, pertarungan Apidi bukit Menoreh oleh: Mintardja, S.H Terbitan: (1993) Api di Bukit Menoreh oleh: Mintardja Terbitan: (2001) Api bukit menoreh I : jalan simpang oleh: MINTARDJA, S.H Terbitan: (1992) Api di bukit Manoreh oleh: Mintardja Terbitan: (1997) Opsi Pencarian AyatAyat Cinta Novel Pembangun Jiwa Karya Habiburrahman Saerozi Alumnus Universitas Al Azhar, Cairo 1. Gadis Mesir Itu Bernama Maria Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai Beli2016 Honda MOBILIO RS 1.5 C2D4000 di Carsome Indonesia Official Store. Promo khusus pengguna baru di aplikasi Tokopedia! Download Tokopedia App. Tentang Tokopedia Mitra Tokopedia Mulai Berjualan Promo Tokopedia Care. Kategori. Masuk Daftar. meja kayu tempered glass iphone 11 new. 387 -Api-di-Bukit-Menoreh. by isra khoiri Nasution. Download Free PDF Download PDF Download Free PDF View PDF. Keris Kyai Setan Kober. by Namunyang cukup berbeda adalah pertempuran di Api di Bukit Menoreh tidak selalu pertempuran klasik antara baik dan jahat. Pada perang antara Pajang dan Mataram, meskipun ada beberapa tokoh jahat namun perang itu terkesan "sopan", karena Mataram yang masih menghormati Pajang. Juga perang antara Mataram dan Madiun, yang juga perang Apidi Bukit Menoreh. 857 likes · 3 talking about this. Book TerusanApi Di Bukit Menoreh Historical Fiction. Lanjutan Api Di Bukit Menoreh #fiksisejarah. Terusan ADBM Jilid 410 7.3K 44 1. oleh AbdulQadir2016. oleh AbdulQadir2016 Ikuti. Bagikan. Post to Your Profile Share via Email NhdN6SD. ♦ 15 Juli 2010 Tetapi sebelum Agung Sedayu sempat menyerang, tiba-tiba saja Ki Tumenggung itu bagaikan melayang dengan kaki terjulur lurus menyamping menyambar keningnya. Agung Sedayu terkejut. Dengan cepat ia memiringkan tubuhnya untuk mengelakkan sambaran kaki Ki Tumenggung. Tetapi adalah di luar dugaannya bahwa demikian cepatnya Ki Tumenggung Wimbasara mengayunkan tangannya menebas ke samping. Agung Sedayu terlambat mengelak. Kecepatan gerak Ki Tumenggung Wimbasara melampaui gerak Agung Sedayu, sehingga tangan Ki Tumenggung-lah yang kemudian menyambar kening. Agung Sedayu terhuyung-huyung sejenak. Keningnya serasa terbentur sebongkah batu hitam. Sekilas matanya menjadi kabur. Namun Agung Sedayu bukan kebanyakan orang. Dengan menghentakkan daya tahannya, maka Agung Sedayu segera menguasai keseimbangannya kembali. Namun ketika serangan berikutnya datang, Agung Sedayu meloncat mengambil jarak. Kecepatan gerak Ki Tumenggung Wimbasara memang luar biasa. Meskipun Agung Sedayu sudah mengambil jarak, namun dalam sekejap kemudian serangannya telah menghambur memburu Agung Sedayu. Kaki Ki Tumenggung sekali lagi terjulur ke arah dada Agung Sedayu. Agung Sedayu memang tidak mengelak. Namun waktu yang sekejap itu sudah cukup baginya untuk mengembangkan ilmu kebalnya. Karena itu, maka serangan Ki Tumenggung berikutnya seakan-akan tidak lagi menyakitinya. Ki Tumenggung-lah yang kemudian terkejut. Tetapi orang berilmu tinggi itu pun segera menyadari bahwa lawannya yang muda daripadanya itu memiliki ilmu kebal. “Luar biasa, Ki Lurah,” berkata Ki Tumenggung, “kau sempat mengembangkan ilmu kebalmu untuk melindungi dirimu.” Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia sadar bahwa Ki Tumenggung itu juga memiliki ilmu kebal dari jenis apapun juga. Mungkin Aji Lembu Sekilan sebagaimana dimiliki oleh lawannya kemarin. Tetapi mungkin juga Aji Tameng Waja, atau bahkan yang sebelumnya belum dikenalnya. Dengan demikian, maka pada pertempuran berikutnya kedua orang itu sudah berada pada tataran yang semakin tinggi. Seperti yang diduga oleh Agung Sedayu, orang itu pun memiliki ilmu kebal, sehingga sebagaimana serangan-serangan lawannya yang seakan-akan tidak dapat mengenai sasarannya, demikian pula serangan-serangan Agung Sedayu. Namun keduanya berusaha untuk meningkatkan ilmu mereka dan berusaha untuk menembus ilmu kebal lawan masing-masing. Tetapi kedua belah pihak telah meningkatkan ilmu kebal mereka pula. Dengan demikian, yang terjadi kemudian seakan-akan adalah sekedar benturan-benturan ilmu yang tidak berkesudahan. Namun keduanya adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Ketika keduanya menghentakkan kemampuan mereka dilambari dengan tenaga dalam yang terungkap sampai tuntas, maka serangan-serangan mereka mulai mengguncangkan ilmu kebal masing-masing. Namun justru karena itu, Ki Tumenggung Wimbasara tidak lagi mempercayakan diri kepada ilmu kebalnya. Ketika Agung Sedayu berhasil mengayunkan tangannya dan mengenai pundak Ki Tumenggung, maka Ki Tumenggung telah merasakan betapa kekuatan yang sangat besar dari Lurah prajurit Mataram itu dapat menggoyahkan ilmu kebalnya. Namun demikian kaki Ki Tumenggung menyapu betis Agung Sedayu dengan kekuatan yang luar biasa, maka Agung Sedayu seakan-akan telah tergelincir jatuh. Meskipun dengan cepat ia sempat meloncat bangkit, namun Agung Sedayu sadar bahwa ilmu kebalnya telah digoyahkan oleh lawannya. Bahkan udara yang menjadi panas di saat Agung Sedayu meningkatkan ilmu kebalnya sampai ke puncak, sama sekali tidak mempengaruhi lawannya sama sekali. Dalam pada itu, Ki Tumenggung tidak saja bertumpu pada ilmu kebalnya. Dalam pertempuran yang terjadi kemudian, Ki Tumenggung sempat membingungkan Agung Sedayu. Seakan-akan Ki Tumenggung Wimbasara itu setiap kali lenyap dari tempatnya. Namun tiba-tiba sebuah serangan datang dari arah yang tidak diduganya, dengan kekuatan yang kemampuan yang sangat tinggi, sehingga mampu menembus ilmu kebal Agung Sedayu. Beberapa kali Agung Sedayu harus menyeringai menahan sakit. Bahkan kulit dan dagingnya mulai terasa menjadi memar. Namun bukan hanya Agung Sedayu saja-lah yang menjadi kesakitan. Lawannya yang memiliki ilmu yang sangat tinggi dan pengalaman yang sangat luas pun setiap kali harus menahan desah di mulutnya. Perasaan nyeri dan sakit rasa-rasanya telah menembus sampai ke tulang. Agung Sedayu yang menyadari bahwa lawannya mampu bergerak demikian cepatnya sehingga sulit diikuti dengan penglihatan mata wadag, telah memaksa Agung Sedayu menerapkan ilmunya meringankan tubuhnya untuk mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Sementara itu, untuk mengetahui lawannya di setiap saat agar tidak lepas dari pengamatannya, Agung Sedayu telah menerapkan ilmunya Sapta Panggraita. Meskipun lawannya seakan-akan hilang dari penglihatannya tetapi Agung Sedayu tetap mengetahui di mana lawannya itu berada. Kemampuan Agung Sedayu itu benar-benar di luar dugaan Ki Tumenggung Wimbasara. Seorang Lurah prajurit yang terhitung masih muda, ternyata sudah memiliki ilmu yang luar biasa. Para prajurit dari Pati dan para prajurit Mataram yang menyertai Panembahan Senapati memasuki halaman istana itu berdiri mematung di tempatnya. Pertempuran yang terjadi benar-benar merupakan pertarungan dua kemampuan yang sangat tinggi. Kedua orang itu mampu bergerak dengan cepat, sehingga kadang-kadang mereka terlambat mengikuti apa yang terjadi. Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Agung Sedayu seakan-akan tidak menyentuh tanah. Sekali-sekali tangannya mengembang sambil bergerak bagaikan mengambang di udara. Sementara itu, Ki Tumenggung Wimbasara setiap kali seakan-akan hilang dari tempatnya berdiri. Namun tiba-tiba saja serangannya segera melibat lawannya seperti badai. Namun Agung Sedayu setiap kali mampu menghindar dengan kecepatan yang tidak kasat mata. Pertempuran itu pun berlangsung beberapa lama. Keduanya saling menyerang dan saling bertahan. Sekali-sekali mereka menghindar, tetapi kadang-kadang mereka dengan sengaja menangkis serangan-serangan itu sehingga terjadi benturan-benturan. Namun pertempuran dengan mengandalkan kecepatan gerak itu tidak segera dapat mereka selesaikan. Jika sekali-sekali serangan mereka menyusup pertahanan lawan dan bahkan menembus ilmu kebal mereka masing-masing, ternyata bahwa serangan itu tidak pernah berhasil melumpuhkan lawan. Karena itu, keduanya pun kemudian telah berpaling kepada kemampuan mereka yang lain. Mereka tidak lagi mengandalkan kepada kecepatan bergerak semata-mata. Tetapi mereka juga mulai mengembangkan tenaga dalam yang mereka ungkapkan sampai ke dasar. Dengan demikian, gerak mereka nampaknya menjadi semakin lamban. Tetapi setiap gerak selalu memancarkan tenaga yang sangat besar. Jika kemudian terjadi benturan-benturan, maka kedua-duanya kadang telah terdorong surut. Serangan yang sangat kuat dilandasi dengan tenaga dalam yang sangat besar telah melemparkan Agung Sedayu beberapa langkah surut. Serangan yang menyusul kemudian, telah menghantam dada Agung Sedayu. Hanya karena Agung Sedayu dilindungi dengan ilmu kebalnya saja-lah, maka iga-iganya tidak rontok di dalam dadanya. Meskipun demikian Agung Sedayu yang belum berhasil berdiri dengan mapan, telah terlempar dan terbanting jatuh di tanah. Beberapa kali Agung Sedayu berguling. Sementara itu Ki Tumenggung Wimbasara telah meloncat memburunya. Namun Agung Sedayu yang masih menerapkan ilmunya meringankan tubuh, dengan kecepatan yang tidak kasat mata telah berdiri tegak dan siap menghadapi serangan Ki Tumenggung Wimbasara. Karena itu, ketika serangan itu benar-benar datang, Agung Sedayu telah bersiap untuk menghadapinya. Yang terjadi kemudian adalah satu benturan ilmu yang keras. Dua kekuatan yang sangat besar telah saling mendera. Orang-orang yang menyaksikannya menjadi semakin tegang. Panembahan Senapati bahkan sempat menahan nafas sejenak. Serangan Ki Tumenggung Wimbasara yang datang bagaikan angin prahara itu telah membentur pertahanan Agung Sedayu yang kokoh, seperti batu karang yang tegak di tebing yang menghadap ke lautan yang ganas. Ternyata kedua orang yang telah membenturkan kekuatan dan kemampuan mereka itu pun sama-sama telah terguncang. Keduanya telah tergetar dan terdorong surut beberapa langkah. Meskipun keseimbangan mereka goyah, namun keduanya masih mampu bertahan sehingga keduanya tetap berdiri tegak. Namun kedua-duanya merasa betapa dada mereka menjadi nyeri. Untunglah bahwa kedua-duanya telah melindungi diri mereka dengan ilmu kebal dan ketahanan tubuh yang tinggi, sehingga mereka masih tetap mampu untuk bertempur. Namun keduanya tidak ingin bertempur lebih lama lagi. Keduanya adalah prajurit yang utuh. Karena itu, mereka pun telah bersiap melakukan perang tanding sampai tuntas, apapun yang bakal terjadi atas dirinya. Karena itu, ketika semua kemampuan telah tertumpah namun mereka masih belum melihat akhir dari perang tanding itu, maka Ki Tumenggung Wimbasara sampai pada keputusan untuk membuat penyelesaian terakhir. Tetapi sebagai seorang prajurit, ia tidak ingin memenangkan perang tanding dengan cara yang tidak terhormat. Apalagi lawannya adalah seorang Lurah yang masih terhitung muda. Karena itu, sesaat kemudian Ki Tumenggung Wimbasara itu pun kemudian berkata lantang, “Ki Lurah. Ternyata kemampuan Ki Lurah berada jauh di atas dugaanku. Dengan demikian, aku harus mengakui bahwa Ki Lurah sampai tataran ini mampu mengimbangi ilmuku. Karena itu aku tidak mempunyai pilihan lain. Karena perang tanding ini harus berakhir, maka aku ingin memperingatkan Ki Lurah bahwa aku akan menapak pada ilmu simpananku. Kecuali jika Ki Lurah berniat mengakhiri pertempuran ini.” “Maksud Ki Tumenggung?” bertanya Agung Sedayu. “Jika Ki Lurah mengaku kalah untuk menghindari akibat terburuk yang dapat terjadi karena ilmu simpananku, maka aku tidak akan mempergunakannya. Kewajibanku kemudian adalah perang tanding melawan Panembahan Senapati.” Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, “Bagaimana jika aku ingin menanggapi ilmu simpanan Ki Tumenggung dengan ilmu pamungkas yang pernah aku warisi dari guruku?” Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Dengan nada berat ia bertanya, “Apakah Ki Lurah tahu, apa yang aku maksud dengan ilmu simpananku?” “Ki Tumenggung,” jawab Ki Lurah Agung Sedayu, “kita sudah menjajagi kemampuan kita masing-masing. Tentu aku tahu apa yang Ki Tumenggung maksudkan, sebagaimana Ki Tumenggung juga mengetahui apa yang aku maksud dengan ilmu pamungkasku.” Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Bersiaplah. Aku hanya bermaksud untuk memperingatkanmu, karena aku tidak ingin disebut licik karena aku dianggap tiba-tiba saja menyerangmu.” “Aku hargai sikap Ki Tumenggung. Aku tahu bahwa Ki Tumenggung adalah seorang prajurit.” Ki Tumenggung Wimbasara itu pun kemudian telah mempersiapkan diri. Setelah bertempur beberapa lama dan agaknya akan berlangsung tanpa berkesudahan, maka Ki Tumenggung benar-benar ingin mengakhiri pertempuran itu. Sementara itu Agung Sedayu pun telah bersiap pula. Sebagai seorang yang memiliki berbagai macam ilmu, maka Agung Sedayu telah menghimpun semua tenaga dan kekuatannya. Dengan memusatkan nalar dan budinya, Agung Sedayu siap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam benturan puncak ilmunya dengan ilmu simpanan lawannya. Agung Sedayu masih menerapkan ilmu kebal untuk menghambat kemampuan ilmu lawannya. Dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya, serta mengangkat tenaga dalamnya sampai ke dasar untuk mendukung kekuatan ilmunya, maka Agung Sedayu berdiri tegak menghadap ke arah lawannya. Sementara Ki Tumenggung Wimbasara, saudara seperguruan Kanjeng Adipati Pragola telah membangunkan ilmu simpanannya. Ki Tumenggung itu telah menggosokkan kedua telapak tangannya yang terkatup itu. Semakin lama semakin tebal. Bahkan warnanya pun kemudian menjadi kemerah-merahan. Sementara itu Agung Sedayu pun telah siap pula melepas ilmu pamungkasnya. Dengan tajamnya dipandanginya telapak tangan Ki Tumenggung Wimbasara. Agung Sedayu mengerti bahwa Ki Tumenggung akan melepaskan ilmu simpanannya dari telapak tangannya. Sebenarnyalah, sesaat kemudian Ki Tumenggung telah mengangkat tangan kanannya. Ketika ia mengayunkan tangannya untuk melontarkan ilmunya, Agung Sedayu melihat seleret sinar yang kemerah-merahan meloncat dari telapak tangan Ki Tumenggung. Bersamaan dengan itu, dari kedua mata Agung Sedayu pun telah memancar kekuatan aji pamungkasnya, membentur serangan Ki Tumenggung Wimbasara. Namun jantung Agung Sedayu terasa berdesir. Demikian ia melepaskan ilmunya dengan lambaran segenap kekuatan dan kemampuannya, barulah ia menyadari bahwa ia melihat keragu-raguan pada gerakan tangan Ki Tumenggung Wimbasara. Namun semuanya sudah terjadi. Agung Sedayu terlambat menyadari. Karena itu, ketika benturan itu terjadi, maka akibatnya sangat mendebarkan. Sebenarnyalah, pada saat terakhir Ki Tumenggung Wimbasara memang menjadi sedikit ragu. Lawannya, Lurah prajurit Mataram itu, masih terhitung muda. Jika ia mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatan ilmunya, maka Lurah prajurit Mataram yang masih terhitung muda itu akan dapat menjadi lumat karenanya. Karena itu, pada saat terakhir, Ki Tumenggung Wimbasara sedikit mengekang ilmunya yang telah diluncurkannya. Namun hal itu berakibat sangat buruk bagi Ki Tumenggung Wimbasara. Ia tidak menyadari betapa tinggi ilmu Agung Sedayu. Karena itu, ilmunya yang dilontarkannya dengan sedikit ragu itu telah membentur puncak ilmu Agung Sedayu, yang meluncur dilambari dengan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya. Karena itulah, maka gelombang balik yang terjadi karena benturan itu telah menghantam Ki Tumenggung Wimbasara, yang justru sedang mengekang ilmunya yang telah meluncur. Getaran gelombang balik dari benturan itu, didorong oleh kekuatan yang dahsyat dari kekuatan ilmu Agung Sedayu, telah menghentak dan menghantam tubuh dan bahkan bagian dalam dada Ki Tumenggung Wimbasara. Dengan demikian, Ki Tumenggung Wimbasara itu pun telah terlempar beberapa langkah surut. Tubuhnya terbanting di tanah dengan derasnya. Beberapa kali ia telah berguling. Namun Ki Tumenggung tidak mampu lagi untuk bangkit berdiri. Bahkan seisi dadanya rasa-rasanya telah meledak dan pecah berserakan. Karena itulah, nafas Ki Tumenggung menjadi sesak. Pandangan matanya menjadi kabur. Beberapa orang prajuritnya segera berlari menghambur mengelilinginya. Seorang Eangga berjongkok di sampingnya sambil menggeram, “Kami akan menuntut balas kematian Ki Tumenggung.” Tetapi Tumenggung Wimbasara berkata perlahan sekali, “Tidak. Jangan. Tidak akan ada artinya lagi.” “Kesetiaan kami akan kami buktikan. Kami akan menyeret korban sebanyak-banyaknya di antara orang-orang Mataram itu.” Ki Tumenggung menggeleng lemah. Katanya, “Ternyata kesetiaan tidak selalu diujudkan dengan bela pati.” Para prajurit Pati itu termangu-mangu. Sementara Ki Tumenggung berkata, “Aku kagumi kemampuan Lurah prajurit itu.” Para prajurit Pati masih saja termangu-mangu. Sementara itu keadaan Ki Tumenggung menjadi semakin parah. Darah mulai mengalir dari sela-sela bibirnya. Namun ia masih berkata, “Jika aku tidak lagi dapat bertahan, maka kalian-lah yang harus mengatakan kepada Panembahan Senapati, bahwa Kanjeng Adipati Pragola sudah tidak ada di istana ini lagi. Tetapi katakan pula satu permohonan, agar Panembahan Senapati dapat mengendalikan prajurit-prajuritnya untuk tidak merusak dan menghancurkan istana ini.” Para prajuritnya mengangguk-angguk. Sejenak Ki Tumenggung terdiam. Nafasnya menjadi semakin sesak. Dengan suara yang sangat lemah ia berkata, “Salamku kepada Ki Lurah itu. Aku ternyata gagal untuk melakukan perang tanding melawan Panembahan Senapati.” Para prajurit Pati itu tidak sempat menjawab. Ki Tumenggung itu pun kemudian telah menutup matanya. Sementara itu, Agung Sedayu pun terbaring dengan lemahnya. Panembahan Senapati dan Ki Patih Mandaraka berlutut di sampingnya, sementara Pangeran Mangkubumi mengamati keadaan. Ia tidak boleh lengah. Masih ada sekelompok prajurit Pati di seputar tubuh Ki Tumenggung Wimbasara. “Kau harus bertahan Agung Sedayu,” desis Panembahan Senapati yang menjadi berdebar-debar melihat keadaan Agung Sedayu. “Ampun Panembahan,” berkata Agung Sedayu, “hamba mohon Panembahan mengambil sebutir obat di kantong ikat pinggang hamba yang sebelah kanan.” Panembahan Senapati pun melakukannya sebagaimana diminta oleh Agung Sedayu. Diambilnya sebutir obat yang berada di dalam sebuah bumbung kecil yang disimpannya di kantong ikat pinggangnya yang besar. Agung Sedayu itu pun berusaha untuk membuka bibirnya, sehingga Panembahan Senapati sempat memasukkan sebutir obat itu di dalam mulutnya. Obat itu pun seakan-akan telah mencair dan mengalir lewat kerongkongan Agung Sedayu. Namun demikian, keadaan Agung Sedayu masih tetap mencemaskan mereka yang mengerumuninya. Ki Patih Mandaraka bahkan menjadi sangat tegang. “Ampun Panembahan. Hamba mohon disampaikan kepada Ki Tumenggung. Hamba mengucapkan terima kasih, bahwa di saat terakhir Ki Tumenggung berusaha mengekang ilmunya. Jika tidak, maka hamba tentu sudah menjadi lumat.” “Baik, baik Agung Sedayu,” sahut Panembahan Senapati. Namun kemudian Panembahan Senapati pun mengetahui bahwa Ki Tumenggung Wimbasara telah gugur. Panembahan Senapati itu pun menarik nafas dalam-dalam. Kepada para prajurit dari Pasukan Khusus, Panembahan Senapati memerintahkan untuk membawa Agung Sedayu menepi. “Bawa Ki Lurah ke tempat yang teduh.” Ki Mandaraka-lah yang selalu berada di sisinya. Sementara Panembahan Senapati berdesis, “Paman Tumenggung memang seorang yang berilmu sangat tinggi.” Ki Patih Mandaraka hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Panembahan Senapati pun berkata pula, “Seharusnya memang aku sendiri yang menghadapinya.” Ki Patih menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak Panembahan. Seandainya Agung Sedayu tidak mengakhirinya, di sini masih ada aku. Meskipun mungkin aku juga tidak dapat mengalahkannya.” “Paman Tumenggung nampaknya ragu-ragu untuk membinasakan Agung Sedayu, justru karena Agung Sedayu yang masih terhitung muda dibanding dengan Paman Tumenggung itu, sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi. Keragu-raguannya itu telah mengakhiri perlawanannya.” Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk. Ia mengakui, seandainya Ki Tumenggung Wimbasara di saat terakhir tidak menjadi ragu-ragu, maka mungkin sekali kedua-duanya akan tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Dalam pada itu, setelah Agung Sedayu dibawa ke tempat yang teduh, serta pengaruh obat yang ditelannya, maka nafasnya perlahan-lahan menjadi lebih teratur. Meskipun keadaannya masih terlalu lemah. Bahkan untuk mengangkat kepalanya Agung Sedayu mengalami kesulitan. Dalam pada itu, Panembahan Senapati sebagai seorang pemimpin, tidak dapat terikat pada keadaan Agung Sedayu. Setelah menyerahkan Agung Sedayu kepada Ki Patih Mandaraka, maka Panembahan Senapati bersama pengiringnya pun segera bergeser mendekati sekelompok perwira dan prajurit Pati yang telah meletakkan tubuh Ki Tumenggung di pendapa. Seorang Rangga yang mendapat pesan Ki Tumenggung pun segera melangkah maju menemui Panembahan Senapati untuk menyampaikan pesan itu. Panembahan Senapati mendengarkan pesan itu dengan seksama. Namun kemudian jantungnya terasa berdentang lebih keras, “Jadi Adimas Adipati telah meninggalkan istana bersama pengiringnya?” “Ya, Panembahan.” “Ke mana?” bertanya Panembahan Senapati. “Tidak seorang pun yang mengetahuinya, Panembahan” Panembahan Senapati memang menjadi sangat kecewa. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Kanjeng Adipati sudah meninggalkan istana tanpa diketahui tujuannya. Ketika Panembahan Senapati masih termangu-mangu, maka Pangeran Mangkubumi pun berkata, “Apakah kita dapat mempercayainya begitu saja?” Panembahan Senapati menggeleng. Katanya, “Tentu tidak. Kami akan melihat kebenaran keterangan prajurit ini.” “Tetapi kami tetap memohon agar istana ini tidak dihancurkan. Kami tidak akan dapat menghalangi Panembahan untuk naik dan masuk ke dalamnya.” Panembahan Senapati memandang Pangeran Mangkubumi sesaat. Namun kemudian katanya, “Perintahkan kepada para prajurit untuk berjaga-jaga di depan istana ini. Kita akan masuk ke dalamnya hanya dengan beberapa orang prajurit saja.” “Tetapi…,” nampak keragu-raguan membayang di wajah Pangeran Mangkubumi. “Aku percaya bahwa Adimas Adipati tidak akan mempergunakan akal yang licik.” Sejenak kemudian, Panembahan Senapati dan Pangeran Mangkubumi telah siap untuk memasuki Istana Pati. Tetapi mereka tidak akan meninggalkan Ki Patih Mandaraka yang masih menunggui Agung Sedayu. Ki Patih Mandaraka pun kemudian telah memerintahkan agar beberapa orang prajurit dari Pasukan Khusus membawa Agung Sedayu keluar pintu gerbang istana agar segera mendapat perawatan, meskipun Agung Sedayu sendiri telah menyediakan obat-obatan bagi dirinya sendiri sesuai dengan pengetahuan yang diwarisinya dari gurunya Kiai Gringsing, langsung atau melalui tulisan di dalam kitab yang ditinggalkannya. Demikianlah, Panembahan Senapati telah memasuki Istana Pati hanya dengan beberapa pengiringnya. Mereka telah melihat segala bilik dan ruang. Namun Kanjeng Adipati Pragola tidak dapat ditemukannya. Panembahan Senapati benar-benar menjadi kecewa. Meskipun istana itu seakan-akan sudah dikepung rapat, namun Kanjeng Adipati dengan pasukan terpilihnya masih dapat menyusup dan menghilang dari istana. Sementara itu, para prajurit Pati yang lain masih tetap berjaga-jaga di panggung dan di sudut-sudut halaman istana. Pati memang tidak menyatakan dengan resmi menyerah, meskipun Panembahan Senapati telah menduduki kota dan istana. Kekecewaan itu telah menjalar kepada seluruh prajurit dan pengawal Mataram yang menyertainya. Kekesalan itu seakan-akan memuncak, ketika Panembahan Senapati menjatuhkan perintah, bahwa hanya kelompok prajurit tertentu saja-lah yang diperkenankan memasuki dan bertugas di dalam lingkungan istana. Mereka bertugas untuk melucuti senjata para prajurit Pati yang masih bertugas di dalam istana itu. Tetapi mereka juga bertugas untuk menjaga keutuhan Istana Pati. Kekecewaan para prajurit dan pengawal dari Mataram itu tidak dapat disembunyikan lagi. Para prajurit dan pengawal yang berada di luar dinding istana, mulai menunjukkan kegelisahan mereka. Ancang-ancang yang terakhir, ternyata tidak berarti apa-apa. Mereka batal menyerang dan memasuki dinding istana Pati. Prajurit dan para pengawal dalam pasukan Mataram terdiri dari orang-orang kebanyakan sebagaimana orang-orang lain. Kelebihan mereka adalah karena mereka mendapat latihan-latihan khusus olah keprajuritan dan olah kanuragan. Namun perasaan kecewa yang bergejolak di dalam dada mereka, akhirnya meletup juga. Panembahan Senapati dan para pemimpin Mataram mengalami kesulitan untuk mengekang para prajurit dan pengawal yang kecewa itu akhirnya menjarah isi kota. Panembahan Senapati dan Ki Patih Mandaraka serta para pemimpin yang lain dengan susah payah berusaha untuk mencegah mereka. Bahkan Panembahan Senapati telah memerintahkan pasukan khusus pengawalnya untuk menahan gejolak perasaan para prajurit itu. Tetapi mereka mengalami kesulitan. Akhirnya Panembahan Senapati tidak mempunyai cara lain. Diperintahkannya seorang perwira menabuh bende Kiai Bicak. Ternyata suara bende itu benar-benar berpengaruh. Suaranya bagaikan menggetarkan seluruh kota. Sementara itu, para pemimpin Mataram telah memerintahkan seluruh pasukannya ditarik kembali ke pesanggrahan. Meskipun agak mengalami kesulitan, akhirnya para prajurit dan pengawal Mataram telah ditarik dari Pati. Meskipun demikian, masih ada kelompok-kelompok prajurit yang khusus mendapat perintah untuk mengamankan kota, karena dalam keadaan yang kalut itu para penjahat akan dapat memanfaatkan keadaannya. Sementara itu, Panembahan Senapati telah memerintahkan dua orang perwira penghubung untuk berbicara dengan para prajurit Pati yang tertawan. Jika prajurit dan pengawal Mataram meninggalkan Pati, mereka harus mengambil alih pengamanan di seluruh kota dan istana. Dalam pada itu, ketika beberapa orang mempertanyakan bunyi bende yang mereka anggap sebagai isyarat kemenangan itu, Panembahan Senapati lewat para pemimpin Mataram berkata, “Kita sudah memenangkan perang. Tetapi suara bende itu juga akan memberikan isyarat kemenangan kita terhadap nafsu yang menyerang jantung kita. Perjuangan melawan nafsu itu akan tidak kalah beratnya dari perjuangan merebut Pati. Karena itu, dengan isyarat suara bende yang bergaung di seluruh kota itu, kita telah menang melawan nafsu kita untuk menjarah Pati, meskipun hal itu sudah mulai kita lakukan.” Para prajurit hanya dapat menundukkan kepala mereka. Tetapi Pati memang sudah terlanjur menjadi porak-poranda. Banyak orang kehilangan harta benda mereka tanpa dapat bertanya kepada siapapun juga. Apalagi menuntut agar harta-benda itu dapat kembali kepada mereka. Namun mereka hanya dapat mengeluh serta melontarkan semua kesalahan kepada terjadinya perang. Panembahan Senapati yang kecewa itu pun segera memerintahkan pasukan Mataram untuk bersiap-siap. Mereka harus segera kembali ke Mataram. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Kanjeng Adipati Pragola. Namun sebelum pasukan Mataram itu sampai di Mataram, beberapa orang penghubung telah diperintahkan untuk mendahului kembali ke Mataram dengan berkuda. Dengan menempuh jalan yang berbeda-beda, para penghubung itu harus memberikan berita bahwa Kanjeng Adipati Pragola lepas dari tangan Panembahan Senapati. Sehingga dengan demikian, maka para prajurit yang tinggal di Mataram dapat mempersiapkan diri. Memang mungkin saja terjadi, Kanjeng Adipati Pragola membawa kelompok-kelompok prajurit terpilih memasuki Mataram. Di pesanggrahan. Agung Sedayu mendapat perawatan yang bersungguh-sungguh. Tabib yang merawatnya tidak berkeberatan Agung Sedayu itu mempergunakan obat-obatnya sendiri, karena tabib itu sudah mengetahui bahwa Agung Sedayu juga memiliki pengetahuan tentang pengobatan. Namun keadaannya memang mencemaskan. Glagah Putih yang datang ke pesanggrahan pasukan induk Mataram menungguinya siang malam. Swandaru pun banyak berada di dekatnya meskipun setiap kali Swandaru harus melihat pasukan pengawalnya. Selagi Agung Sedayu masih sangat lemah, Panembahan Senapati telah memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap. “Kita tidak dapat terlalu lama di sini,” berkata Panembahan Senapati kepada para panglima dan senapati, “persediaan makanan kita sudah sangat menipis, karena sebagian sudah terbakar. Untunglah bahwa kita cepat menyelesaikan pertempuran, apapun yang terjadi kemudian. Jika kita harus bertahan di sini tiga empat hari lagi sebelum kita berhasil memecah Pati, maka kita benar-benar akan kekurangan makan. Tetapi pada keadaan kita sekarang, kita masih berharap bahwa sampai nanti kita menginjakkan kaki kita kembali di bumi Mataram, kita masih belum akan menjadi kelaparan.” Para panglima dan senapati mengangguk-angguk. Mereka mempunyai perhitungan yang sama dengan Panembahan Senapati. Tetapi pertimbangan Panembahan Senapati tidak hanya agar mereka tidak kekurangan pangan. Tetapi Panembahan Senapati pun menyatakan kecemasannya pula bahwa Adipati Pragola yang hilang dari Pati justru bergerak ke Mataram. Meskipun hanya dengan pasukan yang kecil, tetapi jika Mataram lengah, maka mereka akan dapat menghancurkan kota. Meskipun sesaat kemudian mereka harus meninggalkannya. “Aku sudah memerintahkan beberapa orang penghubung untuk mendahului kembali ke Mataram. Tidak hanya dua tiga orang. Tetapi beberapa orang yang memencar,” berkata Panembahan Senapati. Maka kemudian Panembahan Senapati memerintahkan pasukannya kembali ke Mataram. Setelah merasa cukup beristirahat, maka pasukan Mataram mulai menempuh perjalanan pulang. Dengan amben bambu Agung Sedayu dibawa dalam keadaan yang sangat lemah kembali ke Mataram. Para prajurit dari Pasukan Khusus berganti-ganti telah mengusungnya. Di dalam pasukan itu, tidak hanya Agung Sedayu yang diusung dengan amben bambu. Tetapi demikian pula para prajurit yang terluka. Sedangkan para prajurit dan pengawal yang gugur, telah dikubur di tempat yang khusus dengan pertanda yang akan dapat dikenali kemudian. Sementara itu, mereka yang terluka lebih ringan telah dinaikkan ke dalam pedati yang semula terisi oleh bahan pangan, yang berjalan terguncang-guncang Semula Agung Sedayu juga minta kepada para prajuritnya untuk di tempatkan saja di sebuah pedati. Tetapi prajurit-prajuritnya tetap berniat untuk membawanya di atas sebuah amben bambu yang diberi palang bambu di bawahnya. Glagah Putih telah memberitahukan kepada Prastawa bahwa ia akan berada bersama Agung Sedayu, sehingga ia tidak dapat ikut mengawasi pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. “Kita tinggal menempuh perjalanan pulang,” berkata Prastawa, “agaknya tidak ada persoalan yang rumit.” Glagah Putih yang sebenarnya juga masih belum pulih sepenuhnya itu, tidak lagi merasakan gangguan pada dirinya. Bahkan ia merasa seakan-akan segala-galanya telah pulih kembali seperti sediakala. Ketika pasukan itu berhenti untuk beristirahat dan bermalam di perjalanan, Swandaru sempat menunggui Agung Sedayu beberapa lama. Tetapi Swandaru tidak banyak berbicara. Ia tahu bahwa dalam keadaan demikian, sebaiknya Agung Sedayu lebih banyak beristirahat sepenuhnya. Namun kepada seorang pemimpin pengawal dari Kademangan Sangkal Putung, Swandaru sempat berkata, “Luka dalam Kakang Agung Sedayu memang agak parah. Tetapi kita masih mempunyai cukup harapan bahwa Kakang Agung Sedayu akan menjadi baik.” Pemimpin pengawal Sangkal Putung itu mengangguk-angguk. Katanya, “Untunglah Ki Lurah Agung Sedayu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.” Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menanggapinya. Bahkan kemudian katanya, “Kembalilah ke pasukanmu. Katakan kepada para pengawal bahwa aku masih berada di sini. Jika besok saatnya pasukan bergerak dan aku belum kembali ke pasukan, bergeraklah. Kalian tidak usah menunggu aku. Tetapi jika keadaan Kakang Agung Sedayu membaik, aku akan berada di antara kalian.” Pengawal itu mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Mudah-mudahan Ki Lurah segera menjadi baik.” Malam itu, Agung Sedayu masih berbaring dengan lemahnya. Perkembangan keadaannya terasa sangat lamban. Meskipun demikian, orang-orang yang menungguinya masih tetap berpengharapan. Bahkan Ki Patih yang juga selalu menjenguknya berkata, “Aliran darahnya sudah menjadi semakin lancar. Berdoa sajalah, agar Yang Maha Agung mengulurkan tangannya untuk penyembuhannya.” Glagah Putih yang menungguinya masih saja gelisah. Tubuh Agung Sedayu masih saja terasa panas. Sekali-sekali terdengar ia berdesah. Tetapi lewat tengah malam, panas Agung Sedayu mulai berkurang. Nafasnya sudah mengalir dengan teratur. Demikian pula aliran darahnya menjadi semakin lancar. Swandaru yang juga mengikuti perkembangan keadaan Agung Sedayu sempat menarik nafas panjang. Bersama beberapa orang yang menaruh perhatian sangat besar terhadap Agung Sedayu, ia duduk di serambi. Wajah-wajah mereka sudah tidak lagi terlalu tegang. Seorang Lurah prajurit pengawal yang duduk di sebelah Swandaru dengan nada rendah berdesis, “Mudah-mudahan perkembangan keadaan Ki Lurah Agung Sedayu itu berlanjut. Jika sampai esok pagi, keadaannya tidak kembali memburuk, maka segala kesulitan telah dilaluinya.” Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Malam ini adalah saat-saat paling gawat bagi Kakang Agung Sedayu.” “Ki Lurah Agung Sedayu adalah seorang yang luar biasa. Tidak ada seorang pun di antara para Lurah prajurit yang memiliki tataran kemampuan yang setingkat dan bahkan yang mendekati tingkat ilmunya. Bahkan para perwira yang lebih tinggi tingkatnya.” Swandaru mengangguk-angguk. Sementara itu, seorang yang ikut mendengarkan pembicaraan itu menyahut, “Ki Lurah Agung Sedayu pernah melakukan pengembaraan bersama Panembahan Senapati. Karena itu, meskipun tidak setinggi Panembahan Senapati sendiri, namun Ki Lurah itu mempunyai beberapa persamaan di dalam menjalani laku, sehingga iapun mampu mencapai satu tataran ilmu yang sangat tinggi.” Orang-orang yang mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Namun Swandaru pun kemudian berkata, “Sebenarnya Kakang Agung Sedayu dapat mencapai tataran yang lebih baik dari yang dapat dicapainya sekarang.” Beberapa orang berpaling kepadanya. Sementara Swandaru itu pun berkata selanjutnya, “Jika saja Kakang Agung Sedayu lebih tekun menempa diri berdasarkan atas ilmu yang diwariskan oleh Guru kepadanya.” “Maksudmu?” bertanya Lurah prajurit dari pasukan pengawal itu. “Sejak Kakang Agung Sedayu berada di Tanah Perdikan Menoreh, ia tidak sempat lagi memperdalam ilmunya yang sebenarnya sudah sampai di puncak. Beberapa kali aku memperingatkannya. Tetapi nampaknya Kakang Agung Sedayu telah menghabiskan waktunya untuk tugas-tugas yang diembannya.” “Apakah kau saudara Ki Lurah Agung Sedayu?” bertanya seseorang. “Aku saudara seperguruannya,” jawab Swandaru. Orang itu mengangguk-angguk. Sementara itu, seorang prajurit yang telah mengenal Swandaru sebelumnya berkata, “Ia saudara muda seperguruan Ki Lurah Agung Sedayu. Ia pemimpin pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung.” Orang-orang itu pun mengangguk-angguk pula. Beberapa orang memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Kesan yang mereka dapat dari kata-kata Swandaru itu adalah, bahwa saudara muda Ki Lurah ini masih memiliki kelebihan dari Ki Lurah Agung Sedayu. Karena itu, beberapa orang itu pun menjadi merasa segan kepada orang yang sedikit gemuk namun memang berkesan meyakinkan itu. Dalam pada itu, Glagah Putih yang menunggui Agung Sedayu hampir tanpa beringsut itu muncul dari pintu. Swandaru pun kemudian telah bangkit berdiri sambil bertanya, “Bagaimana keadaannya, Glagah Putih?” “Masih seperti tadi, Kakang,” jawab Glagah Putih. “Tetapi bukankah tidak memburuk?” “Tidak, Kakang. Bahkan Kakang Agung Sedayu sudah tidak nampak gelisah. Sekarang Kakang Agung Sedayu sedang tidur.” Swandaru mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya, “Kau akan pergi ke mana?” “Tidak ke mana-mana. Mumpung Kakang Agung Sedayu tidur, aku akan ke pakiwan sebentar,” jawab Glagah Putih. “Pergilah,” desis Swandaru, “biarlah aku menungguinya.” Ketika Swandaru kemudian masuk ke ruang dalam, maka dilihatnya Agung Sedayu memang sedang tidur. Di dekatnya duduk tabib yang merawatnya dengan penuh kesungguhan. Swandaru kemudian duduk di sebelah tabib itu sambil bertanya perlahan, “Bagaimana keadaannya?” “Kita akan melihat apa yang akan terjadi malam ini sambil berdoa. Kita sudah berusaha sejauh dapat kita lakukan. Obat-obatan dari Ki Lurah Agung Sedayu sendiri adalah obat yang terbaik menurut pendapatku. Terakhir harapan kita hanya tertuju kepada-Nya. Kita hanya dapat memohon.” Swandaru mengangguk-angguk. Namun hampir di luar sadarnya ia berdesis, “Kakang Agung Sedayu yang mendapat kepercayaan sangat tinggi dari Panembahan Senapati seharusnya lebih tekun melengkapi dirinya dengan bekal yang terbaik.” “Ia sudah memiliki bekal yang terbaik.” “Tetapi sebenarnya Kakang Agung Sedayu masih mempunyai kemungkinan untuk meningkatkan ilmunya jika ada kemauan padanya. Tetapi Kakang Agung Sedayu nampaknya tidak mempunyai waktu lagi, meskipun jika ia benar-benar ingin melakukannya, tentu ia akan dapat membagi waktunya bagaimanapun sempitnya. Aku sudah beberapa kali memperingatkannya. Beberapa kali aku menjadi cemas melihat keadaan seperti ini. Setiap kali Kakang Agung Sedayu mengalami luka perah seperti ini.” “Lawannya kali ini adalah saudara seperguruan Kanjeng Adipati Pragola,” berkata tabib itu. “Kita tahu betapa tinggi ilmu Kangjeng Adipati, meskipun masih belum menyamai Panembahan Senapati.” Swandaru mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri, “Pada saat terakhir, Ki Tumenggung itu merasa ragu.” “Sebenarnyalah bahwa Ki Tumenggung Wimbasara itu adalah seorang yang baik. Panembahan Senapati sendiri menghormatinya. Tetapi sebagai seorang prajurit ia berdiri di atas pijakan yang sangat kokoh.” Swandaru mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Aku mengerti. Tetapi yang aku maksudkan adalah kelemahan Kakang Agung Sedayu. Apa jadinya jika Ki Tumenggung itu tidak digelitik oleh keragu-raguan di saat terakhir? Apa jadinya dengan Kakang Agung Sedayu? Bukankah itu pertanda bahwa ilmu Ki Tumenggung itu masih lebih tinggi dari ilmu Kakang Agung Sedayu?” “Ya. Agaknya ilmu Ki Tumenggung itu memang lebih tinggi dari ilmu Ki Lurah Agung Sedayu. Namun Ki Lurah masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.” “Seandainya,” berkata Swandaru, “seandainya Kakang Agung Sedayu mau mendengarkan aku, maka ia tidak perlu bergantung pada satu kebetulan sebagaimana yang telah terjadi. Tetapi Kakang Agung Sedayu memang mampu mengimbangi lawannya karena memiliki bekal ilmu yang memadai.” Tabib yang merawat Agung Sedayu itu tidak menjawab lagi. Sementara itu terdengar Agung Sedayu berdesah dengan tarikan nafas yang dalam. Tetapi Agung Sedayu tidak terbangun. Swandaru-lah yang kemudian bergeser mendekati saudara seperguruannya. Dipandanginya wajah Agung Sedayu yang masih tidur itu. Namun wajah itu tidak lagi nampak terlalu pucat, ketika Swandaru menyentuh lehernya, makaia pun berdesis, “Badannya tidak lagi terlalu panas.” Sementara itu, malam pun menjadi semakin dalam. Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Namun perintah Panembahan Senapati sudah sampai pada semua pimpinan kelompok prajurit, “Besok, menjelang fajar, pasukan Mataram akan melanjutkan perjalanan.” Ketika sampai dini hari keadaan Agung Sedayu tidak memburuk, maka Swandaru pun berkata kepada Glagah putih yang telah duduk di sampingnya, “Aku akan melihat pasukanku. Hati-hatilah dengan Kakang Agung Sedayu. Jika perjalanan ini harus dimulai lagi, pastikan bahwa Kakang Agung Sedayu tidak akan terganggu di perjalanan.” “Baik, Kakang,” sahut Glagah Putih. “Di perjalanan aku akan menyempatkan diri melihat keadaannya. Namun nampaknya puncak kecemasan tentang keadaannya telah lewat. Tabib itu berpendapat bahwa jika malam ini keadaannya tidak memburuk, maka Kakang Agung Sedayu akan menjadi semakin baik. Meskipun demikian, ia harus tetap mendapat perawatan terbaik.” “Ya, Kakang,” Glagah Putih mengangguk-angguk. Demikianlah, Swandaru pun telah meninggalkan rumah yang dipergunakan untuk menempatkan Agung Sedayu yang terluka parah. Demikian Swandaru pergi, seorang prajurit mendekati Glagah Putih sambil mengerutkan dahinya. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Saudara seperguruan Ki Lurah Agung Sedayu itu menyesali sikap Ki Lurah yang tidak sempat mengembangkan ilmunya lebih jauh.” Glagah Putih menarik nafas panjang. Ia tahu apa yang dikatakan oleh Swandaru. Tentu orang gemuk itu menyesali, seolah-olah Agung Sedayu tidak mau meningkatkan ilmunya meskipun Swandaru membiarkan kitab Kiai Gringsing ada di tangan Agung Sedayu. Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak menjawab. Anak muda itu hanya mengangguk-angguk saja, justru karena Glagah Putih sudah mengenal dengan baik sifat Swandaru. Meskipun demikian, Glagah Putih itu melihat betapa Swandaru menjadi gelisah melihat keadaan Agung Sedayu. Dalam pada itu, beberapa orang yang menaruh perhatian sangat besar terhadap Agung Sedayu hampir tidak tidur semalam suntuk. Tabib yang merawatnya, Glagah Putih, Swandaru, dan beberapa orang prajurit dari Pasukan Khusus sama sekali tidak memejamkan mata. Tetapi tugas yang akan mereka lakukan di hari berikutnya tidak seberat saat mereka datang ke Pati, sehingga meskipun mereka tidak tidur sekejappun, mereka tidak akan terlalu terganggu. Menjelang fajar, semuanya telah bersiap. Glagah Putih merasa agak tenang bahwa keadaan Agung Sedayu tidak memburuk, sehingga dengan demikian ia berharap bahwa keadaannya akan menjadi semakin baik, meskipun masih harus ditempuh perjalanan panjang. Namun ada satu dua orang yang ternyata tidak lagi mampu bertahan. Ada dua orang yang malam itu menyusul kawan-kawannya yang telah gugur. Mereka langsung dimakamkan di padukuhan tempat pasukan itu berhenti. Meskipun Agung Sedayu masih minta untuk di tempatkan di sebuah pedati saja agar tidak sangat merepotkan para prajuritnya, namun para prajuritnya tetap berniat untuk mengusungnya agar tubuh Agung Sedayu tidak terlalu terguncang-guncang. Dalam kesibukannya, ternyata Panembahan Senapati juga menyempatkan diri melihat keadaan Agung Sedayu itu. “Bagaimana keadaanmu Agung Sedayu?” bertanya Panembahan Senapati sambil meraba tubuh Agung Sedayu. “Hamba merasa sudah menjadi semakin baik, Panembahan,” jawab Agung Sedayu. “Syukurlah. Mudah-mudahan perjalanan ini tidak memperburuk keadaanmu.” “Semoga tidak, Panembahan.” Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Ki Patih Mandaraka dan Pangeran Mangkubumi yang mengiringi Panembahan Senapati itu pun sempat memberikan beberapa pesan pula. “Kau sudah tidak terlalu pucat,” berkata Ki Patih Mandaraka. Demikianlah, ketika fajar mewarnai langit, Panembahan Senapati pun memerintahkan pasukan Mataram yang besar itu mulai bergerak. Perjalanan memang masih jauh. Tetapi para prajurit dan pengawal yang tergabung dalam pasukan Mataram itu tidak merasa terlalu tegang sebagaimana saat mereka berangkat. Bahkan mereka merasa bangga bahwa mereka telah membawa berita kemenangan, karena mereka telah berhasil memasuki kota Pati. Tetapi sementara itu, dalam perjalanan pulang, wajah Ki Patih Mandaraka nampak murung. Sama-sekali tidak mencerminkan kemenangan yang telah dicapai oleh pasukan dari Mataram itu. Sekali-sekali Ki Patih Mandaraka itu justru berjalan menyendiri. Di dalam riuhnya pasukan yang bergerak, Ki Patih merasakan satu kediaman yang mencengkam jantungnya Bahkan kadang-kadang Ki Patih Mandaraka itu berjalan kaki di antara para prajurit dari Pasukan Khusus yang mengiringi Agung Sedayu, yang ditandu dengan sebuah amben bambu. Panembahan Senapati yang melihat keadaan Ki Patih Mandaraka itu mengerti, apa yang sedang bergejolak di dalam hatinya. Bahkan sebenarnya hati Panembahan Senapati sendiri juga merasakan, betapa segala-galanya yang digelar di atas bumi ini tidak langgeng. Panembahan Senapati mengerti bahwa Ki Patih Mandaraka sekali-sekali telah diganggu oleh kenangan masa-masa yang pernah dijalaninya, saat Ki Pemanahan dan Ki Panjawi masih hidup dalam ikatan persaudaraan yang sangat rukun. Hampir setiap saat keduanya selalu bersama. Jika seseorang bertemu dengan Ki Pemanahan, maka di situ tentu ada Ki Panjawi. Kedua-duanya seakan-akan tidak pernah terpisah. Berdua mereka mendapat tugas dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya untuk menyingkirkan Arya Penangsang. Keduanya memang berhasil. Tetapi justru karena itu, mereka telah memasuki jalan simpang. Ki Panjawi yang mendapat tanah Pati, segera dapat membangun diri, karena Pati memang sudah berujud satu lingkungan yang ramai. Ki Panjawi tidak terlalu sulit mengembangkan Pati menjadi satu daerah yang sedemikian besar. Sementara itu, Ki Pemanahan harus bekerja keras untuk membuka hutan Mantaok. Ketika kemudian Mataram menjadi daerah yang tumbuh, maka Ki Pemanahan telah disebut pula Ki Gede Mataram. Tetapi Ki Gede Mataram sama sekali tidak diganggu oleh perasaan iri hati terhadap Pati. Semuanya itu justru telah mendorong Ki Gede untuk bekerja keras bersama putranya, Raden Sutawijaya. Ki Patih Mandaraka memang tidak dapat melupakannya. Betapa Pemanahan dan Panjawi itu hidup dalam suasana yang sangat akrab. Namun anak-anaknya ternyata telah berdiri berseberangan di medan perang yang garang. Raden Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senapati, putra Ki Gede Pemanahan, telah berperang melawan Kanjeng Adipati Pragola dari Pati, putra Ki Panjawi. Ki Patih Mandaraka, yang akrab pula dengan kedua-duanya, merasa sangat prihatin atas peristiwa itu. Tetapi bagaimanapun juga, Ki Patih sendiri telah terlibat pula di dalamnya. Ia telah berdiri di satu pihak dari keduanya yang berperang itu. Sementara itu pasukan yang besar itu berjalan terus. Panembahan Senapati sendiri tidak selalu berada di atas punggung kudanya, sebagaimana Ki Patih Mandaraka. Namun karena itu, para panglima dan senapati pun kadang-kadang telah turun pula dan berjalan di antara para prajurit dan pengawal. Sementara itu, para prajurit dari Pasukan Khusus yang berada di Tanah Perdikan Menoreh yang ikut dalam pasukan itu, berganti-ganti mengusung Agung Sedayu yang terbaring lemah. Panas matahari yang terik menerpa tubuhnya, namun seorang prajurit memayunginya. Jika daun itu kemudian layu dibakar panasnya cahaya matahari, maka seorang prajurit yang lain telah mencari gantinya pula di padukuhan yang mereka lewati. Namun ketika mereka harus bermalam lagi di perjalanan, ternyata keadaan Agung Sedayu sudah menjadi lebih baik. Tetapi seorang lagi prajurit yang harus dilepaskan. Karena lukanya yang sangat parah, maka prajurit itu tidak dapat diselamatkan. Dalam pada itu, wajah Glagah Putih pun ikut menjadi terang. Swandaru tidak pula nampak gelisah. Harapan mereka tumbuh semakin besar, sejalan dengan keadaan Agung Sedayu yang membaik. Dalam pada itu, para penghubung berkuda yang mendapat tugas untuk mendahului pasukan telah sampai di Mataram. Mereka telah menyampaikan pesan Panembahan Senapati kepada panglima yang bertugas mengawal kota. Pangeran Singasari. Demikian pesan itu sampai, maka Mataram segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dengan kekuatan yang ada, Mataram siap menghadapi segala kemungkinan. Namun para petugas yang diperintahkan untuk mengamati keadaan di luar dinding kota tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Bahkan beberapa orang yang dikirim agak jauh keluar kota juga tidak melihat gerak pasukan sama sekali. Apalagi pasukan yang besar. Karena itu, Pangeran Singasari mengambil kesimpulan bahwa Kanjeng Adipati Pragola tidak akan membawa pasukan ke Mataram. Meskipun demikian, Pangeran Singasari tidak lengah. Para prajurit masih berada dalam kesiagaan tertinggi. Sementara para petugas sandi masih tersebar jauh di luar kota. Sementara itu, pasukan Mataram telah merayap semakin dekat. Tetapi pasukan itu masih harus bermalam lagi di perjalanan, sementara persediaan bahan pangan menjadi semakin sedikit. Namun para pemimpin Mataram itu tidak merasa cemas. Persediaan itu masih cukup, dan dalam dua hari mereka sudah akan sampai di Mataram. Dalam pada itu, selagi pasukan Mataram masih berada di perjalanan, sebuah padepokan yang dipimpin oleh Kiai Warangka, yang terletak di dekat Kronggahan, telah diguncang oleh pertengkaran antara saudara seperguruan. Ketika tiga orang yang ditugaskan untuk melihat apakah di padepokan Kiai Warangka itu terdapat sebuah peti tembaga yang diperkirakan berisi harta benda yang sangat banyak, memberikan laporan bahwa penglihatan mata batin mereka tidak menyentuh ada sebuah peti tembaga yang besar di padepokan Kiai Warangka, maka Kiai Timbang Laras dan Ki Jatha Beri sama sekali tidak percaya. Bahkan mereka menganggap bahwa Ki Resa justru telah mencoba untuk melindungi Kiai Warangka. “Agaknya kau telah diracuni oleh kesediaan Kakang Warangka untuk memberi upah lebih banyak dari yang aku berikan,” geram Kiai Timbang Laras. “Tidak, Kiai Timbang Laras,” jawab Ki Resa, “aku adalah orang tua yang masih mempunyai harga diri. Aku masih percaya bahwa mulutku dapat berbicara dengan benar.” “Apa maksudmu dengan harga diri?” bertanya Jatha Beri. “Apakah aku akan menjual namaku serta kepercayaan orang lain kepadaku?” “Kau telah menjual harga dirimu. Ternyata kau bersedia menerima upah yang kami berikan kepadamu.” “Upah untuk apa? Bukankah upah itu Kiai berikan untuk satu tugas yang tidak bertentangan dengan paugeran Mataram? Tidak pula bertentangan dengan nuraniku sendiri. Bukankah aku diupah untuk mengetahui, apakah di padepokan itu ada sebuah peti atau tidak? Dan itu sudah aku lakukan dengan baik sesuai dengan kemampuanku.” “Di samping upah yang aku berikan, maka kau juga menerima upah dari Kakang Warangka untuk tidak mengatakan apa yang sebenarnya kau lihat.” “Kiai jangan menghina aku. Aku masih dapat mencari makan dengan cara yang lebih terhormat daripada sebuah pengkhianatan.” “Seandainya kami menghinamu, kau mau apa Ki Resa?” tiba-tiba saja Ki Jatha Beri menyahut, “Kau akan marah?” Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Perbatang dan Pinuji berganti-ganti. Katanya, “Bertanyalah kepada kedua orangmu itu. Apa yang mereka tangkap dengan penglihatan batin mereka. Apakah mereka melihat peti tembaga yang besar itu di padepokan Kiai Warangka. Aku selalu menangkap getar yang mereka pancarkan. Tetapi aku juga tidak pernah mendapat isyarat tentang peti tembaga itu.” Kiai Timbang Laras memandang kedua orang yang ditugaskannya menyertai Ki Resa. Namun keduanya justru menunduk. Dengan nada tinggi, Kiai Timbang Laras itu pun kemudian bertanya kepada mereka, “Apa kerja kalian di padepokan Kakang Warangka? Makan dan minum, tidur atau apa?” “Tidak, Kiai. Kami sudah berusaha sejauh dapat kami lakukan. Tetapi kami memang tidak menangkap getar adanya peti tembaga itu. Baik dengan tangkapan wadag maupun tangkapan batin, Kiai. Karena itu kami berkesimpulan, bahwa peti itu memang sudah tidak berada di padepokan itu.” “Jika tidak ada di padepokan itu, lalu dimana? Apakah kalian tidak dapat melihat? Lalu apa artinya kemampuan penglihatan batin kalian jika penglihatan kalian sama saja dengan penglihatanku?” “Kiai,” berkata Ki Resa, “kami dapat melihat geledeg, ajug-ajug, amben dan apa lagi, karena benda-benda itu ada.” “Itu penglihatan wadag kalian. Penglihatan mata kalian yang tidak berbeda dengan penglihatan mataku,” geram Kiai Timbang Laras. “Benar, Kiai. Tetapi tangkapan penglihatan batin kami pun tidak berbeda. Kami dapat menangkap getar keberadaan benda itu meskipun benda-benda itu tidak kasat mata. Tetapi jika benda-benda itu memang tidak ada, getar apakah yang dapat kami tangkap, betapapun tajamnya penglihatan batin kami? Sebagaimana kami tidak akan dapat melihat sesuatu dengan mata wadag kami betapapun tajamnya penglihatan mata kami itu, jika yang kami lihat itu memang tidak ada.” “Tetapi benda itu ada. Peti itu ada. Aku pernah melihatnya. Peti itu tidak akan dapat begitu saja lebur ke ketiadaan. Meskipun barangkali peti itu tidak ada lagi di padepokan, tetapi peti itu tentu ada di satu tempat. Nah, katakan, dimanakah peti itu berada menurut penglihatanmu.” “Kiai,” berkata Ki Resa, “Kiai tentu tahu keterbatasan kemampuan seseorang. Apakah Kiai mengartikan bahwa aku mampu melihat isi bumi ini? Apapun dan dimanapun? Tidak, Kiai. Aku tidak mempunyai kemampuan sejauh itu. Penglihatanku sangat terbatas. Seandainya peti itu memang ada, maka keberadaannya ada di luar jangkauan kemampuan penglihatanku.” “Omong kosong! Semua cerita tentang kelebihanmu tidak ada artinya sama sekali. Karena itu, maka persetujuan kita batal. Aku tidak akan mengupahmu sekeping uang pun.” Ki Resa tersenyum. Katanya, “Aku tidak akan menuntut. Aku memang harus merasa bahwa aku memang sudah gagal. Itu berarti bahwa perjanjian kita pun batal.” “Bagus,” geram Kiai Timbang Laras, “jika demikian, tidak ada gunanya lagi kau berada di padepokanku. Pergilah! Aku muak melihat wajahmu.” “Baik, Kiai. Aku minta diri. Keluargaku tentu sudah menunggu aku pulang. Mereka akan menjadi gelisah jika aku terlalu lama pergi. Perjalanan malam hari seperti ini akan sangat menyenangkan,” berkata Ki Resa. Namun katanya pula, “Meskipun demikian, aku ingin memperingatkan kepada Kiai, bahwa kedua orang yang bersamaku mencoba melihat peti tembaga itu sama sekali tidak bersalah, jika mereka tidak mengetahui di mana peti yang dicari itu berada. Mereka sudah berusaha sebagaimana aku juga berusaha. Tetapi kami telah gagal menurut penilaian Kiai.” “Cukup! Pergilah!” bentak Kiai Timbang Laras. Ki Resa tidak berbicara lagi. Iapun segera bangkit berdiri. Turun ke halaman dan mengambil kudanya. Sejenak kemudian, Ki Resa itu sudah menuntun kudanya keluar regol padepokan Kiai Timbang Laras. Namun demikian Ki Resa hilang di balik pintu regol, Kiai Timbang Laras itu pun berkata kepada Perbatang dan Pinuji, “Selesaikan orang itu. Bawa dua orang kawanmu, agar pekerjaanmu tidak terlalu sulit untuk kau lakukan. Cepat!” Perbatang dan Pinuji pun segera bangkit. Berlari-lari mereka mengambil kuda mereka sambil menyampaikan perintah Kiai Timbang Laras kepada dua orang yang berada di gandok. Mereka adalah para cantrik yang sedang bertugas berjaga-jaga bersama dengan beberapa cantrik yang lain yang berada di regol. Sejenak kemudian, empat orang telah berpacu menyusul Ki Resa yang berkuda ke arah barat. Beberapa saat keempat orang itu memacu kudanya. Mereka menyusuri jalan yang panjang dalam kegelapan malam yang telah menyelubungi wajah bumi. Tetapi setelah beberapa lama mereka memacu kuda mereka, mereka tidak segera dapat menyusul Ki Resa. Sementara itu jalan yang mereka lalui adalah jalan yang lurus yang tidak bercabang. Tidak pula ada simpangan. Ki Resa itu bagaikan hilang begitu saja ditelan gelapnya malam. “Waktu kita tidak bertaut banyak,” berkata Perbatang. “Ya,” sahut Pinuji hampir berteriak, “demikian kita mendengar derap kaki kuda Ki Resa, kita pun segera menyusulnya.” “Padahal tidak ada jalan lain.” Perbatang dan Pinuji menjadi berdebar-debar. Bukan saja karena mereka kehilangan buruan mereka. Tetapi mereka membayangkan kemarahan Kiai Timbang Laras, yang kadang-kadang tidak terbendung sehingga keputusan yang diambilnya tidak terkendali sama sekali. Tetapi mereka benar-benar tidak dapat menyusul Ki Resa. Bahkan derap kaki kudanya pun tidak mereka dengar pula. Akhirnya, Perbatang dan Pinuji serta kedua orang cantrik yang menyertai mereka itu pun berhenti. “Kita tidak mempunyai kesempatan lagi,” berkata Perbatang hampir putus asa. Pinuji menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apa yang dapat kita lakukan sekarang?” Tetapi salah seorang cantrik yang menyertai mereka pun berkata, “Kita harus menemukan orang itu.” “Bagaimana mungkin kita dapat menemukannya,” sahut Perbatang. “Bukankah salah seorang dari kita mengetahui rumahnya? Kita datang ke rumahnya. Kita akan menyelesaikannya meskipun di hadapan keluarganya,” sahut cantrik yang lain. Perbatang dan Pinuji menjadi ragu-ragu. Hampir bergumam Pinuji berkata, “Rumahnya jauh sekali. Sehari perjalanan.” “Apa boleh buat,” jawab cantrik itu, “jika kita pulang tanpa membawa pertanda kematiannya, maka kita-lah yang akan digantung.” “Kenapa kita harus berbuat demikian sekarang? Bukankah beberapa saat yang lalu kita tidak pernah melihat, bahkan membayangkannya pun tidak, perlakukan yang demikian terhadap sesama kita?” “Tetapi keadaan sudah berubah. Kiai Timbang Laras juga sudah berubah,” jawab cantrik itu pula. “Sejak kehadiran Ki Jatha Beri,” desis Perbatang. “Tidak,” jawab salah seorang cantrik yang menyertainya, “Kiai Timbang Laras sendiri menyadari kelemahannya. Ia harus bersikap lebih baik jika ia ingin padepokannya bertambah maju. Sekarang, setelah Kiai Timbang Laras berhubungan dengan Ki Jatha Beri, ia dapat belajar daripadanya dan perubahan itu datang sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya Kiai Timbang Laras dapat menyesuaikan diri dengan sikap yang seharusnya dari seorang pemimpin padepokan, jika padepokannya ingin menjadi besar.” Perbatang dan Pinuji termangu-mangu sejenak. Kedua orang itu adalah cantrik dari padepokannya. Namun sikapnya membuat keduanya menjadi heran. Namun Perbatang pun kemudian masih bertanya, “Bagaimana pendapat kalian berdua?” “Kita pergi ke rumah Ki Resa.” “Jika Ki Resa tidak ada di rumah?” “Kita ambil siapa saja yang ada di rumahnya. Anaknya atau cucunya atau siapa saja.” Perbatang dan Pinuji terkejut. Dengan serta-merta Perbatang pun bertanya, “Untuk apa?” Kedua cantrik itu justru menjadi heran. Seorang di antara mereka berkata, “Bukankah itu wajar? Kita bawa salah seorang keluarga mereka. Justru yang terdekat dengan Ki Resa. Kita memaksa Ki Resa untuk datang mengambilnya.” “Lalu Ki Resa kita habisi?” desis Pinuji. “Ya.” “Lalu bagaimana dengan keluarganya yang kita bawa?” “Orang itu tidak berarti apa-apa. Kita akan melepaskannya atau membunuhnya, tidak ada bedanya.” “He,” tiba-tiba Perbatang bertanya, “kau salah seorang dari sekelompok cantrik yang baru?” “Ya,” jawab cantrik itu, “aku memang baru di padepokan Kiai Timbang Laras.” “Sebelumnya kau berada di perguruan mana?” bertanya Pinuji dengan dahi yang berkerut. “Kami adalah murid Ki Jatha Beri.” “Pantas,” Perbatang mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku tidak setuju dengan pendapatmu. Jika kita berurusan dengan Ki Resa, maka kita akan menyelesaikannya dengan orang itu. Tidak dengan keluarganya.” “Itu hanya satu cara,” jawab cantrik itu. “Satu cara yang keji. Jika kita ingin membunuh Ki Resa, maka kita harus berhadapan dengan orangnya. Ki Resa yang terbunuh atau kita yang akan mati.” Cantrik itu tertawa. Katanya, “Kau ingin menjadi seorang laki-laki jantan? Itu sama sekali tidak perlu. Yang penting, kita dapat menyelesaikan tugas yang diberikan kepada kita. Cara apapun yang kita pergunakan.” “Tidak. Aku tidak mau,” jawab Perbatang. “Jika demikian, tunjukkan saja rumahnya. Kami akan datang dan mengambil salah seorang keluarganya. Perempuan atau anak-anak.” “Tidak. Meskipun kami sudah melihat rumahnya, tetapi kami tidak akan menunjukkan.” “Jadi kalian akan berkhianat?” bertanya salah seorang cantrik itu. Telinga Perbatang dan Pinuji menjadi panas. Dengan geram Perbatang menjawab, “Tidak, kami akan mencari Ki Resa sampai kami menemukan orangnya.” “Itu perbuatan yang sangat bodoh. Berapa lama kalian akan mencari?” “Tidak ada batasan waktu yang diberikan oleh Kiai Timbang Laras,” jawab Pinuji. Kedua cantrik itu saling berpandangan sejenak. Namun seorang di antara mereka berkata, “Sekarang, beri saja kami ancar-ancar. Biarlah kami yang menyelesaikannya.” Tetapi Perbatang berkata dengan tegas, “Tidak. Aku tahu bahwa kalian akan berbuat licik. Kalian akan menculik perempuan atau kanak-kanak. Aku tidak mau.” “Jangan membuat kami kehabisan kesabaran,” berkata salah seorang cantrik itu. Telinga Perbatang dan Pinuji bagaikan tersentuh bara. Dengan suara bergetar menahan kemarahan Perbatang berkata, “Kalian mau apa? Kami adalah orang-orang terdekat dari Kiai Timbang Laras.. Kalian adalah cantrik-cantrik baru yang harus tunduk pada perintah kami.” “Tidak,” jawab salah seorang cantrik itu, “kami bukan budak-budak kalian meskipun kami berada di padepokan Kiai Timbang Laras. Tetapi kami mendapat tugas untuk mengawasi kalian jika terjadi pengkhianatan seperti ini.” “Bagus,” geram Pinuji, “jika demikian, apa yang akan kalian lakukan? Melaporkan kami kepada Kiai Timbang Laras?” “Kami harus memaksa kalian pulang,” geram cantrik itu. “Kami adalah orang-orang bebas yang dapat menentukan sikap sendiri,” geram Pinuji. “Jika demikian, kami harus memaksa kalian dengan kekerasan. Kami tidak mempunyai pilihan lain.” Perbatang dan Pinuji pun kemudian segera mempersiapkan diri. Kemarahan mereka serasa telah membakar ubun-ubun. Sementara itu, kedua orang cantrik yang ternyata semula adalah para pengikut Ki Jatha Beri itu pun telah bersiap pula. Sejenak kemudian, pertempuran pun telah terjadi di antara mereka. Perbatang dan Pinuji masing-masing menghadapi seorang cantrik. Ternyata kedua orang cantrik yang baru itu bukannya orang yang belum berilmu. Sebagai pengikut Jatha Beri yang justru mendapat tugas untuk mengamati padepokan Kiai Timbang Laras, maka keduanya memiliki bekal yang cukup. Tetapi Perbatang dan Pinuji bukannya cantrik yang baru kemarin sore berada di padepokan itu. Untuk waktu yang lama keduanya mendapat kepercayaan dari Kiai Timbang Laras. Karena itulah, pertempuran itu pun segera meningkat menjadi semakin sengit. Para cantrik yang merasa wajib untuk bertindak atas Perbatang dan Pinuji berusaha untuk dengan cepat menangkap dan membawa mereka menghadapi Ki Jatha Beri. Namun dalam pada itu, Perbatang dan Pinuji yang marah itu pun ingin segera menyelesaikan pertempuran itu. Karena itu, maka salah seorang di antara kedua cantrik itu pun kemudian berkata, “Sebaiknya kalian berdua menyerah saja, dan bersama-sama dengan kami menghadap Kiai Timbang Laras dan Kiai Jatha Beri. Jika kalian menyerah, maka aku akan mohon agar hukuman atas pengkhianatan kalian diperingan. Seandainya kalian harus dihukum mati, maka kematian kalian adalah kematian yang terbaik. Tetapi jika kalian melawan, aku akan mengusulkan hukuman yang terberat yang dapat diberikan kepada seseorang. Jika kalian mendapat hukuman mati, kematian kalian adalah kematian yang akan kalian tempuh dengan cara yang paling sulit. Bahkan mungkin kalian harus menunggu berhari-hari untuk sampai pada batas kematian yang sebenarnya.” Pinuji yang menghadapi cantrik itu dengan serta-merta menyahut, “Kau kira kami akan segera bersimpuh di hadapanmu? Kami bukan kanak-kanak yang dapat kau takut-takuti dengan caramu.” “Persetan kau Pinuji! Jika kau tetap keras untuk melawan, kami-lah yang akan memutuskan apakah kalian akan kami bunuh atau akan kami tinggalkan di sini, agar tubuhmu yang tidak lagi dapat bangkit akan menjadi mangsa anjing liar.” “Aku sudah memutuskan bahwa kalian tidak akan pernah dapat kembali ke padepokan kami. Kalian telah mengotori padepokan Kiai Timbang Laras dengan sikap dan cara hidup yang kasar dan curang,” geram Pinuji. “Kau benar-benar pengkhianat,” sahut cantrik itu, “karena itu kau harus mati. Aku akan membunuhmu dengan caraku.” Cantrik itu pun segera menarik goloknya. Dengan tangkasnya ia memutar goloknya itu sambil berkata, “Satu-satu anggota badanmu akan terpisah dari tubuhmu. Tetapi kau tidak akan mati malam ini. Malam nanti anjing-anjing liar akan menyelesaikanmu. Baru besok sisa-sisa tubuhmu ditemukan orang yang lewat jalan ini untuk pergi ke pasar.” Tetapi cantrik itu terkejut bukan buatan. Ketika mulutmu masih bergerak, tiba-tiba saja kaki Pinuji terjulur dengan derasnya menghantam dadanya. Cantrik itu terdorong beberapa langkah surut, bahkan kemudian cantrik itu terdorong jatuh. Namun dengan cepat ia berguling menjauh, kemudian dengan cepat melenting berdiri. Dengan kasar cantrik itu mengumpat. Namun Pinuji telah berdiri tegak dengan pedang yang sudah tercabut dari wrangkanya teracu ke arahnya. Pinuji tidak berbicara lebih banyak lagi. Tetapi setapak ia bergeser maju sambil menjulurkan pedangnya menggapai tubuh lawannya. Cantrik itu bergeser mundur. Goloknya pun berputar pula dengan cepat untuk melindungi tubuhnya Namun serangan Pinuji pun kemudian datang seperti gelombang yang datang beruntun menggempur batu-batu karang di pantai. Cantrik itu bertempur semakin keras dan garang. Goloknya yang besar dan berat itu berputar semakin cepat. Namun sekali-sekali golok itu terayun menyerang ke arah leher Pinuji. Tetapi Pinuji dengan tangkas menghindar atau menebas serangan itu, sehingga tidak menyentuh sasarannya Di lingkaran pertempuran yang lain, Perbatang bertempur dengan sengitnya pula. Cantrik yang menjadi lawannya itu pun berusaha untuk menekannya. Namun ternyata Perbatang bukan anak-anak yang baru belajar berjalan. Seperti kawannya, cantrik itu pun telah menarik senjatanya pula. Sebuah pedang yang besar dan panjang. Namun demikian ia menggenggam pedangnya, Perbatang pun telah memegang pedangnya pula. Dengan demikian, Perbatang pun kemudian telah bertempur dengan mempertaruhkan ilmu pedang masing-masing. Kedua cantrik pengikut Ki Jatha Beri itu telah berusaha meningkatkan ilmu mereka. Mereka bertempur semakin lama semakin keras. Bahkan kemudian menjadi semakin kasar. Yang nampak bukan lagi cantrik dari perguruan Kiai Timbang Laras, yang mempunyai garis keturunan ilmu yang sama dengan perguruan Kiai Warangka. Tetapi unsur-unsur yang dipergunakan kemudian adalah ilmu yang mereka warisi dari Ki Jatha Beri. Ilmu yang keras dan kasar, namun sangat berbahaya. Meskipun demikian, Perbatang dan Pinuji sama sekali tidak menjadi gentar. Murid perguruan Kiai Timbang Laras itu bertempur dengan garangnya pula. Bahkan kemudian Perbatang telah berhasil mendesak lawannya. Pedangnya yang sekali-sekali menjulur mematuk ke arah tubuh lawannya mampu mendesaknya, sehingga beberapa kali cantrik itu meloncat surut. Tetapi cantrik yang bertempur dengan kasar itu telah menghentak-hentakkan serangannya. Kadang-kadang orang itu mampu mengejutkan Perbatang. Namun kemudian, serangan-serangan Perbatang terasa semakin lama menjadi semakin berbahaya. Bahkan kemudian ketika cantrik itu meloncat sambil mengayunkan pedangnya menebas ke arah leher Perbatang, dengan keras pula Perbatang membentur serangan itu. Dengan cepat Perbatang memutar pedangnya dengan hentakan yang kuat, sehingga hampir saja pedang lawannya terlepas dari tangannya. Tetapi cantrik itu menggenggam pedangnya dengan erat, betapapun telapak tangannya terasa bagaikan terbakar. Tetapi Perbatang tidak menghentikan serangannya. Demikian pedangnya berputar, dengan cepat ia meloncat ke samping. Pedangnya bergerak dengan cepat menggapai tubuh lawannya. Cantrik yang masih berdebar-debar karena pedangnya yang hampir saja terlepas dari tangannya itu, terkejut sekali. Ia mencoba menangkisnya. Meskipun ia berhasil menggeser arah serangan Perbatang, namun ujung pedang Perbatang itu masih sempat menyentuh pundaknya. Cantrik itu meloncat surut. Pundaknya terasa menjadi pedih. Cairan yang hangat kemudian telah mengalir dari lukanya. Cantrik itu mengumpat kasar. Serangannya kemudian datang bergulung-gulung seperti angin prahara. Namun pertahanan Perbatang sama sekali tidak menjadi goyah. Pertahanannya justru menjadi semakin mantap, sementara serangan-serangannya menjadi semakin berbahaya. Murid Jatha Beri itu mulai menjadi gelisah. Ternyata kemampuan Perbatang itu lebih tinggi dari perhitungannya. Bahkan setelah ia mengerahkan segenap kemampuannya pun, ia tidak mampu menguasai lawannya yang memiliki ilmu pedang yang tinggi. Sementara itu, serangan-serangan Perbatang pun justru menjadi semakin cepat dan berbahaya. Ujung pedang Perbatang itu rasa-rasanya berdesing-desing di seputar telinga cantrik yang selalu terdesak itu. Lawan Pinuji yang menggenggam golok yang besar itu mencoba mencari keseimbangan ketika ia melihat kawannya terdesak. Jika saja ia mempunyai kesempatan lebih cepat menyelesaikan Pinuji, maka berdua dengan kawannya mereka akan dengan cepat pula menyelesaikan Perbatang. Tetapi Pinuji bukan seorang yang lemah. Bahkan bukan Pinuji yang kemudian terdesak, tetapi justru cantrik itulah yang setiap kali harus bergeser surut Serangan-serangan Pinuji-lah yang kemudian mewarnai keseimbangan pertempuran itu. Pedangnya bergerak dengan cepat. Sekali terjulur menggapai tubuh lawannya, namun kemudian tiba-tiba saja telah menebas dengan derasnya. Tetapi kemudian pedang itu berputar dan mematuk seperti seekor ular. Betapapun cantrik itu berusaha mengimbangi dengan serangan-serangannya yang keras dan kasar, namun ilmu pedang Pinuji memiliki kelebihan dari kemampuan lawannya itu. Dengan demikian, keseimbangan pertempuran itu pun mulai menjadi goyah. Kedua cantrik murid Jatha Beri itu ternyata sulit mengimbangi kemampuan Perbatang dan Pinuji. Apalagi kemarahan Perbatang dan Pinuji nampaknya tidak dapat diredakan lagi. Kedua orang cantrik itu benar-benar akan membunuhnya. Bahkan dengan cara yang sangat buruk. Karena itu, Perbatang itu pun berkata dengan lantang, “Sudah saatnya kalian dimusnahkan dari padepokan Kiai Timbang Laras!” Tetapi cantrik yang bertempur melawannya tidak dengan mudah menyerah kepada keadaan. Pada saat yang paling sulit, cantrik itu telah menarik sebilah pisau belati. Dengan cepat sekali pisau itu dilemparkan ke arah dada Perbatang. Untunglah Perbatang melihat lontaran pisau itu. Dengan cepat pula Perbatang mengelak. Tetapi pisau itu masih tetap menyambar dan menggores lengannya, sehingga segores luka telah menganga di lengannya. Luka itu justru membuat Perbatang semakin marah. Dengan garangnya Perbatang meloncat sambil menjulurkan pedangnya mengarah ke dada cantrik itu. Tetapi cantrik itu masih sempat mengelak. Selangkah ia bergeser. Tetapi Perbatang itu tidak melepaskannya. Pedang yang terjulur itu segera terayun menebas dengan derasnya. Cantrik itu masih berusaha menangkis serangan itu. Namun pedang Perbatang segera berputar. Satu loncatan panjang dengan pedang yang terjulur lurus, mematuk langsung menghujam ke arah jantung. Terdengar cantrik itu berteriak sambil mengumpat kasar. Namun ia tidak mempunyai kesempatan lagi. Ujung pedang Perbatang benar-benar telah menukik melubangi jantungnya. Sejenak kemudian suara cantrik itu pun segera lenyap. Demikian tubuhnya terjatuh di tanah, maka nafasnya pun telah terhenti. Cantrik yang bertempur melawan Pinuji itu melihat kawannya yang terbunuh oleh Perbatang. Dengan demikian ia tidak berpengharapan lagi. Perbatang akan dapat bergabung dengan Pinuji melawannya bersama-sama. Karena itu, cantrik itu pun berniat untuk melarikan diri. Jika ia sempat sampai ke padepokan, maka ia akan dapat menyampaikannya kepada Ki Jatha Beri. Tetapi Pinuji sama sekali tidak memberi kesempatan. Demikian lawannya berusaha menghindar dari pertempuran, Pinuji itu dengan cepat memotong jalannya. Cantrik yang hampir berputus asa itu telah mengayunkan goloknya menebas ke arah dada. Tetapi Pinuji sempat mengelak. Demikian golok itu terayun, dengan cepat pula Pinuji meloncat. Pedangnya-lah yang kemudian terayun menyambar lambung. Cantrik itu tidak dapat mengelak. Lambungnya telah terkoyak oleh tajamnya pedang Pinuji. Sejenak kemudian dua orang cantrik itu telah terkapar di pinggir jalan. Keduanya ternyata tidak mampu mengimbangi kemampuan Perbatang dan Pinuji. Dua orang murid dari padepokan Kiai Timbang Laras. Sejenak Perbatang dan Pinuji termangu-mangu. Kedua orang itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan saja kedua orang cantrik yang terbunuh itu. “Biarlah besok orang-orang yang menemukan, menguburkannya,” berkata Perbatang, “kita tidak dapat melakukannya sekarang.” Pinuji mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah. Kita akan melaporkannya kepada Kiai Timbang Laras, bahwa orang-orang Jatha Beri yang ada di padepokan kita mempunyai tugas khusus yang diberikan oleh Ki Jatha Beri itu.” Perbatang mengangguk-angguk pula. Tetapi sebelum ia menjawab, kedua orang itu terkejut Dengan cepat keduanya meloncat surut sambil mengacukan senjatanya. Yang kemudian berdiri di hadapan mereka adalah Ki Resa yang sedang mereka buru itu. “Ki Resa,” desis Perbatang. “Ya,” jawab Ki Resa, “apakah kalian sedang mencari aku?” “Ya. Kami memang sedang menyusul Ki Resa,” jawab Perbatang. “Kalian mendapat perintah untuk membunuh aku?” bertanya Ki Resa pula. “Ya.” Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Aku memang sudah memperhitungkan hal itu. Itulah sebabnya aku tidak berpacu terus. Demikian aku keluar dari padepokan, aku telah membawa kudaku bersembunyi. Aku justru berkuda di belakang kalian.” “Kau memang cerdik, Ki Resa,” sahut Pinuji. “Aku tahu bagaimana kalian berselisih dengan kedua orang cantrik itu. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian berdua, bahwa kalian tidak mau melakukan sebagaimana akan dilakukan oleh kedua cantrik itu, yang ternyata adalah para pengikut Ki Jatha Beri.” “Sekarang kita sudah berhadapan. Kami bertekad untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepada kami,” berkata Perbatang. “Kau sudah terluka.” “Luka ini tidak berpengaruh sama sekali.” “Mungkin. Tetapi jika kau menghentakkan tenaga untuk bertempur, maka darah akan mengalir terus dari lukamu. Seseorang akan dapat menjadi lemah karena kekurangan darah. Karena itu, aku anjurkan kau obati dahulu lukamu itu agar menjadi mampat.” “Tidak perlu, Ki Resa. Aku akan mengobatinya setelah persoalan kita selesai. Setelah kami dapat menyelesaikan tugas kami dengan sebaik-baiknya.” “Membunuh aku?” bertanya Ki Resa. Pertanyaan itu telah menghentakkan Perbatang dan Pinuji ke dalam keadaan yang rumit. Karena itu keduanya tidak segera dapat menjawabnya. Ki Resa justru tersenyum. Katanya, “Nah, jika kalian memang akan melaksanakan perintah dengan baik, lakukanlah. Kalian tidak usah mencari aku ke mana-mana. Kalian tidak usah menculik perempuan atau kanak-kanak.” Perbatang dan Pinuji justru menjadi ragu-ragu. Mereka bukannya menjadi gentar berhadapan dengan Ki Resa. Tetapi justru mereka tahu bahwa Ki Resa telah melakukan pekerjaannya sebagaimana disanggupinya dengan baik. Jika kemudian Ki Resa itu mengambil kesimpulan bahwa peti tembaga itu tidak ada di padepokan Kiai Warangka, itu sama sekali bukan kesalahannya. Memang kedua murid dari padepokan Kiai Timbang Laras itu juga bertanya di dalam hati, apakah mungkin Ki Resa itu berbuat curang atau sengaja menyesatkan. Namun keduanya berpendapat, seandainya kecurigaan itu ada, seharusnya sejak awal Kiai Timbang Laras harus sudah memikirkannya. Kesan dari sikap Kiai Timbang Laras kemudian adalah seakan-akan Ki Resa harus memberikan jawab sebagaimana dikehendaki oleh Kiai Timbang Laras. Karena kedua orang itu termangu-mangu, maka Ki Resa pun berkata, “Perbatang dan Pinuji. Sebenarnya aku juga ingn memberikan jawaban sebagaimana dikehendaki oleh Kiai Timbang Laras. Aku memang dapat berpura-pura, memberi jawaban asal saja aku sebut di mana peti itu disembunyikan di dalam lingkungan padepokan Kiai Warangka. Tetapi sejak semula, pekerjaanku ini bukan alat untuk menipu. Karena itu, aku harus mengatakan sesuai dengan penglihatanku.” Perbatang-lah yang kemudian menjawab, “Sebenarnya sejak semula kami sudah ragu, Ki Resa. Tetapi kami tidak dapat menolak perintah Kiai Timbang Laras, meskipun kami merasa heran bahwa Kiai Timbang Laras sekarang benar-benar telah berubah. Sejak Ki Jatha Beri ada di padepokan, segala-galanya sudah lain dari sebelumnya. Aku tidak tahu, kenapa demikian besar pengaruh Ki Jatha Beri terhadap Kiai Timbang Laras.” “Jadi apakah yang akan kau lakukan?” “Kami berniat untuk kembali, menemui Kiai Timbang Laras dan melaporkan apa yang sudah terjadi.” “Bagaimana dengan Ki Jatha Beri?” “Aku akan melaporkan apa adanya. Aku justru ingin tahu tanggapan Kiai Timbang Laras dan sikap Ki Jatha Beri.” “Tetapi kalian akan dapat dihukum mati.” “Jika Kiai Timbang Laras benar-benar sudah menyimpang dari kepribadiannya, maka biarlah kami menjadi korbannya.” Ki Resa termangu-mangu sejenak. Katanya, “Baiklah. Mudah-mudahan Kiai Timbang Laras masih mempunyai kesempatan mempergunakan penalarannya menghadapi persoalan ini.” Demikianlah, Perbatang dan Pinuji pun telah meloncat ke punggung kudanya. Namun ketika mereka akan meninggalkan tempat itu, Ki Resa pun berkata, “Kau melupakan kedua orang cantrik itu.” “Kami sengaja membiarkannya.” “Jika kau memang ingin mengatakan apa yang sudah terjadi sebagaimana adanya, kenapa tidak kau bawa saja?” Perbatang dan Pinuji termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Perbatang itu pun berkata, “Baiklah. Jika Pinuji tidak berkeberatan, kami akan membawanya.” Pinuji memang agak ragu. Tetapi akhirnya ia pun berkata, “Baiklah. Kita akan membawanya.” Dengan demikian, maka Perbatang dan Pinuji itu pun telah menaikkan tubuh kedua orang cantrik itu ke atas kuda mereka masing-masing, dan kemudian menuntun kuda-kuda itu ke padepokan. Ketika Perbatang dan Pinuji memasuki padepokan, para cantrik pun segera mengerumuninya. “Apa yang telah terjadi?” para cantrik itu pun saling bertanya. Tetapi Perbatang dan Pinuji tidak mengatakan sesuatu. Keduanya melangkah menuju ke bangunan utama padepokan itu untuk langsung bertemu dengan Kiai Timbang Laras. Ki Timbang Laras memang masih berada di bangunan induk itu. Ia pun segera bangkit ketika ia melihat Perbatang dan Pinuji membawa tubuh dua orang cantrik di atas punggung kuda mereka. “Apa yang telah terjadi?” bertanya Kiai Timbang Laras. Perbatang dan Pinuji pun segera naik ke pendapa. Mereka berdua memang sudah berniat untuk mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi kepada Kjai Timbang Laras. Bahkan seandainya Ki Jatha Beri duduk pula bersamanya Tetapi sikap Kiai Timbang Laras memang mengejutkan Perbatang dan Pinuji. Kiai Timbang Laras tidak mempertimbangkan laporan Perbatang dan Pinuji sebagai satu ancaman bagi kemandirian perguruan Kiai Timbang Laras, tetapi sebaliknya, Kiai Timbang Laras itu menjadi sangat marah. “Jadi kau bunuh saudara-saudara sendiri?” “Tetapi kami mempunyai alasan yang kuat, kenapa hal ini kami lakukan, Kiai.” “Apapun alasannya, apakah aku pernah mengajarkan kepadamu untuk membunuh saudara-saudara kita sendiri?” “Tetapi Kiai juga tidak pernah mengajarkan untuk menculik perempuan dan anak-anak.” “Itu tergantung pada kepentingannya. Kau harus menerapkan ajaranku dengan bijaksana.” Perbatang dan Pinuji menjadi berdebar-debar. Sementara itu Perbatang masih mencoba untuk menjelaskan, “Kiai. Apakah Kiai tidak merasa tersinggung jika ada orang lain yang datang ke padepokan ini justru untuk mengawasi kita? Apakah orang-orang baru yang sejak semula memang para pengikut Ki Jatha Beri itu, suatu saat tidak akan mengganggu kebebasan kita di dalam perguruan kita sendiri?” “Tutup mulutmu, Perbatang!” bentak Kiai Timbang Laras, “Aku justru memerlukan Ki Jatha Beri. Ia akan dapat memberikan terang bagi padepokan kita, serta memberikan harapan atas masa depan yang lebih baik.” Perbatang yang menyadari bahwa Kiai Timbang Laras benar-benar sudah menjadi marah, tidak berkata apapun lagi. Mereka menyadari apa yang akan terjadi atas diri mereka. Sebenarnyalah Kiai Timbang Laras telah memerintahkan untuk menangkap Perbatang dan Pinuji. Kiai Timbang Laras justru memberitahukan kepada Ki Jatha Beri, bahwa dua orang cantrik yang sejak sebelumnya adalah para pengikut Ki Jatha Beri, telah dibunuh oleh Perbatang dan Pinuji. “Mereka harus dihukum mati!” teriak Ki Jatha Beri, “Aku sendiri yang akan menghukum mereka!” “Silakan, Ki Jatha Beri,” sahut Kiai Timbang Laras. Perbatang dan Pinuji tidak mempunyai kesempatan untuk membela diri. Semula mereka berharap bahwa Kiai Timbang Laras akan melindunginya. Tetapi ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Karena itu, maka keduanya hanya dapat pasrah, apapun yang akan terjadi atas diri mereka. Bahkan mereka sudah membayangkan bahwa mereka akan mengalami nasib yang sangat buruk di saat kematian mereka, karena mereka akan mati di tangan Ki Jatha Beri. Ki Jatha Beri yang marah itu telah memerintahkan agar Perbatang dan Pinuji dimasukkan ke dalam bilik tertutup. Mereka akan menjalani hukuman mati di keesokan harinya. Ki Jatha Beri pun telah memerintahkan empat orang cantrik yang sejak semula adalah pengikut Ki Jatha Beri untuk menjaga bilik itu. “Dua orang di depan dan dua orang di belakang,” geram Ki Jatha Beri. Bahkan ia menambahkan, “Beri isyarat jika keduanya berusaha untuk melarikan diri. Jika kalian lengah dan keduanya terlepas, maka kalianlah akan menjadi gantinya. Besok kalian akan aku hukum mati menurut caraku.” Perbatang dan Pinuji tidak melawan. Keduanya pun kemudian telah dimasukkan ke dalam bilik dengan tangan dan kaki terikat pada tiang di dalam bilik itu. Tidak ada kemungkinan bagi keduanya untuk melarikan diri. Dalam pada itu, para cantrik yang sejak semula berada di padepokan Kiai Timbang Laras, ternyata telah tersinggung pula. Tetapi mereka tidak berani berbuat sesuatu. Kiai Timbang Laras, pemimpin dan guru mereka yang mereka hormati dan mereka takuti, justru telah menjerumuskan Perbatang dan Pinuji ke dalam keadaan yang paling sulit. Keduanya besok akan dihukum mati dengan cara yang barangkali belum pernah mereka lihat sebelumnya Malam itu Ki Jatha Beri telah memerintahkan beberapa orang cantrik yang sejak sebelum berada di padepokan adalah pengikutnya, untuk menyiapkan hukuman mati itu. Para cantrik padepokan Kiai Timbang Laras tidak tahu pasti, apa yang telah dibuat oleh orang-orang itu. Mereka membuat tiang dan kemudian menanamnya di halaman padepokan. Dua pasang patok kayu yang kuat. Tetapi para cantrik itu membayangkan bahwa besok mungkin Perbatang dan Pinuji akan diikat pada dua pasang patok kayu itu. Tangan mereka akan direntangkan. Demikian pula kaki mereka. Selanjutnya mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Dalam kegelisahan itu, para cantrik dari padepokan Kiai Timbang Laras hanya dapat mengusap dada bahwa Ki Jatha Beri itu masih dapat tidur nyenyak. Begitu ia marah-marah dan memerintahkan membuat alat untuk menghukum mati Perbatang dan Pinuji, orang itu langsung masuk ke dalam biliknya dan tidur mendengkur. “Begitu tidak berharganya nyawa Perbatang dan Pinuji di mata Ki Jatha Beri.” Tetapi para cantrik itu tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam pada itu, Perbatang dan Pinuji yang terikat kaki dan tangannya di dalam sebuah bilik yang sempit benar-benar sudah pasrah. Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Mereka merasakan ikatan pada tangan dan kakinya itu begitu kuat, sehingga tidak mungkin untuk dapat dilepaskan lagi. Sementara itu, ada empat orang yang berjaga-jaga di luar. Dua orang mengawasi bagian depan dan dua orang di bagian belakang bilik itu. Bagi Perbatang dan Pinuji, sisa malam itu terasa amat panjang. Mereka ingin matahari segera terbit. Jika mereka harus mati, biarlah kematian itu segera datang, meskipun mereka sadar bahwa cara yang paling buruk akan terjadi pada saat kematian mereka. Dalam pada itu, sisa malam itu terasa menjadi semakin dingin di padepokan Kiai Timbang Laras. Perasaan para cantrik bagaikan dicengkam oleh kegelisahan. Dua orang cantrik yang meronda berkeliling merasa tengkuk mereka meremang. Namun mereka berjalan terus. Untuk mengusir ketegangan yang menyusup ke dalam jantung mereka, seorang di antara mereka pun berdesis, “Kasihan Kakang Perbatang dan Kakang Pinuji.” “Ya,” yang lain menyahut, “aku tidak tahu kenapa Kiai Timbang Laras benar-benar berubah. Kakang Perbatang dan Kakang Pinuji adalah dua orang yang termasuk di antara mereka yang dekat dengan Kiai Timbang Laras. Keduanya adalah orang-orang yang dipercaya. Bahkan kedua orang itu pula yang diperintahkan untuk menyertai Ki Resa ke padepokan Kiai Warangka.” “Semuanya sudah berubah. Bahkan sikap Kiai Timbang Laras dengan saudara-saudara seperguruannya juga sudah berubah. Jika dahulu Kiai Timbang Laras sangat menghormati Kiai Warangka, sekarang sama sekali tidak. Bahkan Kiai Timbang Laras itu sempat mencurigai kakak seperguruannya itu.” “Ki Jatha Beri telah menebarkan racun di padepokan ini,” geram yang lain. Keduanya terdiam. Mereka melangkah sampai di sudut padepokan. Beberapa saat mereka berhenti. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Marilah. Kita kembali ke gardu.” Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku merasa ada ketenangan di sini. Di gardu itu ada cantrik yang baru, yang sebelumnya adalah pengikut Ki Jatha Beri. Di sana kita tidak dapat berbicara bebas seperti ini.” Kawannya mengangguk-angguk. Bahkan kemudian orang itu duduk di atas sebuah batu sambil berkata, “Baiklah. Kita beristirahat di sini sebentar.” Namun ketika kawannya juga akan duduk, mereka terkejut. Sesosok tubuh tiba-tiba muncul dari balik gerumbul, sudah di dalam dinding padepokan. Karena itu, maka kedua orang cantrik itu dengan sigap meloncat bangkit. Senjata mereka pun segera teracu kepada sosok tubuh yang tiba-tiba muncul itu. Tetapi orang itu mengacukan kedua tangannya sambil berdesis, “Sabar Ki Sanak, sabar.” “Siapa kau?” bertanya salah seorang cantrik itu. “Apakah kau tidak mengenal aku?” bertanya orang itu. “Ki Resa,” desis cantrik itu. “Ya Aku ingin mendapat keterangan tentang Perbatang dan Pinuji. Semula aku akan mencarinya sendiri. Tetapi setelah aku mendengar pembicaraan kalian, maka aku memberanikan diri untuk menemui kalian. Terus-terang, aku ingin menyelamatkan mereka.” “Maksud Ki Resa?” “Aku tidak akan melibatkan kalian. Aku hanya ingin kalian memberitahu, di mana sekarang Perbatang dan Pinuji.” “Keduanya ditahan sekarang. Besok pagi mereka akan dihukum mati. Hukuman itu akan dilakukan sendiri oleh Ki Jatha Beri dengan caranya.” “Apakah Kiai Timbang Laras tidak melindungi mereka?” “Itulah yang kami sesalkan. Kiai Timbang Laras justru ikut menghukum mereka dengan menyerahkan mereka kepada Ki Jatha Beri.” “Baiklah aku berterus terang kepada kalian. Tunjukkan kepadaku, di mana mereka ditahan. Aku akan berusaha membebaskan mereka, meskipun aku tahu bahwa usaha itu akan sangat berbahaya. Aku minta kalian tidak memberikan isyarat. Seperti sudah aku katakan, aku tidak akan melibatkan kalian.” “Isyarat apa yang Ki Resa maksudkan?” “Kalian jangan memberi isyarat kepada para cantrik bahwa seseorang telah menyusup ke dalam padepokan ini.” Cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang di antara mereka berkata, “Baiklah. Aku tidak akan berbuat apa-apa.” Cantrik itu pun kemudian memberikan ancar-ancar di mana Perbatang dan Pinuji ditahan. “Terima kasih. Doakan agar aku berhasil menyelamatkan kedua orang saudara seperguruan kalian, yang menurut pendapatku tidak bersalah itu.” Demikianlah, Ki Resa pun segera menyusup kembali ke dalam gerumbul-gerumbul perdu. Namun kemudian, orang itu telah bergeser untuk melaksanakan rencananya. Sementara itu, langit sudah mulai dibayangi oleh cahaya fajar. Sisa malam pun menjadi semakin sempit Ketika burung-burung liar bernyanyi di pepohonan, serta ayam jantan berkokok saling bersahutan, maka padepokan itu sudah mulai menjadi sibuk. Di dapur perapian sudah menyala. Para cantrik yang bertugas sudah menjerang air untuk membuat minuman. Namun tiba-tiba padepokan Kiai Timbang Laras itu menjadi gempar. Para cantrik yang berjaga-jaga di depan dan di belakang bilik tahanan Perbatang dan Pinuji telah terbaring di tanah. Mereka sudah mati terbunuh. Nampaknya empat orang itu tidak sempat memberikan perlawanan sama sekali. Para cantrik pun menjadi sibuk. Ketika hal itu disampaikan kepada Kiai Timbang Laras dan Ki Jatha Beri, maka keduanya menjadi sangat marah. Beberapa orang pengikut Ki Jatha Beri pun telah mengumpat-umpat kasar. Empat orang di antara mereka terbunuh, setelah dua orang sebelumnya sudah dibunuh pula oleh Perbatang dan Pinuji. Ubun-ubun Ki Jatha Beri bagaikan terbakar. Dengan serta merta maka mereka yang bertugas berjaga-jaga malam itu segera dipanggil. Namun yang lebih menggemparkan lagi, ternyata Perbatang dan Pinuji sudah tidak ada di dalam bilik itu. Tali pengikat tangan dan kakinya terlepas tanpa bekas terpotong tajamnya senjata. Dua kelompok cantrik yang bertugas malam itu telah menghadap. Sekelompok yang bertugas sampai tengah malam, sedang yang sekelompok yang bertugas sejak tengah malam. Tetapi kedua kelompok cantrik itu tidak dapat memberikan penjelasan apa-apa. Mereka justru meronda mengelilingi padepokan. Adapun bilik yang dipergunakan untuk menahan Perbatang dan Pinuji berada di tengah-tengah padepokan. Sedangkan kelompok-kelompok cantrik yang bertugas itu terdiri dari cantrik yang sudah lama berada di padepokan itu bersama-sama dengan para cantrik yang baru, yang semula adalah pengikut Ki Jatha Beri. Dengan demikian, Ki Jatha Beri mengalami kesulitan untuk begitu saja menuduh para cantrik kawan-kawan Perbatang dan Pinuji-lah yang telah melepaskan kedua orang tawanan itu, karena di dalam tugas para cantrik itu sudah berbaur. Apalagi para pengikut Ki Jatha Beri itu sengaja mengawasi para cantrik yang telah lebih dahulu berada di padepokan itu. Kiai Timbang Laras pun ternyata telah ikut menjadi sangat marah. Kiai Timbang Laras sebagai pemimpin padepokan telah mengumpulkan semua cantrik. Dengan suara bergetar oleh kemarahan yang menghentak jantungnya, Kiai Timbang Laras itu telah mengancam, “Jika akhirnya aku mengetahui siapa yang telah melakukannya, maka hukuman yang belum pernah mereka bayangkan akan aku terapkan.” Para cantrik itu hanya dapat diam sambil menundukkan wajah mereka. Para cantrik itu memang menjadi ketakutan melihat kemarahan Kiai Timbang Laras dan Ki Jatha Beri. Perasaan yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan. Dalam pada itu, Perbatang dan Pinuji masih berada dalam perjalanan. Mereka dengan cepat menjauhi padepokan yang telah mereka huni bertahun-tahun. Sementara itu, Kiai timbang Laras dan Ki Jatha Beri telah memerintahkan beberapa orang berkuda untuk mencari kedua orang yang berhasil melarikan diri dari bilik tahanannya itu. “Tangkap mereka hidup-hidup. Aku sendiri yang akan menghukum mereka,” geram Ki Jatha Beri. Tetapi Perbatang dan Pinuji sudah menjadi semakin jauh. Kiai Resa yang menyertai keduanya, berjalan sambil menuntun kudanya. “Kita sudah jauh dari padepokan,” berkata Ki Resa. “Kenapa Ki Resa berusaha membebaskan kami?” bertanya Perbatang. Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tahu bahwa seharusnya kalian berdua tidak dihukum mati.” “Kiai Timbang Laras tidak mau melindungi kami berdua,” desis Pinuji. “Itulah yang mengherankan kami,” sambung Perbatang, “segala-galanya sudah berubah.” “Karena itu, aku berusaha untuk menyingkirkan kalian dari bilik itu.” “Apakah Ki Resa tidak memperhitungkan kemungkinan bahwa kami berdua masih tetap akan membunuh Ki Resa? Apalagi dalam keadaan terjepit seperti sekarang. Jika kami berhasil membawa Ki Resa kembali ke padepokan hidup atau mati, mungkin Kiai Timbang Laras dan Ki Jatha Beri akan memaafkan kami.” Ki Resa tertawa. Katanya, “Aku masih percaya bahwa kalian berdua bukan orang yang tidak berjantung. Namun seandainya demikian, aku pun masih percaya bahwa aku akan dapat menyelamatkan diri. Aku yakin, jika terjadi benturan kekerasan di antara kita, maka aku-lah yang akan membunuh kalian berdua.” Perbatang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin Ki Resa benar. Karena itu, lebih baik kami tidak mencobanya.” Ki Resa masih tertawa. Katanya, “Kesombongan kadang-kadang memang ada gunanya.” Namun Pinuji-lah yang kemudian bertanya, “Kita akan ke mana sekarang, Ki Resa?” “Aku akan mengajak kalian pulang ke rumahku. Aku harus menyingkirkan keluargaku. Jika pikiran kedua orang yang kalian bunuh itu juga tumbuh di kepala kawan-kawannya, maka keluargaku akan terancam.” “Jika demikian, aku ingin mempersilakan Ki Resa mendahului kami. Kami juga akan pergi ke rumah Ki Resa. Tetapi sebaiknya Ki Resa cepat-cepat pulang dan menyelamatkan keluarga Ki Resa.” Ki Resa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan mendahului kalian. Tetapi aku berharap bahwa kalian langsung menuju ke rumahku.” “Baik, Ki Resa. Kami akan langsung pergi ke rumah Ki Resa.,” sahut Perbatang. Ki Resa yang tiba-tiba saja teringat keselamatan keluarganya segera meloncat ke punggung kudanya. Sejenak kemudian, kuda itu pun telah berlari di jalan bulak yang panjang. Perbatang dan Pinuji tidak menempuh jalan yang sama. Mereka justru menyusup melalui jalan pintas. Lewat lorong-lorong kecil dan jalan setapak. Keduanya menduga bahwa Ki Jatha Beri dan Ki Timbang Laras tidak akan berdiam diri. Mereka tentu memerintahkan para cantrik untuk mencarinya. Dalam pada itu, Ki Resa memacu kudanya secepat-cepatnya. Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah atau mereka yang sedang berjalan dan berpapasan, memandangi orang yang berpacu itu dengan dahi yang berkerut. Seorang di antara mereka yang berdiri di pematang berdesis, “Orang yang tidak tahu diri. Apa dikiranya jalan itu milik kakeknya? Jika kuda itu menyentuh orang yang sedang berjalan, akibatnya akan sangat buruk.” Demikian pula orang-orang yang berjalan kaki. Debu yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda itu membuat mereka terbatuk-batuk. Tetapi Ki Resa tidak menghiraukan mereka. Ia ingin segera sampai di rumahnya. Ki Resa menarik nafas panjang demikian ia memasuki halaman rumahnya. Ia tidak melihat suasana yang mencemaskan. Ia melihat keluarganya masih dalam keadaan tenang. Ki Resa tidak mau membuat keluarganya gelisah. Tetapi ia pun tidak ingin keluarganya menjadi korban. Karena itu, maka Ki Resa ingin menyampaikan persoalan yang sedang dihadapinya itu dengan berhati-hati. Betapapun Ki Resa merasa gelisah, namun ia tidak menunjukkan kegelisahannya itu. Dengan wajah jernih, Ki Resa memanggil anak perempuannya yang tinggal bersamanya. Anak perempuannya yang sudah ditinggal suaminya meninggal dunia. “Di mana ibumu?” bertanya Ki Resa “Di belakang, Ayah. Ibu sedang menampi beras.” Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Panggil ibumu dan panggil kedua orang anakmu.” Anak perempuan Ki Resa termangu-mangu sejenak. Namun Ki Resa berkata, “Aku menunggu di sini.” “Ada apa sebenarnya Ayah?” bertanya anak perempuannya itu. Ki Resa mencoba untuk menghapus kesan kegelisahan itu di wajahnya. Katanya, “Panggillah. Aku ingin berbicara dengan kalian.” Anak perempuannya itu tidak bertanya lagi. Ia pun segera memanggil ibunya dan kedua orang anaknya yang sedang bermain di halaman belakang, di dekat neneknya menampi beras. Sejenak kemudian, mereka pun telah terkumpul. Ki Resa, istrinya, anak perempuannya dan dua orang cucunya yang masih kecil. “Nyi,” berkata Ki Resa kepada istrinya, “bukan maksudku melibatkan kalian dalam kesulitan yang aku alami karena pekerjaanku.” Wajah istrinya berkerut. Meskipun Ki Resa berusaha untuk mengatakan dengan sangat berhati-hati, tetapi istrinya mampu menangkap kegelisahan di dalam hati suaminya. Bahkan anaknya pun telah mendesaknya, “Ada apa sebenarnya? Sebaiknya Ayah berterus terang. Kami memaklumi tugas-tugas Ayah, sehingga jika terjadi sesuatu yang akan menyangkut diri kami, sebaiknya Ayah berterus terang. Kami akan berusaha membantu menurut kemampuan kami.” Ki Resa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku akan berterus terang,” suara Ki Resa merendah, “aku ingin minta kalian meninggalkan rumah ini untuk sementara.” “Kenapa, Ayah?” bertanya anak perempuannya. “Aku berhadapan dengan seorang pemimpin padepokan yang sedang kehilangan kendali nalarnya. Mereka akan membunuh aku. Tetapi itu tidak penting. Yang membuat aku gelisah, justru karena mereka tidak berhasil membunuh aku, maka mereka akan mengambil keluargaku dan memaksa aku untuk menyerah.” Anak perempuannya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ayah. Aku adalah anak Ayah. Bukankah Ayah pernah serba sedikit memberi petunjuk, bagaimana aku harus membela diri?” “Aku mengerti. Tetapi bagaimana dengan anak-anakmu dan ibumu?” “Biarlah ibu membawa anak-anak bersembunyi di rumah Paman di ujung padukuhan. Aku akan berada di rumah ini bersama Ayah. Kecuali jika Ayah juga ingin menghindari mereka. Aku akan menyertai Ayah.” “Yang kita hadapi adalah tidak hanya satu dua orang. Tetapi sepadepokan. Karena itu, sebaiknya kau antarkan ibumu ke rumah pamanmu. Biarlah aku menunggu di sini.” Ki Resa termangu-mangu sejenak. Dengan nada berat ia berkata, “Kau tentu tidak dapat membayangkan, siapa yang akan kita hadapi. Mereka adalah orang-orang dari padepokan Kiai Timbang Laras, yang sedang terpengaruh oleh sifat-sifat hitam Ki Jatha Beri.” Anak perempuan Ki Resa itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Siapapun mereka, Ayah. Aku tidak dapat membiarkan Ayah sendiri menghadapi mereka.” Ki Resa memang sangat bimbang. Ia tidak akan sampai hati menjerumuskan anak perempuannya ke dalam kesulitan. Bahkan mungkin hidupnya akan dihabisi dengan cara yang sangat buruk. Namun dalam pada itu, selagi mereka masih berbincang, terdengar derap kaki kuda di kejauhan. Tidak hanya satu dua ekor kuda. Tetapi beberapa. “Mereka datang,” desis Ki Resa. Anak perempuannya pun segera bangkit sambil mendorong kedua anaknya, “Ibu, bawa mereka pergi lewat regol butulan.” Nyi Resa tidak ingin terlambat. Karena itu, maka tanpa bertanya lagi kedua orang cucunya telah dibawanya menyingkir. Anak Ki Resa itu pun dengan tergesa-gesa masuk ke dalam biliknya. Ketika ia keluar lagi, maka ia telah mengenakan pakaian seorang laki-laki. Dalam pada itu, beberapa ekor kuda yang berderap di jalan padukuhan itu langsung menuju ke rumah Ki Resa. Agaknya satu dua orang cantrik telah melihat rumahnya, sehingga ia telah membawa kawan-kawannya untuk menangkap Ki Resa. Ketika mereka berangkat, Ki Jatha Beri telah meneriakkan perintah, “Tangkap Perbatang dan Pinuji! Jika Resa tidak ada di rumahnya, maka bawa anak atau istrinya atau cucunya!” Karena orang-orang berkuda itu belum menemukan Perbatang dan Pinuji, maka mereka pun telah menuju ke rumah Ki Resa. Jika mereka tidak membawa seorang pun kembali ke padepokan, maka Ki Jatha Beri dan Kiai Timbang Laras tentu akan menjadi semakin marah. Beberapa saat kemudian, sebelas orang berkuda telah memasuki halaman rumah Ki Resa. Jumlah yang tidak tanggung tanggung. Kelompok-kelompok yang dikirim untuk mencari Perbatang dan Pinuji, bahkan juga Ki Resa, harus meyakinkan mampu menangkap ketiga orang itu hidup-hidup. Sejenak kemudian halaman rumah Ki Resa itu telah penuh dengan kuda. Sementara itu di tangga rumahnya, Ki Resa dan anak perempuannya yang berpakaian seperti seorang laki-laki, berdiri tegak dengan pedang di lambung. “Ki Resa,” desis seorang cantrik. Ia termasuk seorang cantrik yang baru, tetapi sebelumnya ia adalah pengikut Ki Jatha Beri. Justru cantrik yang baru itulah yang memimpin sekelompok cantrik yang mendapat perintah untuk mencari Perbatang dan Pinuji. Tetapi kelompok itu bukan satu-satunya kelompok yang keluar dari padepokan. Tetapi ada tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang, dengan arah yang berbeda-beda. Sementara cantrik itu pun berkata selanjutnya, “Kami mendapat perintah untuk membawa Ki Resa ke padepokan.” “Kenapa?” bertanya Ki Resa. “Bertanyalah kepada Kiai Timbang Laras dan Ki Jatha Beri.” “Jika kalian ingin membawa aku, maka kalian harus dapat mengatakan apa keperluannya. Aku sangat menghargai waktuku.” “Kau tidak usah banyak bicara, Ki Resa. Kau harus menyerahkan kedua tanganmu. Kami akan mengikatnya dan membawamu menghadap Kiai Timbang Laras dan Ki Jatha Beri.” “Jangan berkata begitu Ki Sanak,” jawab Ki Resa, “aku tidak merasa mempunyai persoalan apapun dengan padepokanmu.” “Jangan banyak bicara! Kami masih harus mencari Perbatang dan Pinuji,” berkata cantrik itu. Ki Resa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Kenapa dengan Perbatang dan Pinuji?” “Keduanya harus ditangkap. Mereka telah membunuh saudara-saudara kami. Mereka harus menjalani hukuman mati.” “Dengan demikian Perbatang dan Pinuji itu jelas bersalah. Tetapi apakah aku juga bersalah?” “Cukup!” bentak cantrik itu, “Menyerahlah!” Tetapi Ki Resa tertawa. Katanya, “Aku lebih senang mati di sini daripada mati di padepokan kalian. Apalagi mati di bunuh oleh Ki Jatha Beri, orang yang tidak dapat menempatkan diri. Bukankah ia berada di padepokan Kiai Timbang Laras? Tetapi seakan-akan Ki Jatha Beri-lah yang berkuasa. Tetapi menurut pendapatku, Kiai Timbang Laras juga salah. Ia terlalu lemah menghadapi sikap Ki Jatha Beri. Seharusnya Kiai Timbang Laras memberikan perlindungan kepada Perbatang dan Pinuji.” “Cukup!” bentak cantrik itu, “Kau tidak usah mengigau Ki Resa. Sekarang, serahkan tanganmu!” Adalah di luar dugaan ketika tiba-tiba Ki Resa pun berkata, “Baiklah. Marilah. Jika kalian memang ingin mengikat aku, ikatlah. Jumlah kalian memang terlalu banyak untuk dilawan..” Cantrik itu justru termangu-mangu sejenak. Ia tidak mengira bahwa begitu mudahnya Ki Resa menyerah. Sementara itu anak perempuan Ki Resa yang berpakaian laki-laki itu menjadi tegang. Tetapi ia mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ia menduga bahwa ayahnya tidak benar-benar akan menyerah. Dalam pada itu, dengan isyarat cantrik yang memimpin sekelompok kawan-kawannya itu memberi perintah kepada kedua orang kawannya. Dua orang cantrik yang sejak semula memang pengikut Ki Jatha Beri. Ki Resa sudah menduganya menilik ujud dan sikapnya. Tetapi ia masih meyakinkan dirinya, “Aku belum pernah melihat kalian berdua.” “Tutup mulutmu!” bentak salah seorang di antara kedua orang cantrik itu. Namun kemudian iapun berkata, “Aku orang baru.” “Apakah kalian berdua semula juga murid Ki Jatha Beri?” Dengan bangga cantrik itu menjawab, “Ya. Kami adalah murid-murid Ki Jatha Beri.” Ki Resa tidak bertanya lagi. Seorang dari kedua orang cantrik itu membawa seutas tali ijuk yang kuat untuk mengikat tangan Ki Resa. Sementara Ki Resa telah menjulurkan kedua belah tangannya. “Jangan terlalu keras,” berkata Ki Resa sambil tersenyum. Tanpa berpikir panjang, seorang di antara mereka telah memegang pergelangan tangan Ki Resa, sedang yang seorang lagi melingkarkan tali ijuk itu. Namun tiba-tiba kedua orang itu menjerit. Keduanya terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah. Demikian keduanya bangkit berdiri, tangan mereka sudah menjadi merah kehitam-hitaman, seakan-akan kedua tangan mereka telah terbakar. Beberapa orang cantrik yang masih berada di punggung kuda mereka itu pun terkejut. Ketika mereka menyadari apa yang terjadi, maka cantrik yang memimpin sekelompok orang yang akan menangkap Ki Resa itu berteriak, “Kau licik, Ki Resa! Curang dan tidak tahu diri! Kau harus menyadari bahwa perbuatanmu itu akan dapat membuatmu menjadi semakin sulit!” Tetapi Ki Resa tertawa. Katanya, “Aku sudah berada dalam kesulitan sejak semula. Karena itu, aku tidak akan menjadi cemas, bahwa aku akan menjadi semakin sulit.” “Sekarang menyerahlah! Jangan licik!” “Siapa yang licik?” sahut Ki Resa, “Apapun yang terjadi, aku sudah siap. Sudah aku katakan bahwa bagiku lebih baik mati di sini daripada mati di tangan Jatha Beri. Bukankah kalian tahu bahwa Ki Jatha Beri tidak lagi berjantung seperti kita? Jantung Ki Jatha Beri itu berbulu.” “Diam kau iblis!” geram cantrik yang menjadi pemimpin di antara mereka. Lalu tiba-tiba cantrik itu berteriak, “Kita akan menangkapnya hidup-hidup. Bunuh orang yang membantunya. Kita tidak memerlukan mereka.” Para cantrik itu pun segera berloncatan turun. Mereka menambatkan kuda-kuda mereka di halaman. Dua orang yang tangannya bagaikan terbakar itu telah bersiap pula melibatkan diri, meskipun perasaan sakit dan nyeri terasa menyengat-nyengat. Namun demikian, mereka masih dapat mempergunakan kaki mereka. Ki Resa pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Setidak-tidaknya masih ada delapan orang yang harus dilawannya, bersama anak perempuannya yang masih belum sepenuhnya dapat diandalkan. Jika Ki Resa kemudian menjadi cemas, bukannya karena dirinya sendiri. Tetapi justru karena anak perempuannya. Sejenak kemudian, para cantrik itu pun mulai menebar. Mereka mengurung Ki Resa agar tidak sempat melarikan diri. Namun para cantrik itu pun menyadari bahwa Ki Resa adalah seorang yang berilmu tinggi. Namun jumlah para cantrik itu terlalu banyak. Dengan senjata teracu mereka telah bersiap untuk meloncat menyerang dari beberapa arah. Dua di antara para cantrik itu mengarahkan perhatian mereka kepada anak Ki Resa yang berpakaian seperti laki-laki itu. Tetapi tidak seorang pun di antara para cantrik itu yang mengetahui bahwa anak Ki Resa itu seorang perempuan. Namun dalam pada itu, ketika mereka sudah siap untuk bertempur, tiba-tiba saja mereka terkejut. Tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang berkata lantang, “Jadi, inikah para cantrik dari padepokan Kiai Timbang Laras?” Semua orang yang ada di halaman ini berpaling. Yang berdiri di regol halaman rumah Ki Resa itu adalah Perbatang dan Pinuji. Cantrik yang memimpin kawan-kawannya itu menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Kebetulan sekali, Perbatang dan Pinuji.” “Kenapa kebetulan?” bertanya Pinuji. “Kami mendapat tugas untuk menangkap kalian hidup-hidup, bersama Ki Resa.” Tetapi Pinuji tertawa. Katanya, “Untuk menangkap Ki Resa sendiri saja, belum tentu kalian mampu. Apalagi bersama kami berdua, dan barangkali ada seorang yang lain yang akan berpihak kepada Ki Resa.” “Setan kau berdua! Jangan mencoba melawan kami, jika kalian tidak ingin nasib kalian menjadi semakin buruk.” “Apa pedulimu dengan nasib kami? Kami juga tidak peduli akan nasib kalian. Biarlah kalian semuanya akan mati di sini.” Cantrik yang memimpin kelompok itu pun kemudian berteriak memberikan perintah, “Tangkap semuanya hidup-hidup! Biarlah Ki Jatha Beri dan Kiai Timbang Laras memberikan hukuman bagi mereka karena pengkhianatan mereka.” Perbatang tertawa pula. Katanya, “Pertempuran yang menarik. Agaknya kami-lah yang akan membunuh kalian. Kalian agaknya mendapat perintah untuk menangkap kami hidup-hidup. Karena itu, kami tidak akan takut mati dalam pertempuran ini. Tetapi sebaliknya kami dapat membunuh kalian sesuka hati kami.” “Licik kau! Tetapi kau tidak akan lepas dari tanganku.” Perbatang dan Pinuji tertawa pula berkepanjangan. Sementara Ki Resa menyahut, “Aku juga menjadi kasihan kepada para cantrik ini. Mereka tidak boleh membunuh, tetapi mereka boleh dibunuh.” Pemimpin dari para cantrik itu pun segera berteriak, “Cepat, tangkap mereka! Jangan sampai lepas!” Sementara itu Perbatang pun berteriak pula, “Maaf, Ki Resa! Kami akan ikut dalam permainan yang nampaknya akan sangat menarik ini!” “Silakan,” jawab Ki Resa, “bukankah mereka selain mencari aku, juga mencari kalian berdua?” Perbatang dan Pinuji pun kemudian telah mengambil jarak. Mereka pun segera bersiap dengan senjata di tangan. Mereka tidak mau ditangkap hidup-hidup oleh orang-orang yang akan dapat membawa mereka ke dalam satu malapetaka yang sangat sulit. Para cantrik itu pun mulai menyerang. Bahkan cantrik yang tangannya telah terbakar itu pun ikut pula. Mereka mencoba untuk mempergunakan kaki mereka atau tubuh mereka untuk menghalangi orang-orang buruan itu melarikan diri. Tetapi tiga dari antara para cantrik itu nampak ragu-ragu. Mereka adalah para cantrik yang sejak semula berada di padepokan Kiai Timbang Laras. Perasaan mereka menjadi demikian tertekan sehingga mereka tidak segera dapat mengambil sikap. Rasa-rasanya sulit bagi mereka untuk bertempur melawan Perbatang dan Pinuji, yang sudah sejak lama berkumpul dalam satu padepokan. Sementara para cantrik yang lain itu adalah orang-orang baru, yang justru ingin menunjukkan kekuasaan mereka. Perbatang dan Pinuji melihat keragu-raguan mereka. Meskipun mereka tidak mengatakan sesuatu, tetapi keduanya tidak dengan serta-merta menyerang mereka pula. Dengan demikian yang langsung bertempur dengan bersungguh-sungguh adalah delapan orang yang semula adalah pengikut Ki Jatha Beri, sementara dua di antara mereka sudah tidak banyak berdaya. Karena itu, pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama. Bahkan anak perempuan Ki Resa pun menunjukkan kemampuannya pula. Tanpa mengucapkan sapatah kata pun, anak Ki Resa itu berhasil mendesak seorang lawannya. Seorang cantrik yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan. Betapapun cantrik itu menyerangnya dengan keras dan kasar, namun sulit baginya untuk mengalahkan anak Ki Resa itu, Sementara itu Ki Resa dengan cepat pula telah melumpuhkan seorang di antara para cantrik itu. Bahkan kemudian menyusul seorang lagi. Keduanya terkapar di halaman tanpa dapat bergerak lagi. Pemimpin para cantrik yang melihat ketiga orang cantrik Kiai Timbang Laras itu ragu-ragu telah berteriak, “Kalian juga akan berkhianat?” Ketiga orang cantrik itu tidak menjawab. Tetapi mereka tidak segera terjun ke medan pertempuran. Justru karena itu, maka seorang demi seorang cantrik lainnya itu pun berjatuhan. Luka yang menganga di tubuh mereka telah mengalirkan darah yang merah segar. Dalam pada itu, pemimpin dari para cantrik itu tidak lagi melihat kesempatan untuk dapat menyelesaikan tugasnya. Karena itu, ia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu dengan orang-orangnya yang tersisa. Namun ia masih sempat berteriak kepada para cantrik yang ragu-ragu, “Aku akan melaporkan pengkhianatanmu ini!” Para cantrik itu tidak menjawab. Mereka masih tetap ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Sementara itu, para cantrik yang semula adalah para pengikut Ki Jatha Beri itu sudah semakin tidak berdaya Namun dalam pada itu, selagi pertempuran itu masih berlangsung, sementara cantrik yang memimpin kawan-kawannya itu sudah mengambil keputusan untuk meninggalkah arena pertempuran, terdengar derap kaki kuda mendekati halaman rumah Ki Resa itu. Dengan demikian maka pertempuran yang berlangsung di halaman itu seakan-akan telah terhenti. Ki Resa pun menjadi berdebar-debar. Yang memasuki halaman rumahnya adalah sekelompok cantrik dari padepokan Kiai Timbang Laras, yang sebagian besar di antara mereka adalah para pengikut Ki Jatha Beri. Kedatangan mereka telah membesarkan hati para cantrik yang masih mampu bertahan. Bahkan cantrik yang memimpin kawan-kawannya yang datang lebih dahulu itu pun berteriak, “Bagus! Sekarang saatnya kita menyeret ketiga orang itu di belakang kaki kuda kita. Kita akan mengikat leher mereka dan menariknya di belakang kuda kita.” Sepuluh orang cantrik telah memasuki halaman rumah itu. Dua di antara mereka adalah cantrik yang memang sudah lama berada di padepokan Kiai Timbang Laras. “Apa yang terjadi di sini?” bertanya cantrik yang memimpin kelompok kedua itu. “Pengkhianatan,” jawab pemimpin dari sekelompok pertama. “Untunglah kami datang. Hampir saja kami mengambil arah lain dari perburuan kami. Tetapi kami ingin singgah dan melihat rumah orang yang bernama Resa itu.” “Kita tidak saja menangkap Resa, Perbatang dan Pinuji. Tiga orang cantrik yang bersamaku itu juga berkhianat.” “Mereka tidak akan kita tangkap hidup-hidup. Kita ikat kakinya dan kita akan menyeretnya di belakang kuda kita yang akan kita pacu dengan cepat.” Namun tiba-tiba saja Perbatang itu tertawa. Katanya, “Apakah kalian tahu siapakah yang dimaksud dengan pengkhianat?” “Persetan!” geram cantrik yang memimpin kelompok pertama, “Kita sudah kehilangan banyak waktu.” “Cepat! Kita selesaikan mereka! Kita tangkap Resa, Perbatang dan Pinuji hidup-hidup,” sahut cantrik yang memimpin kelompok kedua, “tetapi itu bukan berarti kalian harus membiarkan kepala kalian dibelah sekedar untuk membiarkan mereka hidup.” Ki Resa-lah yang tertawa. Katanya, “Nah, cantrik yang ini nampaknya lebih cerdik.” Cantrik yang memimpin kelompok pertama berteriak pula, “Persetan kau, Resa! Kau tidak akan mempunyai kesempatan lagi.” Sejenak kemudian, para cantrik itu pun sudah menghambur mempersiapkan diri mereka masing-masing. Mereka pun sudah memegang senjata di tangan mereka pula. Dengan garangnya mereka mengacukan senjata mereka. Namun tiga orang cantrik murid Kiai Timbang Laras yang datang lebih dahulu masih juga ragu-ragu. Dua orang cantrik Kiai Timbang Laras yang datang kemudian, yang sudah bersiap untuk bertempur pula, telah tertegun melihat sikap saudara-saudara mereka. Apalagi ketika mereka melihat Perbatang dan Pinuji. Dalam pada itu, tiba-tiba saja salah seorang cantrik dari ketiga orang yang datang bersama kelompok yang terdahulu itu berteriak, “Kakang Perbatang dan Kakang Pinuji, aku berdiri di pihakmu!” “Setan kau! Pengkhianat!” teriak cantrik yang memimpin kelompok itu, “Aku cincang kau sampai lumat!” Belum lagi gema suaranya lenyap, cantrik padepokan Kiai Timbang Laras yang datang kemudian itu pun berteriak juga, “Aku juga berdiri di pihak Kakang Perbatang dan Kakang Pinuji!” “Gila!” cantrik yang memimpin kelompok yang kedua itu berteriak marah, “Kalian akan dihukum picis.” Tetapi mereka tidak menghiraukannya. Bahkan mereka pun segera mempersiapkan senjata mereka dan siap untuk terlibat dalam pertempuran itu. Sejenak kemudian pertempuran pun terjadi dengan garangnya. Para cantrik dari padepokan Kiai Timbang Laras namun yang mengalir dari sumber yang berbeda itu, telah bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka. Para cantrik yang merasa lebih lama berada di padepokan itu, merasa bahwa orang-orang baru itu telah mendesak mereka dengan cara yang licik. Bukan karena mereka telah menunjukkan kelebihan di bidang apapun, tetapi semata-mata karena mereka datang bersama Ki Jatha Beri. Orang-orang yang tinggal di sekitar rumah Ki Resa menjadi gempar. Mereka tahu bahwa di halaman rumah Ki Resa telah terjadi pertempuran. Tetapi mereka tidak tahu, apa yang harus mereka lakukan. Mereka tidak berani melibatkan diri ke dalam pertempuran itu. Namun mereka juga mencemaskan nasib Ki Resa, yang menurut pengertian mereka telah diserang oleh orang-orang berkuda yang jumlahnya banyak sekali. Namun dalam pada itu, Ki Resa sendiri sama sekali tidak menjadi cemas. Ia bertempur tidak terlalu jauh dari anak perempuannya. Sementara itu di beberapa tempat yang terpisah, saudara-saudara seperguruan Perbatang dan Pinuji telah bertempur di pihaknya. Para cantrik yang semula adalah para pengikut Ki Jatha Beri mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Mereka benar-benar merasa dikhianati oleh murid-murid Kiai Timbang Laras. Sementara itu para murid kiai timbang Laras itu pun tidak sempat memikirkan apa yang akan mereka lakukan kemudian, setelah mereka menentang perintah guru dan sekaligus pemimpin padepokannya itu. Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Para pengikut Ki Jatha beri jumlahnya memang lebih banyak. Tetapi lawan mereka, terutama Perbatang dan Pinuji, memiliki banyak kelebihan dari para pengikut Ki Jatha Beri yang bertempur dengan keras dan kasar itu. Namun agaknya kedua belah pihak telah dibakar oleh kemarahan dan bahkan dendam. Perbatang dan Pinuji merasa tersisih dari padepokan yang telah dihuninya bertahun-tahun. Bahkan ketika Ki Jatha Beri berniat menghukum mati dengan cara yang paling tidak terhormat, Kiai Timbang Laras, gurunya dan bahkan pemimpinnya, sekali tidak memberinya perlindungan. Karena itu, dendamnya kepada Ki Jatha Beri dan orang-orangnya bagaikan membakar ubun-ubun. Sementara itu, para cantrik yang semula adalah pengikut Ki Jatha Beri pun menjadi dendam pula, karena mereka merasa dikhianati. Para cantrik yang pergi bersama mereka itu seakan-akan telah menusuk mereka dari belakang. Dengan demikian, maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin keras. Kedua belah pihak benar-benar bertempur antara hidup dan mati. Kedua belah pihak tidak lagi mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain kecuali berusaha membunuh lawannya sebanyak-banyaknya. Semakin banyak mereka membunuh, maka mereka akan menjadi semakin banyak mendapat kepuasan. Namun ternyata Ki Resa adalah orang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka setiap kali cantrik yang berada di sekitarnya pun telah terlempar beberapa langkah surut. Terbanting di tanah atau jatuh terjerembab. Namun kemudian lawan-lawan Ki Resa menjadi semakin parah lagi. Ki Resa terkejut ketika ia melihat anak perempuannya itu meloncat jauh untuk mengambil jarak. Bahkan kemudian jatuh berguling beberapa kali. Ketika perempuan itu bangkit maka lengannya telah terluka. Darah mulai mengalir dari lukanya itu. “Kenapa kau, he?” bertanya Ki Resa dengan cemas. Anaknya tidak menjawab. Ia tidak ingin diketahui bahwa ia adalah seorang perempuan, meskipun nampaknya lawannya mulai curiga dengan sikapnya. Namun dalam pada itu, kecemasan Ki Resa tentang anaknya, akibatnya menjadi sangat buruk bagi para pengikut Ki Jatha Beri. Ki Resa benar-benar menjadi marah bahwa anaknya telah terluka, sehingga darah mulai membasahi bajunya. Apalagi ketika kemudian melawan dua orang, anaknya itu mulai terdesak. Bahkan telah tersudut dalam bahaya. Karena itu, maka Ki Resa itu pun telah menghentakkan ilmunya. Dalam saat yang terhitung singkat, kedua orang yang bertempur melawan anaknya itu telah dilemparkannya dari arena. Keduanya terpelanting jatuh dan tidak bangkit kembali. Demikian pula Perbatang dan Pinuji yang mendendam kepada para pengikut Ki Jatha Beri. Mereka tidak pernah mempertimbangkan untuk mengampuni lawan-lawannya. Karena itu, maka seorang demi seorang para pengikut Ki Jatha Beri itu jatuh tersungkur. Para murid Kiai Timbang Laras memang tidak ingin berbuat tanggung-tanggung. Senjata mereka tidak sekedar menggores lambung atau mengoyak bahu lawannya. Tetapi senjata-senjata mereka telah membelah perut lawannya dan menukik menghunjam jantung. Para cantrik yang semula adalah para pengikut Ki Jatha Beri itu menyadari bahwa mereka tidak mempunyai harapan lagi. Lawan mereka yang jumlahnya lebih sedikit itu ternyata mampu mengalahkan mereka. Terutama karena di antara mereka terdapat Ki Resa, Perbatang dan Pinuji. Pada saat-saat terakhir, kedua orang cantrik yang memimpin kedua kelompok kawan-kawannya memburu Perbatang, Pinuji dan Ki Resa itu tidak mempunyai harapan lagi. Karena itu, mereka pun telah memutuskan untuk menghindar dari pertempuran. Apalagi setelah sebagian besar kawan-kawannya terkapar mati di halaman rumah Ki Resa itu. Kedua orang itu pun akhirnya saling memberikan isyarat yang hanya mereka ketahui di antara mereka saja. Bahkan kawan-kawan mereka tidak mengetahui isyarat itu. Namun ketika kedua orang itu dengan tangkas meloncat keluar dari arena, maka Perbatang dan Pinuji yang mencurigai sikap keduanya dengan cepat telah memotong jalan mereka. “Jangan lari Ki Sanak!” berkata Perbatang, “Kau sudah mendapat kepercayaan untuk memimpin sekelompok cantrik dari padepokan Kiai Timbang Laras. Karena itu kalian tentu termasuk orang-orang terpilih, sehingga kalian tentu memiliki kelebihan dari para cantrik yang lain, termasuk kami berdua.” “Persetan!” geram salah seorang dari mereka, “Apa maumu?” “Aku hanya ingin memperingatkanmu. Tidak sepantasnya para pemimpin melarikan diri dan membiarkan anak buahnya mati terbakar panasnya api pertempuran.” “Persetan dengan igauanmu!” geram cantrik itu sambil menyerang Perbatang. Tetapi Perbatang telah benar-benar bersiap menghadapinya. Karena itu, ia pun segera bergeser memiringkan tubuhnya. Serangan itu tidak mengenai sasarannya. Namun ketika cantrik itu bersiap untuk menyerangnya kembali, justru Perbatang-lah yang telah meloncat mendahuluinya. Tetapi cantrik itu masih sempat mengelak, sehingga serangan Perbatang pun tidak mengenai sasarannya. Sementara itu, Pinuji telah bertempur dengan cantrik yang memimpin kelompok yang lain. Pinuji yang bergerak dengan cepat dan tangkas itu memaksa lawannya untuk mengerahkan segenap kemampuannya. Tetapi sulit bagi kedua cantrik itu untuk mengimbangi kemampuan Perbatang dan Pinuji. Dengan demikian, keadaan kedua orang cantrik itu pun menjadi semakin sulit Sementara itu, kawan-kawannya menjadi semakin menyusut. Tidak seorang pun di antara para cantirk itu yang dapat lolos. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang terkapar di halaman rumah Ki Resa itu masih hidup. Tubuh-tubuh yang terbujur lintang itu sama sekali tidak lagi ada yang bernafas. Kedua orang cantrik itu melihat keadaan kawan-kawannya dengan jantung yang berdebaran. Tetapi mereka pun menyadari, apa yang akan terjadi atas diri mereka. Namun seorang di antara para cantrik itu berkata, “Jangan bangga dengan kemenangan kecilmu. Besok, kalian akan mendapat hukuman yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya.” “Tidak akan ada orang yang tahu, apa yang terjadi,” berkata Perbatang. “Ki Jatha Beri mempunyai beribu telinga dan beribu pasang mata.” “Tetapi Ki Jatha Beri tidak mampu mencari kami berdua bersama Ki Resa.” “Sekarang belum. Tetapi pada saatnya pasti.” Perbatang tertawa. Katanya, “Apapun yang terjadi atas diri kami, kau sudah tidak akan melihatnya lagi, karena sebentar lagi kau akan mati. Kemudian kami semua akan bersembunyi di padepokan Kiai Warangka. He, dengar! Camkan ini! Tetapi kalian tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk menyampaikannya kepada Ki Jatha Beri atau kepada Kiai Timbang laras.” “Persetan kau!” geram cantrik itu. Perbatang tertawa berkepanjangan sambil bertempur dengan garangnya. Sebenarnyalah bahwa Perbatang dan Pinuji telah mendesak kedua lawannya sehingga mereka kehilangan kesempatan sama sekali. Kedua cantrik itu pun menyadari bahwa mereka tidak akan memenangkan pertempuran. Mereka pun tidak akan dapat lolos pula dari tangan Perbatang dan Pinuji. Namun mereka tidak akan menyerah, karena mereka menyadari bahwa menyerah tidak akan ada gunanya. Dengan demikian, dengan tanpa harapan kedua orang cantrik itu bertempur terus. Saat-saat terakhir itu pun akhirnya datang pula. Pinuji memang sudah tidak sabar lagi. Dengan garangnya, ia menyerang lawannya dengan putaran pedangnya yang cepat Lawannya masih berusaha untuk melawan sejauh dapat dilakukan. Tetapi kesempatannya menjadi semakin kecil. Orang-orang yang lain ternyata tidak mencampuri pertempuran itu. Para cantrik murid-murid Kiai Timbang Laras, Ki Resa dan anak perempuannya, sama sekali tidak ikut melibatkan diri. Mereka memang membiarkan Perbatang dan Pinuji bertempur seorang melawan seorang dengan kedua cantrik itu. Orang-orang yang berdiri di halaman itu menahan nafasnya ketika mereka mendengar desah tertahan. Pengikut Ki Jatha Beri yang bertempur melawan Pinuji itu terdorong beberapa langkah surut. Tangan kirinya memegangi lambungnya. Sementara darah dengan derasnya mengucur dari sela-sela jari-jarinya. Pinuji tidak membiarkan lawannya itu mengambil jarak. Ketika cantrik itu meloncat menjauh, Pinuji telah melenting memburunya. Ujung pedangnya terjulur lurus menggapai dadanya. Dengan satu hentakan yang kuat, Pinuji telah menekan pedang itu, sehingga ujungnya menghujam sampai ke jantung. Orang itu berteriak. Bukan karena kesakitan. Tetapi karena kemarahan, kebencian dan dendam yang bergejolak di dalam dadanya. Alangkah sakitnya, ketika ia sadar sepenuhnya bahwa ia tidak akan mampu membalaskan dendamnya itu. Sejenak kemudian suaranya itu pun lenyap ditelan gemeresiknya suara angin di dedaunan. Angin yang basah tiba-tiba bertiup kencang. Di langit mendung mengambang hanyut ke utara. Pinuji telah kehilangan lawannya. Cantrik itu mati terkapar di halaman sebagaimana kawan-kawannya. Namun cantrik yang bertempur melawan Perbatang pun tidak mempunyai kesempatan lagi. Perbatang memang ingin menghabisi lawannya. Dengan demikian, maka tidak seorang pun yang akan memberikan laporan kepada Ki Jatha Beri tentang peristiwa yang telah terjadi di halaman rumah Ki Resa itu. Sejenak kemudian, cantrik itu pun telah terlempar pula. Ayunan senjata Perbatang yang menyilang telah mengoyak dada lawannya, sehingga luka telah menganga. Cantrik itu pun terbanting jatuh. Ia hanya sempat menggeliat dengan berdesah. Namun kemudian, tubuhnya pun menjadi diam. Dengan demikian, pertempuran pun benar-benar telah berhenti. Langit menjadi semakin muram. Mendung menjadi semakin tebal menggantung di langit. Sejenak kemudian, titik-titik hujan pun mulai jatuh. Beberapa orang tetangga Ki Resa masih saja bertanya-tanya, apa yang terjadi. Namun tidak seorangpun di antara mereka yang memberanikan diri untuk datang dan memasuki halaman itu. Sejenak Ki Resa dan para murid Kiai Timbang Laras itu termangu-mangu. Namun akhirnya mereka mengambil keputusan untuk mengubur orang-orang yang terbunuh itu di kebun belakang. Jauh di bawah rumpun bambu yang lebat. Tempat yang jarang sekali disentuh oleh keluarga Ki Resa sendiri. Namun anak perempuan Ki Resa sempat berbisik di telinga ayahnya, “Bagaimana jika ibu mengetahuinya?” “Pada suatu saat, kita akan memindahkannya,” jawab Ki Resa, “kita akan menguburkannya di kuburan. Namun tidak sekarang.” Anak perempuannya mengangguk-angguk. Demikianlah, di bawah hujan yang akhirnya bagikan tercurah dari langit, Ki Resa, Perbatang, Pinuji dan para cantrik murid Kiai Timbang Laras itu menggali lubang, mengusung sosok tubuh orang-orang yang telah terbunuh itu ke kebun yang masih merupakan hutan bambu di belakang. Mereka telah menguburkan tubuh-tubuh itu di antara rumpun-rumpun bambu. Hujan yang lebat itu seakan-akan telah menghapus segala jejak dari pertempuran yang telah terjadi. Tetangga-tetangga Ki Resa pun harus menunggu hujan menjadi reda untuk datang dan bertanya, apa yang telah terjadi di halaman rumah itu. Namun kemudian para cantrik Kiai Timbang Laras itu harus menunggu hujan menjadi terang dengan pakaian basah kuyup. Mereka duduk di serambi sambil berbincang apa yang akan mereka lakukan kemudian. Pada suatu saat Ki Jatha Beri dan Kiai Timbang Laras akan dapat mendengar apa yang telah terjadi. meskipun mereka sudah berusaha untuk menghapuskan segala jejak. Namun Ki Resa-lah yang kemudian berkata, “Aku anjurkan kepada kalian agar kalian datang dan mohon perlindungan kepada Kiai Warangka. Aku yakin bahwa Kiai Warangka tidak akan berkeberatan sama sekali. Meskipun demikian, harus dipikirkan kemungkinan bahwa kehadiran kalian akan memperburuk hubungan antara Kiai Warangka dengan Kiai Timbang Laras.” Perbatang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat Ki Resa. Tetapi kita pun harus berterus terang tentang kemungkinan bahwa hubungan kedua orang saudara seperguruan itu akan bertambah buruk.” Pinuji-lah yang kemudian berkata, “Tetapi kita tidak mempunyai pilihan lain. Mudah-mudahan Kiai Warangka tidak berkeberatan memberi perlindungan kepada kita, karena Kiai Timbang Laras sudah tidak lagi dapat kita harapkan.” “Kalian memang harus mencoba,” berkata Ki Resa, “tetapi aku percaya bahwa Kiai Warangka akan dapat memberikan perlindungan kepada kalian.” Tetapi Perbatang pun kemudian bertanya, “Tetapi bagaimana dengan Ki Resa sendiri?” Ki Resa tertawa. Katanya, “Jangan pikirkan aku dan anakku. Kami dapat melindungi diri kami sendiri. Jika perlu, kami dapat mengungsi ke tempat yang tidak akan dapat ditemukan oleh Ki Jatha Beri dan Kiai Timbang Laras. Bahkan jika perlu kami juga akan menghubungi Kiai Warangka. Bukankah di padepokan Kiai Warangka ada seorang yang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan’Menoreh? Jika aku terjepit karena diburu oleh Ki Jatha Beri dan Kiai Timbang Laras, aku akan dapat lari ke Tanah Perdikan Menoreh.” Perbatang dan Pinuji mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba salah seorang cantrik bertanya, “Bagaimana dengan kuda-kuda itu Kakang Perbatang? Perbatang mengerutkan dahinya. Ada banyak kuda di halaman. Kuda-kuda itu tentu akan menarik perhatian banyak orang. Namun tiba-tiba saja Perbatang itu pun berkata, “Mumpung hujan lebat. Ki Resa, apakah Ki Resa sependapat jika kuda-kuda itu aku bawa ke padepokan Kiai Warangka?” Ki Resa mengangguk sambil menjawab, “Aku kira itu lebih baik. Di sana kuda-kuda itu akan terpelihara.” “Jika demikian, mumpung hujan masih turun,” berkata Pinuji, “bahkan nampaknya telah menjadi deras lagi.” Akhirnya mereka pun sepakat. Justru pada saat hujan lebat, tidak akan banyak orang yang melihat apa yang telah merela lakukan. Demikianlah, sejenak kemudian Perbatang, Pinuji dan para cantrik pun telah bersiap untuk membawa kuda-kuda yang berada di halaman rumah itu ke padepokan Kiai Warangka. Sementara Ki Resa berniat untuk melindungi diri sendiri bersama keluarganya. Perbatang, Pinuji dan para cantrik itu pun kemudian telah membawa kuda-kuda itu menembus hujan yang lebat. Memang tidak banyak orang yang sempat melihat, karena mereka telah berlindung di dalam rumah mereka masing-masing. Perjalanan ke padepokan Kiai Warangka termasuk perjalanan yang agak panjang. Sementara itu, cuaca menjadi semakin buram. Meskipun malam belum turun, tetapi suasananya sudah melampaui suasana senja. Hari itu, Ki Jatha Beri dan Kiai Timbang Laras menunggu kedatangan orang-orang yang ditugaskan untuk memburu Perbatang dan Pinuji, bahkan Ki Resa, dengan jantung yang berdebaran. Ketika matahari mulai turun dan kemudian bersembunyi di balik mendung, mereka menjadi semakin gelisah. Sekelompok cantrik yang juga mendapat perintah untuk memburu Perbatang dan Pinuji sudah kembali ke padepokan. Mereka dengan jantung yang berdenyut semakin cepat oleh kecemasan, telah melaporkan bahwa mereka tidak berhasil menemukan Perbatang dan Pinuji. Mereka juga tidak bertemu dengan ke Resa. “Kalian tidak pergi ke rumah Ki Resa?” “Belum seorang pun di antara kami yang pernah melihat rumah Ki Resa,” jawab cantrik yang memimpin kelompok itu, yang kebetulan juga pengikut Ki Jatha Beri. Ki Jatha Beri hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu Kiai Timbang Laras pun bertanya, “Di mana kedua kelompok cantrik yang lain yang keluar padepokan bersama dengan kalian?” “Kami telah pergi memencar,” jawab cantrik itu, “kami mengambil arah yang berbeda-beda.” Ki Timbang Laras pun kemudian berkata, “Mudah-mudahan salah satu kelompok di antara mereka berhasil, meskipun seandainya hanya membawa Ki Resa saja.” “Tetapi yang paling bersalah adalah Perbatang dan Pinuji,” geram Ki Jatha Beri, “mereka telah membunuh saudara mereka sendiri.” Ya,” Kiai Timbang Laras mengangguk-angguk, “mereka memang harus dihukum berat.” “Hukuman mati dengan caraku. Aku yang akan melaksanakan hukuman itu sendiri.” Kiai Timbang Laras mengangguk-angguk mengiakan. Namun demikian mereka menjadi cemas. Langit menjadi semakin gelap oleh mendung yang tebal. Meskipun di padepokan Kiai Timbang Laras hujan belum turun, tetapi di sisi lain nampaknya air tercurah dari langit. Bahkan sampai malam turun, kedua kelompok cantrik yang lain masih belum kembali. Agaknya mereka benar-benar ingin kembali ke padepokan sambil membawa buruan mereka. “Mereka takut pulang sebelum mereka berhasil, meskipun hanya seorang saja di antara mereka. Atau setidak-tidaknya keluarga Ki Resa, yang dapat dipergunakan untuk memancing Ki Resa itu sendiri agar datang ke padepokan ini,” berkata Kiai Timbang Laras. Ki Jatha Beri mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan mereka berhasil. Betapapun kecil hasilnya.” Tetapi sampai kesabaran mereka sampai ke batas, dua kelompok para cantrik yang telah dikirim untuk memburu Perbatang dan Pinuji yang berhasil lolos dari bilik tahanan mereka, serta Ki Resa, tidak juga kembali Dalam pada itu, kedatangan Perbatang, Pinuji dan beberapa orang cantrik dari padepokan Kiai Timbang Laras memang telah mengejutkan Kiai Warangka serta Ki Jayaraga, yang untuk sementara masih berada di padepokan Kiai Warangka. Ketika kemudian Kiai Warangka mendengar dari Perbatang dan Pinuji apa yang telah terjadi di padepokan Kiai Timbang Laras, maka Kiai Warangka pun kemudian berdesis, “Aku sudah mengira, bahwa ada sesuatu yang tidak sewajarnya terjadi di padepokan Timbang Laras.” Ki Serat Waja menarik nafas panjang. Katanya, “Sayang sekali. Kenapa Kakang Timbang Laras begitu mudahnya terpengaruh oleh Ki Jatha Beri. Apa yang telah terjadi sebenarnya dengan Kakang Timbang Laras?” “Nampaknya memang tidak ada apa-apa yang terjadi,” jawab Perbatang, “hanya setiap kali Kiai Timbang Laras pergi meninggalkan padepokan untuk satu dua hari bersama Ki Jatha Beri. Namun kemudian kembali lagi. Tidak ada sesuatu yang menarik perhatian. Segalanya berjalan seperti biasanya. Namun perubahan sikap dan sifat Kiai Timbang Laras-lah yang kemudian telah menggelisahkan kami. Nampaknya pengaruh Ki Jatha Beri perlahan-lahan telah menyusup dan bahkan kemudian mencengkam jantung Kiai Timbang Laras tanpa disadari.” Kiai Warangka mendengarkan keterangan Perbatang dan Pinuji dengan seksama. Dengan nada berat Kiai Warangka itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Kami akan memberikan perlindungan kepada kalian di sini. Tetapi jika kelak Timbang Laras datang untuk mengambil kuda-kudanya, maka biarlah kuda-kuda itu dibawanya.” “Tetapi bagaimana dengan kami?” bertanya Pinuji. “Kalian kami terima sebagai keluarga kami Jika Timbang Laras tidak lagi dapat melindungi kalian, maka biarlah kami berusaha melindungi kalian.” “Terima kasih, Kiai,” berkata Pinuji dengan nada berat, “kami memang merasa seakan-akan anak ayam yang kehilangan induk. Karena itu, kami akan merasakan kehangatan perlindungan Kiai serta keluarga padepokan ini.” “Apakah Kiai Timbang Laras dan Ki Jatha Beri mengetahui bahwa kalian berada di sini sekarang?” bertanya Ki Jayaraga. “Agaknya sekarang belum. Tetapi pada suatu saat, agaknya mereka akan mengetahuinya pula,” jawab Perbatang. “Baiklah,” desis Kiai Warangka, “apapun yang akan terjadi, itu adalah akibat dari kesediaan kami melindungi kalian. Sebenarnya perlindungan kami terutama kami tujukan terhadap perlakuan Ki Jatha Beri. Orang itu tidak berhak untuk menghukum kalian. Sementara itu Timbang Laras telah kehilangan kepribadiannya. Bahkan Timbang Laras telah datang ke padepokan ini untuk mempertanyakan peti tembaga itu.” Perbatang dan Pinuji serta para cantrik yang ikut bersama mereka merasa menjadi tenang karena kesediaan Kiai Warangka melindungi mereka. Karena dengan demikian, mereka tidak lagi merasa sebagai orang-orang liar yang tidak mempunyai tempat untuk hinggap, sedangkan burung di langit saja mempunyai sarang untuk tinggal.. “Nah, jika demikian, kalian harus mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan ini. Cobalah hidup dengan cara dan kebiasaan sebagaimana orang-orang padepokan ini. Selain itu kalian pun harus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu yang terjadi di sini. Meskipun sumber ilmu kalian sama dengan kami di sini, tetapi ada unsur-unsur yang arah perkembangannya berbeda dan masih harus disesuaikan,” berkata Kiai Warangka. “Terima kasih, Kiai. Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan. Kami akan menyesuaikan dengan kehidupan di padepokan ini, dan kami akan mengerjakan tugas apapun yang dibebankan kepada kami.” Demikianlah, sejak hari itu beberapa orang cantrik dari padepokan Kiai Timbang Laras telah berada di padepokan Kiai Warangka. Mereka mencoba menyesuaikan diri dengan kesungguhan hati. Sementara para cantrik dari padepokan Kiai Warangka pun berusaha memberikan tempat dan kesempatan sebaik-baiknya kepada mereka. Sementara itu, Kiai Timbang Laras dan Ki Jatha Beri harus menunggu tanpa akhir kedatangan kedua kelompok cantrik yang memburu Perbatang dan Pinuji. Sementara sebagian besar dari para cantrik itu adalah justru para pengikut Ki Jatha Beri, sehingga karena kemarahan Kiai Jatha Beri maka rasa-rasanya ubun-ubunnya telah terbakar. Namun orang-orangnya itu pun tidak dapat ditemukannya pula. Namun akhirnya Ki Jatha Beri dan Kiai Timbang Laras telah mengambil kesimpulan bahwa para cantrik agaknya telah dibinasakan oleh Ki Resa. “Ternyata Ki Resa tentu tidak sendiri,” berkata Ki Jatha Beri, “ia tentu mempunyai beberapa orang pengikut, atau mungkin murid-muridnya yang telah membantunya.” “Kita harus menyelidikinya,” desis Kiai Timbang Laras. “Tetapi kita harus berhati-hati. Ki Resa tidak boleh lepas dari tangan kita, sementara kita sadari bahwa Ki Resa adalah seorang berilmu tinggi,” geram Ki Jatha Beri. Tetapi Kiai Timbang Laras dan Ki Jatha Beri tidak segera dapat menemukan Ki Resa yang hilang dari rumahnya. Bukan hanya Ki Resa sendiri, tetapi seluruh keluarganya. Demikian pula Perbatang dan Pinuji. Jejaknya sama sekali tidak tercium oleh Ki Jatha Beri dan Kiai Timbang Laras. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa keduanya justru berada di padepokan Kiai Warangka. Namun demikian, Kiai Timbang Laras dan Ki Jatha Beri tidak menghentikan usahanya untuk mendapatkan peti tembaga yang diduga disimpan oleh Kiai Warangka. Sehingga setelah Kiai Jatha Beri dan Kiai Timbang Laras merasa tidak lagi dapat menemukan Ki Resa, Perbatang dan Pinuji, maka perhatian mereka kembali tertuju kepada peti tembaga itu. Dalam pada itu, di tanah Perdikan Menoreh, telah diselenggarakan penyambutan para pengawal yang kembali dari Mataram. Setelah mereka mendapat sambutan yang hangat di Kotaraja, para pengawal Tanah Perdikan Menoreh sebagaimana juga para pengawal dari berbagai tempat, termasuk dari para pengawal dari Kademangan Sangkal Putung, telah kembali ke tempat masing-masing. Swandaru pun telah membawa pasukan pengawalnya kembali pulang, dengan kebanggaan bahwa mereka telah ikut serta memenangkan sebuah pertempuran yang besar di Pati. Namun sebelum berpisah dengan Agung Sedayu yang masih belum pulih kembali, ia sempat berpesan, “Kakang. Tidak jemu-jemunya aku menasihatkan agar Kakang bersedia menyediakan waktu sedikit di setiap hari untuk kepentingan Kakang pribadi. Jika Kakang hanya menekuni tugas-tugas Kakang, maka rasa-rasanya memang tidak akan pernah ada waktu luang. Tetapi sebagai seorang Lurah prajurit, maka Kakang memerlukan bekal yang lebih tinggi.” Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara Swandaru berkata selanjutnya, “Dalam tugas-tugas Kakang selanjutnya, Kakang seharusnya telah meningkatkan ilmu Kakang sampai ke puncak.” Agung Sedayu masih mengangguk-angguk sambil berdesis, “Baiklah, Adi Swandaru. Aku akan menyisihkan waktu untuk itu.” Swandaru tersenyum. Katanya, “Kakang akan lekas sembuh dan pulih kembali. Tetapi sayang, aku belum mempunyai kesempatan singgah. Mungkin dalam waktu dekat aku akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.” “Kami menunggu kedatanganmu, Swandaru.” Ketika kemudian mereka berpisah, Glagah Putih pun menarik nafas dalam-dalam. Namun ia hanya dapat menahan diri. Sementara Agung Sedayu sendiri tidak pernah menyanggah pesan-pesan yang selalu diberikan oleh Swandaru. Sebenarnya Panembahan Senapati sendiri serta Ki Patih Mandaraka minta agar Agung Sedayu untuk sementara tetap berada di Mataram. Namun Agung Sedayu ingin kembali ke Tanah Perdikan Menoreh bersama dengan pasukannya. Dalam pada itu, secara khusus Panembahan Senapati telah menemui Agung Sedayu yang masih lemah. Tanpa ada orang lain, Panembahan Senapati berkata kepada Agung Sedayu, “Kita pernah melakukan pengembaraan bersama, Agung Sedayu. Aku mengenalmu dengan baik dan kau mengenal aku dengan baik. Kita pernah mencoba mencari, menerawang sisi-sisi dari kehidupan. Kita pernah belajar membaca arti dari kediaman yang sepi, tetapi juga gejolak angin prahara yang bagaikan mengguncang perbukitan. Kita pernah duduk sambil bercanda dengan hangatnya perapian di saat-saat dingin mencengkam. Tetapi kita juga pernah berlaga dengan panasnya matahari yang membakar hutan-hutan di lereng pegunungan. Bahkan juga getar panasnya api yang terpancar dari berbagai macam ilmu yang tinggi. Kita juga pernah berendam dalam tenangnya air sendang yang bening, tetapi kita juga pernah hanyut dan berenang menentang arus banjir bandang. Bukan saja banjir bandang yang tumpah dari derasnya air hujan di lereng pegunungan yang gundul karena ulah kita, tetapi banjir bandang yang menderu dari dahsyatnya ilmu kanuragan.” Agung Sedayu yang masih lemah itu hanya mengangguk-angguk saja. bersambung Category Archives Buku 281 – 290 Buku 281 Seri III Jilid 81 ♦ 15 Juli 2010 Glagah Putih pun kemudian duduk di amben bambu yang besar di ruang dalam bersama Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Diceritakannya apa yang telah dilihatnya di kebun belakang. Ditunjukannya lingkaran besi baja yang bergerigi itu kepada Agung Sedayu. Gerigi yang hampir saja mengoyak kulitnya. “Tentu tidak ada hubungannya dengan sikap Wacana,“ desis Glagah Putih. “Ya,” Agung … Baca lebih lanjut → Buku 282 Seri III Jilid 82 admin ♦ 15 Juli 2010 Meskipun Prastawa tidak mengikuti apa yang terjadi atas seorang kawannya itu, namun nalurinya seakan-akan telah memperingatkannya agar ia cepat menyelesaikan lawannya. Ketika ia mendengar seseorang mengaduh kesakitan tidak jauh dari padanya, maka Prastawa telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan cepat ia berusaha untuk menyerang lawannya di sela-sela putaran bindinya. Ketika ujung pedangnya berdesing dekat kening lawannya, … Baca lebih lanjut → Buku 283 Seri III Jilid 83 admin ♦ 15 Juli 2010 Tangan Glagah Putih memang tergetar. Tetapi dengan cepat ia sudah menguasai pedangnya sepenuhnya. Sementara itu, lawannya telah meloncat jauh surut. Meskipun goloknya masih di tangannya, namun hampir saja goloknya itu terlepas. Telapak tangannya terasa panas bagaikan tersengat api. Benturan yang terjadi itu memang terlalu keras. Untuk beberapa saat golok yang besar itu tertunduk di sisi … Baca lebih lanjut → Buku 284 Seri III Jilid 84 admin ♦ 15 Juli 2010 “Ya. Kadang-kadang mereka memang berada di antara para pengawal. Tetapi di pagi hari mereka biasanya ada di rumah. Seandainya mereka ikut meronda, maka lewat tengah malam mereka pulang,“ jawab Prasanta. “Baiklah. Tunggulah sampai esok pagi. Kau akan mendengar keputusanku,“ berkata Resi Belahan. Malam itu juga Resi Belahan telah memanggil orang-orang terpenting di antara orang-orang yang … Baca lebih lanjut → Buku 285 Seri III Jilid 85 admin ♦ 15 Juli 2010 “Ya Paman. Jika pertempuran telah terjadi, maka aku akan membawa pasukan terkuat di sisi barat ke selatan.” “Jangan terlambat. Kita harus memperhitungkan kemungkinan buruk bagi pasukan yang ada di sisi selatan,” berkata Ki Gede. “Aku akan menemui pemimpin pengawal di sisi barat,” berkata Prastawa kemudian. “Jangan lewat jalan di depan rumah Agung Sedayu,” pesan Ki … Baca lebih lanjut → Buku 286 Seri III Jilid 86 admin ♦ 15 Juli 2010 Dua orang pengawal itu pun berlari-lari mengambil sebuah lincak bambu kecil di serambi dan dibawa kembali turun ke halaman. Dengan sangat hati-hati Rara Wulan telah diangkat dan diletakkan keatas lincak itu untuk diusung ke pendapa. Sekar Mirah benar-benar menjadi gelisah. Ia tidak ingat lagi lukanya sendiri. Sementara Ki Gede setelah memungut kembali tombaknya, telah naik … Baca lebih lanjut → Buku 287 Seri III Jilid 87 admin ♦ 15 Juli 2010 Sekali-sekali Glagah Putih juga bertemu dengan sekelompok pengawal yang meronda menyusuri jalan-jalan di padukuhan induk. Namun Glagah Putih pun tahu bahwa di padukuhan-padukuhan lain, para pengawal tentu juga bersiaga sepenuhnya. Ketika Glagah Putih sampai di rumah Agung Sedayu, maka suasananya pun tidak berbeda dengan suasana seluruh pedukuhan. Sepi dan lengang. Meskipun lampu-lampu minyak tetap menyala, … Baca lebih lanjut → Buku 288 Seri III Jilid 88 admin ♦ 15 Juli 2010 Ketika mereka memasuki regol halaman, maka Sabungsari berdesis, “Agaknya Ki Rangga Wibawa sudah ada di rumah.” “Mungkin. Jika Ki Rangga berangkat pagi-pagi, maka ia sudah lama berada di rumah,” jawab Glagah Putih. Sabungsari mengangguk-anggguk. Tetapi ia tidak menjawab. Namun ternyata keduanya tidak melihat seekor kuda pun berada di halaman. Karena itu, maka Glagah Putih justru … Baca lebih lanjut → Buku 289 Seri III Jilid 89 admin ♦ 15 Juli 2010 Beruntunglah bahwa beberapa saat kemudian, ada beberapa orang lagi yang datang menemui mereka. Demikian mereka mendengar bahwa Pandan Wangi dan Swandaru datang, dua tiga orang bebahu telah memerlukan datang untuk sekedar berbincang dengan mereka. Seperti yang direncanakan, maka ketika senja turun Swandaru pun telah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Agung Sedayu. Namun ternyata bahwa justru … Baca lebih lanjut → Buku 290 Seri III Jilid 90 admin ♦ 15 Juli 2010 “Senang atau tidak senang, tetapi kita memang harus menunggu sampai sore nanti. Kita tidak dapat memaksa anak-anak ini mengatakan apa yang tidak mereka ketahui. Atau bukan menjadi wewenangnya untuk mengatakannya.” “Aku menjadi tidak sabar lagi. Apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Ki Argajaya? Bahkan ia telah mengirimkan seorang anak kecil dan seorang perempuan kemari?” geram orang … Baca lebih lanjut → Navigasi pos ♦ 15 Juli 2010 Demikian Wikan itu tegak berdiri, maka lawannya yang lebih kecil itu segera menyerangnya. Tetapi lawannya itu menjadi semakin berhati-hati agar ia tidak lagi dapat disekap oleh tangan Wikan. Karena itu, maka anak itu telah berusaha menyerang dengan cepat kemudian menjauhinya dengan cepat pula. Demikian Wikan tegak berdiri, maka lawannya yang kecil itu pun telah meloncat. Kakinya terjulur dengan derasnya mengarah ke dada Wikan. Wikan yang baru saja berdiri tegak itu terkejut. Tetapi ia tidak sempat berbuat banyak. Kaki itu benar-benar telah mengenainya. Demikian kerasnya sehingga Wikan itu terdorong surut. Ternyata lawannya yang marah itu tidak memberinya kesempatan. Anak itu telah meloncat memburunya. Dalam keadaan goyah, maka serangan anak itu telah mendorongnya. Satu pukulan yang keras mengenai kening Wikan. Wikan tidak dapat mengelak. Pukulan itu telah membuatnya menjadi pening. Tetapi Wikan tidak terjatuh karenanya. Meskipun ia menjadi terhuyung-huyung, tetapi Wikan itu tetap mampu bertahan berdiri diatas kakinya. Namun lawannya benar-benar tidak mau memberikan kesempatan. Kemarahannya tidak lagi membuatnya sempat menahan diri. Dengan sekuat tenaganya, anak itu telah menyerang lagi dengan kakinya mengenai perut Wikan. Serangan itu demikian kerasnya, sementara Wikan masih belum sempat memperbaiki keseimbangannya, sehingga Wikan telah terjatuh lagi di atas pasir tepian. Anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu sama sekali memang tidak mau memberinya kesempatan. Demikian Wikan berusaha untuk bangkit, maka anak itu pun segera menyerangnya. Bahkan beberapa kali, sehingga Wikan benar-benar tidak sempat untuk berdiri. “Curang! Kau curang!“ teriak Wikan. Suaranya bergetar tinggi. Untuk beberapa saat Wikan itu masih tetap berbaring, karena ia memang tidak mendapat kesempatan untuk berdiri. Lawannya yang kecil itu seakan-akan menungguinya dan siap untuk menyerang setiap saat. Yang dicemaskan Pinang itu terjadi. Wasis yang berdiri di atas tanggul itu pun segera meloncat turun. Dengan kasar ia membentak-bentak, “Kau curang anak iblis! Sebelum ia berdiri, kau tidak boleh menyerang.” “Aku sudah menunggu ia berdiri,” jawab lawan Wikan itu. “Tetapi ia belum sempat berdiri tegak,” geram Wasis. “Suruh ia berdiri,” jawab anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu, “aku menunggunya.” Tetapi Glagah Putih sudah mendekatinya. Sambil memegangi pergelangan tangan anak itu, maka ia berkata, “Sudahlah. Kau masih harus menyelesaikan pekerjaanmu, menggiring ikan itu masuk ke dalam air.” “Aku tidak akan lari,” jawab anak itu, “jika ia masih ingin berkelahi, aku akan berkelahi.” “Biar mereka menyelesaikan perkelahian itu,“ sahut Wasis, “tetapi anak itu pantas mendapat hukuman lebih dahulu karena kecurangannya.” “Hukuman?” bertanya Glagah Putih. “Ya. Ia sudah berbuat curang,” jawab Wasis. “Sudahlah. Biarlah anak ini aku ajak pergi. Perkelahian tidak menguntungkan anak-anak itu. Mungkin seketika mereka tidak merasa sakit. Tetapi besok, bangun tidur, seluruh tubuh mereka akan terasa sakit-sakitan.” “Tidak peduli,” jawab Wasis, “serahkan anak itu. Ia harus dihukum.” “Jangan. Biarlah aku membawanya pergi,” jawab Glagah Putih. “Berikan kepadaku, atau kau yang akan mendapat hukuman itu!“ bentak Wasis. “Siapa yang akan menghukum aku?” bertanya Glagah Putih. “Aku,” jawab Wasis. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Wasis itu masih lebih muda dari Glagah Putih. Tetapi tubuhnya memang nampak kekar dan kuat. Meskipun demikian, Glagah Putih merasa sangat segan bertengkar dengan anak itu. Apalagi ia tamu di rumah Pinang. Karena itu, maka Glagah Putih tidak melayaninya. Bahkan digandengnya anak yang tinggal bersamanya itu untuk menjauh. Anak itu memang meronta. Katanya, “Biar aku selesaikan perkelahian ini.“ “Sudahlah,” jawab Glagah Putih, “kita tinggalkan mereka.“ “Tetapi anak itu tidak boleh mengambil ikan di pliridan.” “Ya. Ia tidak akan mengambilnya,” jawab Glagah Putih. Anak yang gemuk itu sudah berdiri. Tetapi ia mulai mengaduh kesakitan. Seluruh tubuhnya mulai terasa sakit. Tulang-tulangnya, kulit dagingnya. Bibirnya yang pecah, matanya yang mulai membengkak, sedangkan telinganya menjadi seolah-olah mengiang-ngiang. “Ia menyakiti aku Kakang,“ Wikan mulai merengek. Karena itu, maka Wasis itu pun berkata lantang, “Serahkan anak itu kepadaku! Ia harus dihukum!” “Sudahlah. Seharusnya kita melerai anak-anak yang berkelahi. Jangan justru kita hanyut dalam perkelahian itu,” jawab Glagah Putih. Tetapi Wasis yang menjadi sangat marah karena kekalahan Wikan itu tidak menghiraukannya. Apalagi ketika Wikan mulai merengek, “Tangkap anak itu Kakang. Aku belum membalasnya.” “Cengeng!“ teriak anak yang pergelangan tangannya masih tetap dipegang oleh Glagah Putih itu. Sambil menarik tangannya, Glagah Putih berkata, “Diam kau.” Namun Wasis melangkah mendekati Glagah Putih sambil berkata lantang, “Serahkan anak itu!” “Aku sedang berusaha melerai perkelahian itu. Adalah tidak pantas jika kita berkelahi karena sebab yang tidak jelas. Atau katakan, karena persoalan ikan di pliridan.” “Aku tidak peduli!” jawab Wasis dengan lantang. Pinang menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia justru berharap agar Glagah Putih membuat Wasis juga menjadi jera. Menurut pendengarannya, Glagah Putih adalah seorang anak muda yang berilmu sangat tinggi. Namum dalam pada itu Glagah Putih berkata, “Ki Sanak. Kita sudah terlalu besar untuk berkelahi. Apalagi aku. Aku agaknya lebih besar dan lebih tua dari kau. Jika kita berkelahi, maka orang-orang yang mungkin melihat akan mencela aku. Jika aku menang, tentu sudah sewajarnya karena aku lebih besar. Tetapi jika aku kalah, maka aku akan dicemoohkan orang karena aku kalah dari seorang yang lebih muda dari aku.” “Aku tidak peduli. Meskipun lebih muda aku tidak takut.” “Aku percaya kalau kau tidak takut. Tetapi tidak pantas jika kita berkelahi.” Wasis tidak menghiraukannya. Sambil melangkah maju, Wasis berusaha untuk menggapai anak yang masih tetap dipegangi oleh Glagah Putih. Tetapi anak itu segera memutar dirinya ke belakang Glagah Putih. Tetapi Wasis berusaha untuk mengejarnya sambil berkata, “Serahkan anak itu, atau kita berkelahi.” Tetapi Glagah Putih tidak menyerahkan anak itu. Bahkan ia selalu membayangi usaha Wasis untuk menangkapnya. Karena itu Wasis menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja ia menyerang Glagah Putih. Tangannya teranyun dengan derasnya memukul dada Glagah Putih yang terbuka. Pinang terkejut. Namun kemudian wajahnya berkerut. Ia melihat Glagah Putih sama sekali tidak bergerak. Ia masih saja tetap berdiri tegak sambil memegangi anak yang tersembunyi di balik tubuhnya itu. Sebenarnyalah Glagah Putih memang tidak bergerak. Ia tidak mengelak dan tidak menangkis. Dibiarkannya Wasis menyerangnya, sementara Glagah Putih hanya meningkatkan saja daya tahan tubuhnya sehingga pukulan Wasis itu tidak menyakitinya. Wasis terkejut melihat akibat dari serangannya. Selama ini ia merasa sebagai seorang anak muda yang disegani oleh kawan-kawannya. Tetapi anak muda yang berdiri di hadapannya itu sama sekali tidak bergetar oleh serangannya. Dengan sekuat tenaganya Wasis telah mengulangi serangannya. Demikian kerasnya. Namun ternyata Glagah Putih masih saja berdiri tegak di tempatnya. Wasis yang marah itu masih mengulangi dua tiga kali. Tetapi serangannya itu sekan-akan sama sekali tidak terasa. Bahkan tangannya sendiri-lah yang mulai merasa sakit. Ketika Wasis kemudian berhenti, maka Glagah Putih pun berkata, “Jika kau sudah puas, ajak adikmu pulang. Ingat, jangan mengganggu anak-anak Tanak Perdikan ini. Seharusnya mereka menjadi kawan bermain, bukan lawan berkelahi. Ingat pula, menurut kesepakatan orang-orang Tanah Perdikan ini, ikan yang berada di pliridan menjadi hak mereka yang membuat dan menutup pliridan itu, sehingga orang lain tidak boleh mengambilnya.” Wajah Wasis menjadi sangat tegang. Tetapi ia tidak melihat ancang-ancang Glagah Putih untuk membalasnya. Anak muda itu bahkan kemudian melangkah mundur sambil berkata, “Selamat malam. Aku harap kau mendengar kata kataku.” Wasis tidak menjawab. Tetapi jantungnya terasa berdetak semakin cepat. Ia tidak mengerti, kenapa anak muda itu sama sekali tidak tergetar oleh serangan-serangannya. Glagah Putih seakan-akan tidak menghiraukan lagi Wasis yang mematung. Ia juga tidak menghiraukan lagi Wikan yang kebingungan. Digandengnya anak yang tinggal bersamanya itu melangkah pergi. Tetapi Wikan itu masih berteriak, “He, anak cengeng!” Anak itu tidak menjawab. Iapun kemudian melangkah di sebelah Glagah Putih menuju ke pliridannya sendiri. Dalam pada itu, Wasis berdiri tegak dengan dada yang bergejolak. Ia tidak mengerti apa yang telah terjadi. Anak muda itu, yang sedikit lebih besar dan lebih tua daripadanya, seakan-akan memiliki perisai di dadanya, sehingga ia sama sekali tidak goyah oleh pukulan-pukulannya. Di luar sadarnya, Wasis itu berpaling kepada Pinang dan bertanya, “Siapakah anak muda itu Pinang?” “Namanya Glagah Putih,” jawab Pinang. Lalu katanya, “Anak muda itu-lah yang memimpin pengawal Tanah Perdikan ini, di samping Kakang Prastawa, kemenakan Ki Gede.” Wajah Wasis menjadi semakin tegang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jadi ia salah seorang pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan ini?” “Ya,” jawab Pinang. “Kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku sebelumnya?” bertanya Wasis. “Bukankah dengan demikian, maka kau akan menghentikan kenakalan Wikan? Selama ini seolah-olah Wikan telah berbuat apa saja menurut kemauannya sendiri, tanpa menghiraukan tatanan kehidupan anak-anak di padukuhan induk ini. Jika ia menghadapi perlawanan, maka kau selalu membantunya. Bahkan kau tidak segan-segan membantu adikmu, sehingga terasa sangat mengganggu anak-anak yang sedang bermain. Kau dan Wikan juga tidak pernah mendengarkan jika aku mencoba mencegahmu. Nah, adalah kebetulan bahwa kau bertemu dengan Glagah Putih di sini. Tetapi kau masih beruntung, bahwa Glagah Putih tidak berbuat apa-apa atasmu. Jika tanganmu terasa sakit, itu karena kau menyakiti dirimu sendiri.” “Jika ia salah seorang pemimpin pengawal, apakah ia dapat menangkap aku?” bertanya Wasis. “Jika ia menghendaki, ia tentu dapat melakukannya. Tetapi rasa-rasanya Glagah Putih tidak akan berbuat demikian. Jika ia mau, ia dapat mengatasimu langsung malam ini. Meskipun ia berhak dan bahkan mampu melakukannya, tetapi ia tidak melakukannya.” Wasis termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata kepada adiknya, “Kita pulang. Kau tidak boleh mengambil ikan di dalam pliridan, apalagi yang sudah tertutup.” “Tetapi…” Wikan masih akan membantah. “Jika kau tidak mau mendengar kata-kataku, kali ini aku sendiri yang akan memukulimu,” jawab Wasis. Wikan memang menjadi takut. Karena itu, maka ia tidak membantah lagi ketika Wasis mendorongnya meninggalkan tepian. Sejenak Pinang termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata kepada kedua orang anak yang memiliki pliridan itu, “Aku akan pulang.” Kedua orang anak itu tidak menjawab. Tetapi ia memandangi saja Pinang yang kemudian melangkah naik ke tanggul dan berjalan di sebelah Wasis. Beberapa saat kemudian ketiga orang itu pun telah hilang di dalam kegelapan. Sementara itu, sambil berjalan Wasis masih bertanya, “Kenapa Glagah Putih yang merupakan salah seorang pemimpin pengawal itu berkeliaran di sungai malam-malam begini?” “Glagah Putih menyertai anak yang tinggal bersamanya di rumah Ki Lurah Agung Sedayu itu,” jawab Pinang. “Apakah anak itu takut turun sendiri?” bertanya Wasis pula. Pinang menggeleng. Katanya, “Tidak. Biasanya anak itu turun sendiri. Adalah kebetulan bahwa malam ini ia turun bersama Glagah Putih.” Wasis tidak bertanya lagi. Namun ia menyesal bahwa ia sudah terlibat dalam perselisihan dengan salah seorang pemimpin pengawal Tanah Perdikan. Wasis semakin menyesali sikapnya, karena anak muda yang bernama Glagah Putih itu tenyata memiliki kelebihan di atas anak muda kebanyakan. “Seandainya ia membalas,“ berkata Wasis di dalam hatinya. Wasis memang membayangkan seandainya Glagah Putih itu membalasnya, maka nasibnya tentu menjadi sangat buruk. Tetapi ternyata Glagah Putih itu tidak membalas. Sementara itu Glagah Putih masih sibuk membantu anak yang tinggal bersamanya di rumah Agung Sedayu itu menggiring ikan yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Apalagi karena malam sudah menjadi terlalu jauh, mereka tidak akan membuka pliridannya untuk yang kedua, karena hasilnya tentu tidak akan memadai. Dalam pada itu, anak itu masih saja bergeremang sambil menggiring ikan, “Seharusnya kau biarkan aku berkelahi.” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kakaknya tentu akan turut campur.” “Kau cegah kakaknya turut campur. Aku akan menyelesaikan adiknya.” “Sudahlah. Jangan terlalu bergairah untuk berkelahi,“ berkata Glagah Putih. “Aku mempertahankan diri,” jawab anak itu. “Karena itu, aku biarkan kau berkelahi sampai kau mendapatkan satu isyarat bahwa kau menang. Bukankah itu sudah cukup?” “Tetapi kau tidak menunjukkan bahwa kau menang melawan kakaknya,“ berkata anak itu. “Ah, itu tidak perlu bagiku. Aku justru menghindari perkelahian itu. Bukankah lebih baik begitu daripada harus berkelahi malam-malam di tepian? Pakaianku akan menjadi kotor, dan bahkan mungkin aku akan tercebur kedalam air lengkap dengan celana, kain, baju dan bahkan ikat kepalaku.” Anak itu tidak menjawab. Tetapi ia sudah selesai menggiring ikan, sehingga ikan yang terperangkap di dalam pliridan itu sudah masuk ke dalam icir. Dengan demikian, maka Glagah Putih telah mengambil icir yang dipasangnya dan dibawanya ke tepian berpasir. Ketika icir itu dibuka, ternyata mereka mendapat cukup banyak ikan dan udang sungai. Nampaknya ikan itu dapat mengurangi kekesalan hati anak itu. Karena itu, ketika ia berjalan pulang, ia sudah tidak bersungut-sungut lagi. Meskipun demikian, anak yang pulang sambil menjinjing kepis berisi ikan itu masih juga bertanya, “Kenapa kau sama sekali tidak membalas ketika Wasis itu memukulmu?” Glagah Putih tersenyum. Katanya, “Tidak ada gunanya.” “Apakah kau tidak merasa sakit?” bertanya anak itu pula. “Tentu saja sakit. Tetapi perasaan sakit itu masih berada pada batas yang dapat diatasi,” jawab Glagah Putih pula. Anak itu tidak menjawab lagi. Tetapi iapun kemudian justru berjalan semakin cepat. Glagah Putih yang berjalan sambil membawa icir yang basah mengikutinya saja di belakang. Namun menjelang fajar anak itu tidak akan turun lagi ke sungai, karena ia memang tidak membuka lagi pliridannya. Karena Wikan yang gemuk itu, maka ia telah kehilangan waktu dan kehilangan kesempatan menutup pliridannya untuk kedua kalinya di malam itu. Di sisa malam itu, Glagah Putih masih sempat beristirahat setelah membersihkan dirinya di pakiwan. Seperti biasanya pagi-pagi Glagah Putih sudah menimba air mengisi jambangan, sedangkan anak yang semalam berkelahi itu sibuk membersihkan ikannya. Sementara itu, Ki Jayaraga yang benar-benar telah pulih kembali, sedang sibuk menyapu halaman depan. Sementara Wacana yang sudah merasa menjadi bertambah baik, telah mencoba pula untuk berbuat sesuatu. Meskipun dengan perlahan, Wacana ikut membersihkan halaman samping rumah Agung Sedayu itu. “Jangan memaksa diri, Ngger,“ berkata Ki Jayaraga yang kemudian mendekatinya. Wacana tersenyum. Katanya, “Aku sudah sehat Ki Jayaraga. Tenagaku sudah pulih kembali.” “Tetapi Angger masih harus berhati-hati. Jangan terlalu letih,“ berkata Ki Jayaraga. Wacana mengangguk sambil menjawab, “Baik Ki Jayaraga.“ Ki Jayaraga menarik nafas panjang. Tetapi Wacana memang sudah menjadi semakin baik. Dalam pada itu, setelah selesai mengisi jambangan, Glagah Putih pun telah pergi ke dapur. Rara Wulan yang sibuk membantu Sekar Mirah menyiapkan minuman panas, tiba-tiba saja telah bertanya, “Kapan kita pergi ke Kleringan?“ Glagah Putih itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, “Bukankah kita sudah sepakat bahwa setelah tiga hari, sebagaimana kita bicarakan dengan Ki Jayaraga waktu itu?” “Bukankah hari ini sudah hari ketiga?” bertanya Rara Wulan. “Tetapi kita bersepakat untuk pergi setelah hari ketiga,” jawab Glagah Putih. Sementara itu sambil menyurukkan kayu bakar lebih dalam di perapian, Sekar Mirah berkata, “Bukankah kita tidak perlu terlalu tergesa-gesa Rara?” “Tetapi rasa-rasanya aku ingin segera bertemu dengan Kanthi. Aku membayangkan gadis itu sepi sendiri di dalam biliknya. Tidak ada orang yang menyapanya. Sementara itu ia tidak lagi berani keluar halaman rumahnya,” desis Rara Wulan. “Tentu tidak, Rara. Ayah, ibunya dan saudara perempuannya itu mengasihinya,” jawab Sekar Mirah. “Ketika Kanthi dalam bahaya, mereka memang melindunginya. Tetapi setelah semuanya itu berlalu, maka sikap keluarganya akan berbeda,“ berkata Rara Wulan pula. “Menurut pendapatku, tidak Rara,“ sahut Glagah Putih, “keluarganya akan membantunya bangkit kembali.” Rara Wulan mengangguk kecil. Namun kemudian katanya, “Besok kita benar-benar pergi ke Kleringan.” “Aku akan mengingatkan Ki Jayaraga,” jawab Glagah Putih kemudian. Rara Wulan mengangguk pula. Namun kemudian Rara Wulan itu pun terdiam. Tangannya-lah yang kemudian sibuk menyiapkan mangkuk-mangkuk tempat minuman. Seperti yang dikatakan, maka Glagah Putih pun kemudian telah menemui Ki Jayaraga, yang duduk di tangga pendapa bersama Wacana. Sambil mengusap keringat di keningnya dengan lengan bajunya, maka iapun berkata, “Pagi-pagi Rara Wulan sudah mengingatkan, besok kita pergi ke Kleringan.” Ki Jayaraga tersenyum. Katanya, “Baiklah. Besok kita pergi ke Kleringan.” Namun Wacana itu dengan ragu-ragu berkata, “Bagaimana jika aku ikut bersama kalian?” Ki Jayaraga-lah yang menjawab, ”Jangan besok Ngger. Seperti yang sudah aku katakan, Angger masih perlu beristirahat.” “Bukankah Kleringan tidak terlalu jauh?” bertanya Wacana. “Sebaiknya lain kali saja-lah Wacana. Mungkin kau memang ingin berjalan-jalan keluar halaman karena kau sudah menjadi jenuh melihat dinding yang kusam itu. Tetapi pada kesempatan lain kita akan keluar untuk menyegarkan pikiran,“ sahut Glagah Putih. Wacana memang tidak dapat memaksa. Sebenarnyalah bahwa tenaganya memang belum pulih seutuhnya. Namun rasa-rasanya ada sesuatu yang telah mendorongnya untuk ikut pergi ke Kademangan Kleringan. Meskipun demikian, Wacana masih berusaha untuk mengerti alasan Ki Jayaraga dan Glagah Putih, kenapa mereka menahan agar Wacana tidak usah pergi ke Kleringan sebelum keadaannya benar-benar menjadi baik. Ketika kemudian langit mulai memantulkan cahaya matahari yang terbit dari balik cakrawala, maka mereka pun bergantian pergi ke pakiwan. Setelah berbenah diri, maka mereka pun duduk di ruang dalam untuk minum-minuman hangat yang dihidangkan oleh Rara Wulan. Sementara itu Agung Sedayu sudah bersiap untuk pergi ke barak Pasukan Khusus. Namun sebelum Agung Sedayu berangkat, Prastawa telah datang untuk menemuinya dan menemui pula Ki Jayaraga. “Maaf Ki Jayaraga, agaknya masih terlalu pagi untuk mengganggu Ki Jayaraga dan barangkali juga Ki Lurah Agung Sedayu, yang sudah bersiap untuk berangkat ke barak,“ berkata Prastawa setelah ia duduk di ruang dalam pula. “Apakah ada hal yang sangat penting, Ngger ?” bertanya Ki Jayaraga. “Tidak terlalu penting, Ki jayaraga. Justru aku yang mementingkan diri sendiri. Aku sengaja datang pagi-pagi sebelum Ki Lurah Agung Sedayu berangkat.” Ki Jayarata mengangguk-angguk. Tetapi ia menunggu saja Prastawa menyampaikan persoalannya. “Ki Jayaraga dan Ki Lurah Agung Sedayu. Aku datang diutus oleh Paman Argapati. Atas persetujuan Paman Argapati dan Ayah, Ki Jayaraga dan Ki Lurah Agung Sedayu berdua diminta untuk bersedia sekali lagi menjadi wakil Ayah dan Paman Argapati, untuk menyampaikan lamaran.” Ki Jayaraga mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Jadi maksudnya kami harus pergi melamar seorang gadis bagi Angger Prastawa, begitu ?” Prastawa mengangguk sambil menjawab, “Ya, Ki Jayaraga.” “Kapan kami harus pergi melamar? Tentunya suasananya akan sangat berbeda dengan saat kami menjadi utusan pergi ke Kademangan Kleringan.” “Agaknya memang demikian,” jawab Prastawa. Lalu katanya kemudian, “Ayah dan Paman Argapati serta Kakang Swandaru semalam sepakat untuk pergi melamar sore nanti.” “Nanti? Hari ini, maksudmu?” bertanya Agung Sedayu. “Ya, Ki Lurah,” jawab Prastawa. Agung Sedayu mengangguk-angguk sambil bertanya, “Begitu cepat? Apakah kau sudah membicarakannya dengan gadis itu sebelumnya ?” “Ya,” jawab Prastawa, “bahkan aku sudah menyampaikan kepada kedua orang tuanya, bahwa Ayah akan mengirimkan utusan untuk dengan resmi melamar gadis itu,” jawab Prastawa. “Apakah kau sudah menyampaikan kepada mereka bahwa utusan itu akan datang hari ini?” bertanya Agung Sedayu. “Nanti aku akan menemuinya,” jawab Prastawa. Agung Sedayu mengangguk-angguk, sementara Ki Jayaraga berkata, “Baiklah. Jika Ki Gede dan Ki Argajaya sudah menetapkan bahwa utusan itu akan pergi sore nanti, aku tidak mempunyai keberatan apapun. Mungkin Angger Agung Sedayu juga tidak berkeberatan.” “Tentu,” jawab Agung Sedayu. Namun Agung Sedayu itu pun kemudian bertanya, “Siapa saja yang akan berangkat?“ “Ki Jayaraga, Ki Lurah Agung Sedayu berdua, dan Kakang Swandaru berdua,” jawab Prastawa. “Baiklah,” Agung Sedayu mengangguk-angguk, “aku akan pulang lebih awal. Kami akan pergi ke rumah Ki Gede. Agaknya kita akan berangkat bersama-sama dari sana.” “Terima kasih Ki Lurah,“ berkata Prastawa kemudian. “Aku akan menyampaikannya kepada Paman Argapati dan Kakang Swandaru berdua.” Demikianlah, maka Prastawa pun segera minta diri setelah beberapa kali ia mengucapkan terima kasih kepada Ki Jayaraga dan kepada Agung Sedayu. Sepeninggal Prastawa, Agung Sedayu pun segera berangkat menuju ke barak Pasukan Khusus. Seperti yang dijanjikan kepada Prastawa, ia berniat untuk pulang lebih awal. Dalam pada itu, ketika Glagah Putih berada di halaman belakang, Rara Wulan pun mendekatinya sambil berdesis, “Sore nanti keluarga Prastawa akan pergi melamar.” “Ya. Ki Jayaraga dan Kakang Agung Sedayu diminta untuk ikut pergi bersama Kakang Swandaru,” jawab Glagah Putih. “Persoalannya dengan gadis Kleringan itu sudah selesai bagi Prastawa,” desis Rara Wulan. “Ya. Baginya memang sudah tidak ada persoalan lagi,” jawab Glagah Putih. Namun Rara Wulan itu berkata, “Tetapi persoalan yang menyangkut Kanthi itu, masih tetap menggelisahkan gadis itu.” “Persoalan yang disandang Kanthi dan Prastawa memang berbeda,” jawab Glagah Putih. “Aku mengerti. Tetapi aku hanya sekedar mengatakan keadaan yang mereka sandang masing-masing sekarang ini.” Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Namun Rara Wulan itu pun berkata, “Kita besok akan tetap berangkat, dengan atau tidak dengan Ki Jayaraga.” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Ki Jayaraga sudah mengatakan, bahwa besok Ki Jayaraga siap untuk pergi ke Kademangan Kleringan.” “Tetapi mungkin ia berubah. Siapapun tentu akan lebih senang pergi melamar seorang gadis daripada pergi menjumpai seorang perempuan yang sedang terjerat oleh malapetaka. Apalagi persoalan yang sebenarnya dengan gadis yang akan dilamar itu sudah jelas, sehingga tidak akan ada hambatan lagi.” “Tetapi bukankah waktunya tidak bersamaan? Sore nanti Ki Jayaraga akan pergi melamar. Memang sebaiknya ada orang yang dituakan dalam sekelompok utusan itu. Nah, baru besok Ki Jayaraga akan pergi bersama kita ke Kademangan Kleringan.” Rara Wulan mengangguk kecil. Katanya, “Dua suasana yang tentu akan sangat berbeda.” Glagah Putih hanya mengangguk kecil pula. Hari itu Rara Wulan memang nampak gelisah. Tetapi ia berusaha untuk menahan diri. Gadis itu justru banyak menyibukkan diri dengan kerja. Ketika matahari kemudian hampir menggapai puncak langit, maka Rara Wulan pun telah berada di dalam sanggar, sedangkan Glagah Putih telah pergi ke banjar untuk bertemu dengan para pemimpin pengawal. Seperti yang dijanjikan, maka Agung Sedayu telah kembali dari barak lebih awal dari biasanya. Menjelang sore hari, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah serta Ki Jayaraga telah bersiap. Mereka akan pergi ke rumah Ki Gede lebih dahulu, sebelum bersama-sama dengan Swandaru dan Pandan Wangi memenuhi permintaan Ki Argajaya dan Ki Gede untuk pergi melamar seorang gadis yang akan menjadi istri Prastawa. Berbeda dengan saat mereka pergi ke Kademangan Kleringan, maka wajah-wajah mereka sore itu nampak cerah. Prastawa yang juga berada di rumah Ki Gede nampak tersenyum-senyum. Dua orang pengawal yang ada di rumah Ki Gede selalu mengganggunya. Tetapi Prastawa justru nampak semakin ceria. Ketika matahari menjadi semakin rendah di sisi Barat, maka Ki Gede dan Ki Argajaya pun telah mempersilahkan Ki Jayaraga, Agung Sedayu dan Swandaru suami istri untuk berangkat. “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Jayaraga. Menurut Prastawa, agaknya tidak akan ada hambatan lagi. Kedua orang tua gadis itu sudah menyatakan persetujuannya. Mereka pun sudah diberitahu oleh Prastawa bahwa utusan keluarga Prastawa akan datang sore ini,“ berkata Ki Gede. Demikianlah, sejenak kemudian sekelompok kecil utusan Ki Argajaya pun telah berangkat dari rumah Ki Gede. Dalam pada itu, Glagah Putih yang sudah berada di rumahnya, duduk di serambi. Sinar matahari yang menjadi semakin lemah masih nampak menembus dedaunan di halaman. Di dapur, Rara Wulan menjadi sibuk karena Sekar Mirah tidak ada. Tetapi karena ia sudah terbiasa melakukannya sehari-hari bersama Sekar Mirah, maka tangannya pun sudah menjadi trampil. Ketika ia sudah selesai menuang minuman hangat, maka Rara Wulan pun telah menghidangkannya kepada Wacana yang duduk di pringgitan seorang diri. Dibiarkannya angan-angannya menerawang jauh melampaui cakrawala. “Minumlah,” desis Rara Wulan, “selagi masih hangat.” “Terima kasih,“ sahut Wacana. Namun kemudian iapun bertanya, “Kapan kalian akan pergi ke Kademangan Kleringan?” “Besok,” jawab Rara Wulan, “jika yang lain berhalangan apapun sebabnya, aku akan pergi sendiri.” Wacana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jika benar Rara Wulan pergi sendiri, meskipun ia sudah pulih sekalipun, ia tentu tidak akan pantas untuk menawarkan dirinya menyertai gadis itu. Ketika kemudian Rara Wulan meninggalkannya, kembali Wacana duduk merenung seorang diri. Sementara itu, anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu yang melihat Glagah Putih duduk sendiri telah mendekatinya. Sambil duduk di sebelahnya ia berkata, “Seharusnya kau mengajar aku ilmu bela diri.” Glagah Putih mengerutkan dahinya. Dengan nada rendah ia berkata, “Bagus. Kau sudah dapat menyebutnya dengan ilmu bela diri. Bukan cara berkelahi.” “Ya. Aku mulai mengerti bedanya,” jawab anak itu. Glagah Putih tersenyum sambil menepuk bahunya. Katanya, ”Aku akan mengajarimu ilmu bela diri. Tetapi sudah tentu tidak setiap hari.” Anak itu mengangguk. Katanya, “Kapanpun, asal aku dapat sekedar melindungi diriku sendiri serta kawan-kawanku yang memerlukan perlindungan itu.“ “Baik. Kita akan melakukannya malam hari setiap dua hari sekali. Sudah tentu jika aku tidak sedang bertugas.” “Lalu bagaimana dengan pliridan itu?” bertanya anak itu. “Pada hari-hari kau berlatih, maka kau akan menutup sekali saja. Di dini hari. Atau bahkan tidak sama sekali.” Anak itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika perlu, biarlah pliridan itu ditutup sekali saja, atau jika terlalu letih, tidak sama sekali.” “Nah, jika kau memang benar-benar ingin berlatih ilmu bela diri, maka kau tidak boleh cepat merasa jemu atau cepat merasa mampu. Kau harus berlatih dan belajar dengan telaten dan tekun. Bersungguh-sungguh dan dilandasi dengan niat yang baik.” Anak itu mengangguk-angguk. Dengan sungguh-sungguh ia menjawab, “Aku akan belajar dengan tekun dan telaten.” “Bagus. Tetapi ada yang lebih penting. Dilandasi dengan niat yang baik,“ berkata Glagah Putih. “Ya. Aku akan melandasinya dengan niat baik,” jawab anak itu. Glagah Putih memang merasakan sesuatu yang agak lain pada anak itu. Mungkin karena umurnya yang semakin bertambah. Sementara itu, peristiwa yang terjadi semalam telah menghentakkannya ke dalam satu kesadaran tentang dirinya yang umurnya semakin bertambah itu. Yang mendorongnya untuk menanggapi kehidupan dengan lebih bersungguh-sungguh pula. Karena itulah, maka Glagah Putih pun menjadi bersungguh-sungguh pula. Meskipun yang terlintas di hatinya adalah sekedar memberikan bekal kepada anak itu untuk dapat melindungi dirinya sendiri, karena Glagah Putih mengerti bahwa anak itu sulit untuk mengendalikan diri jika rasa keadilannya tersinggung. Namun Glagah Putih pun menyadari, bahwa selain mengajarinya ilmu bela diri, iapun harus sedikit demi sedikit mengarahkan sikap anak itu agar benar-benar berniat baik dengan dasar ilmu bela diri itu. Dalam pada itu, Glagah Putih pun kemudian berkata, “Kita akan mulai malam nanti. Bersiaplah.” “Apa yang harus aku persiapkan?” bertanya anak itu. “Ketetapan hati,” jawab Glagah Putih, “karena jika kau belajar ilmu bela diri padaku, kau harus menurut segala petunjukku, terutama dalam hubungannya dengan ilmu bela diri. Tetapi sebelumnya kau harus tahu bahwa ilmuku masih terbatas sekali, sehingga apa yang akan aku berikan kepadamu, tidak lebih dari dasar-dasarnya saja.” “Seperti yang sudah kau ajarkan selama ini?” bertanya anak itu. “Tentu lebih dari itu. Tetapi jangan bermimpi bahwa kau akan menjadi seorang yang berilmu tinggi.” Anak itu mengangguk-angguk. Katanya sambil memandang ke kejauhan, “Aku tidak menginginkan terlalu banyak. Tetapi aku ingin tidak ada lagi orang yang merendahkan martabat anak-anak Tanah Perdikan ini.” Glagah Putih tersenyum sambil menepuk bahu anak itu pula, “Bagus. Aku setuju. Tentu saja dalam batas-batas kewajaran.” Tetapi anak itu mengerutkan dahinya. Dengan nada ragu ia bertanya. “Apakah batas kewajaran itu dapat diurai dengan jelas, sehingga aku dapat melihat batas itu?” “Tidak. Tetapi kendali nuranimu akan memberikan isyarat kepadamu.” Anak itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia bertanya, “Bagaimana aku dapat mengetahuinya?” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Sekarang kau masih belum mampu menangkap sepenuhnya suatu nuranimu. Tetapi pada suatu saat, kau akan dapat melakukannya tanpa ada orang lain yang menunjukkannya.” Anak itu mengangguk-angguk, meskipun yang dikatakan oleh Glagah Putih itu masih belum cukup jelas baginya. Dalam pada itu, langit pun terasa menjadi semakin teduh. Anak itu pun kemudian bangkit dan melangkah menggapai sapu lidi yang bersandar di sudut. Sejenak kemudian anak itu pun telah mulai menyapu halaman, sementara Glagah Putih pergi ke pakiwan untuk mengisi jambangan sekaligus mengisi gentong yang ada di dapur. Wacana yang duduk sendiri di pringgitan itu pun telah bangkit pula. Iapun tidak mau duduk berdiam diri. Karena itu, iapun telah ikut pula menyapu halaman samping setelah menyingkirkan mangkuk minumannya ke ruang dalam. Sementara itu, Ki Jayaraga yang menemui kedua orang tua Anggreni yang didampingi pula tiga orang tetangganya yang dituakan, telah menyampaikan lamaran Ki Argajaya atas Anggreni yang akan diperistri oleh anaknya, Prastawa. Segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Meskipun demikian, seorang yang dituakan yang mewakili kedua orang tua Anggreni, meskipun kedua orang tuanya juga hadir, telah menjawab lamaran yang disampaikan oleh Ki Jayaraga atas nama Ki Argajaya, “Kami dengan ucapan terima kasih telah menerima lamaran Ki Argajaya yang disampaikan oleh Ki Jayaraga. Namun karena yang akan menjalani adalah Angger Anggreni, maka biarlah ayah dan ibunya membicarakannya dengan gadis itu. Kami mohon waktu sepekan. Selanjutnya kami akan datang menghadap Ki Argajaya.” Jawaban itu adalah jawaban yang seakan-akan sudah kebiasaan bagi keluarga yang menerima lamaran, justru yang biasanya akan menerima lamaran itu. Karena itu, maka Ki Jayaraga sama sekali tidak berkeberatan untuk menunggu sepekan lagi. Demikianlah, setelah mendapat hidangan minuman dan makanan, maka utusan Ki Argajaya itu pun segera mohon diri. Berlima mereka langsung pergi ke rumah Ki Gede, karena Ki Argajaya memang akan menunggu di rumah Ki Gede sampai utusan itu datang kembali. Suasana di rumah Ki Gede itu pun menjadi cerah. Sambil memberikan laporan tentang tugasnya, sekali-kali Ki Jayaraga sempat mengganggu Prastawa. Suara tertawa pun setiap kali terdengar dari sela-sela bibir mereka. Namun kemudian Ki Jayaraga, Agung Sedayu dan Sekar Mirah pun telah minta diri meninggalkan suasana yang ceria itu. Mereka minta diri untuk kembali setelah mereka makan malam bersama. Pada malam harinya, ketika mereka sudah berada di rumah Agung Sedayu, sekali-sekali mereka masih membicarakan hubungan antara Prastawa dan Anggreni yang nampaknya akan menjadi lancar. Sementara itu Sekar Mirah pun menganggap bahwa Anggreni memang pantas untuk menjadi istri Prastawa. Namun ketika kemudian Sekar Mirah berada di dapur untuk membuat minuman hangat, Rara Wulan mendekatinya sambil bertanya, “Apakah Anggreni cantik, Mbokayu?” “Ya,” jawab Sekar Mirah, “gadis itu memang cantik.” “Siapa yang lebih cantik, Anggreni atau Kanthi?” bertanya Rara Wulan pula. Sekar Mirah mengerutkan dahinya. Namun Sekar Mirah pun menyadari bahwa perhatian Rara Wulan masih terikat kepada Kanthi. Karena itu, maka iapun menjawab, “Keduanya sama-sama cantik. Aku hanya sempat melihat Anggreni sepintas saat ia menghidangkan minuman. Namun nampaknya wajah gadis itu cukup cerah.” “Tentu,” jawab Rara Wulan, “wajah Anggreni tentu nampak cerah karena ia sedang menerima lamaran dari seseorang yang memang diharapkannya. Tetapi Kanthi tidak akan pernah mengalami masa-masa seperti itu.” “Kenapa?” bertanya Sekar Mirah. “Bukankah kita mengetahui keadaannya? Jika saja Kanthi tidak mengalami bencana itu, wajahnya tentu juga akan cerah. Iapun akan nampak sebagai seorang gadis yang cantik dan gembira. Tetapi keadaan telah menyingkirkannya dari kemungkinan itu.” Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar bahwa Rara Wulan sedang dibayangi oleh keadaan Kanthi yang muram. Dalam keadaan demikian, jika ia menyatakan pendapatnya yang berbeda, maka Rara Wulan tentu akan menjadi sangat kecewa. Justru karena Sekar Mirah terdiam, maka Rara Wulan mulai menyadari sikapnya. Ia mulai merasa bahwa ia lelah terdorong oleh perasaannya, sehingga Sekar Mirah merasa lebih baik untuk diam saja. Karena itu, maka iapun kemudian berdiri di belakang Sekar Mirah yang baru menuang minuman di dalam mangkuk, sambil berdesis, “Mbokayu. Aku mohon maaf.” Sekar Mirah pun kemudian berpaling. Dipandanginya wajah Rara Wulan yang menunduk. Dengan lembut ia bertanya, “Kenapa?” “Aku telah menyinggung perasaan Mbokayu,” desis Rara Wulan. Sekar Mirah tersenyum. Ditepuknya pundak Rara Wulan sambil berkata lembut, “Tidak Rara. Aku sama sekali tidak merasa tersinggung. Aku justru melihat warna hatimu yang welas asih. Meskipun Kanthi bukan sanak-kadangmu, tetapi kau merasa betapa tidak seimbangnya suasana hati yang meliputi dua orang gadis yang namanya sama-sama dihubungkan dengan Prastawa.” Rara Wulan mengangguk. Tetapi suaranya tidak dapat melewati kerongkongannya yang terasa menjadi serak. “Sudahlah,“ berkata Sekar Mirah, “sekarang hidangkan mangkuk-mangkuk minuman hangat itu, untuk menyegarkan mereka yang duduk di ruang dalam itu sebelum mereka pergi ke pembaringan.” Rara Wulan mengangguk pula. Sementara itu Sekar Mirah pun berkata, “Bukankah kau besok akan pergi ke Kademangan Kleringan?” “Ya, Mbokayu,” jawab Rara Wulan. “Baiklah. Setelah menghidangkan minuman itu, pergilah beristirahat,“ berkata Sekar Mirah kemudian. Rara Wulan mengangguk sambil mengangkat mangkuk-mangkuk minuman. Setelah menghidangkan minuman itu, Rara Wulan memang segera pergi ke pembaringanya. Namun gadis itu memang tidak segera dapat tidur lelap. Di ruang dalam, Sekar Mirah yang kemudian ikut duduk berbincang, minta agar mereka tidak lagi berbicara tentang Prastawa dan Anggreni. “Kenapa?” bertanya Agung Sedayu. “Rara Wulan masih saja dibayangi oleh getirnya perasaan Kanthi. Sehingga keceriaan Anggreni bagi Rara Wulan menjadi terasa tidak adil,“ sahut Sekar Mirah. “Tetapi ia harus dapat memilahkan persoalannya,“ berkata Ki Jayaraga. “Aku akan mengatakannya besok sebelum ia berangkat ke Kademangan Kleringan. Anggreni memang tidak harus ikut hanyut dalam persoalan yang telah menjerat Kanthi. Kesalahan Anggreni, justru di luar sadar dan kehendaknya sendiri, adalah bahwa Praslawa telah memilihnya meskipun ia tetap bersikap baik terhadap Kanthi,“ berkata Sekar Mirah kemudian. Namun kemudian ia berdesah pula, “Tetapi jika hal itu dianggap sebagai kesalahan.” “Bukan satu kesalahan,“ berkata Ki Jayaraga selanjutnya, “tetapi baiklah. Kita tidak akan membicarakannya lebih jauh.” Sekar Mirah menarik nafas panjang, ia sendiri-lah yang minta untuk tidak berbicara tentang Anggreni. Demikianlah, sambil meneguk minuman hangat, mereka mulai berbicara tentang beberapa hal yang lain. Tentang kehidupan di Tanah Perdikan yang telah menjadi wajar kembali. Namun juga tentang mendung yang mengalir dihembus angin utara. Hubungan yang buram antara Mataram dan Pati. Agung Sedayu yang juga seorang pemimpin prajurit dari Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh itu pun berkata, “Isyarat untuk bersiaga sepenuhnya bagi Pasukan Khusus masih berlaku. Usaha untuk merintis jalan yang lebih lunak dari peperangan masih terus dilakukan. Namun nampaknya hasilnya tidak seperti diharapkan.” Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Orang-orang yang tidak bertanggung jawab nampaknya berusaha untuk membakar hati Kanjeng Adipati di Pati. Orang-orang berilmu tinggi yang ada di sekitar Kanjeng Adipati nampaknya menjadi silau oleh kekuatan yang dapat mereka himpun. Bahkan diantaranya terdapat orang-orang yang merasa berhak untuk mendahului langkah Kanjeng Adipati, sebagaimana Ki Manuhara dan Resi Belahan.” “Tetapi Panembahan Senapati yang merasa lebih tua masih berusaha untuk mencari jalan yang lebih baik. Meskipun demikian, Panembahan Senapati memang tidak dapat menghindari kesiapan untuk perang,“ berkata Agung Sedayu kemudian. Demikianlah untuk beberapa saat mereka masih berbincang. Namun kemudian Agung Sedayu itu pun berkata, “Sudahlah, Ki Jayaraga. Hari telah larut. Besok Ki Jayaraga akan pergi ke Kleringan bersama Glagah Putih dan Rara Wulan.” Ki Jayaraga tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku memang sudah berjanji bahwa besok aku akan pergi ke Kademangan Kleringan bersama Angger Rara Wulan dan Glagah Putih.” Dalam pada itu, Glagah Putih sendiri ternyata masih berada di belakang kandang. Glagah Putih masih sibuk mengajari anak yang tinggal di rumah itu dasar-dasar ilmu bela diri. Glagah Putih menjanjikan untuk belajar di sanggar, jika ia melihat kemajuan dan kesungguhan anak itu. Tetapi beberapa saat kemudian Glagah Putih pun mengakhirinya sambil berkata, “Malam ini aku kira sudah cukup. Lusa kita akan melanjutkan lagi.” Anak itu menjadi heran. Dipandanginya Glagah Putih sambil bertanya, “Hanya begini?” Glagah Putih memandang anak itu dengan tajamnya. Katanya, “Bukankah kita sudah cukup lama berlatih?” “Bukankah kita baru saja mulai?” jawab anak itu. “Jangan memaksa diri. Itu justru kurang baik. Kita harus belajar sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya kau dapat menguasai dasar ilmu bela diri itu dengan baik.“ “Tetapi berapa puluh tahun aku akan dapat menguasai dasar ilmu itu, jika kita hanya melakukannya sekejap demi sekejap seperti ini.” Dahi Glagah Putih berkerut. Ia menjadi jengkel juga kepada anak itu. Karena itu, maka pada langkah awal Glagah Putih akan membuatnya jera. Ia harus menyadari kedudukannya, sehingga untuk selanjutnya, anak itu tidak boleh bersikap demikian. Karena itu, maka Glagah Putih pun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau berniat untuk meneruskan latihan awal ini. Tetapi dengan janji, bahwa kau tidak boleh berhenti setengah-setengah.” “Itu tentu lebih baik,” jawab anak itu. Demikianlah, maka Glagah Putih pun telah mengajak anak itu ke sanggar. Bagi latihan awal, maka latihan yang lama memang lebih baik dilakukan tidak di udara terbuka. Demikian mereka berada di dalam sanggar, maka Glagah Putih pun berkata, “Kita akan berlatih untuk waktu yang lama. Bukankah begitu? Nah, persiapkan dirimu baik-baik.” “Aku sudah bersiap sejak semula,” jawab anak itu. “Pada latihan awal ini, kau harus menirukan apa yang aku lakukan. Ingat, apa saja yang aku lakukan.” Anak itu mengangguk. Demikianlah, maka Glagah Putih pun telah mulai dengan gerak-gerak yang paling mendasar, seperti yang telah dilakukan di belakang kandang itu. Kemudian Glagah Putih telah melakukan unsur-unsur gerak berikutnya. Diulanginya beberapa kali, sementara anak itu telah menirukannya. Sambil melakukan gerak-gerak yang mula-mula perlahan-lahan, Glagah Putih menjelaskan arti dan maksud dari gerakan-gerakan itu. Dengan sungguh-sungguh anak itu menirukan dan mencoba memahami penjelasan Glagah Putih, untuk apa dan kenapa gerakan-gerakan itu dilakukan. Namun semakin lama Glagah Putih pun bergerak semakin cepat. Diulanginya gerakan-gerakan itu beberapa kali, sehingga anak itu benar-benar mampu melakukannya dengan baik. Tetapi ketika malam menjadi semakin larut, muka nafas anak itu mulai terengah-engah. Meskipun ia masih tetap bergerak dengan tangkas dan irama yang setiap kali menjadi semakin cepat sebagimana dilakukan oleh Glagah Putih, namun tenaga anak itu telah menjadi semakin susut Glagah Putih melihat keadaan itu, tetapi ia berpura-pura tidak mengetahuinya. Glagah Putih masih saja melakukan gerakan-gerakan yang keras dan cepat, sambil memberikan beberapa petunjuk tentang gerakan-gerakan yang dilakukan. Anak itu masih berusaha memaksa dirinya. Tetapi keseimbangannya mulai guncang. Setiap kali ia menjadi terhuyung-huyung dan bahkan hampir terjatuh karenanya. Glagah Putih masih saja pura-pura tidak mengetahuinya. Sementara Glagah Putih sendiri masih saja segar dan tegar. Ketika Glagah Putih kemudian melakukan loncatan kecil dalam unsur-unsur gerak dasar yang baru, maka anak itu tidak lagi mampu melakukannya. Keringatnya bagaikan telah terperas hingga kering, sementara wajahnya menjadi pucat, dan nafasnya tersengal-sengal. Bahkan perutnya terasa menjadi mual, sehingga rasa-rasanya akan muntah. Ketika anak itu kemudian bersandar pada dinding sanggar, maka Glagah Putih pun bertanya, “He, kenapa kau berhenti? Marilah kita berlatih terus.” Nafas anak itu rasa-rasanya akan menjadi putus. Dengan kata-kata yang sendat ia berkata, “Aku sudah tidak kuat lagi.” Glagah Putih kemudian berdiri bertolak pinggang sambil berkata, “Jika kita berlatih dalam sekejap kau sudah kelelahan, berapa puluh tahun kau akan dapat menguasai dasar ilmu bela diri itu?” Wajah anak yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat. Meskipun bibirnya bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Namun Glagah Putih pun menjadi kasihan melihat keadaannya. Karena itu, maka dibimbingnya anak itu ke sebuah lincak bambu. “Duduklah,“ berkata Glagah Putih. Anak itu pun kemudian menjatuhkan dirinya di atas lincak bambu itu. Wajahnya masih saja nampak pucat, sementara tubuhnya masih basah oleh keringatnya. “Duduk sajalah di situ,“ berkata Glagah Putih. Ia masih ingin sekaligus meyakinkan anak itu, apa sebenarnya ilmu bela diri yang harus dipelajarinya itu. Karena itu maka katanya pula, “Lihatlah. Apa yang harus kau pelajari jika kau ingin menguasai dasar-dasar ilmu bela diri. Ingat, baru dasar-dasarnya saja. Jika kau kemudian merambah ke ilmu kanuragan yang lebih rumit, maka kau harus menjadi lebih bersungguh-sungguh dan mengerti dimana kau sedang berdiri. Jika kau memanjat lereng pegunungan, maka kau harus memanjat setapak demi setapak dengan susah payah. Kau harus mengatur ketahanan dan kemampuan tubuhmu, sehingga kau tidak dapat memaksa dirimu untuk menggapai puncaknya dengan satu loncatan, betapapun panjangnya.” Meskipun anak itu tidak menjawab, tetapi ia menyadari kesalahannya, sehingga Glagah Putih telah langsung menunjuk kelemahannya. Namun dalam pada itu, perhatiannya mulai tertarik pada unsur-unsur gerak yang dipertunjukkan oleh Glagah Putih. Mula-mula Glagah Putih mulai dari unsur yang tadi dipelajarinya di belakang kandang. Kemudian unsur-unsur berikutnya dan berikutnya. Semakin lama menjadi semakin rumit, dan gerak Glagah Putih pun menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian Glagah Putih pun mulai merambah pada unsur-unsur gerak yang bersentuhan dengan alat-alat yang ada di sanggar itu. Glagah Putih mulai berloncatan di atas palang-palang bambu dan tonggak-tonggak batang kelapa. Anak itu memang sudah tahu bahwa Glagah Putih adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi. Tetapi ketika ia menyaksikan Glagah Putih menunjukkan unsur-unsur gerak yang disebutkan sebagai dasar ilmu bela diri, maka jantungnya menjadi berdebar-debar. Tetapi Glagah Putih tidak terlalu lama bermain-main di sanggar itu. Beberapa saat kemudian, setelah menurut perhitungannya anak itu menyadari seberapa beratnya ia harus menjalani laku untuk menguasai dasar-dasar ilmu bela diri, maka Glagah Putih pun kemudian berhenti. Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak nampak menjadi letih. Meskipun pakaian Glagah Putih juga menjadi basah oleh keringat, namun tenaganya masih tetap segar sebagaimana saat ia mulai berlatih di belakang kandang. Ketika Glagah Puutih kemudian duduk di sebelahnya, nafasnya pun tidak terdenggar terengah-engah. Apalagi menjadi tersengal-sengal. Nafasnya masih saja berjalan lancar dan teratur. “Nah,“ berkata Glagah Putih, “kau sudah melihat, apa yang harus kau pelajari untuk menguasai dasar-dasar ilmu bela diri. Kau tentu dapat membayangkan jalan yang panjang yang harus kau lalui. Karena itu, jika kau tergesa-gesa dan ingin berlari kencang saat kau berangkat, maka kau justru akan jatuh tersungkur di tengah jalan. Kau akan kelelahan dan sama sekali tidak akan sempat mencapai tujuan.” Anak itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih saja menunduk. Anak itu tidak berani menatap wajah Glagah Putih. Jika di saat-saat sebelumnya ia menganggap Glagah Putih itu seperti kawannya bermain dan bahkan sekali-sekali ia berani menegur dan bahkan mencelanya, tiba-tiba ia merasa menjadi sangat kecil dan tidak berarti apa-apa. “Sudahlah,“ berkata Glagah Putih, “kita akan beristirahat. Besok aku harus pergi ke Kademangan Kleringan. Sekarang kau pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri. Kemudian kau pergi tidur.” Anak itu mengangguk. Tetapi ia masih belum berani menatap wajah Glagah Putih. Glagah Putih tersenyum. Ia memang harus menunjukkan wibawanya jika ia akan mengajari anak itu dasar-dasar ilmu bela diri. Anak itu pun kemudian memang pergi ke pakiwan. Nafasnya sudah menjadi teratur kembali. Saat-saat dengan tegang ia menyaksikan Glagah Putih memainkan unsur-unsur gerak dasar, anak itu memang melupakan keadaan dirinya sendiri. Meskipun kemudian anak itu merasa sangat kecil di hadapan Glagah Putih, tetapi keinginannya untuk dengan sungguh-sungguh mempelajari dasar-dasar ilmu bela diri justru menjadi semakin menyala di dalam hatinya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Glagah Putih. Namun untuk selanjutnya, ia tidak akan berani lagi berkata kasar sebagaimana sering diucapkannya sebelumnya karena ia menganggap Glagah Putih itu sebagai kawannya bermain saja. Dalam pada itu, setelah Glagah Putih membersihkan dirinya pula di pakiwan, iapun harus segera beristirahat. Besok pagi-pagi, Rara Wulan tentu sudah ribut menagih janjinya untuk pergi ke Kademangan Kleringan. Sebenarnyalah, ketika pagi-pagi Glagah Putih bangun dan mengisi jambangan pakiwan, Rara Wulan ternyata sudah lebih dahulu mandi. Sambil berdiri di tepi plataran sumur, ia berkata, “Lebih baik kita berangkat pagi. Udara tentu masih segar dan panas matahari belum menggatalkan kulit.” “Tetapi tentu tidak terlalu pagi Rara,” jawab Glagah Putih, “biarlah Kakang Agung Sedayu berangkat ke baraknya lebih dahulu. Baru kemudian kita berangkat.“ “Kenapa harus menunggu?” bertanya Rara Wulan. “Aku merasa segan terhadap mbokayu Sekar Mirah. Ia tentu sedang sibuk melayani Kakang Agung Sedayu. Sementara itu, kita tidak terlalu terikat oleh waktu. Jika kita berangkat terlalu pagi, maka Mbokayu Sekar Mirah akan menjadi sangat sibuk,” jawab Glagah Putih. Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Namun agaknya ia dapat mengerti. Karena itu maka iapun kemudian mengangguk kecil. Tetapi Rara Wulan itu pun masih berkata. “Baiklah. Tetapi begitu Kakang Agung Sedayu berangkat, kita pun akan segera berangkat.” Glagah Putih pun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Kita akan segera berangkat setelah Kakang Agung Sedayu berangkat.” Ketika kemudian Rara Wulan meninggalkan Glagah Putih yang masih menimba air, Ki Jayaraga pun mendekatinya. Sambil tersenyum Ki Jayaraga bertanya, “Apakah Rara Wulan mendesakmu untuk berangkat pagi-pagi?” “Ya,” jawab Glagah Putih, “tetapi aku minta kita berangkat setelah Kakang Agung Sedayu lebih dahulu berangkat.” Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku pun sudah bersiap pagi-pagi. Aku sudah mengira bahwa Rara Wulan akan mendesakmu untuk berangkat sebelum matahari terbit. Aku sudah bangun pagi-pagi sekali, menyapu halaman bersama Wacana, mandi dan kemudian bersiap-siap.” “Ki Jayaraga sudah mandi?” bertanya Glagah Putih. Ki Jayaraga mengerutkan dahinya. Iapun justru ganti bertanya, “Apakah aku masih nampak kotor dan kantuk?” “Tidak, tidak,” jawab Glagah Putih dengan serta-merta. “Atau karena aku sudah tua, sehingga mandi atau tidak mandi sama saja? Jika demikian, agaknya lebih baik aku tidak mandi saja,“ berkata Ki Jayaraga. Namun kemudian iapun tertawa, sehingga Glagah Putih pun tertawa pula. “Bukan begitu Ki Jayaraga,” jawab Glagah Putih, “Ki Jayaraga selalu nampak bersih dan rapi. Sebelum atau sesudah mandi. Sanggul kadal menek itu memang sudah nampak halus dan licin.” Ki Jayaraga tertawa semakin panjang. Namun kemudian katanya, “Cepatlah mandi. Begitu Angger Agung Sedayu berangkat, maka Rara Wulan tentu akan menjadi ribut.” Ki Jayaraga pun kemudian meninggalkan Glagah Putih yang segera mandi pula. Demikianlah, setelah makan pagi maka Agung Sedayu pun segera bersiap untuk berangkat ke barak Pasukan Khusus. Ia masih memberikan beberapa pesan kepada Glagah Putih jika kemudian ia akan pergi ke Kademangan Kleringan bersama Ki Jayaraga dan Rara Wulan. Kepada Rara Wulan pun Agung Sedayu pun berpesan pula, “Hati-hati Rara. Jangan mudah terpancing oleh keadaan apapun juga.” Rara Wulan mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baik Kakang. Aku akan berhati- hati.” Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu pun telah berpacu meninggalkan rumahnya menuju ke barak Pasukan Khusus. Seperti yang diduga oleh Ki Jayaraga dan Glagah Putih, demikian Agung Sedayu berangkat, maka Rara Wulan pun segera bertanya kepada Glagah Putih, “Kapan kita berangkat?” Glagah Putih memang tidak mempunyai alasan untuk menunda keberangkatan mereka. Karena itu, iapun berkata, “Baiklah. Kita pun segera berangkat.” Setelah Glagah Putih memberitahu Ki Jayaraga, maka mereka bertiga pun segera bersiap-siap untuk berangkat. Seperti Agung Sedayu, maka Sekar Mirah pun telah berpesan kepada Rara Wulan agar ia berhati-hati dan selalu berusaha mengekang diri. Sesaat kemudian, bertiga mereka telah berangkat menuju ke Kademangan Kleringan. Memang tidak ada hambatan di perjalanan. Demikian pula ketika mereka memasuki Kademangan Kleringan di seberang bukit. Mereka sama sekali tidak mengalami gangguan apapun juga. Sementara itu kehidupan di Kademangan Kleringan ternyata wajar-wajar saja. “Kanthi memang bukan orang penting,“ berkata Rara Wulan tiba-tiba. “Kenapa?” bertanya Glagah Putih dengan heran. Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Dengan dahi yang berkerut ia memandangi orang-orang yang bekerja di sawah. Orang-orang yang pergi dan pulang dari pasar. Beberapa orang bepergian untuk satu keperluan. Glagah Putih masih menunggu jawab Rara Wulan sambil berjalan di sebelahnya. Sementara itu Ki Jayaraga meski pun berjalan di depan, tetapi iapun berusaha untuk mendengar apa yang dikatakan oleh Rara Wulan. Baru beberapa saat kemudian Rara Wulan berkata, “Kanthi memang tidak perlu mendapat perhatian khusus orang-orang Kademangan Kleringan. Biar saja Kanthi menyelesaikan kesulitannya sendiri. Tidak seorang pun yang mempedulikannya. Mereka merasa lebih baik untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing, karena memperhatikan nasib Kanthi tidak akan memberikan keuntungan apa-apa bagi mereka.” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Glagah Putih pun menjawab, “Rara. Aku kira apa yang terjadi adalah wajar sekali. Tidak semua orang Kademangan Kleringan mengetahui apa yang terjadi atas diri Kanthi. Sementara itu, putaran peristiwa di Kademangan Kleringan memang tidak boleh berhenti hanya karena persoalan yang menimpa Kanthi. Betapapun orang-orang Kleringan mengetahui persoalan yang menjerat Kanthi, namun ada keterbatasan mereka untuk melibatkan diri mereka.” “Mereka sudah terjebak ked alam ketidak-pedulian dengan keadaan di sekitar mereka. Hidup dan kehidupan hanya terjadi di seputar diri sendiri,“ berkata Rara Wulan. “Tidak Rara. Tetapi dalam persoalan yang terjadi atas Kanthi, justru keluarga Kanthi sendiri-lah yang membatasinya, agar tidak banyak diketahui orang. Bukankah begitu? Bukankah semakin banyak orang yang mengetahuinya, maka arang yang tercoreng di kening itu akan semakin banyak dilihat orang?“ sahut Glagah Putih. Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menjawab. Demikianlah, maka mereka pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan padukuhan yang mereka tuju. Ketika mereka memasuki padukuhan, maka jantung Rara Wulan menjadi semakin berdebar-debar. Sekilas Rara Wulan justru membayangkan wajah seorang gadis yang bernama Anggreni, yang cerah ceria menerima lamaran Prastawa. Sementara di sisi lain, ia melihat seorang gadis yang menelungkup dan menangis terisak-isak. Kanthi telah mengalami kegagalan ganda. “Kenapa hal itu telah dilakukannya, betapapun ia dicengkam oleh perasaan kecewa?“ berkata Rara Wulan di dalam hatinya. Jantung Rara Wulan menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melewati tikungan dan memasuki jalan yang langsung melewati depan regol halaman rumah kanthi. Langkah Rara Wulan itu pun menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya Rara Wulan ingin meloncat dan segera sampai ke rumah gadis yang sedang mengalami tekanan batin oleh kelalaiannya sendiri itu. Ketika ketiganya sampai di depan regol halaman rumah Ki Suracala itu, mereka termangu-mangu sejenak. Regol itu tertutup, tetapi tidak terlalu rapat. Karena itu, ketika Ki Jayaraga menyentuhnya, maka pintu itu pun terdorong sejengkal. Karena itu, Ki Jayaraga pun telah mendorong pintu itu, sehingga pintu itu pun terbuka. Ketiga orang yang berdiri di pintu regol itu terkejut. Mereka melihat beberapa orang berada di pendapa. Nampaknya mereka memang sedang gelisah. Satu dua orang nampak sibuk hilir mudik di pringgitan. “Apa yang terjadi?” desis Rara Wulan. Karena itu, maka Rara Wulan pun menjadi tidak sabar lagi menunggu. Iapun segera melangkah ke tangga pendapa. Glagah Putih dan Ki Jayaraga pun segera mengikutinya pula. Ternyata beberapa orang yang ada di pendapa itu belum mengenal Rara Wulan, Glagah Putih dan Ki Jayaraga. Karena dua orang yang menyongsong mereka telah memperhatikan Rara Wulan, Glagah Putih dan Ki Jayaraga dengan ragu-ragu. “Apakah Kanthi ada di rumah?” pertanyaan itulah yang mula-mula terlontar dari mulut Rara Wulan. “Siapakah kalian Ki Sanak?” bertanya salah seorang dari orang-orang yang menyongsongnya. Ki Jayaraga-lah yang kemudian menjawab, “Kami datang untuk menengok keselamatan keluarga Ki Suracala. Kami adalah sahabatnya yang tinggal di Tanah Perdikan Menoreh.” “O,“ orang itu mengangguk, “marilah, silahkan duduk. Biarlah kami beritahukan kepada Ki Suracala. Ia sudah menjadi tenang kembali.” “Apa yang terjadi?” bertanya Ki Jayaraga. “Nanti saja. Biarlah Ki Suracala sendiri yang menjelaskan,” jawab orang itu. Ki Jayaraga termangu-mangu sejenak. Demikian pula Glagah Putih dan Rara Wulan. Namun orang yang menyongsongnya itu pun kemudian telah mempersilahkan ketiga orang tamu itu untuk naik dan duduk di pendapa. Namun demikian mereka duduk di pendapa, terasa suasana yang tegang meliputi orang-orang yang sudah berada lebih dahulu di pendapa itu. Namun tidak seorang pun yang menyapa mereka, dan apalagi menceritakan apa yang terjadi di rumah itu. Dengan demikian maka Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Rara Wulan duduk termangu-mangu saja di pendapa. Mereka tidak berbicara dan berbuat apapun selain menunggu Ki Suracala. Rara Wulan hampir tidak sabar menunggu. Tetapi setiap kali ia bergeser, maka Glagah Putih selalu menggamitnya untuk menahan agar Rara Wulan tidak beranjak dari tempatnya. Baru beberapa saat kemudian, ketika Rara Wulan hampir kehabisan kesabaran, Ki Suracala pun keluar dari ruang dalam, dibimbing oleh seorang laki-laki yang sebaya umurnya. “Apa yang telah terjadi?” desis Rara Wulan. “Kita akan mendapat keterangan dari Ki Suracala Ngger,” desis Ki Jayaraga. Ketika kemudian Ki Suracala melihat Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Sekar Mirah, maka iapun segera mendekati mereka dan duduk bersama mereka. “Apa yang terjadi, Ki Suracala?” Rara Wulan tidak sabar lagi. Ki Suracala mengusap matanya yang basah. Tetapi ia tidak segera menjawab. Dicobanya untuk menenangkan hatinya dan mengatur pernafasannya. Ketika ia kemudian memandang Rara Wulan, maka Rara Wulan pun bertanya sekali lagi, “Apa yang terjadi, Ki Suracala?” Suara Ki Suracala yang serak bagaikan tertahan di kerongkongan, “Kanthi Ngger.” “Kenapa dengan Kanthi?” bertanya Rara Wulan dengan serta merta. Wajahnya menjadi merah. “Ia berada di biliknya,” desis Ki Suracala. Rara Wulan tidak menunggu lebih lama lagi. Gadis itu pun segera bangkit dan berlari ke ruang dalam. Rara Wulan sudah mengetahui letak bilik Kanthi. Karena itu, maka iapun segera berlari menuju ke pintu bilik itu. Demikian ia menyingkap tirai pintu bilik itu, maka dilihatnya Kanthi berbaring di pembaringannya. Tiga orang perempuan termasuk ibu dan kakak perempuannya menungguinya. Seorang lagi adalah seorang yang sudah lebih tua dari ibu Kanthi itu sendiri. Sejenak Rara Wulan berdiri di pintu. Namun kemudian iapun telah melangkah masuk. Ketika ibu Kanthi berpaling, maka Rara Wulan itu pun berdesis, “Apakah Kanthi sakit?” Ibu Kanthi itu memandang Rara Wulan dengan mata yang basah. Isaknya tiba-tiba telah timbul kembali, meskipun ia berusaha untuk menahannya. Kanthi yang terbaring lemah itu tiba-tiba menggerakkan kepalanya. Ketika ia memandang Rara Wulan, maka Rara Wulan pun sedang memandanginya. Tiba-tiba saja Kanthi itu menjerit. Semua orang yang ada di dalam bilik itu terkejut. Namun yang terjadi cepat sekali, ketika kemudian Kanthi yang lemah itu bangkit dan meloncat memeluk Rara Wulan. Rara Wulan pun memeluknya pula. Apalagi ketika Kanthi kemudian menangis sejadi-jadinya. “Kanthi. Kanthi. Apa yang terjadi?” bertanya Rara Wulan, “Apakah ada orang yang mengganggumu lagi? Atau Ki Suratapa atau Ki Wreksadana?” Sambil menangis Kanthi menggeleng. “Jadi, apa yang telah terjadi?” desak Rara Wulan. Kanthi tidak menyahut. Tetapi tangisnya justru semakin menjadi-jadi. Betapapun keras hati Rara Wulan, namun iapun seorang perempuan. Karena itu, betapapun ia bertahan, namun air matanya pun akhirnya mengalir juga di pipinya. Ketiga orang perempuan yang berada di bilik itu pun telah mendekat pula. Ibunya yang sudah mulai menangis itu pun telah menjadi terisak. “Tenanglah Kanthi, tenanglah,“ berkata Rara Wulan sambil berusaha menenangkan Kanthi. Tangis Kanthi memang mulai mereda. Rara Wulan pun kemudian membimbing Kanthi untuk duduk di pembaringannya. “Kenapa kau menangis? Apakah ada seseorang yang menyakitimu atau mengancammu, atau tindak kekerasan lain?” bertanya Rara Wulan. Kanthi menggeleng. Sehingga Rara Wulan pun bertanya mendesak, “Jadi kenapa kau menangis? Apakah kau sakit?” Kanthi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk lemah. Rara Wulan pun mengangguk-angguk pula. Katanya, “Jika demikian, berbaringlah. Apakah kau sudah mendapat obatnya?” Kanthi tidak menyahut. Rara Wulan pun kemudian berkata pula. “Sudahlah. Berbaringlah. Kau harus banyak beristirahat.” “Kau jangan pergi,” desis Kanthi. “Tidak, aku tidak akan pergi,” jawab Rara Wulan. Kanthi ternyata mau membaringkan dirinya. Tetapi tangannya tetap berpegangan tangan Rara Wulan. Dalam pada itu, di pendapa, Ki Suracala yang masih terengah-engah itu berkata hampir berbisik kepada Ki Jayaraga dan Glagah Putih dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Kanthi telah kehilangan akal. Ia telah mencoba membunuh diri.” Betapa Ki Jayaraga dan Glagah Putih terkejut sehingga mereka bergeser setapak mendekati Ki Suracala. Dengan kening yang berkerut Ki Jayaraga itu pun bertanya, “Apakah ada tekanan-tekanan lagi atas gadis itu, sehingga ia mengambil keputusan untuk membunuh diri?” Ki Suracala menggeleng. Katanya, “Tidak Ki Jayaraga. Tetapi penyesalan itulah yang semakin lama semakin menekan perasaannya, sehingga anak itu telah mengambil keputusan yang salah.” Ki Jayaraga menarik nafas dalam. Tetapi ia hanya bergumam saja di dalam hatinya, “Sekali Kanthi melakukan kesalahan, jika ia tidak mampu bangkit lagi, maka ia akan melakukan kesalahan-kesalahan berikutnya. Sehingga dengan demikian maka kesalahan-kesalahan itu justru akan bersusun.” Namun dalam pada itu, Ki Jayaraga bertanya, “Apakah masih saja ada orang yang menyudutkannya dalam kesalahannya?” “Sepengetahuanku tidak,” jawab Ki Suracala, “kakaknya yang pernah marah-marah kepadanya, justru sebelum terjadi peristiwa yang menggetarkan di rumah ini, telah berusaha untuk membantunya menemukan kembali jalan ke masa depannya. Bahkan kakak perempuannya telah menyatakan kesediaannya untuk memungut anak Kanthi nanti jika anak itu lahir, dan mengakunya sebagai anaknya sendiri. Demikian pula ibunya dan orang-orang yang berhubungan dengan Kanthi, telah berusaha untuk membangkitkan lagi kemauannya untuk tetap hidup. Namun Kanthi masih juga memilih jalan sesat. Untunglah bahwa niatnya itu dapat diketahui, sehingga dapat digagalkan. Tetapi ia sudah sempat tergantung pada blandar di biliknya, ketika kakak perempuannya itu masuk dan langsung berteriak-teriak minta tolong.” Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Keributan itu-lah agaknya yang telah memanggil beberapa orang tetangga Ki Suracala sehingga mereka datang ke rumah itu. Dalam pada itu, ditunggui oleh Rara Wulan, Kanthi menjadi sedikit tenang. Kelelahan, kebingungan dan perasaan yang bercampur baur membuatnya menjadi sangat letih. Demikian ia merasakan ketenangan itu, maka Kanthi itu sempat tertidur, meskipun masih saja nampak gelisah. Baru ketika Kanthi tidur, ibu Kanthi itu memberitahukan kepada Rara Wulan apa yang terjadi. Rara Wulan pun menjadi sangat terkejut pula. Tetapi ketika ia hampir menjerit, maka iapun segera teringat, bahwa Kanthi sedang tertidur. Karena itu, ditahannya gejolak perasaannya yang mengguncang dada. Namun demikian, wajah Rara Wulan itu nampak menjadi pucat. Keringatnya mengalir bagaikan diperas, sehingga pakaiannya menjadi basah kuyup. “Kenapa hal itu dilakukannya?” bertanya Rara Wulan dengan menahan isaknya yang menyesakkan dadanya. Perempuan itu telah menjawab sebagaimana jawaban yang diberikan oleh Ki Suracala kepada Ki Jayaraga dan Glagah Putih di pendapa. Rara Wulan mengangguk kecil. Dengan susah payah ia menenangkan jantungnya yang terasa berdegup semakin keras. Bagaimanapun juga Kanthi masih tetap selamat, sehingga masih banyak kemungkinan yang dapat ditunjukkan kepadanya, agar Kanthi dapat bangkit kembali untuk menatap masa depannya. Untuk beberapa lama, Rara Wulan duduk dan berbincang dengan ketiga orang perempuan yang menunggui Kanthi, yang meskipun tertidur, tetapi terasa betapa kegelisahan masih tetap mencengkam jantungnya. Namun sejenak kemudian, Kanthi itu terbangun. Ia nampak terkejut dan gelisah. Namun Rara Wulan segera duduk di bibir pembaringannya sambil mengusap dahinya, “Tenanglah Kanthi. Aku masih di sini.” Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Rara Wulan yang pernah bertempur untuk melindunginya, benar-benar membuat perasaannya menjadi tenang. Gadis itu seakan-akan masih saja tetap melindunginya dari segala macam ancaman, dan bahkan dari dirinya sendiri. Rara Wulan yang sudah mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya atas Kanthi itu. berusaha untuk dapat membuat gadis itu mulai menyadari bahwa ia tidak boleh kalah dan menyerah. Kanthi harus tetap tegar dan berpengharapan. Tetapi Rara Wulan masih saja tidak berani menunjuk apa yang sebenarnya telah terjadi atas Kanthi. Sehingga apa yang dikatakannya dengan hati-hati tidak langsung ke sasaran. Rara Wulan berusaha untuk sangat berhati-hati berbicara dengan Kanthi yang hatinya sedang terluka parah. “Kau harus selalu berdoa Kanthi,“ berkata Rara Wulan, “jika hatimu menatap dengan mantap, maka Yang Maha Agung akan mendengarkan doamu. Kau akan segera sembuh. Baik sakit yang kau derita pada sisi kewadaganmu, maupun sakit yang kau derita pada sisi kejiwaanmu. Yang Maha Agung tidak akan mengecewakan justru jika kau tetap berpengharapan.” Kanthi mengangguk kecil. Sementara Rara Wulan berkata, “Sekarang kau harus benar-benar meletakkan segala beban perasaanmu. Serahkan semua persoalanmu kepada Yang Maha Agung. Kau harus memohon dan memohon petunjuk dengan lambaran kepercayaan yang bulat.” Kanthi mengangguk lagi. Sementara ibunya berdesis lirih, “Kau dengar itu Genduk?” Kanthi mengangguk lagi. Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Wajah Kanthi yang pucat serta matanya yang lembab membayangkan betapa hatinya terkoyak-koyak. Ketika Rara Wulan beringsut, dengan cepat Kanthi menangkap tangannya sambil berkata dengan nada tinggi, “Jangan tinggalkan aku. Aku takut.” “Tidak Kanthi. Aku tidak akan pergi,” jawab Rara Wulan. Namun sebenarnyalah bahwa Rara Wulan berpikir bahwa tentu sulit baginya nanti untuk meninggalkan rumah itu, jika sikap Kanthi tidak berubah. Sementara itu, di pendapa Ki Suracala masih bercerita tentang anak perempuannya itu. Dari hari ke hari, ia menjadi semakin murung. Ia merasa tidak akan dapat menyembunyikan cela yang melekat di tubuhnya, sehingga akhirnya Kanthi telah kehilangan akal. Ki Jayaraga mengangguk-angguk kecil. Kemudian katanya dengan nada berat, “Ki Suracala memang harus bersabar, tabah dan pasrah kepada Yang Maha Agung. Dengan kesabaran dan ketabahan, serta doa yang tidak berkeputusan, maka beban yang disandang oleh Kanthi akan terasa menjadi lebih ringan.” Ki Suracala mengangguk-angguk. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Aku mohon Ki Jayaraga dan Angger Glagah Putih ikut berdoa pula agar Kanthi mendapat pikiran yang terang.” “Tentu,” jawab Ki Jayaraga, “kami di Tanah Perdikan, bukan saja aku dan angger Glagah Putih tetapi juga yang lain, selalu berdoa agar Kanthi dapat segera bangkit kembali menyongsong masa depannya.” “Terima Kasih,“ gumam Ki Suracala. Namun kemudian suaranya seakan-akan tertelan kembali, “Tetapi bagaimana dengan anak yang akan lahir itu?” “Ada seribu jalan yang dapat tiba-tiba saja terbentang di hadapan Kanthi, jika Yang Maha Agung menghendaki,” jawab Ki Jayaraga. Ki Suracala mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang selalu memohon tanpa berkeputusan. Di malam hari, lewat tengah malam, aku selalu turun ke halaman, memandang bintang-bintang di langit. Kemudian memohon dan memohon. Mohon ampun dan mohon petunjuk.” “Yang Maha Agung akan mendengarkan permohonan Ki Suracala,” desis Ki Jayaraga. Ki Suracala pun terdiam sejenak. Namun kemudian seperti orang tersadar dari mimpinya, iapun mempersilahkan Ki Jayaraga dan Glagah Putih untuk bergeser, duduk di antara beberapa orang tetangga Ki Suracala yang berdatangan ketika mereka mendengar keributan di rumah itu. Kepada tetangga-tetangganya Ki Suracala memperkenalkan Ki Jayaraga dan Glagah Putih sebagai tamu-tamunya dari Tanah Perdikan Menoreh. “Mereka adalah sebagian dari keluarga Ki Argajaya, yang telah menyelamatkan aku dan keluargaku beberapa waktu yang lalu,“ berkata Ki Suracala. Tetangga-tetangga Ki Suracala itu mengangguk hormat. Mereka mengerti bahwa beberapa waktu yang lalu telah terjadi peristiwa berdarah di rumah itu, sehingga ada di antara mereka yang melaporkan kepada Ki Demang, sehingga Ki Demang telah datang ke rumah itu bersama beberapa orang bebahu kademangan dan padukuhan itu. Demikianlah, beberapa saat lamanya mereka duduk di pendapa. Namun kemudian tetangga-tetangga Ki Suracala itu satu demi satu telah minta diri, ketika mereka tahu bahwa keadaan telah menjadi tenang. Hanya beberapa orang perempuan saja-lah yang masih tinggal. Sebagian duduk di ruang dalam dan sebagian lagi ada di dapur, membantu menyiapkan minuman dan makanan, karena Nyi Suracala dan keluarganya tidak sempat memikirkannya. Di pendapa, Ki Jayaraga dan Glagah Putih duduk beberapa lama dengan Ki Suracala. Minuman dan makanan yang dihidangkan telah mereka minum dan mereka makan beberapa potong. Sementara itu, Rara Wulan masih saja berada di ruang dalam. Sebenarnyalah bahwa Rara Wulan tidak dapat beringsut dari pembaringan Kanthi. Setiap kali Kanthi justru memegangi tangannya dengan erat, seakan-akan tidak akan pernah dilepaskan lagi. Sebenarnyalah bahwa Rara Wulan sendiri mulai menjadi gelisah. Ia sadar bahwa Ki Jayaraga dan Glagah Putih menunggunya di pendapa. Sementara itu ia tidak dapat meninggalkan Kanthi sama sekali. Ketika Rara Wulan mengatakan bahwa ia akan menemui Ki Jayaraga dan Glagah Putih sebentar saja di pendapa, Kanthi sama sekali tidak mau melepaskannya. “Sebentar saja Ngger,“ berkata ibunya, “Angger Rara Wulan akan berbicara sebentar saja dengan Angger Glagah Putih yang menunggunya di pendapa.” “Tidak. Tidak,“ Kanthi memegang tangan Rara Wulan semakin erat. “Sudahlah Bibi,” desis Rara Wulan kemudian, “biarlah aku di sini untuk beberapa saat.” “Tidak hanya untuk beberapa saat. Kau tidak boleh pergi,“ sahut Kanthi. Sambil menarik nafas panjang. Katanya, “Baik, baik, Kanthi. Aku akan menungguimu di sini.“ Dalam pada itu, Nyi Suracala-lah yang kemudian pergi ke pendapa menemui Ki Jayaraga dan Glagah Putih. “Kanthi sama sekali tidak mau melepaskan Rara Wulan,“ berkata Nyi Suracala. Ki Jayaraga dan Glagah Putih hanya mengangguk-angguk saja. Namun sebenarnyalah mereka menjadi gelisah. Jika Rara Wulan tidak dapat meninggalkan Kanthi, apakah mereka pun harus tinggal di Kademangan Kleringan sampai jiwa Kanthi menjadi tenang? Agaknya Ki Suracala dapat membaca perasaan Ki Jayaraga dan Glagah Putih, karena itu ia-lah yang bertanya kepada Nyi Suracala, “Jika demikian, apakah berarti Angger Rara Wulan harus tetap berada di dalam biliknya?” “Setiap Angger Rara Wulan beringsut, Kanthi selalu memegangi tangannya erat-erat. Ia hanya mengatakan bahwa Angger Rara Wulan tidak boleh meninggalkannya,” jawab Nyi Suracala. “Sampai kapan Angger Rara Wulan harus menungguinya?” bertanya Ki Suracala. “Sudahlah,” potong Ki Jayaraga, “kita akan menunggu, nanti perasaan Kanthi akan menjadi tenang. Agaknya Rara Wulan dianggapnya dapat memberikan perlindungan bagi Kanthi dari tekanan-tekanan atas perasaannya, bahkan yang datang dari dirinya sendiri, karena Rara Wulan memang pernah menyelamatkannya pada saat-saat yang sangat gawat itu.” Ki Suracala pun mengangguk-angguk. Namun katanya kepada Nyi Suracala, “Dengan perlahan-lahan usahakanlah Nyi, agar Angger Rara Wulan nanti dapat keluar dari bilik Kanthi. Tetapi alangkah terima kasih kita jika Angger Rara Wulan bersedia bermalam barang semalam di sini.” Nyi Suracala tidak menjawab. Tetapi di luar sadarnya ia memandang Ki Jayaraga dan Glagah Putih. Namun baik Ki Jayaraga maupun Glagah Putih tidak memberikan tanggapan apapun juga. Sebenarnyalah bahwa Ki Jayaraga dan Glagah Putih masih belum tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan, jika benar Rara Wulan tidak dapat meninggalkan bilik Kanthi itu. Meskipun demikian, Nyi Suracala masih juga berkata, “Tetapi baiklah kami usahakan agar Angger Rara Wulan dapat meninggalkan Kanthi nanti pada saatnya. Mudah-mudahan Kanthi menjadi semakin tenang sehingga ia tidak lagi memegangi tangan Angger Rara Wulan tanpa mau melepaskannya sama sekali.” Dengan demikian, maka Ki Jayaraga dan Glagah Putih harus menunggu. Mereka tidak segera dapat mengajak Rara Wulan pulang. Karena itu, setelah makan siang Ki Suracala telah mempersilahkan keduanya beristirahat. Bagi mereka disediakan sebuah bilik di gandok kanan. Tetapi Ki Jayaraga dan Glagah Putih kemudian hanya duduk-duduk saja di serambi gandok sambil memandangi halaman rumah Ki Suracala, yang nampak sejuk oleh pepohonan yang tumbuh di halaman depan. Bahkan terdapat pula beberapa jenis tanaman pajangan. Pohon soka, ceplok piring, dan di sudut pendapa terdapat rumpun-rumpun kembang melati yang sedang berbunga. Sementara itu, di dalam biliknya Kanthi tetap tidak mau melepaskan tangan Rara Wulan. Ketika ibu dan kakaknya berusaha untuk menenangkannya dan menjelaskan kepadanya bahwa Rara Wulan harus kembali ke Tanah Perdikan. Kanthi tidak mau mendengarkannya lagi. “Kanthi,“ berkata ibunya, “tentu saja Angger Rara Wulan tidak dapat tinggal di sini terus. Ia harus pulang ke Tanah Perdikan Menoreh. Jika tidak, maka keluarganya tentu akan menjadi cemas dan gelisah. Apalagi beberapa waktu yang lalu, telah terjadi perselisihan di sini.” “Apapun sebabnya, Rara Wulan tidak boleh pergi,” jawab Kanthi. “Rara Wulan sendiri mungkin dapat mengerti keadaanmu, Kanthi. Tetapi keluarganya di Tanah Perdikan Menoreh?” bertanya ibunya. “Tidak. Tidak,“ Kanthi mulai menangis. “Besok aku datang lagi kemari Kanthi,” desis Rara Wulan. “Tidak Rara. Jika kau harus pulang ke Tanah Perdikan Menoreh, aku akan ikut. Aku akan bersedia untuk menjadi pembantu di rumahmu. Aku bersedia mencuci pakaian, mengambil air, masak dan semua kerja apapun.” Rara Wulan terkejut. Tetapi sebelum ia menyahut, maka Kanthi sudah mendahuluinya, “Jika kau tidak membiarkan aku ikut, maka kau tidak boleh pergi. Jika kau memaksa, maka aku akan memilih mati daripada selalu disiksa oleh kegelisahan dan perasaan berdosa.“ Rara Wulan memang menjadi bingung. Ia tidak segera dapat mengambil keputusan. Kedua kemungkinan itu akan sama-sama beratnya. Ia tentu tidak dapat tinggal di rumah Kanthi untuk satu dua hari sekalipun. Apalagi jika hal itu diketahui oleh orang-orang yang mendendam. Iapun tidak mungkin minta Glagah Putih menemaninya di Kademangan Kleringan. Tentu akan dapat menimbulkan prasangka buruk, justru karena ia mempunyai hubungan khusus dengan Glagah Putih, Sementara itu, Kanthi masih saja tetap berpegangan pada tangan Rara Wulan. Untuk beberapa saat, Rara Wulan memang tidak memberikan jawaban. Ia masih saja duduk di pembaringan Kanthi. Bahkan makan siang pun dilakukannya di dalam bilik Kanthi, karena dengan demikian serba sedikit Kanthi juga mau makan. Namun akhirnya Rara Wulan mendapat akal agar ia dapat berbicara dengan Ki Jayaraga dan Glagah Putih. Kepada Kanthi, Rara Wulan itu pun berkata, “Kanthi, aku minta agar kau memberi kesempatan kepadaku untuk pergi ke pakiwan.” “Tidak,” jawab Kanthi. “Tentu sulit bagiku untuk menahan diri tidak pergi ke pakiwan. Kau tahu, aku sudah lama berada di sini. Karena itu, aku hanya minta waktu sedikit saja. Aku tidak akan pergi. Aku tahu bahwa aku tidak boleh melakukannya dengan mengelabuimu. Akibatnya tentu akan aku sesali untuk waktu yang sangat lama.” Sebelum Kanthi menjawab, ibunya berkata, “Kanthi, kau jangan menyiksa Rara Wulan. Setiap orang tentu memerlukan waktu untuk pergi ke pakiwan. Kau dapat saja merasa tenang karena kau mendapat perlindungan. Tetapi ketenanganmu itu akan dapat membuat Angger Rara Wulan gelisah.” Kanthi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Tetapi jangan terlalu lama, Rara. Dan kau harus kembali ke bilik ini. Sudah aku katakan, bahwa jika kau tidak bersedia tinggal di sini, biarlah aku ikut kau ke rumahmu, dimanapun kau tinggal. Aku bersedia untuk menjadi pembantu di rumahmu. Mencuci, menyapu halaman, menimba air dan apa saja.” “Aku akan kembali Kanthi. Aku berjanji,” jawab Rara Wulan. Demikianlah, maka akhirnya Rara Wulan dapat keluar dari bilik itu. Ia memang benar-benar pergi ke pakiwan. Tetapi kemudian Rara Wulan telah mencari dan menemui Ki Jayaraga dan Glagah Putih, untuk memberitahukan permintaan Kanthi. Apakah Rara Wulan tinggal di rumah itu, atau Kanthi ikut bersamanya ke Tanah Perdikan Menoreh. “Pilihan yang sulit,“ berkata Glagah Putih, “jika kau tinggal di sini Rara, kau tentu dalam keadaan bahaya. Mungkin orang-orang yang mendendam itu masih juga mendendammu, jika mereka tahu kau ada di sini.” “Jadi, apakah kau harus menemaninya Glagah Putih?“ berkata Ki Jayaraga. Glagah Putih termangu-mangu. Namun Rara Wulan berkata, “Sebaiknya tidak, Ki Jayaraga. Bagi orang-orang Tanah Perdikan Menoreh yang tidak mengetahui dengan pasti apa yang terjadi di sini, akan dapat menimbulkan rerasan yang kurang baik.” “Ya,“ Ki Jayaraga mengangguk-angguk, “aku mengerti. Orang-orang yang tidak senang akan membuat cerita yang bermacam-macam tentang kalian berdua. Tetapi untuk membawanya ke Tanah Perdikan Menoreh, ada Prastawa. Jika Kanthi masih sempat melihat Prastawa, maka hatinya yang terluka itu akan terasa pedih kembali.” Glagah Putih mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia berkata, “Ya. Satu persoalan yang perlu mendapat perhatian, Rara.” “Tetapi kita harus memilih. Aku tinggal di sini atau Kanthi ikut bersama kita,“ berkata Rara Wulan, “di luar dua kemungkinan itu, Kanthi sudah mengatakan bahwa ia memilih mati.” Ki Jayaraga dan Glagah Putih justru merenung. Dua pilihan yang mempunyai keberatannya masing-masing. Namun akhirnya Glagah Putih berkata, “Biarlah Kanthi ikut bersama Rara Wulan ke Tanah Perdikan Menoreh. Kita akan dapat berbicara dengan Prastawa. Kita memerlukan pengertiannya untuk tidak datang ke rumah kita, atau bahkan jika mungkin mengambil jalan lain, jangan lewat di depan rumah kita.” Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Meskipun ragu-ragu, tetapi ia berkata, “Bagaimana jika Rara berterus terang kepada Kanthi?” “Aku tidak sampai hati, Ki Jayaraga,” jawab Rara Wulan. Ki Jayaraga itu pun mengangguk-angguk. “Jika demikian, biarlah kita mengajaknya pulang. Tetapi tentu setelah senja, agar tidak banyak orang yang melihat dan menyapanya. Meskipun kehamilannya masih belum nampak bagi mereka yang tidak sangat memperhatikan, tetapi jika kebetulan satu dua orang yang pernah mendengar persoalan Prastawa mengetahui kehadirannya di Tanah Perdikan, maka akan dapat menimbulkan persoalan baru.” “Aku kira di Tanah Perdikan Menoreh belum ada seorangpun yang mendengarnya,“ sahut Rara Wulan. “Tidak Rara. Menurut Prastawa, justru Anggreni dan keluarganya sudah mengetahui,” desis Ki Jayaraga. “Jadi keluarga Anggreni sudah tahu?“ Rara Wulan terkejut, “Betapa gadis itu merasa semakin menang.” “Tidak,“ Ki Jayaraga menggeleng, “Anggreni bukan jenis yang demikian. Ia dapat mengerti perasaan Kanthi. Ia dapat mengerti perasaan seorang gadis lain yang sakit karena angan-angannya yang lepas. Juga tentang Prastawa. Untunglah bahwa gadis itu tidak mengalami kesulitan yang parah seperti Kanthi. Ia segera dapat bangkit kembali dan berusaha melupakannya.” Rara Wulan mengerutkan dahinya. Tetapi dengan demikian penilaiannya terhadap Anggreni yang belum pernah dikenalnya itu menjadi agak berubah. Dalam pada itu, sebelum pembicaraan itu tuntas, maka seorang perempuan berlari-lari mencari Rara Wulan. Dengan gelisah ia berkata, “Kanthi mencarimu, Ngger. Kanthi mulai menangis dan gelisah lagi.” “Baik. Baik,” jawab Rara Wulan, “aku akan segera datang.” Rara Wulan yang tergesa-gesa pergi untuk menemui Kanthi masih sempat bertanya kepada Ki Jayaraga dan Glagah Putih, “Jadi kita condong membawa Kanthi ke Tanah Perdikan, daripada aku harus tinggal di sini?” “Ya,” jawab Ki Jayaraga, “untuk sementara.“ Rara Wulan pun segera berlari ke bilik Kanthi. “Kenapa lama sekali?” bertanya Kanthi yang langsung berpegangan tangan Rara Wulan. “Kau akan meninggalkan aku?” “Tidak. Aku baru ke pakiwan dan berbicara sedikit dengan Ki Jayaraga dan Kakang Glagah Putih,” jawab Rara Wulan. “Apakah mereka tidak mengijinkan kau tinggal di sini atau aku ikut ke rumahmu?” bertanya Kanthi. “Mereka sama sekali tidak berkeberatan Kanthi,” jawab Rara Wulan. Dan bahkan Rara Wulan itu pun kemudian sekaligus berkata kepada ibu Kanthi, “Nyi Suracala, biarlah Kanthi bersamaku untuk sementara di rumahku. Mudah-mudahan ia menemukan cahaya di hatinya, sehingga hatinya menjadi terang kembali.” Nyi Suracala termangu-mangu sejenak. Namun Kanthi berkata, “Biarlah aku menyingkir dari rumah ini, Ibu. Bagi Ibu aku adalah anak yang durhaka.” “Tidak. Tidak Kanthi. Apapun yang terjadi atas dirimu, kau tetap anakku. Aku dan ayahmu tidak akan dapat mencuci tangan dan apalagi mengibaskan kau karena kau telah tergelincir.” Dalam pada itu, maka kakak perempuannyapun berkata, “Kanthi, Ayah, Ibu, aku dan seluruh keluarga ini justru berusaha membantumu. Bukan berarti kami menganggap kau tidak bersalah. Tetapi setelah kau sendiri mengakuinya bersalah, maka harus diketemukan jalan menuju ke masa depanmu.” Kanti tercenung. Tetapi ia tidak menjawdb. Meskipun demikian ia masih tetap berpegang tangan Rara Wulan. Sementara itu, Ki Jayaraga dan Glagah Putih telah dipersilahkan lagi duduk di pendapa. Minuman hangat dan beberapa potong makanan telah dihidangkan. Pada kesempatan itu, Ki Jayaraga juga menyampaikan keinginan Kanthi dan sekaligus untuk mohon pertimbangannya. “Jika itu yang diinginkan Kanthi, aku tidak dapat menahannya. Namun masih juga tergantung Angger Rara Wulan, apakah ia bersedia membawa Kanthi,” desis Ki Suracala dengan nada rendah. “Rara Wulan sudah menyatakan tidak berkeberatan, jika ayah dan ibu Kanthi mengijinkan,” jawab Ki Jayaraga. Ki Suracala hanya dapat mengangguk-angguk. Nalarnya seakan-akan menjadi pepat menghadapi persoalan anak perempuannya itu. Tetapi seperti juga Nyi Suracala, Ki Suracala sama sekali tidak ingin melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Apapun yang terjadi atas anaknya, maka hubungan darah itu tidak akan pernah dapat diputuskan dengan cara apapun juga. Dalam pembicaraan selanjutnya antara Kanthi, orang tua Kanthi, serta para tamu dari Tanah Perdikan Menoreh itu, diputuskan bahwa Kanthi akan ikut bersama Rara Wulan ke Tanah Perdikan Menoreh. Mereka pun sepakat untuk meninggalkan rumah Ki Suracala itu setelah lewat senja, agar tidak banyak orang yang melihatnya. Demikianlah, ketika gelap malam mulai membayang, Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Rara Wulan pun telah mohon diri. Bersama mereka telah pergi pula Kanthi. Nyi Suracala sempat memeluk anaknya sambil menahan tangisnya yang menyesakkan dadanya. “Kau tidak boleh terlalu lama pergi Kanthi,“ berkata ibunya di sela isaknya. Kanthi tidak segera menjawab. Dipandanginya lampu minyak yang sudah menyala di pendapa rumahnya. Kemudian bayangan pepohonan yang mulai menjadi kehitaman. Rumah, halaman dan pepohonan itu adalah bagian dari hidup Kanthi sehari-hari. Namun ia tidak dapat tinggal lebih lama di rumah yang serasa seakan-akan selalu menyiksanya itu. Kanthi memang juga menitikkan air mata ketika ia minta diri. Tetapi Kanthi merasa lebih baik pergi dari kenangan yang pahit itu. Bahkan jika tidak ada tujuannya pun, ia merasa lebih baik pergi kemanapun juga. Demikianlah, sejenak kemudian mereka pun telah meninggalkan rumah Ki Suracala. Sementara itu gelap mulai menyelimuti perbukitan. Kanthi yang tidak pernah pergi kemanapun itu merasa betapa jantungnya berdegup keras. Rumah, halaman, pohon soka dan ceplok piring di halaman, harus ditinggalkannya. Kanthi mengerutkan keningnya kelfika ia teringat akan kucing putihnya. Kucing yang banyak menemaninya di saat-saat hatinya gelisah, dan bahkan akhirnya menjadi pepat dan gelap. Kanthi-lah yang setiap pagi, siang dan sore memberi makan kucing itu. Tetapi hatinya telah bulat untuk meninggalkan segala-galanya yang ada di dalam rumah itu, termasuk kenangan pahitnya. Kanthi yang tidak terbiasa berjalan dalam gelap itu telah dibimbing oleh Rara Wulan. Rara Wulan sendiri telah melatih penglihatan dan pendengarannya dengan baik. Iapun telah membiasakan diri untuk berjalan di dalam gelap dan bahkan bertempur di kegelapan. Sehingga karena itu, maka berjalan di dalam gelap itu Rara Wulan sama sekali tidak mengalami kesulitan, sebagaimana ia berjalan di siang hari. Meskipun Kanthi mengalami kesulitan di perjalanan, tetapi ia sama sekali tidak mengeluh. Ia sudah bertekad untuk meninggalkan rumah dan seisinya. Apapun yang akan dialami di perjalanan dan bahkan di tempat yang dituju, Kanthi tidak mau memikirkannya. Jalan-jalan di Kademangan Kleringan sudah sepi. Sementara gardu-gardu masih belum terisi. Meskipun demikian, di beberapa gardu telah dipasangi lampu minyak, sementara di regol-regol padukuhan oncor pun telah menyala. Namun keempat orang itu tidak dapat berjalan cepat. Rara Wulan yang membimbing Kanthi berusaha untuk mengikuti saja kemampuan langkah Kanthi, yang apalagi sedang mengandung muda. Meskipun Rara Wulan belum mengalami, tetapi ia sudah mengetahui bahwa dalam keadaan mengandung muda, seseorang harus sangat berhati-hati. Beberapa saat kemudian, terasa jalan mulai menanjak. Mereka akan melintasi punggung pegunungan yang jarang didiami orang. Pepohonan menjadi semakin rapat, dan bahkan mereka akan melintasi hutan pegunungan. Meskipun tidak terlalu lebat, tetapi hutan itu masih juga dihuni oleh binatang buas. Namun Ki Jayaraga, Glagah Putih, bahkan Rara Wulan mengetahui bahwa jarang sekali seseorang mengalami gangguan binatang buas. Hanya binatang buas yang sudah terlalu tua sehingga tidak mampu lagi memburu kijang saja-lah yang merupakan bahaya bagi seseorang. Namun Rara Wulan yang berjalan di muka sambil membimbing Kanthi termangu-mangu melihat oncor yang menyala di sudut sebuah padukuhan. Ia melihat bayangan beberapa orang yang berkumpul di dekat oncor itu. Bahkan kemudian Rara Wulan mulai mendengar suara tertawa dan bahkan suara ribut di antara mereka. Kanthi yang kemudian juga melihat mereka ternyata menjadi ketakutan. Dengan eratnya ia berpegangan Rara Wulan. Namun Rara Wulan itu berdesis, “Jangan takut Kanthi. Mereka tidak apa-apa. Mereka tentu anak-anak muda yang sedang bersiap-siap untuk meronda. Bahkan di antara mereka terdapat anak-anak muda yang tidak sedang bertugas, namun mereka ikut berkumpul di sudut padukuhan.” “Rara, itu padukuhan Cerma,” desis Kanthi. “O,” Rara Wulan memang belum mengetahui nama padukuhan itu. “Aku takut,” desis Kanthi. “Kenapa?” bertanya Rara Wulan. “Aku lupa mengatakannya, bahwa padukuhan itu banyak dihindari oleh gadis-gadis,” jawab Kanthi. Namun kemudian katanya, “Meskipun aku bukan gadis lagi, tetapi aku takut. Apakah kita dapat kembali dan memilih jalan lain?” Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun agaknya orang-orang yang berkumpul di dekat oncor itu sudah melihat mereka. Karena itu, Rara Wulan berkata, “Mereka sudah melihat kita. Tidak ada gunanya kita memilih jalan lain. Jika mereka memang ingin mengganggu, maka mereka tentu akan mengejar kita. Karena itu sebaiknya kita berjalan terus. Mungkin mereka sama sekali tidak berniat buruk. Hanya prasangka kita saja-lah yang justru telah membayangi kita.” “Tidak Rara. Anak-anak padukuhan Cerma memang sering mengganggu gadis-gadis, bahkan perempuan-perempuan yang telah berkeluarga pula. Semua orang Kleringan mengetahui hal itu,” desis Kanthi yang justru telah berhenti. Ki Jayaraga dan Glagah Putih yang berjalan di belakang telah berhenti pula. Namun seperti Rara Wulan, Glagah Putih berdesis, “Tidak apa-apa Kanthi. Kita akan menyapa mereka dengan baik. Mereka tentu dapat membedakan, apakah seseorang dapat diganggu atau tidak.” Mereka tidak dapat berbicara lebih lanjut. Bahkan Kanthi justru telah bergeser, berdiri di belakang Rara Wulan sambil berpegangan kedua lengannya, “Aku takut.” Ternyata seperti yang diduga oleh Rara Wulan, anak-anak muda yang duduk di sebelah oncor itu telah melihat keempat orang yang sedang dalam perjalanan menuju ke seberang bukit. Ketika keempat orang itu berhenti, maka seorang anak muda telah berkata lantang, “He, kenapa kalian berhenti? Apakah kalian mengira bahwa kami sekelompok penyamun yang menghadang perjalanan kalian?” Rara Wulan-lah yang berdesis, “Nah, kau dengar itu? Mereka agaknya justru telah tersinggung karena kita berhenti di sini.” Kanthi masih saja termangu-mangu. Namun suara yang lain berkata, “Apakah kami harus menjemput kalian dan kemudian mengantar kalian sampai ke bukit?” Rara Wulan pun berdesis pula, “Marilah, jangan takut.” Kanthi masih saja ragu-ragu. Namun Ki Jayaraga pun berkata pula, “Marilah. Kita berjalan terus.” Keempat orang itu kembali melangkah melanjutkan perjalanan. Kanthi berjalan di belakang Rara Wulan sambil berpegangan erat-erat. Namun Rara Wulan seperti berjalan saja tanpa ragu-ragu sama sekali. Namun sebenarnyalah Rara Wulan memang menjadi curiga. Ia justru condong untuk mempercayai kata-kata Kanthi. Ketika keempat orang itu semakin mendekat, maka orang-orang yang berkerumun di sekita oncor itu sama sekali tidak mau menyibak. Dalam pada itu, Glagah Putih yang kemudian berjalan di depan berdesis, “Maaf Ki Sanak. Kami akan lewat.” Orang-orang yang berkerumun di sekitar obor itu semuanya berpaling ke arah Glagah Putih. Mereka semua adalah anak-anak muda sebaya dengan Glagah Putih itu. Di sebelah mereka berserakan bumbung-bumbung kecil yang berbau tuak. Mulut-mulut anak-anak muda itu pun berbau tuak pula. Seorang di antara mereka melangkah mendekati Glagah Putih. Namun ia berhenti beberapa langkah daripadanya. Dari keseimbangannya yang gontai nampak bahwa anak muda itu sedikit mabuk oleh tuak. Sambil memandang Glagah Putih dengan tajamnya anak muda itu bertanya, “He, kau akan membawa perempuan-perempuan itu ke mana?” “Mereka adalah saudara-saudaraku,” jawab Glarah Putih, “aku sedang dalarn perjalanan pulang.” Anak muda itu tertawa. Katanya, “Jangan berbohong. Perempuan itu tentu kau ambil dari rumah Nyi Sunthi. He, akan kau bawa ke mana mereka itu?” “Ki Sanak,“ berkata Glagah Putih kemudian, “aku bukan orang kademangan ini. Aku tidak mengenal Nyi Sunthi. Kedua perempuan ini adalah adikku yang akan aku ajak pulang. Kami baru saja berkunjung ke rumah saudaraku pula.” Beberapa orang anak muda itu justru tertawa serentak. Seorang di antara mereka berkata, “Kebetulan sekali jika perempuan-perempuan itu tidak kau ambil dari rumah Nyi Sunthi. Tinggalkan mereka di sini. Kami memerlukan keduanya. Jika kau masih mempunyai adik perempuan lagi, ambillah dan bawa pula kemari. Dua atau tiga atau empat. Kami semua di sini berjumlah sebelas orang.” Kanthi berpegangan Rara Wulan semakin erat. Tubuhnya menggigil dan keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya. Ada penyesalan tumbuh di hatinya. Jika ia tidak pergi dari rumahnya, maka ia tidak akan bertemu dengan anak-anak muda yang sedang mabuk itu. Anak-anak muda yang akan dapat semakin menghancurkan hidup dan masa depannya. Tetapi nampaknya Rara Wulan sama sekali tidak menjadi ketakutan. Ia masih saja berdiri dengan tegar memandang anak-anak muda itu dengan wajah tengadah. Yang kemudian menjawab adalah Glagah Putih, “Ki Sanak. Jangan merendahkan martabat saudara-saudaraku. Itu akan dapat berakibat kurang baik.” “Persetan kau,” geram seorang anak muda yang sejak semula duduk berdiam diri. Seorang anak muda yang bertubuh tinggi besar. Wajahnya nampak keras seperti batu padas. Namun dari mulutnya juga menghambur bau tuak, “Pergi kau anak iblis. Bawa orang tua itu. Apakah ia ayahmu?” “Ya,” jawab Glagah Putih, “kami memang sekeluarga.” “Nah, sebelum kami kehilangan kesabaran, maka pergilah. Tinggal kedua perempuan itu di sini. Nanti lewat tengah malam, ambil keduanya. Aku akan membiarkan mereka pergi.” Kanthi menjadi semakin ketakutan. Tetapi Rara Wulan menjadi sangat marah. Apalagi ketika anak muda yang bertubuh raksasa itu mendekatinya sambil berkata, “Bawa oncor itu kemari.” Seorang anak muda telah mengambil oncor dan membawanya mendekati Rara Wulan dan Kanthi yang berpegangan erat-erat. “Aku ingin melihat wajah mereka dengan jelas,“ berkata anak muda yang bertubuh raksasa itu. Namun Kanthi berusaha menyembunyikan wajahnya di belakang kepala Rara Wulan. Ia merasa bahwa di antara anak-anak muda itu tentu sudah ada yang mengenalnya, dan bahkan mungkin mengetahui apa yang telah terjadi atasnya. Jika demikian, maka persoalannya mungkin akan menjadi semakin rumit baginya. Anak-anak muda itu tentu menganggapnya sebagai perempuan yang tidak berharga dan dapat diperlakukan apa saja. Namun anak muda yang membawa oncor itu terhenti ketika Glagah Putih melangkah dan berdiri selangkah di hadapannya. “Jangan ganggu adik-adikku,“ berkata Glagah Putih. “Gila kau,“ anak muda yang bertubuh raksasa itu mengumpat, “apakah kau ingin mengalami nasib paling buruk?” Tetapi Glagah Putih tidak bergeser. Katanya, “Setiap orang berhak membela diri dari serangan orang lain. Apakah serangan itu dalam ujud kewadagan kami atau serangan yang menyakiti hati kami.” “He, kau mau apa kelinci kecil? Kau tentu dapat menghitung jumlah kami. Sebelas orang, kami dapat membunuhmu di sini sekarang juga bersama ayahmu. Baru kemudian besok pagi kami bunuh kedua perempuan itu. Atau jika tidak, kami simpan perempuan-perempuan itu barang tiga atau lima hari. Baru kemudian kami lemparkan ke dalam jurang.” “Penghinaan itu sudah cukup,“ berkata Glagah Putih, “pergilah. Beri kami jalan.” Anak muda yang bertubuh raksalsa itu tidak menghiraukan kata-kata Glagah Putih. Iapun kemudian menyambar oncor di tangan kawannya dan melangkah mendekati Rara Wulan dan Kanthi yang ketakutan. Tetapi sekali lagi Glagah Putih menghalangi langkahnya. Dengan marah anak muda bertubuh raksasa itu mendorong Glagah Putih ke samping. Namun anak muda itu terkejut. Ia sendiri justru terdorong selangkah dan hampir saja jatuh terguling. Sementara itu Glagah Putih masih berdiri tegak di tempatnya. Anak muda bertubuh raksasa itu kemudian berdiri termangu-mangu sambil memandang Glagah Putih, yang tegak dengan kedua kakinya yang bagaikan menghunjam sampai ke pusat bumi. Anak muda bertubuh raksasa itu agaknya tidak mau melihat kenyataan yang baru saja terjadi. Ia menganggapnya sebagai satu kebetulan, atau bahkan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Beberapa orang kawannya pun sempat mengerutkan dahi mereka. Tetapi di bawah pengaruh tuak yang mengeruhkan otak mereka, maka mereka pun tidak mau tahu kenyataan itu. Bahkan mereka yang masih belum dicengkam oleh pengaruh tuak pun menganggap bahwa yang terjadi itu adalah satu kebetulan, bahkan satu kecelakaan kecil. Karena itu, maka anak muda yang bertubuh raksasa itu kemudian menggeram sambil berkata, “Iblis kecil. Sekali lagi aku peringatkan, jangan membantah. Aku tidak mau mendengar seseorang menentang kehendakku. Karena itu, minggirlah. Ajak setan tua itu pergi. Nanti setelah lewat tengah malam, atau besok pagi-pagi, datanglah kemari. Kedua perempuan itu sudah menunggumu di sini.” Glagah Putih yang sudah kehabisan kesabaran itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja tangannya telah melayang menampar mulut anak muda itu. Tamparan yang cukup keras, sehingga bibir anak muda itu terasa menjadi pedih. Darah yang merah telah mengalir dari bibirnya yang pecah. Anak muda itu menyeringai. Bukan saja menahan sakit, tetapi juga karena kemarahan yang membakar ubun-ubunnya. Karena itu, maka tanpa berbicara lagi tiba-tiba saja anak itu menyerang Glagah Putih. Dengan derasnya tangannya terayun mengarah ke kening Glagah Putih. Glagah Putih sama sekali tidak menghindar. Tetapi ia menangkis serangan itu dengan tangannya pula. Ketika benturan terjadi, maka tulang anak muda bertubuh raksasa itu terasa seakan-akan menjadi retak. Kemudian, belum lagi ia sempat mengatasi perasaan sakit, maka tangan Glagah Putih telah memukul perutnya. Meskipun Glagah Putih tidak menghentakkan seluruh tenaganya, namun pukulan itu membuat perutnya menjadi sangat sakit dan mual. Anak muda bertubuh raksasa itu terbungkuk sejenak. Namun kemudian lutut Glagah Putih menghantam dahinya, sehingga anak muda itu terdorong dengan derasnya beberapa langkah surut, dan terbanting jatuh terlentang di tanah. Peristiwa itu terjadi demikian cepatnya, sehingga tidak seorangpun di antara anak-anak muda itu yang sempat membantu. Baru kemudian anak-anak muda itu menyadari, apa yang telah terjadi di hadapan hidung mereka. Dengan susah payah anak muda bertubiuh raksasa itu berusaha bangkit. Ketika seorang kawannya berusaha membantunya, maka tangannya segera dikibaskannya sambil menggeram, “Lepaskan. Aku tidak apa-apa. Aku dapat bangkit sendiri.” Kawannya memang segera melepaskannya. Tetapi anak muda itu justru hampir terjatuh lagi. Namun kemudian ia mampu untuk berdiri di atas kedua kakinya meskipun masih goyah. Perasaan sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Bibirnya yang pecah, tangannya yang terasa retak, perutnya yang mual dan nafasnya yang menjadi sesak. Tetapi juga dahinya yang membentur lutut lawannya itu. Dengan wajah yang merah padam anak muda itu melangkah maju. Kemudian dengan lantang ia berkata, “Tangkap mereka. Kita akan menunjukkan kepada kedua laki-laki itu, apa yang akan kita lakukan terhadap perempuan-perempuan mereka.” Perintah itu memang tidak perlu diulangi. Anak-anak muda itu benar-benar merasa terhina oleh perlakuan Glagah Putih terhadap kawannya yang bertubuh raksasa itu. Karena itu, beberapa orang anak muda segera berloncatan maju menghadapi Glagah Putih. Seorang di antara anak-anak muda itu telah memungut oncor yang terlempar, namun yang masih tetap menyala. Ia berniat mempergunakan oncor itu sebagai senjata. Karena itu, demikian anak muda bertubuh raksasa itu memerintahkan kawan-kawannya untuk menyerang, anak muda yang membawa oncor telah menjulurkan apinya ke arah tubuh Glagah Putih. Tetapi ia terkejut sekali ketika tanpa diketahui apa yang telah terjadi, oncor itu telah berpindah di tangan Glagah Putih. Bahkan Glagah Putih-lah yang kemudian menjulurkan oncor itu ke arah beberapa orang anak muda yang siap menyerangnya. Tetapi tidak semua anak muda itu menyerang Glagah Putih. Dua orang di antaranya berusaha untuk menangkap Ki Jayaraga yang berdiri saja mematung. Ketika keduanya mendekati Ki Jayaraga, maka Ki Jayaraga pun berkata, “Anak-anak muda. Bukankah aku tidak melibatkan diri sama sekali? Kenapa kalian juga akan menyerang aku?” “Aku ingin menangkapmu kakek tua. Kemudian mengikatmu, agar kau sempat menyaksikan apa yang akan terjadi kemudian.” Ki Jayaraga tidak menjawab. Namun demikian kedua anak muda itu mendekat dan berusaha menangkapnya, maka keduanya telah terlempar dan terbanting jatuh. Karena keduanya sama sekali tidak menduga bahwa hal itu akan terjadi, maka keduanya telah berteriak karena terkejut dan kesakitan. Tetapi dengan cepat keduanya pun bangkit berdiri, meskipun punggung mereka masih terasa nyeri. Dalam pada itu, Glagah Putih masih berkelahi melawan beberapa orang anak muda yang kemudian mengepungnya. Tetapi tidak seorangpun yang segera berani mendekatinya, karena Glagah Putih memegang oncor yang masih menyala. Tetapi karena itu, maka beberapa orang anak muda justru mempunyai perhitungan lain. Termasuk anak muda yang bertubuh raksasa itu. Anak muda yang bertubuh raksasa itu justru tidak lagi berusaha untuk menyerang Glagah Putih bersama beberapa orang kawannya. Selain tulang-tulangnya dan bahkan bibirnya dan dahinya masih terasa sakit, maka iapurr memperhitungkan, jika ia menguasai kedua orang perempuan itu, maka mereka akan dengan mudah dapat menghentikan perlawanan kedua orang laki-laki yang menyertai kedua orang perempuan itu, dan yang mengaku keluarganya. Kanthi yang ketakutan menjadi semakin ketakutan. Namun Rara Wulan itu pun berkata, “Kanthi, jangan berpegangan aku. Minggirlah, biar aku mencegah mereka menyentuhmu.” Kanthi sudah mengetahui bahwa Rara Wulan memiliki kemampuan untuk berkelahi. Tetapi saat itu lawannya tidak hanya seorang. “Minggirlah Kanthi. Jangan berpegangan lagi. Tenanglah,“ berkata Rara Wulan. Tetapi Kanthi tidak segera melepaskannya. Karena itu, Rara Wulan itu berkata lagi, “Jika kau tidak melepaskan aku, maka aku tidak akan sempat melawan mereka.” Meskipun dengan ketakutan, akhirnya Kanthi melepaskan Rara Wulan. Tiga orang anak muda telah mendekatinya, termasuk anak muda yang bertubuh raksasa itu. Namun ketiganya terkejut ketika Rara Wulan menyingsingkan kain panjangnya. Ketika ketiganya sedang termangu-mangu, maka Rara Wulanpun telah bersiap untuk melawan mereka. Tetapi seorang di antara anak-anak muda itu justru bertanya, “He, apa yang sedang kau lakukan?” “Nah, sekarang apa yang kau maui?” bertanya Rara Wulan. Ketika anak muda itu menjadi terheran-heran. Mereka tidak terbiasa melihat pakaian yang dikenakan di bawah kain panjang Rara Wulan. Sementara itu Rara Wulan berkata, “Ayo, apa yang kalian inginkan dari aku?” Laki-laki yang bertubuh raksasa itu-lah yang kemudian menjawab, “Aku inginkan kau. Menyerahlah.” Rara Wulan telah bersiap sepenuhnya ketika anak muda yang bertubuh raksasa itu mendekatinya. “Anak muda yang mengaku kakakmu itu akan mati. Orang tua itu pun akan mati pula. Tetapi jika kalian berdua menuruti keinginan kami, maka keduanya akan selamat.” Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi yang terdengar adalah anak muda yang bertubuh raksasa itu berteriak kesakitan, “Iblis betina. Kau akan menyesal dengan tingkah lakumu.” Rara Wulan tidak menjawab. Dipandanginya anak muda yang mengusap bibirnya. Bibirnya yang pecah itu masih terasa pedih. Namun ternyata Rara Wulan tetap menamparnya sekali lagi, sehingga darah yang mulai berhenti mengalir itu telah mengembun lagi. Kepada kedua kawannya, maka anak muda yang bertubuh raksasa itu memberi isyarat untuk menangkap Rara Wulan. Karena itu, bertiga mereka maju bersama-sama. Tetapi Rara Wulan tidak membiarkan dirinya ditangkap. Dengan cepat iapun meloncat menyerang. Mula-mula kakinya menyambar seorang anak muda yang kekurus-kurusan, yang menjulurkan tangannya untuk menangkap Rara Wulan. Demikian kaki itu menyambar dada, maka anak muda itu pun telah terlempar dan jatuh terlentang. Demikian ia berusaha untuk bangkit, maka kawannya yang seorang lagi telah mengaduh kesakitan. Tangan Rara Wulan melayang menampar keningnya, sehingga matanya menjadi berkunang-kunang. Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, maka tangan Rara Wulan yang lain telah menghantam lambungnya. Sementara itu, anak muda yang bertubuh raksasa itu-lah yang kemudian menyerangnya. Ia tidak lagi menahan dirinya. Kakinya terjulur ke arah perut Rara Wulan. Tetapi Rara Wulan cukup tangkas. Ditebaskannya kaki lawannya ke samping. Demikian anak muda bertubuh raksasa itu terputar oleh kakinya sendiri yang terdorong menyamping, maka Rara Wulan pun melenting dengan satu putaran. Kakinya melayang mendatar menghantam dadanya. Anak muda yang bertubuh raksasa itu berusaha untuk mempertahankan keseimbangannya agar ia tidak jatuh terlentang. Sementara itu, sebelas orang anak muda itu pun telah bergerak seluruhnya. Yang terjatuh telah berusaha bangkit. Yang kesakitan berusaha menyembunyikan perasaan sakitnya. “Kepung mereka!“ teriak anak muda yang bertubuh raksasa, yang agaknya mempunyai pengaruh terbesar di antara kawan-kawannya. Sebelas anak muda itu pun segera membuat lingkaran untuk mengepung mereka. Beberapa orang terpaksa berdiri di atas tanggul di seberang parit di pinggir jalan itu. Anak muda yang bertubuh raksasa itu pun kemudian menggeram, “Kami akan bersungguh-sungguh. Tidak seorangpun dari kalian yang akan dapat lolos. Kami akan memperlakukan kalian lebih buruk dari yang kami inginkan semula. Tetapi itu adalah akibat dari kesombongan kalian sendiri.“ Glagah Putih masih berdiri membawa oncor di tangannya. Rara Wulan bersiap di sisi yang lain, membelakangi Kanthi yang gemetar. Sedangkan Ki Jayaraga termangu-mangu memandangi anak-anak muda yang sedang marah itu. Ketika anak-anak itu mulai bergeser mendekat sehingga kepungan mereka menjadi menyempit, Ki Jayaraga masih sempat berkata, “Anak-Anak Muda. Sebaiknya kalian berpikir sekali lagi sebelum mengambil langkah berikutnya. Bertanyalah kepada diri kalian sendiri, apakah sebenarnya yang sedang kalian lakukan ini? Apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai tatanan hidup di padukuhan kalian? Atau hal ini kalian lakukan tanpa menghiraukan paugeran yang berlaku? Atau dengan tindakan seperti ini kalian merasa menjadi laki-laki jantan yang berani menentang nilai-nilai yang berlaku di dalam pergaulan sesama?” Pertanyaan itu memang sempat singgah di benak anak-anak muda itu. Ada di antara mereka yang memang bertanya kepada diri sendiri, apakah sebenarnya yang sedang mereka lakukan itu. Bahkan jika mendapat kesempatan, mereka masing-masing akan dapat menilai, apakah yang mereka lakukan itu baik atau buruk. Tetapi dalam kelompok yang terhitung besar itu, mereka seakan-akan telah kehilangan pribadi mereka masing-masing. Mereka dikendalikan oleh sikap kebersamaan yang gelap. Yang kemudian menjawab adalah anak muda yang bertubuh raksasa, “Aku tidak peduli apakah yang kau katakan. Aku juga tidak peduli anggapan orang lain. Tetapi kami tidak mau dihinakan dengan cara apapun juga.” “Apakah kami telah menghinakan kalian?” bertanya Ki Jayaraga, “Bukankah kami tidak berbuat apa-apa?” “Iblis tua,” geram anak muda bertubuh raksasa itu, “kalian telah menghina kami karena kalian tidak mau tunduk kepada kami. Kalian berani menentang keinginan kami. Selanjutnya kalian telah mencoba untuk melawan kami dengan kekerasan.” “Tetapi apakah jawab kalian? Siapakah yang memaksa kami untuk berbuat demikian?” bertanya Ki Jayaraga. “Aku tidak peduli. Tetapi kalian harus mendapat hukuman yang paling berat yang pernah kami berikan kepada orang-orang yang bersalah terhadap kami.” “Apakah kalian berhak memberikan hukuman?” bertanya Glagah Putih. “Kenapa tidak? Jika kami kuasa melakukannya, maka adalah hak kami untuk melakukannya,” jawab anak muda yang bertubuh raksasa itu. “Itukah landasan jalan pikiranmu? Siapa yang kuat, ia dapat memperlakukan apa saja terhadap yang lemah?” bertanya Glagah Putih pula. “Ya,” jawab anak muda itu. “Bagus,” desis Glagah Putih, “aku akan melakukan menurut jalan pikiranmu.” “Apa yang akan kau lakukan?” bertanya anak muda bertubuh raksasa itu. “Menghukum kalian, karena di antara kelompokku dan kelompokmu, kelompokku-lah yang terkuat,” jawab Glagah Putih. Wajah anak muda itu menjadi merah. Karena itu, maka iapun segera meneriakkan perintah, “Tangkap semuanya! Aku tidak berkeberatan kalian terpaksa membuat mereka tidak berdaya sama sekali. Bukankah kita berhak menghukum mereka?” Sebelas orang itu bergerak bersama-sama. Namun demikian mereka melangkah, maka mereka terkejut. Glagah Putih justru telah memadamkan oncor itu dengan menyurukkannya ke tanah. Malam pun menjadi gelap. Sesaat mereka tidak melihat sesuatu. Kanthi menjerit. Namun Rara Wulan segera mendekapnya sambil berdesis, “Aku di sini. Tidak apa-apa.” Dalam waktu yang singkat, Glagah Putih, Ki Jayaraga dan kemudian Rara Wulan segera dapat menyesuaikan diri. Penglihatan mereka yang terlatih tidak banyak mengalami kesulitan meskipun malam menjadi gelap. Kepada Kanthi, Rara Wulan berkata, “Kau berdiri saja di situ Kanthi. Jangan bergeser kemana-mana. Kami bertiga melindungimu.” “Jangan takut. Mereka tidak berbahaya bagi kita,” Glagah Putih juga berdesis. Kanthi mengangguk. Tetapi tubuhnya masih gemetar. Sejenak kemudian, maka Glagah Putih mulai berloncatan. Demikian pula Rara Wulan, dan bahkan juga Ki Jayaraga. Perkelahian pun segera terjadi. Anak-anak muda itu berkelahi sambil berteriak-teriak. Tetapi gelap malam memang terasa mengganggu bagi mereka, karena ketajaman penglihatan mereka tidak dapat menyamai ketajaman penglihatan Glagah Putih, Rara Wulan dan apalagi Ki Jayaraga. Tetapi perkelahian itu tidak berlangsung terlalu lama. Setiap kali terdengar seorang berteriak kesakitan. Kemudian yang lain memekik tinggi. Tetapi kemudian mengumpat-umpat kasar. Ternyata keributan itu telah didengar oleh orang-orang padukuhan itu. Orang yang mendengar teriakan-teriakan dan pekik tinggi mula-mula berusaha untuk tidak menghiraukan. Mungkin anak-anak muda yang sering berkumpul di sudut padukuhan itu sedang bergurau. Tetapi kemudian karena teriakan-teriakan itu semakin keras, mereka mengira bahwa anak-anak itu telah mencegat orang dan memperlakukannya tidak sewajarnya, sebagaimana sering mereka lakukan tanpa dapat dihalangi. Namun kemudian orang itu tidak tahan lagi. Ia bangkit, dan dengan hati-hati pergi keluar meskipun istrinya melarangnya. “Kau tidak akan dapat menghalangi kemauan anak-anak itu,“ berkata istrinya. Tetapi laki-laki itu tetap saja keluar sambil berkata, “Aku akan mengajak beberapa orang untuk melihat apa yang terjadi.” Sebenarnyalah bahwa beberapa orang yang tidak dapat menahan hati telah pergi ke sudut desa. Peristiwa yang sering terjadi di padukuhan mereka telah membuat nama padukuhan mereka semakin lama menjadi semakin buruk. Dalam keadaan yang semakin memuncak, orang-orang tua mereka perlu untuk mencampuri persoalan anak-anak muda itu, karena mereka yakin bahwa yang sering mengganggu orang-orang lewat tidak setiap anak muda di padukuhan itu. Dalam pada itu, beberapa orang dan bahkan juga beberapa orang anak muda telah bergerak ke sudut padukuhan. Dua orang di antara mereka telah memanggil Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Mereka terpanggil untuk melindungi nama padukuhan mereka, setelah untuk waktu yang cukup lama dicaci orang. Beberapa saat kemudian, orang-orang itu telah sampai ke sudut padukuhan. Mereka tertegun melihat apa yang terjadi. Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan berdiri tegak, sementara beberapa orang anak muda duduk di tanah di hadapan mereka sambil menunduk. Melihat beberapa orang datang, maka Glagah Putih, Ki Jayaraga dan Rara Wulan telah bersiap pula. Sementara Kanthi telah berpegangan Rara Wulan lagi dengan eratnya. Beberapa saat orang-orang yang datang itu berdiri termangu-mangu. Seorang yang tertua di antara mereka pun melangkah maju dengan ragu-ragu. Kemudian orang itu pun bertanya, “Apa yang telah terjadi di sini?” Glagah Putih yang curiga bahwa orang-orang itu datang untuk membantu anak-anak muda yang telah mereka tundukkan itu menjawab, “Ki Sanak, bertanyalah kepada mereka. Aku harap mereka tidak berbohong.” Orang tertua di antara mereka itu termangu-mangu. Namun kemudian orang-orang itu menyibak ketika Ki Bekel dan Ki Jagabaya datang. “Ki Bekel,” desis seseorang. Dari geremang orang-orang padukuhan itu, Glagah Putih mengetahui bahwa yang datang itu adalah Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Ketika Ki Bekel bertanya, maka Glagah Putih telah mengulangi jawabannya, ”Bertanyalah kepada mereka.” Ki Bekel mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia memang bertanya, “Apa yang telah terjadi?” Anak-anak muda itu tidak segera menjawab. Sehingga Ki Bekel telah mengulanginya lagi, “Apa yang telah terjadi, he?” Anak-anak muda itu masih berdiam diri. Sehingga Ki Bekel mulai menjadi jengkel, “He, apa yang terjadi?” Karena anak-anak muda itu masih berdiam diri sambil duduk menunduk, maka Ki Bekel telah melangkah mendekati anak muda yang bertubuh raksasa itu sambil berkata, “Nah, kau lagi. Apa yang terjadi?” Ki Bekel telah mencengkam tengkuk orang itu dan mengguncangnya, “Apa yang terjadi? He, apakah kau mulai menjadi bisu?“ Anak muda yang bertubuh raksasa itu tidak dapat ingkar lagi. Meskipun demikian ia mencoba untuk mengurangi beban kesalahannya, “Ki Bekel. Kami hanya menanyakan keempat orang yang berjalan malam hari lewat padukuhan ini, dari mana dan ke mana. Tetapi terjadi salah paham.” Ki Bekel tiba-tiba mengangkat wajah anak muda ini sambil bertanya, “Kau mabuk lagi?” Anak itu tidak menjawab. Tetapi ketika Ki Bekel melepaskan tangannya dan mendorong dahi anak itu sehingga wajah anak itu menengadah, ia berkata, “Kau mabuk lagi. Dan kau tentu berbohong. Di antara keempat orang lewat itu terdapat dua orang perempuan. Nah, apa yang terjadi?” Anak muda itu menunduk saja. Sehingga Ki Bekel pun kemudian menghadap ke arah Glagah Putih sambil bertanya, “Apa yang terjadi? Katakan, agar segera jelas bagiku.” Sebelum Glagah Putih menjawab, Ki Jayaraga-lah yang mendahuluinya, karena ia masih saja cemas bahwa jawaban Glagah Putih tidak memuaskan Ki Bekel, sehingga akan benar-benar dapat terjadi salah paham. “Ki Bekel,“ berkata Ki Jayaraga, “sebenarnyalah bahwa kami berempat akan pulang ke Tanah Perdikan Menoreh lewat jalan ini. Tetapi anak-anak muda itu mengganggu kami. Mereka agaknya sebagian sedang mabuk tuak. Mereka merendahkan martabat perempuan, bukan saja yang berjalan bersama kami. Karena itu, kami terpaksa membela diri dan memaksa mereka untuk menghentikan perlawanan mereka.” Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Berempat mereka telah mengalahkan sebelas orang anak muda yang termasuk disegani di padukuhan itu. Tetapi karena Ki Jayaraga menyebut dirinya akan menempuh perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh, maka Ki Bekel itu pun bertanya, “Apakah Ki Sanak termasuk keluarga dari Tanah Perdikan Menoreh?” “Ya Ki Bekel. Anak muda ini adalah Glagah Putih, saudara sepupu Agung Sedayu.” “Saudara sepupu Ki Lurah Agung Sedayu?“ ulang Ki Bekel. “Ki Bekel mengenal Agung Sedayu?” bertanya Ki Jayaraga. Ki Bekel itu memandang Ki Jayaraga dengan bimbang. Namun kemudian iapun menjawab, “Secara pribadi aku memang belum mengenal, Ki Sanak. Tetapi aku tahu bahwa Ki Lurah Agung Sedayu, pemimpin prajurit dari Pasukan Khusus Mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh, adalah seorang yang memiliki kelebihan dari orang lain.” “Ya. Ia memang pemimpin prajurit dari Pasukan Khusus Mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh,” jawab Ki Jayaraga. “Jika demikian, kami harus mohon maaf jika terjadi salah paham di padukuhan ini,“ berkata Ki Bekel. “Sama sekali bukan salah paham Ki Bekel,“ berkata Glagah Putih. “Maksud Angger?” bertanya Ki Bekel. “Kami memang tidak salah paham. Kami tahu pasti bahwa anak-anak muda ini ingin mengganggu kedua orang adik kami. Mereka minta kami meninggalkan adik perempuan kami di sini dan mengambil besok pagi. Jika kami tidak mau memenuhi perintahnya, mereka akan memperlakukan kami dengan cara yang sangat buruk. Ki Jayaraga diancam akan diikat untuk menyesali keberaniannya menentang perintah anak-anak muda ini. Nah, jika karena itu kami mempertahankan kehormatan dan harga diri kami, apakah itu salah paham?” “O,“ wajah Ki Bekel menjadi merah. Tiba-tiba saja ia menarik rambut anak muda yang bertubuh raksasa itu sehingga wajahnya menengadah, “Katakan, apakah itu sekedar salah paham? He?” Ketika Ki Bekel menghentakkan rambat anak muda itu, maka anak muda itu menyeringai kesakitan. Sementara Ki Jagabaya berdiri di sebelahnya sambil menggeram, ”Jawab. Apakah itu salah paham?” “Tidak, Bukan salah paham,” jawab anak muda itu. “Berapa kali aku memperingatkanmu, tetapi kau masih saja melakukannya. Setiap kali aku bertindak lebih keras, maka kau, kawan-kawanmu dan bahkan orang yang tidak tahu menahu selalu menyalahkan aku. Mereka selalu menganggap bahwa aku telah berbuat sewenang-wenang. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Lihat, Angger sepupu Ki Lurah Agung Sedayu itu juga masih muda. Semuda kalian semuanya. Tetapi aku tidak yakin bahwa anak muda itu berbuat sebagaimana yang kau lakukan itu!” bentak Ki Jagabaya. Anak muda yang bertubuh raksasa yang mulutnya berbau tuak itu masih harus menengadahkan wajahnya karena Ki Bekel belum melepaskan rambutnya. Sementara itu, beberapa orang anak muda padukuhan itu pun mengerumuni anak-anak muda yang masih duduk bersila di atas tanah atas perintah Glagah Putih itu. Sementara itu Ki Jagabaya masih juga berkata lantang, “Lihat. Anak-anak muda yang berkerumun itu adalah kawan-kawanmu. Mereka juga sebaya dengan kalian. Tetapi mereka tidak berbuat sebagaimana kalian. Dengar baik-baik. Padukuhan ini pada hari-hari terakhir sudah dijauhi orang. Di padukuhan ini terkenal ada sekelompok anak-anak muda bengal yang sering bermabuk-mabukan dan mengganggu orang. Nah, malam ini kalian telah terbentur pada satu kenyataan lain dari yang pernah terjadi. Untung saja bahwa Angger sepupu Ki Lurah Agung Sedayu ini tidak meremukkan kalian semuanya.” Tiba-tiba saja Glagah Putih menyahut, “Aku memang sudah berpikir untuk melakukannya Ki Bekel. Aku akan membuat mereka menjadi cacat agar mereka tidak lagi dapat mengganggu orang.” Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Bagaimanapun juga ancaman itu membuatnya berdebar-debar. Tetapi Glagah Putih berkata selanjutnya, “Tetapi tidak kali ini. Jika sekali lagi aku melihat peristiwa seperti ini, maka aku tidak akan ragu-ragu lagi. Jika Ki Bekel dan Ki Jagabaya tidak bertindak lebih tegas terhadap mereka, biarlah kami yang melakukannya. Tetapi sudah tentu tidak semestinya kami berbuat demikian, karena kami justru orang dari luar kademangan ini.” “Baik Ngger,“ sahut Ki Bekel, “kami akan berbuat lebih baik. Mereka harus menjadi jera.” “Mabuk dan kejahatan jaraknya hanya sejengkal Ki Bekel,“ berkata Glagah Putih, “sementara anak-anak muda yang lain bekerja keras untuk menyiapkan setidak-tidaknya masa depannya sendiri, anak-anak muda ini hanya sekedar bermabuk-mabukan dan mengganggu orang lain. Kenapa hal seperti ini terjadi atas anak-anak muda padukuhan Cerma ini?” “Kami akan mempelajarinya Ngger,” jawab Ki Bekel. “Terserahlah kepada Ki Bekel. Tetapi kenakalan anak-anak muda harus mendapat perhatian terbesar di antara tugas-tugas Ki Bekel yang lain. Tingkah lakunya tidak hanya merusak citra anak-anak muda itu sendiri, sementara yang melakukan itu hanya beberapa orang saja. Tetapi apa yang akan terjadi di masa mendatang, jika angkatan yang akan mewarisi jaman itu seperti mereka?“ “Ya, ya Ngger. Kami mengerti,” jawab Ki Bekel. Namun Ki Jayaraga pun kemudian berkata sareh, “Tetapi bagaimanapun juga mereka adalah anak-anak kita Ki Bekel. Kita tidak dapat mengibaskan tanggung jawab. Tetapi mereka tidak boleh menjadi anak yang manja, yang tidak mau tahu tatanan pergaulan dan tidak mau mempedulikan lingkungannya.” Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Alangkah sulitnya mencari keseimbangan. Tetapi itu harus dapat dipecahkan.” Ki Jayaraga kemudian menjawab, “Beban itu tidak dapat kita singkirkan dari pundak kita. Bahkan kadang-kadang orang tua akan dapat menjadi keranjang sampah kegagalan anak-anak muda menatap masa depannya. Seakan-akan kegagalan itu sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan orang tua. Tetapi memang terjadi bahwa sepasang orang tua tidak sempat memikirkan anak-anaknya karena berbagai macam sebab. Tetapi kegagalan itu dapat juga terjadi karena kesalahan anak-anak muda itu sendiri. Di rumah ia seorang anak muda bersikap baik. Tetapi ketika ia berada di sudut padukuhan berkumpul bersama-sama kawan-kawannya, maka kepribadiannya akan larut, tenggelam dalam sikap kepribadian bersama. Nah, jika yang terjadi seperti ini, maka kita semuanya hanya dapat menyesalinya.” Ki Bekel dan Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Ki Bekel bertanya, “Kami, orang-orang tua di padukuhan ini, akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh Ki Sanak.” “Bukan hanya orang-orang tua. Ajak anak-anak muda berbicara. Anak-anak muda yang berjalan di sepanjang jalan yang lurus, namun juga anak-anak muda yang sering melakukan perbuatan seperti ini. Perbincangan di antara kedua sisi sifat anak muda itu mudah-mudahan akan berarti, di bawah pengawasan orang-orang tua.” “Baik, baik Ki Sanak,” jawab Ki Bekel, “kami akan berusaha. Sementara jika kami perlukan, kami akan dapat berhubungan dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih banyak dari kami. Baik dari Kademangan Kleringan maupun dari Tanah Perdikan Menoreh. Karena kami tahu, bahwa di Tanah Perdikan Menoreh terdapat orang-orang yang bukan saja berilmu tinggi, tetapi juga yang berwawasan luas dan berpengetahuan dalam.“ “Ki Gede tentu akan dengan senang hati menerimanya,” jawab Ki Jayaraga. Demikianlah, sejenak kemudian Ki Jayaraga pun telah minta diri. Demikian pula Glagah Putih dan Rara Wulan, yang sudah membenahi pakaiannya. Sementara Kanthi masih saja gemetar dan berdebar-debar. Beberapa saat kemudian, maka keempat orang itu telah meneruskan perjalanan. Dalam pembicaraan mereka sepanjang jalan, Rara Wulan dan Glagah Putih masih saja dibayangi oleh kemarahan mereka atas sikap anak-anak muda itu. Namun Ki Jayaraga-lah yang kemudian berkata, “Banyak sebab kenapa mereka menjadi anak muda yang cacat. Bukan cacat tubuhnya, tetapi cacat jiwanya. Namun bukan berarti bahwa mereka tidak berguna sama sekali. Sifat dan watak mereka dapat berkembang, dan banyak di antara mereka yang menyadari kesalahan mereka di masa muda sehingga kemudian menjadi orang yang berarti bagi lingkungannya. Setidak-tidaknya bagi dirinya sendiri.” Glagah Putih mengerutkan dahinya. Tetapi ia mencoba untuk mengerti jalan pikiran Ki Jayaraga itu. Seterusnya mereka lebih banyak berdiam diri. Mereka harus memperhatikan jalan yang akan mereka injak. Lebih-lebih mereka berjalan di lereng pegunungan. Mereka memanjat naik sampai ke punggung, kemudian turun kembali di seberang. Kanthi memang mengalami kesulitan di perjalanan. Tetapi ia sama sekali tidak mengeluh. Ia sendiri-lah yang memutuskan untuk pergi mengikuti Rara Wulan. karena itu ia tidak dapat menyalahkan orang lain. Rara Wulan yang membimbing Kanthi cukup mengerti keadaannya. Dengan sabar ia berusaha menunjukkan bidang yang paling baik untuk meletakkan kakinya. Jika Kanthi nampak letih, maka Rara Wulan pun mengajaknya beristirahat. Sementara Ki Jayaraga dan Glagah Putih harus dengan sabar menunggunya. Sementara itu di Tanah Perdikan Menoreh, Sekar Mirah menjadi gelisah. Ketika senja turun, Sekar Mirah sudah beberapa kali berbicara dengan Agung Sedayu. Mereka memperhitungkan bahwa sebelum senja, Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Rara Wulan tentu sudah kembali. “Apakah kita akan menyusulnya?” bertanya Agung Sedayu. “Apakah mungkin mereka akan bermalam?” Sekar Mirah justru bertanya. Agung Sedayu tidak segera menjawab. Sementara itu Sekar Mirah berkata pula, “Seharusnya mereka tidak bermalam. Untunglah bahwa mereka pergi bersama Ki Jayaraga.” “Ya. Sebaiknya mereka memang tidak bermalam. Entahlan, mungkin ada suatu yang memaksa mereka bermalam. Jika tidak demikian, maka Ki Jayaraga tentu tidak akan sependapat,“ berkata Agung Sedayu. Sekar Mirah mengangguk-angguk. Tetapi di wajahnya nampak membayang kegelisahan. “Kita tunggu sampai esok pagi. Jika sampai esok pagi mereka tidak pulang, maka kita akan pergi ke Kleringan,” berkata Sekar Mirah. “Baiklah,” jawab Agung Sedayu, “besok pagi-pagi aku akan pergi ke barak sebentar. Aku akan segera kembali. Dan jika mereka belum pulang, maka kita akan pergi. Sebaiknya kita pergi berkuda saja.” “Tetapi bukankah Kakang tidak terlalu lama berada di barak?” bertanya Sekar Mirah. “Tidak. Aku hanya akan memberikan beberapa pesan saja. Aku akan segera kembali,” jawab Agung Sedayu. Sekar Mirah mengangguk-angguk. Namun ia masih saja merasa gelisah. Karena itu, malam itu Sekar Mirah tidak segera dapat tidur. Setiap kali ia masih saja berbicara tentang Rara Wulan yang belum pulang. “Ki Jayaraga ada di antara mereka,“ berkata Agung Sedayu, “kita dapat mempercayainya. Bukan saja karena kemampuannya yang sangat tinggi, tetapi penalarannya kebanyakan sejalan dengan penalaran kita.” Sekar Mirah memang selalu mengangguk. Ia dapat mengerti. Tetapi perasaannya-lah yang agak sulit dikendalikan oleh penalarannya, meskipun ia berusaha. Namun ketika malam menjadi larut, Sekar Mirah akhirnya tertidur juga. Yang ikut memikirkan kepergian Rara Wulan, Glagah Putih dan Ki Jayaraga adalah Wacana. Yang dipikirkan justru keadaan Kanthi. Jika Rara Wulan tidak segera kembali, apakah telah terjadi sesuatu di Kademangan Kleringan? “Apakah sesuatu terjadi lagi atas Kanthi ?“ pertanyaan itu selalu mengganggu Wacana. Ia tidak mencemaskan Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Rara Wulan, karena mereka berilmu tinggi. Tetapi justru keadaan Kanthi-lah yang dipikirkannya. Meskipun Wacana sama sekali belum mengenal Kanthi, bahkan melihat pun belum pernah, namun Wacana itu selalu membayangkan. Seorang gadis cantik yang menderita dan hampir kehilangan masa depannya. Kadang-kadang Wacana sempat membandingkan dengan dirinya sendiri. Wacana pernah merasakan betapa dahsyatnya goncangan perasaan yang hampir saja membuatnya gila. Wacana dapat mengerti bahwa dalam keadaan seperti itu, seseorang akan dapat terjerumus ke dalam satu keadaan di luar kendali nalar budinya. Ketika fajar membayang di langit, maka Agung Sedayu sudah sibuk mengisi jambangan di pakiwan. Karena Glagah Putih tidak ada di rumah, maka Agung Sedayu-lah yang harus melakukannya. Sementara itu Wacana menyapu halaman depan dan samping. Adapun halaman dan kebun belakang, anak yang tinggal dirumah itu-lah yang membersihkannya. Sedangkan di dapur Sekar Mirahpun sibuk sendiri pula. Demikian matahari terbit, maka Agung Sedayu-pun telah minum minuman hangat dan makan pagi. Baru sejenak kemudian iapun telah berangkat ke barak Pasukan Khusus. Sementara itu Sekar Mirah benar-benar menjadi gelisah. Karena itu ketika Agung Sedayu berangkat, sekali lagi ia bertanya, “Bukankah Kakang tidak terlalu lama?” Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Kau telah dijangkiti penyakit Rara Wulan.” Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Aku memang gelisah Kakang.” “Baiklah. Aku tentu akan cepat kembali. Kita akan menyusul Rara Wulan ke Kademangan Kleringan.” Demikianlah, sejenak kemudian Agung Sedayu pun telah melarikan kudanya menuju ke barak. Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu sendiri juga menjadi gelisah, karena Rara Wulan masih belum kembali. Sepeninggal Agung Sedayu, Wacana telah menyusul Sekar Mirah yang sedang sibuk di dapur. “Kenapa Rara Wulan bermalam?” bertanya Wacana. “Entahlah. Aku juga gelisah memikirkannya,” jawab Sekar Mirah. “Tetapi bukankah tidak terjadi sesuatu dengan mereka? Juga dengan Kanthi?” bertanya Wacana yang nampak menjadi sangat cemas pula. “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu,“ sahut Sekar Mirah. Namun Wacana masih saja gelisah. Dari dapur, Wacana itu telah duduk di serambi gandok. Dipandanginya regol halaman seakan tanpa berkedip. Tetapi akhirnya Wacana menjadi letih. Karena itu, ia justru pergi ke kebun belakang untuk mengisi waktunya dengan melakukan salah satu kesenangannya. Wacana telah mencoba mencangkok beberapa jenis tanaman buah-buahan. Beberapa batang telah berhasil, dan dicobanya ditanam di kebun belakang rumah Agung Sedayu yang cukup longgar. Dengan teliti Wacana memelihara bibit-bibit hasil cangkokannya yang sudah ditanam. Disiraminya, disiangi, dan setiap kali didangirnya dan diberinya pupuk kandang. Dalam pada itu, Sekar Mirah yang sedang ada di dapur terkejut ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Suara seorang perempuan. Dan Sekar Mirah dengan cepat mengenal. Suara itu adalah suara Rara Wulan. Karena itu, maka Sekar Mirah pun segera berlari ke longkangan dan langsung masuk ke rumah bagian belakang. Di pintu ia justru hampir saja bertabrakan dengan Rara Wulan. Sekar Mirah yang gelisah semalam-malaman itu memeluk Rara Wulan sambil bertanya, “Bukankah kau tidak apa-apa?” “Tidak Mbokayu. Aku tidak apa-apa.” “Dimana Glagah Putih dan Ki Jayaraga?” bertanya Sekar Mirah setelah melepaskan Rara Wulan. “Mereka ada di pendapa, Mbokayu. Kita mempunyai seorang tamu.” Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Dengan kerut di kening Sekar Mirah bertanya, “Siapakah tamu kita?” “Marilah.“ Rara Wulan menarik tangan Sekar Mirah ke pendapa sambil berkata, “Mbokayu sudah mengenalnya.” Sekar Mirah tidak menolak, lapun kemudian pergi ke pendapa. Demikian mereka keluar dari pintu pringgitan, maka Sekar Mirah pun terkejut. Ia melihat Kanthi yang nampak sangat letih, duduk di pendapa bersama Ki Jayaraga. “Kanthi,” desis Sekar Mirah. Kanthi yang menunduk itu pun terkejut. Demikian ia mengangkat wajahnya, maka yang dilihatnya adalah Sekar Mirah dan Rara Wulan berdiri di depan pintu pringgitan. Kanthi itu pun cepat bangkit, dan dengan sisa tenaganya yang letih berlari ke arah Sekar Mirah. Namun iapun kemudian segera berjongkok di hadapan Sekar Mirah sambil memegang kakinya, “Ampun. Aku memberanikan diri untuk mohon perlindungan di sini.” Sekar Mirah menjadi berdebar-debar. Diangkatnya Kanthi untuk berdiri sambil berkata lembut, “Bangkitlah.” Kanthi pun bangkit berdiri. Tetapi ia mulai menangis. “Jangan menangis Kanthi. Kau berada di rumah kami sekarang. Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan.” Kanthi tidak menjawab. Tetapi justru karena ia menahan tangisnya, maka iapun menjadi terisak. Sekar Mirah membimbingnya dan membawanya duduk kembali bersama Ki Jayaraga. “Dimana Glagah Putih?” bertanya Sekar Mirah. “Tadi ia di sini,” jawab Rara Wulan. Namun Ki Jayaraga menyahut, “Glagah Putih pergi ke belakang.” Sekar Mirah mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya kepada Rara Wulan, “Apa yang telah terjadi?” Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Sementara Kanthi menundukkan kepalanya sambil mengusap air matanya. “Angger Kanthi ingin mendapatkan suasana baru. Karena itu, ia ingin untuk sementara tinggal bersama Rara Wulan,” jawab Ki Jayaraga. “O,” Sekar Mirah mengangguk-angguk. Sambil mengusap rambut Kanthi yang kusut ia berkata, “Tentu kami tidak berkeberatan. Tinggallah di sini untuk sementara.” “Terima kasih,“ desis Kanthi, “bahwa masih ada tempat bagiku. Semula aku mengira bahwa dunia ini sudah tidak dapat menerima aku sama sekali.” “Tentu tidak, Kanthi. Masih banyak tempat bagimu. Baiklah. Kau dapat menenangkan hatimu di sini. Kau memang memerlukan satu suasana yang baru,“ berkata Sekar Mirah. Kanthi tidak menjawab. Tetapi isaknya justru terdengar semakin keras. Rara Wulan yang kemudian duduk di belakangnya, memegang kedua pundaknya sambil berkata, “Sudahlah. Jangan menangis. Bukankah kau perlu beristirahat? Semalaman kau berjalan. Satu hal yang belum pernah kau lakukan sebelumnya.” Kanthi mengangguk-angguk. “Baiklah. Duduklah sebentar. Aku baru meletakkan periuk di atas perapian untuk menanak nasi.” “Sudahlah. Biar Mbokayu duduk di sini. Aku akan ke dapur,” berkata Rara Wulan. Tetapi sambil tersenyum Sekar Mirah berkata, “Duduklah. Temani Kanthi di sini. Kau tentu juga letih. Nanti, aku ingin kalian berdua bercerita tentang perjalanan kalian.” Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam, sementara Sekar Mirah bangkit berdiri. Tetapi Ki Jayaraga pun bangkit pula sambil berkata, ”Aku akan ke pakiwan dahulu.” Demikianlah, maka yang kemudian duduk di pendapa tinggal Rara Wulan menemani Kanthi. Sementara Sekar Mirah pergi ke dapur. Dijerangnya air untuk membuat minuman. Sementara Glagah Putih ternyata sudah berada di dapur. “He, kau sudah ada di sini?” bertanya Sekar Mirah. “Aku haus sekali Mbokayu,” jawab Glagah Putih. “Tamu kita tentu juga haus,” desis Sekar Mirah. “Ya. Tetapi aku cukup minum air dari kendi itu,“ jawab Glagah Putih. Sekar Mirah tertawa. Bahkan ia bertanya, “Apakah kita juga akan menyuguhi tamu kita itu dengan air kendi?” Glagah Putih tersenyum pula. Tetapi iapun kemudian duduk di sisi Sekar Mirah yang menyalakan api di perapian yang satu lagi untuk menjerang air, di sebelah perapian yang dipergunakannya untuk menanak nasi. “Mbokayu,” desis Glagah Putih, “apakah Kakang Agung Sedayu menunggu kedatangan kami?” “Seisi rumah ini menjadi gelisah. Kakangmu Agung Sedayu, aku, dan bahkan juga Wacana,” jawab Sekar Mirah. “Dimana Wacana sekarang?” “Ia berada di kebun sekarang,” jawab Sekar Mirah. “Sesuatu telah terjadi di Kleringan,” desis Glagah Putih, yang kemudian dengan singkat menceritakan apa yang telah terjadi atas Kanthi, yang kemudian berniat untuk ikut bersama Rara Wulan yang dianggapnya akan dapat melindunginya. Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berdesis, “Jadi Kanthi itu sudah berniat untuk membunuh diri?” bersambung ♦ 15 Juli 2010 Agung Sedayu tidak dapat segera melihat dengan jelas apa yang terjadi dengan pasukan Pati. Namun menurut pendapat Agung Sedayu, induk pasukan Pati di bawah pimpinan langsung Kanjeng Adipati Pati telah berada di sebuah padukuhan yang cukup besar tetapi kosong. Para penghuninya yang sejak semula telah mengungsi, masih belum kembali ke padukuhan mereka. “Apakah Kanjeng Adipati Pati benar-benar terlepas dari tangan prajurit Mataram?“ bertanya seorang prajurit yang menyertai Agung Sedayu. “Agaknya demikian. Ketika kita berangkat dari benteng perkemahan, Kanjeng Adipati tidak dijumpai di antara mereka yang tertawan. Tetapi melihat besarnya pasukan yang berhasil meloloskan diri, maka Kanjeng Adipati tentu ada di antara mereka.” Prajurit itu mengangguk-angguk. Namun ia tidak bertanya lagi. Beberapa puluh patok di hadapan mereka, kelompok demi kelompok pasukan Pati berdatangan. Di padukuhan itu agaknya mereka ingin menyusun kekuatan mereka kembali. Malam yang turun pun menjadi semakin dalam. Agung Sedayu masih tetap berada di tempatnya, untuk melihat apa yang terjadi dengan para prajurit Pati itu. Dari kejauhan Agung Sedayu melihat cahaya api yang menerangi dedaunan yang mencuat melampaui tingginya dinding padukuhan itu. Dengan demikian maka Agung Sedayu dapat menduga bahwa para prajurit Pati itu telah memasang oncor-oncor di beberapa tempat di padukuhan itu. “Perapian,“ tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesis. “Mungkin sekali,“ jawab prajuritnya, “pasukan itu tentu letih dan lapar.” Agung Sedayu menarik nafas panjang. Pasukan kecilnya juga letih dan lapar. Tetapi Agung Sedayu telah memerintahkan beberapa orang dari para prajuritnya untuk mengusahakan pangan bagi pasukan kecil itu. Dalam pada itu, Agung Sedayu telah membawa dua orang prjurit yang telah dipilihnya dari antara prajurit dari Pasukan Khusus itu, untuk mendekati perkemahan para prajurit Pati. Dengan sangat berhati-hati, mereka merayap mendekat. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa para prajurit Pati itu tentu juga meletakkan beberapa orang pengawas di luar padukuhan itu. Namun Agung Sedayu dan kedua orang prajuritnya itu berhasil mendekati dinding padukuhan. Bahkan kemudian bertiga telah meloncat masuk dengan sangat berhati-hati. Ternyata seperti yang mereka duga, para prajurit Pati itu memang telah menyalakan beberapa buah oncor di belakang gerbang padukuhan dan di beberapa regol halaman rumah. Namun yang menarik perhatian Agung Sedayu dan kedua orang prajuritnya adalah, bahwa para prajurit Pati itu telah membuat sebuah dapur yang cukup besar untuk menyediakan makan bagi prajurit-prajurit yang lapar itu. “Ternyata padukuhan ini memang disiapkan untuk menampung pasukan Pati jika mereka bergerak mundur,“ desis Agung Sedayu. “Agaknya pasukan Pati mundur lewat jalur yang mereka lewati ketika mereka berangkat ke Prambanan,“ desis seorang prajuritnya, “ternyata di padukuhan ini telah tersedia bahan pangan bagi mereka.” “Ada dua kemungkinan,“ sahut Agung Sedayu, “padukuhan ini memang merupakan lumbung persediaan bahan makanan bagi pasukan Pati.” “Tetapi padukuhan ini bukan Ngaru-Aru. Bukankah Ngaru-Aru sudah dihancurkan?” “Menurut yang aku dengar, lumbung pangan di Ngaru-Aru memang sudah dihancurkan. Tetapi justru karena itu, maka Pati telah mempersiapkan lumbung yang lain, yang semula hanya merupakan tempat pemberhentian arus bahan pangan itu,“ berkata Agung Sedayu pula. “Nampaknya Pati memang tidak yakin bahwa mereka akan berhasil menembus sampai ke Mataram. Ternyata mereka telah mempersiapkan landasan pertahanan jika mereka terpaksa mundur.” Tetapi Agung Sedayu menggeleng, “Bukan karena ketidak-yakinan itu. Sudah aku katakan, padukuhan ini dapat saja merupakan lumbung bahan pangan darurat setelah Ngaru-Aru dihancurkan, dengan persediaan pangan seadanya. Tetapi seandainya tempat ini merupakan landasan pertahanan kedua pun agaknya memang wajar sekali. Setiap persiapan bagi perang yang besar, tentu disiapkan pula landasan pertahanan kedua. Bahkan ketiga, sebagai landasan untuk memukul mundur lawan yang mungkin mengejarnya. Setidak-tidaknya untuk mengurangi keadaaan yang lebih parah lagi bagi pasukan yang bergerak mundur.” Kedua orang prajurit Agung Sedayu itu mengangguk. Tetapi mereka tidak bertanya lagi. Mereka masih melihat kelompok-kelompok prajurit Pati yang datang dalam keadaan letih. Ada di antara kelompok-kelompok itu yang membawa kawan-kawan mereka yang luka, dan bahkan parah. Agung Sedayu memperhatikan pasukan yang semakin banyak berkumpul itu dengan saksama. Namun dengan demikian Agung Sedayu mengetahui bahwa pasukan Pati memang dalam keadaan parah. Jika Kanjeng Adipati tidak segera memerintahkan pasukannya menarik diri dari benteng perkemahan itu, maka keadaaannya tentu akan menjadi semakin buruk. Bahkan mungkin buruk pula bagi Kanjeng Adipati sendiri. Namun agaknya para prajurit Pati tidak terlalu lama berada di tempat itu. Setelah beristirahat, makan dan minum secukupnya, terdengar isyarat yang memanggil semua pemimpin kesatuan untuk berkumpul. Meskipun Agung Sedayu tidak dapat menyaksikan dan mendengarkan pembicaraan itu, tetapi Agung Sedayu dapat menduga bahwa para pemimpin Pati itu sedang membicarakan langkah-langkah yang akan diambil. Sebenarnyalah, Kanjeng Adpati Pati sendiri telah memimpin pertemuan itu. Selain mendengarkan laporan para pemimpin kesatuan di dalam pasukan Pati yang besar itu, Kanjeng Adipati juga memberikan perintah-perintah kepada mereka. Dari para Senapati, Kanjeng Adipati Pragola mendengar bahwa keadaan pasukannya memang parah. Sebagian dari para prajurit masih belum sampai ke tempat itu. Mungkin mereka kehilangan arah, tersesat atau bahkan tertangkap oleh pasukan Mataram. Tetapi Kanjeng Adipati tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Untuk menjaga segala kemungkinan, maka pasukannya harus segera meninggalkan tempat itu sebelum dini hari. “Kita tidak tahu apakah pasukan Mataram itu memburu kita atau tidak. Dalam keadaan seperti ini, sulit bagi kita untuk bertahan,“ berkata Kanjeng Adipati Pragola. Dengan demikian, maka Kanjeng Adipati Pragola memang harus menarik pasukannya ke sebelah utara Pegunungan Kendeng. Demikianlah, Agung Sedayu menyaksikan pasukan yang masih terhitung besar tetapi dalam keadaan luka itu, bergerak lagi menuju ke utara. Agung Sedayu menyaksikan iring-iringan pasukan yang letih itu bergerak perlahan-lahan di dini hari. Sementara itu, dengan cepat pula para petugas yang menyiapkan makan dan minum mereka mengemasi alat-alat yang ada. Namun alat-alat itu segera disimpan di dalam sebuah rumah yang terhitung besar. Mereka tidak lagi menghiraukan sisa bahan pangan yang masih ada. Tidak seorang pun tinggal di padukuhan itu. Jika agaknya sebelumnya ada sekelompok petugas yang ada di padukuhan itu, maka mereka telah hanyut pula dalam iring-iringan pasukan yang menarik diri itu. Sepeninggal prajurit Pati itu, Agung Sedayu sempat melihat-lihat keadaan di padukuhan itu. Masih ada sisa bahan makanan di padukuhan itu. Masih tertinggal alat-alat dapur dan perlengkapan lainnya. Bahkan masih ada setumpuk senjata di sebuah rumah yang juga terhitung besar. Agaknya setelah Ngaru-Aru, maka padukuhan ini menjadi landasan dan penyimpanan persediaan bahan pangan. Namun Agung Sedayu harus segera menyembunyikan diri, ketika kemudian datang lagi sekelompok kecil prajurit Pati. Orang-orang yang dengan lemah memasuki padukuhan itu. Namun mereka menjadi kecewa bahwa mereka sudah tidak menemukan kawan-kawan mereka lagi. Dari bekas-bekas yang mereka lihat serta beberapa oncor yang masih menyala, mereka mengetahui bahwa kawan-kawan mereka telah meninggalkan tempat itu beberapa saat sebelumnya. Namun mereka menjadi sedikit terhibur ketika mereka masih menemukan beberapa bakul nasi hangat. Meskipun mereka tidak menemukan lauk-pauk lagi, tetapi mereka masih mendapatkan sekuah sayur yang masih hangat. Orang-orang yang letih dan lapar itu pun telah makan dengan lahapnya. Mereka tidak lagi memikirkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Mereka tidak lagi memperhitungkan kemungkinan hadirnya prajurit Mataram di tempat itu. “Kekuatan mereka kecil,“ desis prajurit pengawal Agung Sedayu, “pasukan kita dapat menghancurkan mereka.” Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “Biarlah mereka tetap hidup. Jika kita menghancurkan mereka, akibat yang timbul tidak akan banyak pengaruhnya. Sementara itu kita telah menebas harapan yang telah tumbuh di hati mereka.” Kedua pengawal Agung Sedayu itu pun terdiam. Mereka sebenarnya sudah menduga, bahwa mereka akan mendengar jawaban seperti itu dari mulut Agung Sedayu. Kelompok kecil itu tidak terlalu lama berada di padukuhan itu. Sejenak kemudian, mereka pun telah berangkat pula, meninggalkan nasi yang masih cukup banyak. Demikianlah, Agung Sedayu pun telah membawa kedua orang prajurit pengawalnya kembali ke pasukan kecilnya. Ternyata tiga orang di antara mereka telah berhasil mendapatkan seonggok beras dari padukuhan yang sepi di sebelah. Nampaknya jalur yang cukup luas telah dikosongkan ketika pasukan Pati mulai bergerak ke tempat yang lebih aman. Menjelang fajar, Agung Sedayu telah membawa pasukannya untuk bergerak pula. Mereka harus yakin bahwa pasukan Pati yang mengundurkan diri itu benar-benar menarik pasukannya sampai ke sebelah utara Pegunungan Kendeng. Jarak antara pasukan kecil yang dipimpin Agung Sedayu itu dengan pasukan Pati memang agak jauh. Tetapi mereka tidak pernah kehilangan jejak. Agung Sedayu tahu pasti sampai dimana pasukan Pati itu bergerak. Agung Sedayu sendiri dengan kedua orang prajurit terpilihnya selalu berusaha mengamati langsung pasukan Pati itu. Ketika di malam hari pasukan Pati itu berhenti sejenak untuk beristirahat di tempat-tempat yang memang berada di jalur gerak pasukannya, Agung Sedayu selalu berusaha untuk mendekat. Demikianlah, Agung Sedayu baru akan menghentikan pengamatannya jika pasukan Pati itu telah benar-benar berada di sebelah utara Pegunungan Kendeng. Kepada pasukan kecilnya Agung Sedayu memerintahkan untuk beristirahat satu hari, untuk meyakinkan bahwa pasukan Pati itu benar-benar bergerak terus ke utara. Sementara itu, Agung Sedayu mengijinkan prajurit-prajuritnya untuk berburu ke dalam hutan terdekat, sementara Agung Sedayu sendiri mengamati gerak pasukan Pati sehingga benar-benar hilang di utara Pegunungan, memasuki lembah yang luas, menyusuri jalan yang berkelok seperti ular yang merambat di antara hijaunya pepohonan. Baru kemudian Agung Sedayu berniat untuk membawa pasukan kecilnya itu kembali ke Prambanan. Jarak yang cukup panjang, sehingga perjalanan sekelompok prajurit dari Pasukan Khusus itu merupakan perjalanan yang berat, karena mereka tidak membawa bekal sama sekali. Agung Sedayu dan kedua orang prajurit pengawalnya yang baru kembali dari pengamatannya atas prajurit Pati yang bergerak ke utara terkejut, ketika ia melihat dua orang yang tidak dikenalnya berada didalam pasukan kecilnya. “Inilah Ki Lurah Agung Sedayu. Pemimpin kelompok ini,“ berkata seorang prajurit yang diserahi pimpinan jika Agung Sedayu dan kedua orang pengawalnya memisahkan diri. Kedua orang itu bangkit dan dengan hormatnya mengangguk kepada Agung Sedayu. “Maaf, Ngger,“ berkata orang itu. Seorang tua yang berjanggut pendek keputih-putihan, “Aku datang tanpa mohon ijin lebih dahulu.” “Siapakah Ki Sanak berdua?” bertanya Agung Sedayu. “Kami penghuni padepokan Tlaga Kuning, Ngger,“ jawab orang berjanggut pendek itu, “orang memanggilku Kiai Tambak Gede.” “Apakah maksud Kiai datang ke tempat ini?” bertanya Agung Sedayu. “Ki Lurah,“ berkata orang itu, “kami ingin sekali mempersilahkan sekelompok pasukan kecil ini untuk singgah di padepokan kami. Kami ingin sekali mempersilahkan para prajurit yang gagah berani ini untuk sekedar beristirahat barang satu malam. Kami ingin memberikan satu penghormatan atas keberhasilan para prajurit ini melaksanakan tugas.” Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kiai Tambak Gede. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Kiai terhadap pasukan kami. Tetapi Kiai jangan menilai bahwa kami sudah berhasil melaksanakan tugas kami.” “Kenapa belum berhasil? Bukankah kalian bertugas mengikuti pasukan Pati yang mengundurkan diri sampai ke sebelah utara Pegunungan Kendeng? Sekarang, pasukan Pati itu sudah berada di sebelah utara Pegunungan Kendeng. Nah, bukankah dengan demikian berarti bahwa tugas kalian sudah berhasil?” “Kami tidak bertugas mengikuti pasukan Pati itu Kiai,“ jawab Agung Sedayu. Orang itu mengerutkan dahinya. Katanya, “Jadi apakah tugas kalian?” “Kami bertugas untuk menemukan seseorang di jalur perjalanan pasukan Pati. Tetapi kami gagal, kelompok-kelompok prajurit Pati yang terlambat yang telah kami sergap dan kami hancurkan, tidak terdapat orang yang harus kami temukan. Mungkin orang itu justru sudah berada di induk pasukan bersama Kanjeng Adipati Pragola.” “Jika demikian, bukankah itu bukan kesalahan Ki Lurah?” bertanya Kiai Tambak Gede. “Memang bukan salahku, Kiai. Tetapi tugasku telah gagal. Karena itu, tidak pantas aku menerima undangan Kiai Tambak Gede.” “Jangan berpikir terlalu jauh, Ngger. Sekarang, sisihkan segala macam persoalan. Aku mengundang Angger dan prajurit-prajurit Angger untuk singgah di padepokanku.” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian,ia-pun menjawab, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tetapi aku mohon maaf Kiai, bahwa aku tidak dapat memenuhi undangan Kiai. Bahkan kami mohon diri untuk kembali, menyerahkan diri untuk mendapatkan hukuman atas kegagalan kami.“ Para prajurit dari Pasukan Khusus itu termangu mangu. Mereka tidak tahu apa yang dikatakan oleh Agung Sedayu. Tetapi mereka tanggap, bahwa Agung Sedayu agaknya berkeberatan untuk singgah di padepokan Kiai Tambak Gede. Namun Kiai Tambak Gede itu pun berkata, “Ki Lurah, jangan terlalu tertekan karena tugas-tugas Ki Lurah. Apapun yang terjadi, biarlah terjadi. Namun aku mohon, Ki Lurah sempat melupakan beban itu barang satu malam saja.” Tetapi Agung Sedayu menjawab, “Sekali lagi aku mohon maaf. Kiai. Tetapi aku ingin datang pada satu kesempatan yang lain.” Orang berjanggut putih itu mengerutkan dahinya. Dari sorot matanya terpancar kekecewaan hatinya yang mendalam. Namun Agung Sedayu tidak dapat mengubah keputusannya untuk segera meninggalkan tempat itu. Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kalanya dengan nada rendah, “Apaboleh buat. Jika Angger tidak bersedia singgah, maka apa yang telah kami lakukan tidak berarti sama sekali.” “Apa yang telah Kiai lakukan?“ bertanya Agung Sedayu. “Anak-anak, maksudku para cantrik, telah memotong tidak hanya seekor kambing. Tetapi beberapa ekor. Aku tidak tahu, untuk apa daging sebanyak itu.” Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Bukankah para cantrik di padepokan Kiai akan dapat menyelesaikannya?” “Tetapi yang membuat kami kecewa adalah bahwa pasukan Mataram ini tidak sempat singgah di padepokan kami. Adalah satu kebanggaan bagi kami, bahwa padepokan kami pernah menjadi tempat pasukan Mataram singgah.” “Sekali lagi aku minta maaf Kiai, dan sekali lagi aku mengucapkan terima kasih,“ sahut Agung Sedayu. Beberapa orang prajurit yang mendengar pembicaraan itu sebenarnya memang menjadi kecewa. Jika mereka sempat singgah, maka mereka akan mendapat kesempatan beristirahat dengan tenang, sambil menikmati hidangan yang tentu lebih baik dari daging rusa yang mereka panggang di atas perapian, di padukuhan yang kosong. Tetapi tidak seorang pun yang berani mengatakannya. Demikianlah, Kiai Tambak Gede dan seorang pengiringnya itu pun kemudian telah minta diri. Ia masih saja menyatakan kekecewaannya bahwa Ki Lurah Agung Sedayu tidak bersedia singgah barang sebentar di padepokan Kiai Tambak Gede. Demikian Kiai Tambak Gede meninggalkan mereka, Agung Sedayu segera memerintahkan pasukan kecilnya bersiap untuk kembali ke Prambanan. “Kita berangkat sekarang juga,“ berkata Agung Sedayu. Namun kemudian ia masih juga sempat bertanya, “Bagaimana mungkin kedua orang itu dapat menemukan kalian?” “Kami tidak tahu, Ki Lurah. Yang kami ketahui tiba-tiba saja keduanya telah menemui kami di sini, untuk menyatakan keinginannya agar kami bersedia singgah.” Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku tidak senang bahwa ada orang yang tiba-tiba saja ada di antara kita.” Para prajuritnya dapat mengerti sikap Ki Lurah Agung Sedayu, sementara Agung Sedayu pun berkata, “Orang yang menyebut dirinya Kiai Tambak Gede itu tahu benar apa yang sedang kita lakukan. Tentu bukan secara kebetulan atau sekedar dugaan. Tetapi orang itu tentu sudah mengamati gerak-gerak kita sebelumnya.” Prajurit yang diserahi memimpin pasukan kecil itu jika Agung Sedayu sedang mendekati gerak pasukan Pati dengan nada berat berkata, “Ya. Seharusnya kami menghindari pengamatan orang lain. Tetapi kami ternyata tidak menghindarkan diri dari pengamatan Kiai Tambak Gede.” “Sudahlah,“ berkata Agung Sedayu, “kita berangkat sekarang. Secepatnya.” Dengan cepat para prajurit dari Pasukan Khusus itu pun segera bersiap. Mereka memang tidak membawa perlengkapan lain kecuali senjata mereka masing-masing. Beberapa saat kemudian, pasukan kecil itu mulai bergerak kembali ke Prambanan. Namun kecurigaan Agung Sedayu membuat pasukan itu menjadi sangat berhati-hati. Sementara itu, malam yang turun pun menjadi semakin dalam. Udara yang dingin menyapu bulak-bulak panjang yang membentang di hadapan mereka. Tetapi Agung Sedayu yang berjalan di paling depan telah memberi isyarat kepada pasukan kecilnya itu untuk berhenti. “Berhati-hatilah,“ desis Agung Sedayu. “Ada apa Ki Lurah?“ bertanya seorang prajurit. Agung Sedayu tidak segera menjawab. Ia mulai mengetrapkan ilmunya Sapta Pandulu, untuk dapat melihat lebih jauh dan lebih tajam meskipun di gelapnya malam. “Aku melihat bayangan yang bergerak di balik gerumbul-gerumbul perdu di belakang simpang empat itu.” Prajuritnya mengerutkan dahinya. Beberapa orang mencoba untuk mempertajam penglihatan mereka. Meskipun mata mereka cukup terlatih, tetapi mereka tidak segera dapat melihat sesuatu selain gelapnya malam. Sementara itu Agung Sedayu pun berkata, “Kita akan berjalan terus. Tetapi berhati-hatilah. Aku merasakan bahwa kita ada dalam bayangan niat buruk sekelompok orang. Mungkin mereka akan menyergap dengan tiba-tiba dari sebelah-menyebelah jalan. Bersiaplah dengan senjata kalian.” Para prajurit dari Pasukan Khusus itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka harus memperhatikan hijaunya tanaman di sawah sebelah-menyebelah jalan, yang tumbuh dengan suburnya meskipun untuk beberapa lama tidak sempat dipelihara oleh pemiliknya, yang pergi mengungsi dari daerah jalur rawan yang mungkin dilewati pasukan dari Pati. Baru kemudian, para prajurit dari Pasukan Khusus itu meyakini bahwa mereka benar-benar dalam bahaya. Mereka mulai melihat gerak-gerak yang mencurigakan di sebelah-menyebelah jalan yang mereka lewati. Dengan demikian, maka para prajurit itu telah mempersiapkan senjata mereka. Senjata yang akan menjadi sangat berbahaya di tangan prajurit dari pasukan Khusus, yang telah ditempa dalam satu lingkungan yang khusus pula. Ketika Agung Sedayu yang berjalan di paling depan mendekati sebatang pohon gayam yang besar yang tumbuh di dekat simpang empat itu, ia berhenti sambil mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada pasukannya untuk berhenti. Para prajurit dari pasukan Khusus itu pun berhenti. Namun mereka tetap berhati-hati. Dengan senjata di tangan, mereka memperhatikan setiap gerakan di belakang tanaman yang tumbuh di kotak-kotak sawah di sebelah menyebelah jalan. Tiga orang muncul dari kegelapan di bawah bayangan pohon gayam yang besar dan berdaun lebat itu. Agung Sedayu sama sekali tidak terkejut ketika ia melihat Kiai Tambak Gede dan dua orang pengiringnya melangkah mendekatinya sambil berkata, “Selamat malam Ki Lurah Agung Sedayu.” Para prajurit dari pasukan Khusus itulah yang merasa heran. Tetapi tidak terlalu lama. Mereka mulai dapat mengerti, apa yang sebenarnya mereka hadapi. “Untunglah bahwa Ki Lurah mempunyai panggraita yang tajam,“ berkata salah seorang prajurit kepada kawannya. “Ya. Jika tidak, kita akan terjebak. Lebih parah lagi, jika daging kambing yang disuguhkan kepada kita itu beracun. Maka mereka tidak usah dengan susah payah bertempur dan membantai kita di dalam jebakan mereka, karena kita akan mati dengan sendirinya karena racun itu.” Kawannya mengangguk-angguk. Sementara para prajurit yang lain pun bersyukur pula di dalam hati atas ketajaman panggraita Ki Lurah Agung Sedayu. Agung Sedayu berdiri tegak diapit oleh dua orang prajurit kepercayaannya. Dengan nada dalam ia menjawab, “Selamat malam Ki Tambak Gede.” “Kita bertemu lagi Ki Lurah.” “Begitu cepat kita bertemu lagi,“ jawab Agung Sedayu. “Ki Lurah, aku masih ingin mengulangi undanganku.“ “Apakah aku masih harus menjawab lagi, Ki Tambak Gede ?” Agung Sedayu justru bertanya. “Jangan begitu kasar, Ngger. Sebaiknya kau paksa dirimu untuk mendengarkan kata-kataku.” “Ki Tambak Gede,“ berkata Agung Sedayu, “sudahlah. Sebaiknya Ki Tambak Gede dapat mengerti tugas yang aku emban. Aku harus segera kembali dan memberikan laporan atas kegagalanku. Jika aku akan mendapat hukuman, biarlah hukuman itu cepat aku jalani. Jika aku mendapatkan pengampunan, biarlah aku segera berlega hati.” “Ki Lurah,“ berkata Ki Tambak Gede, “jika kau tetap menolak, sudah tentu aku merasa tersinggung. Bukan saja aku pribadi, tetapi seluruh warga perguruan Tlaga Kuning akan merasa tersinggung. Perguruan kami adalah perguruan yang besar dan dihormati. Tetapi kau Ngger, hanya seorang Lurah Prajurit, berani menolak undanganku.” Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Sudahlah Ki Tambak Gede. Jangan berbelit-belit. Katakan apa sebenarnya maksudmu. Aku sudah muak dengan kepura-puraanmu itu.” Wajah Ki Tambak Gede menjadi tegang. Namun kemudian tiba-tiba saja ia tertawa. Wajahnya yang mulai berkeriput itu segera berubah. Yang nampak di sorot matanya bukan lagi ungkapan hatinya yang kecewa, tetapi di matanya membayang kebencian yang mendalam. Dengan kasar Ki Tambak Gede itu pun berkata, “Baiklah, Ki Lurah. Aku akan berterus terang. Aku adalah seorang pemimpin perguruan yang telah bersumpah untuk mengabdi kepada Kanjeng Adipati Pati. Tetapi aku terlambat sampai ke Pati. Ketika pasukan Pati mulai bergerak, aku tidak ada di perguruan. Meskipun aku sudah tahu bahwa pasukan Pati akan menyerang Mataram, tetapi aku kira tidak secepat yang dilakukan oleh Kanjeng Adipati Pragola.” “Kenapa kau tidak menyusul ke Prambanan?“ bertanya Agung Sedayu. “Aku memang berniat untuk menyusul. Tetapi prajurit Mataram yang berada di Jati Anom bergerak seperti burung alap-alap. Sementara aku bergerak dengan para cantrik yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Kami menemukan Ngaru-Aru sudah dihancurkan. Aku bertemu dengan sekelompok prajurit Pati yang terkoyak-koyak oleh sekelompok prajurit Mataram. Yang tersisa melarikan diri tanpa tujuan. Bahkan tidak tahu lagi, apa yang akan mereka lakukan. Mereka tidak mempunyai keberanian lagi untuk mencari dan bergabung dengan induk pasukannya, karena mereka ngeri bertemu dengan sekelompok prajurit Mataram yang bagaikan terbang menyambar-nyambar dan bahkan seakan-akan berada di segala tempat.” “Karena itu Ki Tambak Gede, mengurungkan niat untuk menyusul sampai ke Prambanan?” “Aku merasa bahwa pasukanku yang kecil tidak akan berpengaruh sama sekali.” “Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan?” bertanya Agung Sedayu. “Aku tahu bahwa pasukanmu juga hanya kecil. Aku kagum akan keberanianmu bergerak dengan pasukan yang kecil ini,“ jawab Ki Tambak Gede. “Tetapi sayang, bahwa justru karena itu maka pasukanmu telah menggelitik aku untuk menghancurkan pasukan kecilmu. Aku ingin menghancurkan kesombongan para prajurit Mataram. Aku akan membunuh kalian semua kecuali satu atau dua orang, agar mereka dapat menceritakan, bahwa kesombongan para prajurit Mataram sudah dihancurkan oleh sebuah perguruan. Nama perguruan kami yang sebenarnya bukan Tlaga Kuning. Dan namaku bukan Tambak Gede.” Orang itu pun berkata selanjutnya. “Tetapi kau tidak perlu mengetahui nama perguruanku dan namaku yang sebenarnya, karena itu sama sekali tidak perlu bagimu.” Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Sementara orang berjanggut pendek yang sudah memutih itu berkata, “Tetapi sebelum aku membunuhmu, aku ingin mengatakan kekagumanku terhadap ketajaman perasaanmu. Ternyata kau tidak begitu saja menerima undanganku. Dan itu membuat kami semakin bernafsu untuk membunuh kalian semuanya, selain satu atau dua orang seperti aku katakan.” “Baiklah, Ki Sanak. Kami adalah prajurit. Kematian memang sudah membayang sejak kami menyatakan diri untuk menjadi seorang prajurit yang baik. Karena itu, kau tidak usah menakut-nakuti kami dengan kematian.” “Kau memang anak iblis,” geram orang semula mengaku bernama Kiai Tambak Gede itu, “melihat umurmu, maka kau masih belum pantas bertempur menghadapi aku. Tetapi karena kau pemimpin tertinggi yang ada, maka kau memang harus menghadapi aku. Nasibmu yang buruk telah membawamu ke tanganku.” Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Tetapi ia sadar, bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang menginjak hari-hari tuanya dengan kematangan ilmu yang tinggi. Karena itu, maka Agung Sedayu harus berhati-hati. Sejenak kemudian, Agung Sedayu itu melihat orang itu memberikan isyarat. Ia telah mengangkat tangannya dan bahkan bersiut nyaring. Para prajurit dari Pasukan Khusus itu pun segera bersiap. Dari belakang gerumbul dan tanaman di sawah yang kurang terpelihara itu, muncul sosok-sosok yang menggetarkan jantung. Para prajurit Mataram itu sudah ditempa dengan keras lahir dan batinnya. Namun terasa dada mereka berdegup semakin keras melihat orang-orang berpakaian gelap yang bermunculan, seakan-akan mencuat dari kegelapan. Sekali lagi terdengar isyarat dari orang berjanggut pendek yang sudah memutih itu. Dan sekali lagi jantung para prajurit itu tergetar. Mereka melihat semua orang yang muncul dari persembunyiannya itu mengambil sepotong kain berwarna kuning dan dikalungkannya di leher mereka. “Apa artinya itu,“ desis seorang prajurit. “Entahlah. Tetapi mereka datang dari padepokan Tlaga Kuning, sebagaimana dikatakan oleh orang tua itu.” “Bukan,“ sahut yang pertama, “bukankah sudah dikatakannya bahwa mereka bukan murid-murid perguruan yang bernama Tlaga Kuning?” “Orang itu sedang mengigau. Apa saja yang dikatakan, tetapi kita akan menghancurkan mereka.” Prajurit yang pertama mengangguk-angguk. Katanya, “Ya Kita akan menghancurkan mereka sampai orang yang terakhir.” “Atau mereka menghancurkan kita sampai orang yang terakhir pula.” “ Tidak. Ada satu atau dua orang yang akan disisakan. Nah, mudah-mudahan orang itu aku.” Kawannya tiba-tiba saja tertawa, sehingga semua orang berpaling kepadanya. “Ada apa?” bertanya seorang yang lain. “Maaf. Orang-orang yang muncul dari kegelapan itu nampaknya lucu sekali,“ jawab prajurit itu. Orang tua berjanggut putih itu menggeram. Ternyata prajurit Mataram tidak merasa ngeri melihat orang-orangnya yang berdiri tegak mematung di kotak-kotak sawah sebelah-menyebelah jalan. Dengan lantang orang itu berkata, “Kami mempunyai tiga lapis kekuatan. Yang kalian hadapi adalah pasukan Elang Emas. Tataran berikutnya adalah Elang Perak, dan lapisan yang tersusun dari para cantrik yang baru tumbuh adalah pasukan Elang Tembaga. Karena kami akan menghancurkan sekelompok prajurit Mataram, maka aku siapkan putut dan cantrik yang termasuk tataran kemampuan tertinggi.” “Ki Sanak. Kenapa tidak semua cantrikmu kau kerahkan? Bukankah pertempuran dengan prajurit Mataram akan menjadi pengalaman yang sangat baik bagi pasukan Elang Perak dan Elang Tembagamu itu?” bertanya Agung Sedayu. Orang itu menggeram. Katanya, “Kau benar-benar orang yang sombong, Ki Lurah. Tetapi kau akan menyesal.” “Tidak. Apapun yang terjadi, kami tidak akan menyesal. Bagi kami, jika kami harus kau bantai sampai habis, maka kami akan mati sambil tersenyum daripada mati sambil menangis. Kesombongan kadang-kadang memberikan kebanggaan bagi kami.” “Setan alas!“ bentak orang itu hampir berteriak. Lalu iapun berteriak pula, “Bunuh semua orang, kecuali dua orang yang menyerah dan mohon ampun! Siapa yang lebih dahulu menyerah dan mohon ampun, maka mereka-lah yang akan tetap hidup.” Agung Sedayu pun kemudian telah memberikan isyarat pula kepada prajurit-prajuritnya untuk memasuki sebuah pertempuran yang keras. Demikianlah, orang-orang yang disebut pasukan Elang Emas itu mulai bergerak. Mereka semuanya bersenjata sebuah tongkat baja yang tidak terlalu panjang. Sejenak kemudian, orang-orang dari pasukan Elang Emas itu sudah meloncati parit di pinggir jalan dengan sigapnya. Tetapi prajurit Mataram dari Pasukan Khusus yang dipimpin oleh Agung Sedayu itu telah mempersiapkan senjata mereka pula. Sebagian besar prajurit dari Pasukan Khusus itu bersenjata pedang. Sedangkan sebagian kecil bersenjata tombak pendek. Tetapi sebagai kelengkapan dari Pasukan Khusus, maka mereka juga bersenjata pisau belati panjang yang mereka pergunakan dalam keadaan yang khusus. Tetapi bukan hanya itu. Sebenarnyalah dalam tugas yang berat itu, para prajurit dari Pasukan Khusus itu dilengkapi pula dengan pisau-pisau belati kecil yang merupakan senjata lontar yang sangat berbahaya. Sejenak kemudian kedua kekuatan itu sudah saling berbenturan. Orang-orang yang disebut pasukan Elang Emas itu bergerak dengan cepat. Dalam waktu yang singkat, mereka seluruhnya telah terlibat dalam pertempuran yang dengan cepat pula meningkat. Orang berjanggut pendek yang sudah keputih-putihan itu tertawa. Katanya, “Ki Lurah. Kau lihat bahwa orang-orangku lebih tangkas, lebih kuat, lebih terlatih dan lebih banyak. Apa yang kau andalkan? Kau sendiri tentu tidak akan mampu berbuat apa-apa di hadapanku. Jangankan seorang Lurah prajurit, seorang Tumenggung pilihan pun tidak akan dapat menandingi kemampuanku. Menurut perhitunganku, hanya ada lima orang yang dapat mengalahkan aku di seluruh wilayah kekuasaan Mataram dan Pati. Mereka adalah Panembahan Senapati, Ki Juru Mertani, Kanjeng Adipati Pragola, Ki Naga Sisik Salaka dan Ki Gede Candra Bumi. Aku meragukan kemampuan orang-orang lain yang pernah disebut namanya di Mataram dan Pati. Aku tidak gentar mendengar nama Pangeran Mangkubumi, Pangeran Singasari, atau Adipati Pajang atau Adipati manapun juga. Juga nama-nama besar para Senapati Pati, dan bahkan orang-orang yang disebut berilmu tinggi yang ada di sekitar Kanjeng Adipati Pragola. Mereka tidak lebih dari penjilat-penjilat yang tidak mempunyai kemampuan apapun juga. Nah, sekarang kau hanya seorang Lurah prajurit. Pertimbangkan pendapatku. Bagaimana jika kau adalah orang pertama yang menyerah? Kau akan mendapat pengampunan, dan aku persilahkan kau pulang memberikan laporan kepada Panembahan Senapati, bahwa prajurit-prajuritmu telah habis dibantai oleh pasukan Elang Emas dari perguruan yang setia kepada Kanjeng Adipati Pati.” Agung Sedayu dengan serta merta menyahut, “Sebut nama perguruanmu dan sebut namamu.” “Itu tidak perlu Ki Lurah,” jawab orang itu. “Jika demikian, aku tidak akan menyerah. Laporanku tentu dianggap tidak lengkap. Apakah aku hanya cukup mengatakan bahwa pasukan kecilku dibantai oleh sebuah perguruan yang dipimpin oleh seorang yang berjanggut pendek yang sudah memutih?” Orang itu tertawa. Katanya, “Baiklah. Rasa-rasanya aku memang ingin membunuhmu.” Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Ia sadar bahwa lawannya tentu orang berilmu tinggi, yang menyejajarkan diri dengan seorang yang disebut Ki Gede Candra Bumi, dan bahkan Kanjeng Adipati Pragola sendiri. Melihat sikap Agung Sedayu, maka orang berjanggut Putih itu berkata, “Baiklah. Agaknya kau memang seorang Lurah prajurit yang baik. Karena itu, kita akan menyelesaikan persoalan kita di arena pertempuran. Agaknya kau ingin mati sebagai seorang prajurit. Bukan sebagai seorang pengecut.” Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia sudah benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu, para prajurit dari Pasukan Khusus itu bertempur dengan garangnya. Ketika orang berjanggut putih itu sempat melihat sekilas, maka iapun menggeram, “Setan prajurit-prajurit Mataram.” Sebenarnyalah bahwa para prajurit dari Pasukan Khusus yang jumlahnya lebih kecil dari lawannya itu mampu mengimbangi kekuatan lawannya. Orang-orang yang disebut dari pasukan Elang Emas itu tidak mampu menguasai medan. Para prajurit dari Pasukan Khusus itu bertempur sambil bergerak dengan cepat. Mereka bergeser menghindar, namun sambil menyerang. Orang-orang yang disebut dari pasukan Elang Emas itu dengan cepat telah mengerahkan kemampuan mereka. Agaknya pemimpinnya itu telah memerintahkan agar mereka dengan cepat pula menguasai lawannya. Bahkan membunuh mereka sampai hanya tersisa dua orang saja. Tetapi ternyata mereka tidak segera dapat melakukannya. Meskipun Pasukan Elang Emas adalah mereka yang terpilih dari tataran terbaik dari perguruannya, tetapi menghadapi Pasukan Khusus yang ditempa oleh Agung Sedayu itu, para putut dan cantrik terpilih itu tidak segera dapat menguasainya. Sebenarnyalah para prajurit dari Pasukan Khusus yang berada di Tanah Perdikan Menoreh itu tidak ubahnya para cantrik dari sebuah padepokan yang berlatih dengan bersungguh-sungguh tanpa mengenal jenuh. Mereka ditilik secara pribadi oleh Agung Sedayu, seorang Lurah prajurit yang kebetulan memiliki landasan ilmu yang sangat tinggi. Dengan demikian, maka pertempuran itu pun kemudian telah menjadi semakin sengit. Para putut dan cantrik dari pasukan Elang Emas itu berusaha dengan cepat menghancurkan lawan-lawannya, sementara para prajurit dari Pasukan Khusus pun dengan tegar mengimbanginya. Untuk beberapa saat orang berjanggut pendek yang berwarna keputih-putihan itu sempat melihat keadaan medan. Dahinya berkerut semakin dalam. Ia tidak menduga, bahwa kemampuan prajurit Mataram itu mampu mengimbangi para putut dan cantrik terpilihnya, yang termasuk dalam pasukan Elang Emas itu. Sebenarnyalah bahwa para prajurit Mataram dari Pasukan Khusus itu harus mengerahkan kemampuan mereka. Namun bekal mereka memang sudah cukup untuk menghadapi pasukan Elang Emas itu. Dengan pedang keprajuritan yang dibuat khusus bagi Pasukan Khusus itu, para prajurit Mataram menghadapi tongkat-tongkat baja di tangan para putut dan cantrik itu. Beberapa orang prajurit yang bersenjata tombak pendek memutar tombaknya seperti baling-baling. Benturan benturan telah terjadi. Para putut dan cantrik itu berusaha untuk mematahkan landean tombak pendek yang terbuat dari kayu itu. Tetapi tangan-tangan para prajurit yang trampil itu mampu menghindari benturan langsung. Bahkan sedap kali ujung tombak itu terayun mendatar menyambar ke arah lambung dan dada, sehingga para cantrik itu harus berloncatan mundur. “Apa yang telah kau perbuat atas para prajuritmu, sehingga mereka memiliki kemampuan secara pribadi yang tinggi itu?” bertanya orang berjanggut pendek itu. “Bukankah setiap prajurit Mataram harus berilmu tinggi?“ jawab Agung Sedayu. “Kau memang sombong. Tetapi sebentar lagi kau akan mati, dan semua prajuritmu akan mati.” Agung Sedayu tidak mejawab. Ketika orang berjanggut pendek itu bergeser, maka Agung Sedayu pun bergeser pula. “Tetapi kau memang tidak akan mati lebih dahulu, Ki Lurah. Aku akan melumpuhkanmu dan memaksamu melihat satu demi satu prajurit-prajuritmu dibantai di hadapanmu, sementara kau tidak dapat melindunginya. Baru kemudian, setelah tinggal dua orang prajuritmu yang akan tersisa hidup, kau akan aku cekik sampai mati. Nah, sekarang bersiaplah.” Agung Sedayu masih tetap tidak menjawab. Tetapi ia sudah benar-benar bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Dengan segala keyakinan untuk dengan cepat menguasai Lurah yang masih terhitung muda itu, orang berjanggut pendek itu mulai mengayunkan tangannya. Sekedar untuk memancing lawannya. Tetapi Agung Sedayu pun turun ke medan dengan keyakinan yang teguh. Tanpa merendahkan lawannya. Agung Sedayu menghadapinya dengan tenang dan percaya diri. Melihat sikap Ki Lurah itu, maka darah orang berjanggut pendek itu menjadi semakin panas. Karena itu, sejenak kemudian serangan-serangannya pun mulai mengarah. Tenaganya menjadi semakin besar, dan geraknya pun menjadi semakin cepat. Tetapi Agung Sedayu pun selalu mampu mengimbanginya. Agung Sedayu pun telah meningkatkan tenaganya serta mempercepat geraknya sebagaimana lawannya. Dengan demikian, maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit Keduanya telah meningkatkan kemampuan mereka selapis demi selapis. Lawan Agung Sedayu yang ingin mengetahui puncak kemampuan ilmu Agung Sedayu itu mulai menjadi gelisah. Kemampuan yang ditunjukkan oleh Lurah prajurit itu sudah lebih tinggi dari yang diduganya. Tetapi ketika orang itu meningkatkan kemampuannya selapis lagi, ternyata Agung Sedayu masih tetap mampu bertahan. “Darimana kau sadap ilmumu itu Ki Lurah?“ geram orang itu. Agung Sedayu meloncat menghindari serangan lawannya sambil menjawab, “Aku adalah Lurah prajurit dari Pasukan Khusus. Karena itu, aku telah mendapat latihan-latihan yang berat dari para Senapati di Mataram.” “Kau jangan membual. Setinggi-tinggi ilmu seorang Lurah prajurit, tidak akan mampu melawan aku sampai tataran ini.” “Ternyata aku dapat melakukannya. Sementara prajurit-prajuritku mampu melawan orang-orangmu yang terbaik, yang kau sebut pasukan Elang Emas itu.” “Tidak ada orang Maratam yang mampu melawan aku, kecuali Ki Juru Martani dan Panembahan Senapati sendiri.” “Omong kosong. Nampaknya kau belum pernah bertemu dengan para pemimpin Mataram, para Tumenggung dan Senapati terpilihnya. Kau juga belum pernah bertemu dengan orang-orang tua di padepokan-padepokan dan perguruan-perguruan.” “Cukup. Aku akan membungkam mulutmu,“ geram orang itu. Agung Sedayu meloncat mengambil jarak. Sambil tertawa ia berkata, “Kenapa kau masih mengambil ancang-ancang. Bukankah kita sudah bertempur? Jika kau mampu membungkam mulutku, tentu sudah kau lakukan.” Orang itu menggeram. Wajahnya menegang dan sambil menggeretakkan gigi ia berkata, “Aku akan memaksamu merengek minta ampun, atau bahkan minta aku segera membunuhmu.” “Apa lagi yang akan kau lakukan? Apa lagi yang kau tunggu Ki Sanak?” Orang itu menjadi semakin marah. Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang dengan garangnya. Agung Sedayu meloncat sekali lagi mengambil jarak. Ia mulai merasakan sentuhan udara yang hangat menyambar tubuhnya, sejalan dengan ayunan tangan lawannya itu. Agung Sedayu meloncat surut untuk mengambil jarak. Sementara itu, lawannya ternyata tidak segera memburunya. Seakan-akan orang berjanggut pendek itu sengaja memberi kesempatan Agung Sedayu untuk menilai keadaan. “Apakah kau akan berusaha melarikan diri?“ bertanya orang itu. “Kenapa aku harus melarikan diri?” bertanya Agung Sedayu, “Aku masih utuh. Kulitku belum tergores luka dan darahku masih mengalir wajar di dalam tubuhku.” “Tetapi kau mulai mencium kemampuanku,“ jawab orang itu. Agung Sedayu tertawa pendek. Katanya, “Kau sejak tadi hanya berbicara tentang kemampuan, mengancam dan mengambil ancang-ancang. Tetapi kau tidak dapat berbuat apa-apa.” Orang berjanggut pendek dan berwarna keputih-putihan itu menggeram. Iapun segera meloncat menyerang pula. Ayunan tangannya mendatar ke arah kening. Namun Agung Sedayu sempat meloncat mengelakkan serangan itu. Serangan itu memang tidak berhasil. Namun sambaran anginnya telah memancarkan udara panas, menerpa kulit Agung Sedayu. Telah berkali-kali Agung Sedayu menjumpai ilmu seperti itu. Ia sendiri mampu melakukannya. Jika ia menghentakkan ilmu kebalnya pada puncak tertinggi, maka kekuatan ilmu kebalnya itu juga memancarkan getar panas yang memanasi udara di sekitarnya. Karena itu, Agung Sedayu sama sekali tidak terkejut. Dengan demikian, pertempuran selanjutnya pun masih berlangsung dengan sengitnya. Udara panas itu tidak banyak berpengaruh atas Agung Sedayu. Loncatan-loncatan yang panjang mampu memperkecil pengaruh udara panas atas kulit Agung Sedayu. Lawan Agung Sedayu itu menjadi semakin heran. Ilmunya itu seakan-akan tidak berarti sama sekali bagi Agung Sedayu. “Lurah prajurit yang masih terhitung muda ini ternyata memang memiliki kemampuan yang tinggi,“ berkata orang itu di dalam hatinya. Ia memang menjadi heran, bahwa seorang Lurah prajurit dapat bertahan sampai tataran yang terhitung tinggi itu. “Aku tidak yakin, bahwa kemampuannya itu didapatnya dari lingkaran keprajuritan,“ katanya di dalam hati. Namun kemarahan orang itu telah mendorongnya untuk melepaskan ilmu yang lebih tinggi lagi. Bukan saja getar sambaran angin dari ayunan serangan-serangannya terasa panas. Tetapi serangan-serangan orang itu menjadi semakin cepat. Agung Sedayu terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya terguncang dan bahkan ia terlempar beberapa langkah surut. Lawannya sama sekali tidak menyentuh wadagnya. Tetapi rasa-rasanya sebuah pukulan yang keras telah mengenai dadanya. Semula Agung Sedayu menduga bahwa ia berhadapan dengan orang yang memiliki ilmu yang mempunyai ciri serangan-serangannya mendahului sentuhan kewadagannya, sebagaimana yang pernah juga dihadapinya. Tetapi ternyata tidak. Orang itu berdiri pada jarak yang tidak terlalu dekat. Juga tidak nampak kilat sinar atau percikan warna yang meloncat dari tangan atau sorot matanya. Dengan demikian, maka Agung Sedayu memang agak mengalami kesulitan untuk menghindari serangan-serangan orang itu. Beberapa kali Agung Sedayu telah terguncang. Meskipun ia berusaha untuk menghindar, namun serangan-serangan itu masih selalu mengenainya. Agung Sedayu hanya dapat menduga arah serangan lawannya dari sudut pandang matanya serta arah gerak tangannya. Namun kadang-kadang ia memang terlambat. Setiap kali Agung Sedayu terguncang, maka orang itu pun tertawa sambil berkata, “Jangan menyesal Ki Lurah. Kau akan menjadi sasaran permainan ilmuku. Kau akhirnya akan kehabisan tenaga, kesakitan dan penuh penyesalan. Dalam keadaan yang demikian, kau akan melihat prajurit-prajuritmu dibantai habis oleh orang-orangku dari pasukan Elang Emas.” Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi beberapa kali ia masih terguncang, jatuh berguling dan kemudian meloncat bangkit. Suara tertawa orang berjanggut putih pendek itu terdengar berkepanjangan. Serangannya semakin lama semakin sering. Ia menjadi semakin gembira melihat Agung Sedayu jatuh dan bangun menghadapinya. Namun akhirnya Agung Sedayu itu mengibaskan pakaiannya sambil berkata, “Maaf Ki Sanak. Aku sudah jemu bermain-main dengan cara ini. Apakah kau masih mempunyai permainan lain yang lebih menyenangkan?” Orang itu terkejut. Ketika ia menyerang lagi, maka Agung Sedayu masih saja tetap berdiri, meskipun sekali-kali ia bergeser setapak. “Iblis. Kau pakai perisai apa Ki Lurah?“ bertanya orang itu hampir berteriak. Agung Sedayu masih tetap berdiri di tempatnya. Agung Sedayu-lah yang kemudian tertawa sambil berkata, “Permainanmu mulai menjemukan Ki Sanak.” Beberapa kali orang itu menyerang. Tetapi serangannya sia-sia saja. Agung Sedayu telah menyelimuti dirinya dengan ilmu kebalnya, sehingga serangan-serangan orang itu tertahan tanpa menyakitinya. Orang berjanggut pendek itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan itu, bahwa lawannya, seorang lurah Prajurit, telah mampu mengimbangi ilmunya. Karena itu, kemarahannya pun telah membakar jantungnya, sehingga orang itu pun telah menghentakkan ilmunya sampai ke puncak. Serangan-serangannya memang mampu menggetarkan perisai Ilmu kebal Agung Sedayu. Tetapi ilmunya itu tidak mampu menembusnya. Semakin meningkat kekuatan ilmunya sehingga mencapai puncaknya, maka ilmu kebal Agung Sedayu pun menjadi semakin rapat dan semakin tebal pula. Akhirnya orang itu harus mengakui, bahwa ilmunya itu tidak akan mampu menembus perisai ilmu lawannya. Karena itu, maka iapun menggeram, “Darimana kau curi ilmu kebalmu itu, he?” “Kenapa harus mencuri?“ bertanya Agung Sedayu. “Persetan dengan ilmu kebalmu. Tetapi dengan pusakaku, kau tidak akan mampu bertahan. Pusakaku akan mampu mengoyak ilmu kebalmu dan langsung menghunjam ke dalam jantungmu.” Agung Sedayu tidak menjawab. Namun jantungnya memang menjadi berdebar-debar ketika ia melihat lawannya itu mencabut sebilah keris. “Jangan menyesal,” geram orang itu, “kerisku akan mengakhiri kesombonganmu.” Agung Sedayu tidak menjawab. Ia menyadari bahwa keris lawannya adalah keris yang sangat baik. Bukan saja buatannya. Bukan pula karena pamornya serta permata yang melekat pada ukirannya. Tetapi nampaknya keris itu memang pusaka yang diandalkannya, sehingga keris itu dapat meningkatkan kekuatan jiwani serta ketegaran hati orang yang memegangnya. Ketika keris itu mulai berputar, maka Agung Sedayu pun mulai merasakan sentuhan getaran udara panas yang seakan-akan menjadi berlipat. Apalagi ketika keris itu diayunkan. Rasa-rasanya kemampuan lawannya itu mulai menyusup ilmu kebalnya sedikit demi sedikit. Rasa-rasanya ujung-ujung dari mulai menyentuh kulitnya di bawah lapisan ilmu kebalnya. Agung sedayu pun menyadari, bahwa dengan keris di tangannya, orang itu menjadi semakin tegar, sehingga kemampuan ilmunya menjadi bertambah. Tetapi Agung Sedayu pun mengerti, jika angin yang timbul dari ayunan senjatanya saja telah mampu menyusup ilmu kebalnya, maka ujung keris itu sendiri tentu akan mampu menembus kulitnya dan mengoyakkan dagingnya. Bahkan ujung keris itu tentu akan mampu menghunjam di dadanya dan menembus sampai ke jantung. Karena itu, Agung Sedayu tidak akan membiarkan dirinya mengalami cedera. Sehingga dengan demikian, iapun harus menggapai tataran yang lebih tinggi lagi untuk melawan orang berjanggut putih itu. Namun dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di sekitarnya pun minta perhatiannya pula. Ternyata para prajuritnya mengalami kesulitan melawan pasukan Elang Emas yang jumlahnya memang lebih banyak itu. Lawannya yang mengetahui bahwa perhatian Agung Sedayu sekilas tertarik kepada pertempuran di sekitarnya pun berkata, “Ki Lurah. Pertempuran tidak akan berlangsung lama lagi. Satu-satu orang-orangmu akan mati terkapar di bulak ini. Besok pagi burung-burung gagak akan bersantap di sini.” Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi Agung Sedayu tidak meneriakkan aba-aba. Ia mulai melihat bahwa prajurit-prajuritnya dari Pasukan Khusus itu mampu mengambil keputusan untuk mengatasi kesulitannya tanpa mendapat perintahnya. Demikianlah, pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Tongkat-tongkat baja para putut dan cantrik dari pasukan Elang Emas itu berputaran menyambar-nyambar. Seorang prajurit yang bersenjata tombak, ternyata gagal menyelamatkan landean tombaknya. Ketika terjadi benturan yang sangat keras dengan seorang putut yang ilmunya mulai mapan, maka landean tombaknya itu patah. Malang bagi prajurit itu, yang terlepas dari tangannya adalah justru landean tombaknya yang di bagian ujungnya, sehingga mata tombaknya ikut terlepas pula. Lawannya mulai menyeringai seperti hantu yang memandang sosok korbannya. Selangkah demi selangkah ia maju mendekat. Tongkatnya mulai terayun-ayun siap menimpa dan memecahkan kepala prajurit yang kehilangan senjatanya itu. Namun tiba-tiba putut itu terpekik. Ia tidak mengira bahwa tiba-tiba saja, sebuah pisau kecil datang menyambarnya. Sejenak putut itu terhuyung-huyung. Namun sebuah pisau belati yang tajam yang lebih panjang telah mematuk dadanya, menghunjam sampai ke jantung. Putut itu pun jatuh terjerembab. Tetapi ia tidak sempat lagi mengaduh. Dengan demikian, maka pisau pisau kecil pun mulai berperan dalam pertempuran itu. Beberapa orang putut dan cantrik telah jatuh menjadi korban pisau-pisau kecil yang dilontarkan oleh para prajurit dari Pasukan Khusus itu. Orang berjanggut pendek itu pun mulai melihat perubahan keseimbangan yang terjadi di medan pertempuran itu. Tetapi orang itu tidak dapat berbuat banyak. Ia sendiri terikat dalam pertempuran dengan Lurah prajurit yang berilmu tinggi itu. Karena itu, yang dapat dilakukan oleh orang berjanggut pendek itu adalah meneriakkan perintah-perintah untuk meningkatkan gelora perlawanan bagi para putut dan cantrik-cantriknya. Para prajurit Mataram dari Pasukan Khusus itu semakin lama memang semakin menguasai medan. Lawannya yang lebih banyak itu mulai menyusut meskipun perlahan-lahan. Seorang putut menjadi sangat marah, ketika lawannya melemparkan pisau kecil ke arah dadanya. Namun ia sempat menggeliat, sehingga pisau itu tidak tertancap di dadanya. Namun luka di lengannya itu telah menitikkan darah. Ketika putut itu bergerak semakin banyak, darah pun mengalir semakin banyak pula. “Licik kau,” geram Putut itu. “Kenapa?“ bertanya prajurit yang melukainya, sambil mempersiapkan diri menghadapi Putut yang melangkah mendekatinya sambil mengayun-ayunkan tongkat bajanya. “Kau melempar pisau-pisau kecil.” “Kenapa licik? Itu salah satu jenis senjataku,“ jawab prajurit itu. “Aku akan mencabik-cabik tubuhmu sampai lumat,” geram Putut itu. “O, kau kira kau benar-benar seekor burung elang yang mampu mencabik-cabik seekor anak ayam? He, jika seekor burung wulung terbang melingkar-lingkar, maka induk ayam pun berkotek memberi isyarat anak-anaknya agar bersembunyi. Tetapi wulung emas seperti kalian pun agaknya hanya dapat menakut-nakuti anak ayam.” Putut itu tiba-tiba berteriak sekeras-kerasnya. Getaran suaranya bagaikan mengguncang udara di seluruh medan pertempuran itu. Kemarahan yang bagaikan membakar jantung itu mencari saluran agar jantungnya tidak meledak. Prajurit itu terkejut. Bahkan para prajurit yang lain pun terkejut pula. Teriakan itu bagaikan membakar daun telinga. Para putut dan cantrik dari pasukan Elang Emas yang mendengar teriakan itu, bagaikan bangkit dari cengkaman kelelahan dan kesulitan menghadapi kemampuan lawan. Tiba-tiba saja mereka bergerak lebih cepat, dan kekuatan mereka yang menyusut pun telah tumbuh kembali. Pertempuran pun menjadi semakin sengit. Namun para prajurit dari Pasukan Khusus itu sama sekali tidak tergetar. Mereka masih tetap bertempur dengan garang. Pisau kecil mereka masih saja menyambar-nyambar. Sementara itu, lawan Agung Sedayu itu pun telah mengerahkan kemampuan ilmunya pula. Menurut perhitungannya, para putut dan cantrik itu tidak segera dapat memenangkan pertempuran. Karena itu, maka ia harus segera mampu menembus ilmu kebal lawannya itu. Dengan demikian, maka keris itu pun berputar semakin cepat. Sambaran udara yang panas terasa semakin menekan. Getaran-getaran yang tajam terasa menusuk-nusuk kulit, menyusup ilmu kebalnya. Agung Sedayu yang mulai terdesak itu tidak ingin segera mempergunakan kemampuan sorot matanya. Tetapi sebagai murid utama dari perguruan Orang Bercambuk, maka Agung Sedayu pun segera mengurai cambuknya. Lawannya terkejut melihat cambuk Agung Sedayu. Bahkan ia bergeser selangkah surut. Dengan nada tinggi ia berdesis, “Orang Bercambuk. He, apakah kau mempunyai hubungan dengan Orang Bercambuk yang pernah berkeliaran di pesisir utara?” Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia bertemu dengan gurunya pertama kali di Dukuh Pakuwon, tidak terlalu jauh dari Sangkal Pulung. Tetapi pengembaraan Kiai Gringsing memang tidak terbatas. “Apakah kau pernah mengenal Orang Bercambuk?” bertanya Agung Sedayu. “Aku pernah mendengar namanya. Tetapi aku belum pernah bertemu.” “Apakah kau menyangka bahwa akulah orang bercambuk itu?” “Tentu tidak,” jawab orang itu, “mungkin kau cucunya, atau murid dari murid Orang Bercambuk itu.” “Siapapun aku, tetapi aku adalah Lurah prajurit Mataram. Menyerahlah. Aku akan membawamu ke Prambanan. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, melawan prajurit Mataram yang sedang menjalankan tugasnya.” “Setan kau,” geram orang itu. Tiba-tiba saja serangannya datang membadai, sehingga Agung Sedayu harus berloncatan mundur beberapa langkah. Sementara itu, terdengar lagi seorang putut yang berteriak sekeras-kerasnya, sehingga seakan-akan dedaunan di pepohonan telah berguncang. Daun yang kering telah berguguran, berserakan di jalan yang kotor. Ternyata teriakan-teriakan oleh beberapa orang putut itu memang berpengaruh. Namun para putut dan cantrik dari pasukan Elang Emas telah terkejut pula, ketika tiba-tiba cambuk Agung Sedayu meledak. Getaran suara cambuk itu seakan-akan telah mengoyak selaput telinga para putut dan cantrik itu. Namun orang berjanggut pendek itulah yang kemudian tertawa. Katanya, “Aku salah duga. Ternyata kau tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Orang Bercambuk itu. Agaknya kau tidak lebih dari seorang gembala kambing yang kebetulan menjadi prajurit.” Agung Sedayu memandang wajah orang itu dengan tajamnya. Tetapi ia tidak berniat menghentikan perlawanannya dengan sorot matanya. Tetapi cambuk yang sudah ada di tangannya itu mulai bergetar lagi. Satu ledakan lagi lelah mengguncang malam yang hiruk pikuk oleh pertempuran itu. Para putut dan cantrik semakin tergetar hatinya. Suara cambuk itu terdengar lebih keras dan menghentak daripada teriakan-teriakan para putut dan cantrik dari pasukan Elang Emas itu. Tetapi orang berjanggut pendek itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ketika aku merasakan benturan ilmu kebal yang menyelimuti dirimu, aku mengira bahwa kau memang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi mendengar ledakan cambukmu yang seolah olah mengguncang bumi itu, justru aku tahu bahwa kemampuanmu tidak lebih dari perisai ilmu kebalmu, yang pada puncak pengetrapannya memancarkan udara panas yang tidak banyak pengaruhnya itu.” Agung Sedayu sama sekali tidak menjawab. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Ki Lurah. Jika semula aku mulai mengagumimu, maka ternyata kemudian kau tidak lebih dari dugaan sebelum kita mulai bertempur. Karena itu, maka sekali lagi aku menawarkan, menyerahlah. Kau akan tetap hidup. Justru kau akan aku beri kesempatan untuk kembali menghadap Panembahan Senapati dan memberikan laporan, bahwa semua prajuritmu telah mati dibantai oleh seorang pengikut Kanjeng Adipati Pragola.” Agung Sedayu masih tetap tidak menjawab. Namun kemudian dihentakkannya cambuknya sendal pancing. Cambuk itu tidak meledak seperti sebelumnya. Suaranya tidak memekakkan telinga atau bahkan merontokkan isi dada. Tetapi hentakan cambuk yang tidak mengejutkan seorang putut dan cantrik itu ternyata telah menggetarkan jantung lawannya. Ilmu yang terpancar dari hentakan cambuk itu mampu menyusup ke relung-relung di dalam dadanya, sehingga di luar sadarnya orang itu telah tergetar selangkah surut. Dalam ketegangan, orang itu mendengar suara Agung Sedayu, “Kenapa Ki Sanak? Apa yang mengejutkanmu? Ketika cambukku meledak, kau sama sekali tidak terkejut. Tetapi justru ketika cambukku tidak melepaskan suara, kau tersentak seperti melihat hantu.” “Kau memang iblis,“ geram orang itu. Tetapi orang itu tidak banyak berbicara lagi. Dengan garangnya orang itu mulai lagi meloncat menyerang. Ayunan kerisnya yang berputar itu telah menaburkan udara yang panas, dan bahkan mampu menyusup ilmu kebal Agung Sedayu. Tetapi pada saat itu, Agung Sedayu telah memutuskan untuk menyelesaikan pertempuran. Ia berniat untuk menangkap orang berjanggut pendek itu, karena menurut pendapatnya orang itu sangat berbahaya bagi para prajurit Mataram. Kesatuan-kesatuan kecil Mataram yang bertugas di sekitar padepokannya akan benar-benar dapat dimusnahkannya. Agaknya orang itu bukan orang yang sekedar mengancam dan menakut-nakuti. Dengan demikian, maka cambuk Agung Sedayu itu pun segera berputaran, menghentak dan menggeliat, memburu lawannya yang berloncatan menghindarinya. Namun sekali-sekali orang itu masih juga berusaha menyerang dengan kerisnya, yang jika berhasil, akan mampu menembus ilmu kebal Agung Sedayu. Namun dalam pada itu, orang berjanggut pendek itu menjadi semakin terdesak. Ujung cambuk Agung Sedayu semakin dekat menggapai-gapai tubuhnya. Meskipun demikian, orang itu masih sempat berkata, “Ternyata kau bukan seseorang yang menerima keturunan ilmu dari Orang Bercambuk yang berkeliaran di pesisir utara itu. Meskipun aku belum pernah mengenalnya, tetapi aku pernah mendengar cerita tentang orang itu.” “Kau nampak dalam kebingungan Ki Sanak,“ berkata Agung Sedayu sambil menghentakkan cambuknya, sehingga orang itu meloncat surut. “Tadi kau mengatakan bahwa aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Orang Bercambuk itu, ketika kau dengar cambukku meledak mengatasi teriakan-teriakan orang-orangmu. Sekarang kau katakan bahwa aku bukan orang yang menerima keturunan ilmu Orang Bercambuk itu, karena agaknya kau melihat alur dan unsur ilmu yang berbeda dari cerita yang pernah kau dengar dari orang lain.” “Persetan dengan igauanmu,” geram orang itu. “Menyerahlah,“ berkata Agung Sedayu kemudian, “kau tidak boleh berkeliaran lagi. Kau sangat berbahaya bagi prajurit-prajurit Mataram.” Orang itu tidak menjawab. Tetapi orang itu bertempur semakin garang. Agung Sedayu memang tidak melihat kemungkinan untuk memaksa orang itu menyerah. Ia tidak akan melakukannya di hadapan murid-muridnya yang terpilih. Sementara itu, keadaan murid-muridnya pun tidak menjadi lebih baik. Para prajurit dari Pasukan Khusus itu ternyata mampu mengatasi perlawanan pasukan Elang Emas, yang jumlahnya semula lebih banyak dari pasukan kecil prajurit Mataram yang dipimpin oleh Agung Sedayu itu. Dari waktu ke waktu, kemampuan perlawanan pasukan Elang Emas itu semakin menyusut, sehingga mereka pun menjadi semakin terdesak pula. Para prajurit dari Pasukan Khusus itu berhasil menyusut jumlah lawannya. Meskipun ada juga korban di antara para prajurit, tetapi para putut dan cantrik yang tergabung dalam pasukan Elang Emas itu menyusut lebih cepat. Pisau-pisau kecil yang lepas dari tangan para prajurit itu hinggap di dada, lambung, dan bahkan di leher mereka. Sementara itu, pedang dan ujung-ujung tombak para prajurit pun terayun-ayun menebas, mematuk dan menyambar-nyambar. Tidak ada kesempatan lagi bagi pasukan Elang Emas itu untuk dapat memenangkan pertempuran. Sementara itu, pemimpin perguruan yang berjanggut pendek itu pun semakin mengalami kesulitan pula. Meskipun kerisnya itu sekali-sekali mampu mengejutkan Agung Sedayu, namun setiap kali ujung cambuknya selalu dapat menghalau lawannya. Orang berjanggut pendek itu pun menjadi sangat marah. Tetapi ia terbentur pada suatu kenyataan, bahwa lawannya memang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi orang itu sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Bahkan orang berjanggut putih itu mencoba untuk memutuskan ujung cambuk Agung Sedayu dengan kerisnya. Namun orang itu tidak berhasil. Ia memang berhasil menebas ujung cambuk Agung Sedayu yang menggeliat, tetapi ujung cambuk itu tidak terputus karenanya. Bahkan hampir saja keris itu terlepas dari tangannya. Dalam pada itu, Agung Sedayu telah benar-benar berniat mengakhiri pertempuran. Karena itu, maka iapun meningkatkan serangan-serangan cambuknya langsung ke arah tubuh lawannya. Ketika ujung cambuknya mulai menyentuh kulit lawannya, maka terdengar umpatan yang kasar meledak dari mulut orang berjanggut putih itu. Tetapi ia benar-benar tidak dapat berbuat banyak. Meskipun ia mengerahkan ilmunya sampai ke puncak kemampuannya, tetapi ternyata bahwa ia menjadi semakin terdesak. Goresan ujung cambuk Agung Sedayu itu bukan sekedar meninggalkan goresan merah di kulitnya. Tetapi kulit itu benar-benar telah terkoyak. Darah pun mulai mengalir dari lukanya itu. “Aku memberikan kesempatan terakhir kepadamu, Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu sambil menghentakkan ujung cambuknya, sehingga getarannya mengguncang selaput telinganya. Tetapi lawannya justru menggeram, “Aku bunuh kau anak yang sombong.” Bagi Agung Sedayu, rasa-rasanya sudah cukup memberi lawannya itu kesempatan untuk menyerah. Tetapi agaknya lawannya itu seorang yang keras hati. Apalagi ia berada di hadapan murid-muridnya yang terbaik, sehingga ia tidak mau mengorbankan harga dirinya. Sementara itu, Agung Sedayu pun tidak ingin melepaskan lawannya yang sangat berbahaya itu, karena pada kesempatan lain ia tentu benar-benar akan menyulitkan prajurit Mataram. Karena itu, maka tidak ada pilihan bagi Agung Sedayu. Ia harus menghentikan perlawanan orang berjanggut itu untuk selamanya, agar ia tidak membuat kesulitan lagi di kemudian hari. Demikianlah, Agung Sedayu pun telah sampai ke puncak ilmu cambuknya, ilmu yang diwarisinya dari gurunya. Sebagai murid utama, maka Agung Sedayu benar-benar telah menguasai kemampuan ilmu cambuk sebagaimana gurunya sendiri. Apalagi Agung Sedayu memang sudah benar-benar menguasai berbagai macam ilmu yang dapat mendukung ilmu cambuknya. Dengan demikian, sejenak kemudian cambuk Agung Sedayu pun bergerak semakin cepat. Ujungnya menggapai dari segala arah, seakan-akan juntai cambuk Agung Sedayu itu telah bercabang menjadi berpuluh-puluh juntai yang bergerak bersama-sama. Lawannya memang tidak mempunyai kesempatan sama sekali. Ujung cambuk itu telah menyentuh dan menyentuh lagi. Sehingga lukanya pun menganga dimana-mana. Meskipun demikian, orang berjanggut pendek itu masih tetap mengadakan perlawanan. Kerisnya masih saja berputar. Angin yang menyambar-nyambar tubuh Agung Sedayu, masih saja mampu menyusup menembus ilmu kebalnya. Namun semakin lama sentuhan itu pun menjadi semakin lemah. Ayunan keris itu pun menjadi semakin lamban pula. “Kau memang anak iblis,“ geram orang itu, ketika tubuhnya telah dibasahi oleh darahnya yang mengalir dari beberapa buah lukanya. “Di Mataram hanya ada dua orang yang dapat mengalahkan aku. Ki Juru Martani dan Panembahan Senapati. Kau tidak akan dapat mengalahkan aku. Apalagi kau hanya seorang Lurah prajurit.” Suaranya terputus ketika ujung cambuk Agung Sedayu menyambar dadanya. Segores luka menganga di dadanya. Orang berjanggut pendek itu terhuyung-huyung. Namun ia masih dapat bertahan untuk berdiri. Dengan suara yang menghentak-hentak ia berkata, “Hanya ada tiga orang yang aku takuti di Pati. Kanjeng Adipati, Ki Naga Sisik Salaka dan Ki Gede Candra Bumi.” “Ki Gede Candra Bumi telah tidak berdaya lagi sekarang. Mungkin ia masih hidup, tetapi ia terluka parah. Di medan pertempuran, aku telah bertempur melawan Ki Gede Candra Bumi sebagai Senapati Pengapit.” Wajah orang itu menjadi tegang. Namun kemudian iapun mengumpat, “Gila kau. Tidak ada orang yang dapat mengalahkannya.” “Aku mengalahkannya,“ berkata Agung Sedayu, “bukan maksudku menyombongkan diri. Aku hanya ingin agar kau menyadari, dengan siapa kau berhadapan. Kau tidak dapat menentang kenyataan.” “Persetan,“ geram orang itu. Namun iapun kemudian telah berteriak nyaring. Dihempaskannya segala kemampuan, kekuatan dan ilmunya lewat telapak tangannya. Dilemparkannya kerisnya mengarah ke dada Agung Sedayu. Agung Sedayu terkejut. Dengan serta merta ia menggeliat. Namun karena hal itu tidak diduganya sama sekali, maka ia sedikit terlambat. Keris itu telah menembus ilmu kebalnya, menggores lengannya. Namun dalam pada itu, dengan gerak naluriah Agung Sedayu pun telah menghentakkan cambuknya. Demikian derasnya, dilambari dengan puncak ilmu cambuknya. Terdengar orang berjanggut pendek itu berteriak sekali lagi. Tetapi nadanya sangat berbeda. Cambuk yang dihentakkan oleh Agung Sedayu itu telah mengoyak lambungnya. Orang itu terdorong beberapa langkah surut. Namun kemudian iapun terhuyung-huyung. Ia ternyata tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya, sehingga sejenak kemudian iapun jatuh terguling. Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia sempat mengamati seluruh medan. Namun iapun segera yakin bahwa prajurit-prajuritnya akan mampu menguasai lawan-lawannya. Karena itu, maka Agung Sedayu itu pun kemudian melangkah mendekati orang berjanggut pendek itu. Meskipun masih tetap berhati-hati, Agung Sedayu berjongkok di sisinya. Orang itu sudah terluka terlalu parah. Namun ia masih juga tersenyum sambil berkata, “Kau jangan merasa dirimu menang. Ki Lurah.” Agung Sedayu tidak menjawab. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Kau pun tentu akan mati. Bisa yang melekat pada kerisku tidak akan dapat dilawan dengan obat apapun juga.” Senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Agung Sedayu yang tawar akan segala bisa itu memang tidak mencemaskan dirinya. Bisa itu tidak akan berarti apa-apa bagi tubuhnya. Tetapi Agung Sedayu tidak mau mengecewakan orang itu. Karena itu Agung Sedayu itu hanya berdiam diri saja. Di saat-saat yang gawat itu, orang berjanggut pendek itu masih sempat berkata dengan penuh dendam dan kebencian, “Aku akan mati bersamamu. Bisa itu akan bekerja dengan cepat.” Agung Sedayu masih tetap berdiam diri. Ia tidak sampai hati mengatakan, bahwa bisa pada keris orang itu tidak akan membunuhnya, justru pada saat terakhir dari hidupnya. Karena orang itu akan menjadi sangat kecewa. Namun orang itu menjadi tidak sabar. Keadaannya menjadi semakin parah, sementara Agung Sedayu masih tetap berjongkok di sampingnya. “He, kenapa kau tidak mati? “ orang itu mencoba menggeliat. Namun justru pada saat yang paling gawat itu ia mencoba menghentakkan badannya, sehingga karena itu maka sisa tenaganya telah dihabiskannya. Orang itu pun kemudian terkulai dengan lemahnya. Matanya menjadi kabur, sehingga akhirnya semuanya menjadi pekat. Agung Sedayu meraba dada orang itu. Namun dada itu sudah tidak bergerak lagi. Nafasnya pun telah berhenti sama sekali. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia bangkit berdiri, pertempuran memang sudah selesai. Beberapa orang cantrik telah menyerah. Sedangkan beberapa orang sempat melarikan diri. Namun para prajurit itu tidak mengejar mereka, justru karena mereka tidak menguasai medan dengan baik. “Kalian sudah mengambil langkah yang benar,“ berkata Agung Sedayu. Tanpa perintahnya, para prajuritnya pun sudah mengambil keputusan sebagaimana dikehendakinya. Namun peristiwa itu ternyata menghambat perjalanan pulang pasukan kecil prajurit Mataram itu. Mereka harus mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka parah, serta mereka yang gugur di pertempuran. Namun para prajurit itu harus segera bergerak. Para cantrik yang melarikan diri akan dapat memanggil kawan-kawan mereka. Mungkin pasukan Elang Perak, dan bahkan mungkin pasukan yang disebut Elang Tembaga. Karena itu, para prajurit Mataram itu telah membawa kawan-kawan mereka yang gugur dan terluka untuk segera menghindar dari bekas medan pertempuran. Di sisa malam itu, pasukan kecil itu bergerak dengan sendat. Mereka harus mengawasi para tawanan, membawa kawan-kawan mereka yang terluka dan yang gugur. Sementara itu, mereka telah melepaskan dua orang tawanan untuk memanggil kawan-kawan mereka, agar mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan mengubur kawan-kawan mereka yang terbunuh di peperangan. Menjelang fajar, pasukan kecil itu telah berada di sebuah padukuhan. Mereka terpaksa mengubur kawan-kawan mereka di sebuah kuburan yang terdapat di padukuhan itu, dengan tanda-tanda khusus. Hari itu, Agung Sedayu terpaksa menunda perjalanannya. Agung Sedayu memberi kesempatan para prajuritnya untuk beristirahat. Sementara itu sebenarnya Agung Sedayu sendiri juga memerlukan waktu untuk beristirahat. Meskipun tubuhnya tidak banyak terganggu oleh lukanya yang terhitung tidak berbahaya itu, namun ternyata bahwa sapuan udara yang tajam yang sempat menyusup ilmu kebalnya itu membuat Agung Sedayu merasa sangat letih. Namun demikian, Agung Sedayu tetap mengatur pengawasan di sekitar padukuhan itu. Mungkin sekali para pengikut orang berjanggut pendek itu masih tetap mendendam dan ingin membalas para prajurit Mataram dari Pasukan Khusus itu. Setelah beristirahat sehari, maka keadaan pasukan kecil itu nampak menjadi segar kembali. Namun ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka, terasa bahwa sebagian dari mereka tertinggal di padukuhan itu. Agung Sedayu memandangi beberapa onggok tanah yang masih merah. Disitulah beberapa prajuritnya yang menjadi korban di kuburkan. Perjalanan prajurit Mataram itu memang menjadi lamban. Selain mereka harus mengawasi beberapa orang tawanan, mereka pun membawa kawan kawan mereka yang terluka. Bahkan juga orang-orang dari pasukan Elang Emas itu. Ternyata perjalanan kembali ke Prambanan itu tidak dapat mereka tempuh dalam satu hari. Setiap kali iring-iringan itu harus berhenti, beristirahat dan mengobati orang-orang yang terluka dengan obat-obatan yang ada. Untunglah bahwa Agung Sedayu sendiri memiliki kemampuan ilmu obat-obatan yang diwarisi dari gurunya langsung, dan yang diketemukannya di dalam kitab yang ditinggalkan gurunya itu. Dengan obat-obatan yang sederhana itu, Agung Sedayu dapat membantu keadaan mereka yang terluka dan memberikan sedikit kesegaran, sehingga mereka masih dapat melanjutkan perjalanan. Ketika pasukan kecil itu beristirahat di sebuah padukuhan yang sudah tidak terlalu jauh lagi dari Prambanan, Agung Sedayu telah memerintahkan dua orang prajuritnya untuk mendahului dan memberikan laporan bahwa pasukan kecil itu sudah dalam perjalanan kembali. Namun kedua orang prajurit itu menjadi kecewa. Perkemahan di Prambanan itu telah kosong. Panembahan Senapati dan para prajurit Mataram telah kembali ke Mataram. Yang tinggal adalah sebagian dari para prajurit Mataram yang berada di Jati Anom, serta sebagian lagi para pengawal dari Sangkal Putung. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Swandaru masih menunggunya di Prambanan. Agung Sedayu tidak pernah merasa tidak senang terhadap adik seperguruannya yang kebetulan adalah kakak iparnya itu. Tetapi kadang-kadang Agung Sedayu merasa jenuh mendengar nasehat-nasehatnya. Apalagi jika Agung Sedayu sendiri sedang letih atau gelisah, atau perasaan-perasaan lain yang tidak menyenangkan hatinya. Maka mendengarkan nasehat-nasehat Swandaru rasa-rasanya menambah kelelahan jiwanya saja. Setiap kali Agung Sedayu juga merasa bersalah, bahwa ia tidak dapat menunjukkan tataran kemampuannya yang sebenarnya, dibandingkan dengan kemampuan adik seperguruannya. Tetapi rasa-rasanya Agung Sedayu tidak sampai hati untuk menunjukkan kebenaran tentang perbandingan ilmu mereka itu. Meskipun demikian Agung Sedayu menyadari, jika perbandingan ilmunya itu tidak juga segera diketahui oleh adik seperguruannya itu, maka nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk itu masih akan didengarnya terus. Bahkan sekali-sekali Agung Sedayu itu memang harus mengusap dadanya jika Swandaru itu seakan-akan marah kepadanya, karena Agung Sedayu itu dinilainya malas dan tidak merasa perlu untuk meningkatkan ilmunya. Tetapi setiap kali Agung Sedayu gagal untuk memaksa perasaannya, agar ia menunjukkan kepada Swandaru bahwa ilmunya jauh lebih tinggi dari ilmu adik seperguruannya, yang kebetulan adalah kakak iparnya itu. Demikianlah, sebagaimana diduganya, ketika Agung Sedayu memasuki perkemahan di Prambanan setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, ternyata bahwa Untara dan Swandaru masih berada di perkemahan itu. Demikian Agung Sedayu sampai di perkemahan, maka Agung Sedayu pun segera memberikan laporan kepada Untara, apa yang telah dialaminya sepanjang perjalanan. “Kau terluka?“ bertanya Untara kemudian. “Sedikit Kakang,” berkata Agung Sedayu. “Apakah senjata lawanmu itu tidak berbisa?” bertanya Untara kemudian. Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “Menurut pemiliknya, senjatanya itu memang sangat berbisa.” Untara mengangguk-angguk. Ia tahu bahwa adiknya memiliki kemampuan untuk menangkal segala macam bisa, bahkan bisa yang paling kuat sekalipun. “Serahkan para tawanan itu kepada kelompok yang bertugas, sementara kau dan prajurit-prajuritmu dapat beristirahat. Orang-orang yang terluka akan segera mendapat perawatan dan pengobatan sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan yang ada. Besok kalian dapat meneruskan perjalanan kembali ke Mataram.“ Agung Sedayu pun kemudian membawa para prajuritnya untuk beristirahat. Mereka mendapat kesempatan untuk menggeliat setelah beberapa hari mengalami ketegangan dalam tugas. Mereka dapat mandi sepuas-puasnya, tidur dan makan sebanyak-banyaknya. Sabungsari yang juga berada di perkemahan itu sempat menemuinya. Tetapi keduanya tidak dapat lama berbincang-bincang, karena Sabungsari pun harus bertugas. Agung Sedayu yang sedang melepaskan segala ketegangan itu menarik nafas dalam-dalam, ketika Swandaru datang menemuinya. “Aku dengar kau terluka, Kakang?“ bertanya Swandaru. “Siapa yang mengatakan kepadamu?“ Agung Sedayu justru bertanya. “Sabungsari. Baru saja aku bertemu ketika Sabungsari membawa sekelompok prajuritnya keluar perkemahan.” Agung Sedayu menarik nafas. Kepada Sabungsari ia memang mengaku bahwa ia terluka. Tetapi tidak berpengaruh sama sekali. “Bagaimana dengan luka itu?“ bertanya Swandaru pula. Agung Sedayu menunjukkan luka di lengannya sambil berkata, “Segores kecil. Tidak apa-apa.” Swandaru mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berdesis, “Untunglah bahwa senjata lawanmu itu tidak beracun. Jika senjata lawanmu itu termasuk senjata yang baik dengan warangan yang baik pula, maka sentuhan segores kecil itu akan dapat berakibat sangat buruk.” Namun Agung Sedayu menjawab, “Bukankah di dalam kitab Guru disebut, bagaimana kita melawan racun?” “Jika kita kebetulan tidak membawa obat itu?” “Aku selalu membawanya. Obat itu bukan saja dapat kita pergunakan untuk kita sendiri, tetapi juga untuk menolong orang lain yang terkena bisa atau racun,“ jawab Agung Sedayu. “Tetapi ada jenis racun dan bisa yang tidak dapat ditangkal dengan obat apapun kecuali dengan obat penangkalnya, yang khusus dibuat untuk jenis racun itu.” Agung Sedayu mengangguk. Katanya, “Ya. Memang ada.” “Karena itu, maka agaknya lebih baik jika kita tidak terluka sama sekali,“ berkata Swandaru kemudian. “Ya. Ya. Tentu lebih baik,“ sahut Agung Sedayu. “Berkali-kali aku katakan, kita harus berusaha untuk tidak terluka di pertempuran,“ berkata Swandaru dengan bersungguh-sungguh. Agung Sedayu hanya dapat menarik nafas panjang. Ia sudah menduga apa yang akan dikatakan oleh Swandaru itu. Meskipun demikian, Agung Sedayu itu mengangguk-angguk sambil berdesis, “Itu adalah yang terbaik. Tetapi suatu ketika kita dapat bertemu dengan lawan yang berilmu lebih tinggi dari ilmu yang kita miliki. Dalam keadaan yang demikian, bukan saja kita dapat terluka, tetapi kita dapat mati. Kita sudah mendapat banyak contoh bahwa orang berilmu tinggi dapat juga mati di pertempuran. Mungkin kita memiliki kelebihan secara pribadi dengan lawan yang kita temui di medan. Tetapi penguasaan medan, kerja sama di antara kelompok dan perang gelar, akan dapat menjebak kita dalam kesulitan.” “Memang Kakang. Tetapi maksudku, semakin siap kita memasuki medan pertempuran, maka kita akan merasa lebih mantap. Keselamatan kita akan lebih terjamin.” Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku mengerti. Aku sependapat.” Swandaru pun kemudian telah menanyakan apa yang dialami Agung Sedayu sepanjang perjalanannya mengikuti pasukan Pati yang sedang ditarik mundur. “Sebuah pertempuran kecil,“ berkata Agung Sedayu, “justru pada saat kami akan kembali ke Prambanan ini.” Dengan singkat Agung Sedayu menceritakan apa yang telah dialaminya. Ia tidak banyak bercerita tentang lawannya yang berjanggut pendek itu. “Kau masih beruntung Kakang,“ berkata Swandaru, “orang-orang yang mencegatmu agaknya merasa diri mereka berkemampuan sangat tinggi. Namun ternyata kemampuan mereka tidak lebih dari kemampuan para prajurit Mataram dan para pengawal Sangkal Putung. Barangkali juga para pengawal Tanah Perdikan. Bahkan pemimpinnya tidak mampu menilai pasukan yang sedang dihadapinya.” “Agaknya memang demikian,“ berkata Agung Sedayu. “Baiklah, Kakang. Bukankah sekarang kau mendapat kesempatan untuk beristirahat? Beristirahatlah. Kapan Kakang akan kembali ke Tanah Perdikan? Jika Kakang mempunyai kesempatan, aku minta Kakang singgah barang sehari di Sangkal Putung.” Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Besok aku akan kembali ke Mataram. Mungkin pada kesempatan lain saja aku singgah di Sangkal Putung.” “Besok?“ bertanya Swandaru, “Begitu cepat? Bukankah pasukan kecil Kakang itu perlu beristirahat?” “Kakang Untara menganggap bahwa waktu istirahat sampai esok sudah cukup. Kami akan mendapat kesepatan berisirahat lebih lama. Atau bahkan kesempatan beristirahat itu kami dapatkan setelah kami berada di Tanah Perdikan Menoreh.” Swandaru mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku akan meninggalkan perkemahan ini bersama pasukan Kakang Untara.” “Kapan?“ bertanya Agung Sedayu. Swandaru menggeleng. Katanya, “Aku belum tahu, Kakang. Tetapi Kakang Untara telah memerintahkan kepadaku, bahwa pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung yang masih ada di pesanggrahan ini akan meninggalkan pesanggrahan bersama pasukan Mataram yang ada di Jati Anom. Yang kemudian akan ditinggalkan di pesanggrahan ini sampai waktunya pesanggrahan ini dibongkar adalah sekelompok prajurit saja.” “Tetapi aku kira memang sudah tidak akan lama lagi. Pesanggrahan ini agaknya memang akan dibongkar. Demikian pula bekas pesanggrahan Kanjeng Adipati Pati.” “Ya. Pesanggrahan itu sekarang ditunggui pula oleh sekelompok prajurit Kakang Untara. Agaknya kedua pesanggrahan itu memang akan segera dibongkar.” Demikianlah, Swandaru pun kemudian telah minta diri untuk kembali ke baraknya. Namun sambil melangkah pergi iapun berkata, “Besok sebelum Kakang berangkat aku akan menemui Kakang. Agaknya seisi perkemahan ini akan mengetahui kapan Kakang akan berangkat besok.” Sepeninggal Swandaru, Agung Sedayu menarik nafas panjang. Rasa-rasanya ia sudah meletakkan beban yang cukup berat. Meskipun ia tidak berusaha untuk menghindarinya, tetapi jika beban itu diletakkan, maka dadanya merasa menjadi longgar. Agung Sedayu pun kemudian benar-benar merasa beristirahat, ketika ia berjalan-jalan di luar perkemahan. Beberapa ratus langkah dari perkemahan, Agung Sedayu telah berdiri di atas tanggul Kali Opak. Air Kali Opak memang tidak begitu deras dan tidak pula dalam. Hanya di beberapa tempat saja harus diseberangi dengan rakit. Tetapi ada bagian yang landai, yang untuk menyeberangi Kali Opak harus berjalan di tepian berpasir yang terhitung luas. Untuk beberapa lamanya Agung Sedayu berdiri seorang diri memandangi aliran Kali Opak. Namun kemudian iapun melangkah menelusuri tanggul. Angin bertiup mengusap tubuhnya yang basah oleh keringat, Terasa sentuhan yang segar di kulit wajahnya. Di dataran yang membentang di hadapannya, nampak tanaman di sawah yang rusak terinjak-injak kaki. Ketika prajurit Mataram dan Pati bergerak dalam gelar, maka di sawah itu tidak lagi nampak daun batang padi atau jagung yang hijau segar. Tetapi yang nampak adalah daun pedang dan tombak yang berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tanah itu tentu masih membekas darah. Dedaunan yang berserakan terinjak kaki prajurit itu tentu diperciki oleh warna darah yang tumpah. Beberapa saat ia merenung. Sudah beberapa kali ia berada di medan pertempuran atau bertempur seorang melawan seorang. Tetapi setiap kali hatinya masih saja menjadi resah jika ia mengenang tubuh yang berserakan terbujur lintang di medan pertempuran. Kemenangan memang memberikan kebanggaan bagi seorang prajurit. Tetapi apakah kematian dan kehancuran juga memberikan kebanggaan? Sejenak kemudian, Agung Sedayu itu pun melangkah meninggalkan tanggul Kali Opak itu, kembali ke perkemahan. Langkahnya satu-satu, seakan-akan tanpa disadari, karena angan-angannya masih saja tersangkut pada bayangan-bayangan yang mengerikan yang terjadi di peperangan. Di dalam perkemahan, Agung Sedayu mendapat perintah resmi dari Untara, yang mendapat kuasa untuk memimpin semua pasukan yang ada di perkemahan itu, besok saat matahari naik sepenggalah, bersama pasukan kecilnya berangkat kembali ke Mataram. Para tawanan dan orang-orang yang terluka parah saja-lah yang akan tetap tinggal di perkemahan sampai saatnya perkemahan itu dibongkar. Dengan demikian, maka Agung Sedayu pun segera mempersiapkan diri. Ia telah memerintahkan pasukannya pula untuk bersiap. Esok mereka akan berangkat kembali ke Mataram. Karena itu, para prajurit dari Pasukan Khusus itu telah mempergunakan waktu beristirahat mereka sebaik-baiknya. Mereka besok akan menempuh sebuah perjalanan lagi. Meskipun tidak terlalu jauh, tetapi sisa-sisa kelelahan mereka tentu masih akan terasa. Tetapi mereka merasa senang atas perintah itu. Mereka tentu akan segera kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, sehingga bergiliran mereka akan mendapat kesempatan untuk mengunjungi keluarga mereka. Demikianlah, ketika saat sudah mendekat di keesokan harinya, Swandaru benar-benar menyempatkan diri menemui Agung Sedayu untuk mengucapkan selamat jalan. Namun iapun masih juga berdesis, “Biarlah kitab Guru ada pada Kakang lebih dahulu. Tetapi aku minta Kakang lebih menekuni bidang kanuragan daripada bidang pengobatan.” “Baiklah. Aku akan mencoba,“ jawab Agung Sedayu. “Jangan sekedar mencoba,“ sahut Swandaru. Agung Sedayu termangu-mangu sejenak, sementara Swandaru berkata, “Kakang harus bersungguh-sungguh. Jika Kakang sekedar mencoba, maka hasilnya tidak akan pernah menjadi baik.” Agung Sedayu mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Aku memang harus bersungguh-sungguh.” Swandaru melihat kesungguhan di wajah kakak seperguruannya itu. Namun kemudian iapun berkata, “Selamat jalan Kakang. Pada kesempatan lain aku akan pergi ke Tanah Perdikan. Tetapi jika Kakang sempat, justru karena persoalan antara Mataram dan Pati telah selesai, kami berharap Kakang dan Sekar Mirah dapat mengunjungi Sangkal Putung.” “Baiklah,“ Agung Sedayu mengangguk angguk, “kami akan memerlukan datang ke Sangkal Putung. Sekar Mirah tentu akan senang menengok keluarga yang sudah agak lama tidak bertemu.” Demikianlah, beberapa saat kemudian para prajurit dari Pasukan Khusus yang dipimpin oleh Agung Sedayu itu pun sudah mulai bergerak meninggalkan perkemahan, yang tidak lama lagi akan dibongkar sebagaimana pesanggrahan pasukan Pati. Sambil melepas para prajurit dari Pasukan Khusus yang dipimpin oleh Agung Sedayu itu, Untara sempat berpesan, “Hati-hatilah Agung Sedayu. Mungkin masih ada orang yang akan memburumu sampai ke Tanah Perdikan. Keluarga orang berjanggut pendek yang kau bunuh itu atau saudara-saudara seperguruannya akan dapat mendendammu, justru karena pertempuran itu terjadi di luar arena perang antara Mataram dan Pati.” Agung Sedayu mengangguk angguk sambil menjawab, “Ya, Kakang. Aku akan berhati-hati.” “Kau harus segera melaporkan diri kepada Ki Tumenggung Yudapamungkas, atau langsung ke Ki Patih Mandaraka jika kau dapat menghadap.” “Ya, Kakang,“ jawab Agung Sedayu. Demikianlah, sejenak kemudian ketika matahari memanjat semakin tinggi, Pasukan Khusus itu berjalan beriringan menuju ke Mataram. Jalan yang dilalui oleh pasukan kecil itu masih nampak sepi. Gema perang yang terjadi di Prambanan masih belum hilang, sehingga masih banyak orang yang tidak berani turun ke jalan. Bahkan padukuhan-padukuhan di sebelah-menyebelah jalan itu masih nampak lengang. Orang-orang padukuhan yang dekat degan jalan itu memang ada yang mengungsi menjauh. Jika pasukan Pati mampu menembus pertahanan Mataram di Prambanan, maka jalan itu akan dilalui oleh pasukan Pati segelar-sepapan, sehingga nasib orang yang tinggal di sebelah-menyebelah jalan itu akan dapat menjadi sangat buruk. Perjalanan dari Prambanan ke Mataram memang merupakan jalan yang cukup panjang. Namun karena perjalanan yang mereka tempuh bukan jalan yang rawan, maka rasa-rasanya perjalanan itu tidak melelahkan. Meskipun demikian, ketika matahari sampai ke puncak langit, terasa betapa panasnya membakar ubun-ubun. Di sore hari, pasukan kecil itu mendekati gerbang kota. Pasukan kecil itu mulai mengatur diri dan menyusun barisan sebaik-baiknya. Ciri-ciri khusus Pasukan Khusus itu pun telah dipasang. Kelebet berujung runcing telah dipasang pada tunggulnya. Agung Sedayu tidak menduga bahwa pasukan kecilnya mendapat sambutan yang memberikan kebanggaan di setiap dada para prajuritnya. Agaknya di Mataram telah tersiar berita, bahwa Pasukan Khusus yang baraknya berada di Tanah Perdikan Menoreh dan dipimpin oleh Agung Sedayu itu termasuk salah satu di antara beberapa kelompok pasukan Mataram yang terbaik. Karena itu, Pasukan Khusus itu pula-lah yang mendapat perintah untuk mengikuti gerak mundur pasukan Pati sampai ke sebelah utara Pegunungan Kendeng. Orang-orang yang tinggal di Kotaraja, yang mendengar berita kehadiran Pasukan Khusus itu, telah turun ke jalan, memberikan penghormatan dan bahkan terdengar mereka bersorak untuk menyatakan kekaguman mereka. Agung Sedayu memang menjadi berdebar-debar. Jantungnya terasa berdentang lebih cepat dan lebih keras daripada saat ia memasuki perang gelar melawan Pati. Bahkan saat ia berada di sisi Panembahan Senapati sebagai Senapati Pengapitnya. Kakinya merasa menjadi berat, demikian pula para prajurit. Mereka seakan-akan bergerak sangat lamban meskipun mereka sudah berjalan cepat. Namun jalan menjadi terhambat oleh orang-orang yang ingin menyaksikan para prajurit dari Pasukan Khusus yang berada di Tanah Perdikan Menoreh itu. Di Mataram, para prajurit itu langsung menuju ke alun-alun. Dua orang penghubung telah menghubungi Tumenggung Yudapamungkas. Sebelum matahari turun ke punggung bukit, pasukan itu telah memasuki sebuah barak yang memang sudah disediakan. Ki Tumenggung Yudapamungkas sendiri yang menerima pasukan kecil itu dan kemudian langsung menerima laporan dari Agung Sedayu. “Kalian dapat beristirahat di sini sampai besok lusa,“ berkata Ki Tumenggung, “selanjutnya, kalian tentu ingin segera pulang ke barak kalian di Tanah Perdikan Menoreh, untuk selanjutnya menunggu giliran pulang menemui keluarga.” Demikianlah, para prajurit itu telah beristirahat sebaik-baiknya di barak itu. Di keesokan harinya, Ki Patih Mandaraka telah datang bukan saja menemui Agung Sedayu, tetapi Ki Mandaraka berniat menemui seluruh prajurit dari Pasukan Khusus itu untuk menyatakan terima kasihnya. “Kalian akan mendapat kesempatan cukup untuk bergantian mengunjungi keluarga kalian,“ berkata Ki Patih Mandaraka. Namun kebanggaan para prajurit semakin bertambah-tambah ketika Ki Patih Mandaraka berkata, “Nanti malam, Panembahan Senapati berkenan untuk mengunjungi kalian.” Sebenarnyalah, ketika malam turun, sekelompok pasukan Pengawal Istana telah datang ke barak itu ,mempersiapkan kedatangan Panembahan Senapati di barak itu. Para prajurit dari Pasukan Khusus itu menjadi sangat berbesar hati ketika Panembahan Senapati sendiri langsung mengucapkan terima kasih kepada mereka. Panembahan Senapati juga menyatakan bela sungkawa, bahwa beberapa orang terbaik di antara mereka terpaksa ditinggalkan dan diserahkan ke pangkuan bumi. “Mataram berhutang budi kepada kalian. Juga kepada para keluarga yang ditinggalkan oleh mereka yang gugur di medan,“ berkata Panembahan Senapati kemudian. Lalu katanya pula, “Tidak seorangpun di bumi Mataram yang menginginkan terjadinya perang. Tetapi perang itu ternyata tidak dapat kita elakkan dengan penuh kesadaran bahwa perang itu akan menimbulkan bencana. Tetapi jika kita tidak memaksa diri untuk perang, maka bencana yang akan menimpa Mataram menjadi jauh lebih besar. Karena itu, maka kita terpaksa memilih sesuatu yang sangat kita benci, yaitu perang.” Jantung para prajurit itu memang tergetar. Mereka memang tidak dapat menyingkir dari peperangan. Bukan karena para prajurit Mataram itu selalu bermimpi untuk membunuh. Panembahan Senapati memang tidak lama berada di barak itu. Beberapa saat kemudian Panembahan Senapati langsung meninggalkan barak itu di atas punggung kudanya, dikawal oleh beberapa kelompok pasukan Pengawal Istana, pasukan pilihan di antara prajurit terbaik Mataram. Namun kebanggaan para prajurit dari Pasukan Khusus yang berada di Tanah Perdikan Menoreh tidak kalah dari kebanggaan para prajurit dari pasukan Pengawal Istana itu. Di keesokan harinya, Ki Tumenggung Yudapamungkas telah melepas para prajurit dari Pasukan Khusus itu untuk kembali ke Tanah Perdikan Menoreh. Untuk selanjutnya, bergantian para prajurit itu akan mendapat kesempatan untuk menengok keluarga mereka masing-masing untuk waktu yang terhitung panjang. “Tetapi dengan demikian, kalian harus berbicara dengan para pengawal Tanah Perdikan, yang sebagian juga turut mempertahankan keberadaan Mataram dari serangan prajurit Pati, terutama yang datang dari arah utara,“ pesan Ki Tumenggung Yudapamungkas, “namun mereka telah mendapat kesempatan untuk mendahului kembali ke Tanah Perdikan. Pada saat para prajurit bergantian meninggalkan barak, para pengawal harus berada dalam kesiagaan yang tinggi. Banyak kemungkinan dapat terjadi. Mungkin ada sekelompok orang yang mempergunakan kesempatan untuk mencari keuntungan bagi mereka sendiri. Tetapi mungkin sekelompok orang yang membawa dendam ke Tanah Perdikan Menoreh.” Demikianlah, para prajurit dari Pasukan Khusus itu pun telah meninggalkan barak tempat tinggal dan landasan segala kegiatan mereka. Di situ pula mereka telah ditempa oleh Agung Sedayu, sehingga mereka benar-benar menjadi prajurit pilihan yang mendapat kehormatan langsung dari Panembahan Senapati sendiri, sehingga kedudukan mereka setingkat dengan kesatuan-kesatuan terbaik di Mataram. Di sepanjang perjalanan, iring-iringan itu memang menarik perhatian. Orang-orang padukuhan-padukuhan sepanjang jalan menuju ke Tanah Perdikan melihat kesatuan kecil itu dengan bangga. Satu dua orang yang mengetahui bahwa pasukan itu adalah Pasukan Khusus yang ada di Tanah Perdikan Menoreh, telah memberitahu tetangga-tetangga mereka. “Pasukan itu baru pulang dari Prambanan. Mereka telah berhasil mengusir pasukan dari Pati,“ berkata seseorang dengan bangga, seakan-akan dirinya sendiri-lah yang telah memenangkan perang itu. Ketika mereka menyeberang Kali Praga dengan beberapa buah rakit yang harus mondar-mandir, tukang-tukang rakit itu tidak mau menerima upah yang seharusnya memang menjadi hak mereka, karena mereka itu merasa bangga atas pasukan itu. “Cerita tentang Pasukan Khusus di Tanah Perdikan itu sudah lewat mendahului pasukan ini sendiri,“ berkata salah seorang dari tukang satang itu. “Ah, tidak ada yang pantas dipuji,“ desis salah seorang pemimpin kelompok. “Kemarin orang-orang yang menyeberang mengatakan bahwa Pasukan Khusus di Tanah Perdikan Menoreh sudah berada di Kotaraja. Mereka akan segera menuju ke Tanah Perdikan,“ sahut tukang satang itu. Pemimpin kelompok itu tertawa. Katanya, “Terima kasih atas pujian itu.” “Kami mengatakan sebagaimana dikatakan orang tentang Pasukan Khusus ini,“ berkata tukang satang yang lain. Para prajurit yang mendengar pujian itu pun tertawa. Namun mereka tidak dapat melupakan bahwa sebagian dari mereka harus tertinggal di perjalanan kembali ke Prambanan dari menjalankan tugas yang cukup berat. Agung Sedayu yang memimpin pasukan itu tidak sampai hati untuk benar-benar tidak membayar upah para tukang satang yang sudah bekerja keras itu. Meskipun semula tukang-tukang satang itu menolak, namun Agung Sedayu berkata, “Ki Sanak. Uang ini bukan uangku pribadi. Kami sudah mendapat biaya penyeberangan ini. Uang ini kami terima dari pimpinan kami di Mataram. Jadi uang ini berasal dari Ki Sanak pula. Bukankah Ki Sanak setiap kali telah dipungut pajak?” Akhirnya tukang-tukang satang itu menerima juga. Berkali-kali mereka mengucapkan terima kasih kepada Agung Sedayu dan para prajurit dari Pasukan Khusus itu. Ketika para prajurit dari Pasukan Khusus itu memasuki Tanah Perdikan Menoreh, mereka melihat bahwa perang yang terjadi di Prambanan itu hampir tidak ada pengaruhnya. Kehidupan di Tanah Perdikan itu berjalan seperti biasa. Kesibukan orang yang bekerja sehari-hari. Jalan-jalan yang tidak menjadi sepi. Namun Agung Sedayu mengetahui bahwa beberapa saat yang lalu, ketika pasukan pengawal Tanah Perdikan kembali dari Mataram, air mata pun telah menitik. Beberapa orang anak muda terbaik dari Tanah Perdikan ini telah gugur di medan pertempuran. Para prajurit dari Pasukan Khusus itu tidak mendapat sambutan yang berlebihan ketika mereka kembali memasuki barak mereka. Tetapi Ki Gede Menoreh, Prastawa, Glagah Putih dan beberapa orang bebahu Tanah Perdikan sudah menunggu. Mereka memang sudah mendapat pemberitahuan lebih dahulu, bahwa hari itu para prajurit dari Pasukan Khusus itu akan kembali ke barak. Upacara pun hanya berlangsung seperlunya. Kemudian, Ki Gede Menoreh sebagai Kepala Tanah Perdikan telah mempersiapkan penyambutan kedatangan para prajurit itu dengan acara makan bersama. Dengan bekerja bersama para prajurit yang bertugas di dapur, Tanah Perdikan Menoreh telah menyiapkan hidangan khusus untuk menyambut kedatangan para prajurit dari medan tugas mereka. Meskipun tidak berlebihan, tetapi sambutan itu memberikan kegembiraan bagi para prajurit yang baru saja menempuh perjalanan itu. Memang bukan perjalanan yang panjang. Tetapi sisa-sisa kelelahan yang masih melekat di dalam diri mereka masing-masing, menjadi sedikit terobati dengan sambutan yang menggembirakan itu. Demikianlah, para prajurit dari Pasukan Khusus itu merasa telah berada di rumah mereka kembali. Sementara itu, mereka pun mulai menunggu giliran untuk dapat pulang mengunjungi keluarga mereka. Hari itu Agung Sedayu sendiri juga belum pulang ke rumahnya. Bersama para pemimpin kelompok, Agung Sedayu telah mempersiapkan susunan giliran bagi para prajuritnya yang baru pulang dari medan perang, untuk beristirahat bersama keluarga mereka masing-masing. Baru di hari berikutnya. Agung Sedayu pulang dari barak Pasukan Khususnya. Keluarga Agung Sedayu tiba-tiba telah menjadi cerah. Seperti lampu yang semula kekurangan minyak, tiba-tiba telah dituang lagi sampai penuh. Bukan saja istrinya, Sekar Mirah, yang menyambut kedatangan Agung Sedayu, tetapi juga Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Rara Wulan. Bahkan juga Wacana dan istrinya, Kanthi, yang khusus datang untuk mengucapkan selamat kepada Agung Sedayu. Agung Sedayu yang baru saja menjalankan tugasnya yang berat itu, rasa-rasanya telah mendapat kesempatan untuk meletakkan segala macam beban di pundaknya. Ia benar-benar merasa lepas dari segala ikatan tanggung jawab dalam tugasnya. Hari itu, Sekar Mirah dan Rara Wulan menjadi sibuk di dapur. Glagah Putih telah memotong tidak hanya seekor ayam. Tetapi untuk menjamu tamu-tamunya yang berdatangan, maka Glagah Putih telah memotong beberapa ekor ayam. Di hari berikutnya, Agung Sedayu masih juga beristirahat di rumah. Ia sengaja tidak pergi ke barak, sebagaimana sudah diberitahukannya kepada para pembantunya. Para pembantunya-lah yang kemudian mengatur pelaksanaan pemberian waktu beristirahat bagi para prajuritnya. Tetapi ternyata Agung Sedayu tidak sempat menikmati waktu istirahatnya sampai tuntas sebagaimana direncanakannya. Ketika kemudian matahari condong di sisi barat langit, dua orang perwira prajurit Pengawal Istana, diantar oleh Ki Lurah Branjangan, telah datang ke rumah Agung Sedayu. Dengan jantung berdebar-debar Agung Sedayu mempersilahkan tamu-tamunya untuk naik ke pendapa dan kemudian duduk di pringgitan. Setelah mempertanyakan keselamatan perjalanan mereka, maka Agung Sedayu pun berkata, “Kedatangan Ki Lurah Branjangan serta Ki Sanak berdua telah mengejutkan aku.” “Aku hanya akan bertemu dengan Wulan saja, sekaligus menunjukkan jalan kedua orang perwira dari pasukan Pengawal Istana yang ingin menemui Ki Lurah Agung Sedayu, yang tidak berada di barak karena sedang beristirahat.” “Kami memang mempunyai keperluan dengan Ki Lurah,“ berkata salah seorang dari kedua orang perwira itu. Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil, sementara salah seorang tamunya itu berkata, “Kami membawa perintah langsung dari Panembahan Senapati bagi Ki Lurah Agung Sedayu.” Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Perintah apakah yang harus aku jalankan?” “Ki Lurah dipanggil menghadap. Ki Lurah melaporkan dari kepada Ki Patih Mandaraka, kemudian Ki Lurah akan dibawa manghadap oleh Ki Patih.” “Apakah yang harus aku lakukan kemudian?” bertanya Agung Sedayu di luar sadarnya. “Kami tidak mengetahuinya Ki Lurah. Kami hanya mendapat perintah untuk memanggil Ki Lurah. Besok sebelum matahari terbenam, Ki Lurah harus sudah berada di Kepatihan.” Demikianlah, setelah mendapat hidangan minum dan makan, kedua orang perwira dari Pasukan Pengawal Istana itu minta diri untuk kembali ke Mataram. “Kami tidak singgah di barak, Ki Lurah Branjangan.” “Silahkan. Aku juga masih akan berada di sini. Bahkan mungkin sampai besok. Cucuku ada di sini,“ jawab Ki Lurah Branjangan. Sepeninggal kedua orang prajurit dari pasukan Pengawal Istana itu, Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia memandang Sekar Mirah. Wajah Sekar Mirah yang baru saja menjadi terang itu redup kembali. Tetapi tidak terlalu lama. Sejenak kemudian iapun telah tersenyum kembali sambil mempersilahkan Ki Lurah Branjangan, “Marilah Ki Lurah. Silahkan melanjutkan menikmati hidangan seadanya ini.” Namun dalam pada itu. Agung Sedayu menangkap getar perasaan Sekar Mirah yang hanya sesaat itu. Sekar Mirah tentu merasa kecewa, bahwa demikian suaminya pulang, telah datang perintah kepadanya untuk tugas-tugas berikutnya. Meskipun mereka belum tahu tugas apa yang akan diemban, tetapi tugas itu tentu termasuk tugas yang penting, karena perintah itu datang langsung dari Panembahan Senapati. Namun justru karena itu, Agung Sedayu telah benar-benar mempergunakan hari-harinya yang pendek itu untuk beristirahat. Bersama Sekar Mirah, mereka sempat mengunjungi Prastawa. Singgah di rumah Ki Gede, dan pergi melihat sawahnya yang ditumbuhi batang-batang padi yang subur. “Aku tidak dapat menghindari perintah, apalagi yang datang langsung dari Panembahan Senapati, Mirah,“ berkata Agung Sedayu. “Aku mengerti, Kakang,“ jawab Sekar Mirah, “tetapi aku akan ikut menjadi bangga, justru karena Kakang mendapat kesempatan untuk melakukan tugas-tugas penting itu.” Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “Terima kasih atas pengertianmu Mirah. Aku berharap bahwa pada kesempatan lain, aku akan dapat beristirahat lebih lama lagi.” “Kau sudah cukup memberikan waktumu kepada keluarga, Kakang. Bukankah di hari-hari biasa, kau setiap hari dapat pulang?” “Hari-hari yang benar-benar terlepas dari bayangan tugas-tugas yang melelahkan.” “Tetapi kita sudah memilih untuk tinggal di dalam duniamu sekarang ini Kakang.” “Ya. Dengan pengertian dan doronganmu, mudah-mudahan aku dapat melakukan tugas-tugasku sebaik-baiknya.” Sebenarnyalah Sekar Mirah berusaha untuk mengerti bahwa suaminya bukan harus sekedar memenuhi keinginannya. Justru suaminya selalu berada di dalam bayang-bayang tugasnya sebagai seorang prajurit. Di keesokan harinya, Agung Sedayu harus pergi ke baraknya untuk memberitahukan dengan resmi bahwa hari itu pula ia harus pergi ke Mataram. Karena itu, Agung Sedayu harus membagi dan menyerahkan tugas-tugas kepemimpinannya di barak itu kepada pembantu-pembantunya. Hari itu, Agung Sedayu telah meninggalkan Tanah Perdikan lagi menuju ke Mataram. Dibawanya Glagah Putih besertanya, untuk kawan berbincang di perjalanan. “Kenapa kau tidak membawa satu dua orang pengawal?” bertanya Ki Lurah Branjangan. “Biarlah mereka menikmati saat-saat istirahat mereka,“ jawab Agung Sedayu. Demikianlah, seperti yang diperintahkan kepadanya, sebelum matahari terbenam Agung Sedayu sudah berada di Kepatihan untuk menghadap Ki Patih Mandaraka. Ketika ia menyampaikan permohonan untuk menghadap, Ki Lurah Agung Sedayu itu pun langsung dapat diterima, karena Ki Patih memang sudah menunggu kedatangan Agung Sedayu. “Kita akan langsung menghadap Panembahan Senapati,” berkata Ki Patih kemudian. Namun katanya pula, “Tetapi biarlah adik sepupumu itu menunggumu di sini.” “Baik Ki Patih,“ jawab Agung Sedayu, yang kemudian memberitahukan kepada Glagah Putih agar ia tinggal di Kepatihan. Glagah Putih menyadari bahwa ia tidak berwenang untuk ikut mendengar perintah Panembahan Senapati kepada kakaknya, seorang prajurit. Karena itu maka katanya, “Baik Kakang. Aku akan menunggu Kakang di Kepatihan.” Tetapi ternyata bahwa Glagah Putih telah mengenal beberapa orang abdi dalem Kepatihan, sehingga ia tidak merasa canggung. Ketika Raden Rangga masih ada, Glagah Putih sering berada di Kepatihan itu bersamanya. Setelah Raden Rangga tidak ada, Glagah Putih pun sekali-sekali masih juga berada di Kepatihan untuk tugas-tugas tertentu. Sementara itu, Ki Patih Mandaraka bersama Agung Sedayu telah menghadap langsung Panembahan Senapati. “Ada tugas yang penting, Agung Sedayu,“ berkata Panembahan Senapati kemudian. “Hamba Panembahan,“ sahut Agung Sedayu. “Aku tidak dapat mempercayakannya kepada orang lain. Apalagi adik-adikku. Beberapa orang Pangeran telah dikenal baik oleh orang-orang Pati,“ berkata Panembahan Senapati kemudian. Jantung Agung Sedayu menjadi berdebar. Ia sudah dapat menduga, tugas apa yang akan dibebankan kepadanya. Sebenarnyalah Panembahan Senapati itu pun berkata, “Agung Sedayu. Menurut laporan beberapa orang yang belum dapat dipastikan kebenarannya, Adimas Adipati bukan hanya menarik pasukannya sampai ke sebelah utara pegunungan Kendeng, tetapi justru telah berada di Pati. Tetapi kekalahannya yang terjadi di Prambanan tidak membuatnya jera. Adimas Pragola dari Pati justru menyusun kekuatan kembali untuk menghantam Mataram.” Agung Sedayu mengangguk-angguk. Perintah yang bakal diterima menjadi semakin terang di angan-angannya. Satu perjalanan jauh harus ditempuhnya. Sebenarnyalah Panemahan Senapati itu pun berkata, “Agung Sedayu. Aku ingin kau pergi ke Pati untuk memastikan, apakah benar Adimas Adipati Pragola telah menyusun kekuatan kembali. Aku minta kau dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat memberikan laporan. Aku minta kau berada di Pati untuk beberapa hari. Sudah tentu kau tidak perlu sendiri. Kau dapat membawa kawan untuk berbincang di perjalanan. Aku tidak menunjuk siapakah yang akan kau bawa. Terserah kepadamu. Atau seandainya kau tidak mau seorang kawan pun yang justru akan dapat mengganggumu.” Agung Sedayu mengangguk hormat sambil menjawab, “Hamba akan menjalankan segala perintah Panembahan.” “Kau tidak perlu berangkat besok. Mungkin kau masih ingin beristirahat satu dua hari lagi.“ “Terima kasih Panembahan. Jika demikian hamba masih dapat pulang dan bermalam satu malam di rumah hamba.” “Tentu,” jawab Panembahan Senapati, “selanjutnya, kau dapat memilih kawan. Prajurit atau bukan prajurit.” “Apakah hamba boleh membawa Glagah Putih bersama hamba?” bertanya Agung Sedayu. “Tentu. Aku juga sudah tahu tataran ilmu anak itu. Jauh lebih tinggi dari kewajaran anak-anak muda. Apalagi yang seumurnya,“ jawab Panembahan Senapati. “Ampun Panembahan. Glagah Putih tidak mempunyai kelebihan apa-apa selain kenakalannya,“ berkata Agung Sedayu agak ragu. Tetapi Panembahan Senapati itu pun berkata, “Kau pun tentu akan mengatakan bahwa kau pun tidak mempunyai kelebihan apa-apa, meskipun kau tentu tidak akan lupa bahwa kita pernah menjadi pengembara bersama.” Agung Sedayu yang tersenyum itu tidak menjawab, sementara Panembahan Senapati bertanya kepada Ki Patih, “Bagaimana pendapat Paman Mandaraka?” Ki Patih Mandaraka pun tertawa pula. Katanya, “Aku sependapat dengan Angger Panembahan. Ki Lurah Agung Sedayu yang tidak mempunyai kelebihan apa-apa itu biarlah pergi ke Pati untuk melihat apa yang sekarang ini berkembang di Pati, dalam hubungannya dengan cerita beberapa orang petualang bahwa Pati yang gagal menyerang Mataram itu telah mempersiapkan kekuatan baru untuk menentang Mataram.” Agung Sedayu hanya dapat menundukkan kepalanya, sementara Panembahan Senapati dan Ki Patih Mandaraka masih saja tertawa. Demikianlah, beberapa saat kemudian setelah memberikan beberapa pesan lagi, Panembahan Senapati pun telah memperkenankan Agung Sedayu meninggalkan istana. “Jika kau akan berangkat ke Pati, kau sudah tidak perlu menemui aku lagi, Agung Sedayu. Pesanku sudah cukup banyak, dan kau pun sudah mengetahui apa yang sebaiknya kau kerjakan.” “Hamba Panembahan,“ jawab Agung Sedayu sambil mengangguk hormat. “Nah, selamat malam. Aku kira kau akan bermalam di Kepatihan,“ berkata Panembahan Senapati kemudian. “Hamba Panembahan, jika Ki Patih Mandaraka memperkenankan.” “Ia datang bersama adik sepupunya,“ berkata Ki Patih. “Maksud Paman. Agung Sedayu datang bersama Glagah Putih?” “Ya, Ngger.” “Kenapa anak itu tidak kau ajak kemari?“ bertanya Panembahan Senapati kepada Agung Sedayu. Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Patih-lah yang menjawab, “Aku minta Glagah Putih tinggal di Kepatihan.” Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya, “Biarlah Agung Sedayu yang memberitahukan kepadanya.” Demikianlah, Ki Patih Mandaraka pun telah mohon diri bersama Agung Sedayu meninggalkan istana untuk pergi ke Kepatihan, karena Agung Sedayu dan Glagah Putih akan bermalam di sana. Di Kepatihan, Agung Sedayu masih mendapat beberapa pesan dari Ki Patih Mandaraka. Bukan saja sebagai Patih di Mataram, tetapi juga sebagai orang tua. “Kau jangan merasa berkecil hati bahwa kau telah ditunjuk untuk menjalankan tugas ini, Agung Sedayu,“ berkata Ki Patih Mandaraka. “Tidak Ki Patih, Kami berdua tentu akan merasa bangga jika kami dapat menjalankan tugas ini dengan baik.” “Jika tiba-tiba saja kau yang teringat oleh Angger Panembahan Senapati untuk menjalankan tugas ini, justru kau adalah terhitung orang terakhir yang menjalankan tugas yang berat untuk mengikuti gerak mundur Pasukan Pati. Itu adalah karena Panembahan Senapati tidak dapat melupakan kau selama pengembaraanmu bersamanya, sebagaimana Panembahan Senapati mempercayaimu untuk menjadi Senapati Pengapitnya. Bagi Panembahan Senapati, kau adalah orang yang khusus. Meskipun kedudukanmu tidak lebih dari seorang Lurah prajurit, tetapi ternyata kau mendapat kepercayaan yang sangat besar dari Panembahan Senapati.” “Satu kebanggaan tersendiri, Ki Patih,“ desis Agung Sedayu. Ki Patih Mandaraka tersenyum. Kemudian katanya, “Nah, sudahlah. Kita akan makan bersama. Kemudian kau dan Glagah Putih dapat beristirahat di bilik yang telah disediakan bagi kalian berdua.” Agung Sedayu, apalagi Glagah Putih, memang merasa canggung untuk makan bersama Ki Patih Mandaraka. Tetapi Ki Patih telah memerintahkannya. Malam itu, di dalam bilik yang sudah disiapkan bagi mereka, Agung Sedayu telah menceritakan perintah Panembahan Senapati itu kepada Glagah Putih. Kemudian Agung Sedayu pun telah memberitahukan pula, bahwa Agung Sedayu diperkenankan mengajak Glagah Putih untuk menjalankan tugas itu. Ternyata Glagah Putih menjadi gembira atas kesempatan itu. Katanya, “Terima kasih Kakang. Dengan demikian maka pengalamanku akan bertambah.” “Besok lusa kita berangkat. Apakah kau akan singgah di Jati Anom untuk bertemu dengan Paman Widura?” “Baik Kakang. Kita akan singgah, jika itu tidak menghambat perjalanan kita,“ jawab Glagah Putih. “Apakah Kakang juga akan singgah di Jati Anom?“ bertanya Glagah Putih kemudian. “Tentu. Jika kau singgah, aku pun akan singgah.” “Maksudku, menemui Kakang Untara. Atau bahkan singgah di Sangkal Putung?” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dalam kesibukan tugas dan ketegangan yang masih dialaminya dalam tugas-tugas barunya, Agung Sedayu rasa-rasanya masih belum ingin bertemu dengan Swandaru. Karena itu, meskipun ia tidak tahu apakah Swandaru masih berada di bekas perkemahan pasukan Mataram atau tidak, maka iapun menjawab, “Swandaru masih berada di perkemahan bersama Kakang Untara. Mereka bertugas sampai perkemahan itu dibongkar. Juga perkemahan orang-orang Pati.” Glagah Putih tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-angguk saja. Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih pun merasa segan untuk bertemu dengan Swandaru, meskipun Swandaru tidak pernah menilainya sebagaimana ia menilai kemampuan Agung Sedayu. Malam itu ternyata Glagah Putih tidak segera dapat tidur. Ia masih saja memikirkan tugas yang dibebankan kepada Agung Sedayu, dan yang kemudian melimpah pula kepadanya. Ia merasa bangga, bahwa Panembahan Senapati memberikan ijin langsung ketika Agung Sedayu menyebut namanya untuk menyertai tugasnya yang berat itu, meskipun ia bukan seorang prajurit. Namun akhirnya, Glagah Putih pun telah terlelap pula. Pagi-pagi keduanya sudah bangun dan berbenah diri. Kemudian, ketika matahari terbit, keduanya bermaksud mohon diri untuk segera berangkat kembali ke Tanah Perdikan. Tetapi Ki Patih Mandaraka masih mempersilahkan keduanya untuk makan pagi. Selagi mereka makan, Ki Patih masih sempat bertanya kepada Glagah Putih, “Apakah ikat pinggang itu masih ada padamu?” Glagah Putih menyingkapkan bajunya sambil berkata, “Tentu, Ki Patih.” Ki Patih tersenyum. Katanya, “Bagus. Semakin lama ikat pinggang itu akan menjadi semakin akrab denganmu.” “Ya, Ki Patih,“ jawab Glagah Putih sambil mengangguk-angguk kecil. Beberapa saat kemudian, Agung Sedayu dan Glagah Putih pun telah meninggalkan Kepatihan. Keduanya pun kemudian melarikan kuda mereka di sepanjang jalan kota, meskipun tidak terlalu kencang. Baru kemudian, ketika mereka keluar dari pintu gerbang, keduanya telah melecut kuda mereka, sehingga sejenak kemudian kuda-kuda itu telah berderap semakin cepat. Angin yang sejuk terasa mengusap wajah-wajah mereka. Di langit, selembar awan terapung hanyut ke arah Gunung Merapi. Pepohonan di sebelah-menyebelah jalan seakan-akan terbang ke belakang, sementara pematang sawah bagaikan berputar bersama padukuhan-padukuhan di tengah-tengah bulak persawahan yang luas. Orang-orang yang berpapasan, dengan cepat berusaha menepi. Ketika matahari naik semakin tinggi, keduanya telah sampai ke tepian Kali Praga. Keduanya pun langsung membawa kuda mereka naik ke atas sebuah rakit yang cukup besar, bersama beberapa orang penumpang yang lain. Setiap kali kuda Glagah Putih yang besar dan tegar itu masih saja menarik perhatian banyak orang. Seorang pedagang yang nampaknya cukup berhasil telah menanyakan dari mana Glagah Putih mendapatkan kuda itu. “Dari seorang sahabat, Ki Sanak. Sahabatku memiliki beberapa ekor kuda yang baik. Ia telah memberikan kepadaku seekor,“ jawab Glagah Putih. “Jika ada orang yang menjual kuda sebaik itu, aku mau membeli dengan harga berapapun juga,“ berkata orang itu. Glagah Putih mengetahui maksudnya. Tetapi ia sama sekali tidak menanggapinya. Namun orang itu kemudian berkata selanjutnya, “Apakah kau tidak ingin menukarkan kudamu, Ki Sanak? Jika kau sudah terlalu lama memiliki dan barangkali sudah menjadi jemu.” Tetapi Glagah Putih tersenyum sambil menjawab, “Tidak Ki Sanak. Aku tidak merasa jemu dengan kudaku ini.” Tiba-tiba saja Agung Sedayu-lah yang menyahut, “Barangkali Ki Sanak juga tertarik pada kudaku? Aku-lah yang sudah merasa jemu dengan kudaku. Aku ingin menggantinya dengan kuda setegar kuda adikku itu.” Orang itu mengerutkan keningnya. Sambil memandang kuda Agung Sedayu ia berkata, “Kudamu biasa-biasa saja Ki Sanak.” Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Justru karena itu, aku ingin kuda yang tidak bisa.” Pedagang itupun tertawa pula. Demikianlah, rakit mereka pun bergerak semakin dekat dengan tepian di seberang. Pedagang itu tidak habis-habisnya mengagumi kuda Glagah Putih. Ketika kemudian mereka turun selelah membayar upah penyeberangan, pedagang itu masih juga berkata, “Jika kapan-kapan kau menjadi jemu dengan kudamu, katakan kepadaku, Ki Sanak.” “Kemana aku mencari Ki Sanak?“ berkata Glagah Putih. “Aku tinggal di padukuhan Karang Gayam, Kademangan Kleringan, Ki Sanak. Namaku Wirakerti.” “Jadi Ki Sanak orang Kleringan?” bertanya Glagah Putih dengan nada tinggi. “Ya. Apakah kalian pernah pergi ke Kleringan?“ bertanya orang itu. “Aku orang Tanah Perdikan Menoreh. Aku banyak mengenal orang-orang Kleringan. Aku juga mengenal Ki Demang,“ jawab Glagah Putih. “O,” pedagang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Syukurlah jika demikian. Datang saja ke rumahku meskipun kau tidak ingin mejual kudamu. Aku sudah merasa senang mendapat kesempatan mengamatinya.” “Terima kasih, Ki Sanak,“ jawab Glagah Putih. Namun mereka pun kemudian berpisah. Glagah Putih dan Agung Sedayu mengambil jalan yang langsung menuju ke padukuhan induk Tanah perdikan, sementara orang itu menuju ke Kleringan. Dalam pada itu, Glagah Putih dan Agung Sedayu telah berpacu kembali menuju ke padukuhan induk. Ketika mereka sampai di rumah, ternyata Ki Lurah Branjangan masih ada di rumah itu pula. Setelah beristirahat sejenak sambil minum-minuman hangat, Sekar Mirah yang segera ingin mengetahui tugas apa yang harus diemban oleh suaminya telah bertanya, “Perintah apakah yang Kakang terima dari Panembahan Senapati?” Agung Sedayu pun telah menceritakan dengan singkat tugas yang harus dilakukannya. Ia memilih berangkat bersama Glagah Putih daripada mengajak satu dua orang prajurit dari Pasukan Khususnya, yang sedang menikmati masa-masa istirahat mereka. “Jadi Kakang Glagah Putih akan ikut bersama Kakang Agung Sedayu dalam tugas ini?“ bertanya Rara Wulan “Ya. Ia akan pergi bersamaku untuk beberapa hari lamanya.“ “Tetapi Kakang harus membawanya pulang seutuhnya,“ berkata Rara Wulan. Agung Sedayu tersenyum. Tetapi ia masih bertanya, “Apa yang kau maksudkan? Apakah aku harus membawanya pulang tanpa cacat, tanpa segores luka pun di tubuhnya, atau aku harus membawanya pulang dengan hatinya yang masih utuh tanpa dilukai oleh gadis-gadis Pati?” “Ah, Kakang. Pokoknya utuh semuanya,“ jawab Rara Wulan. Yang mendengar jawaban itu tertawa. Wajah Rara Wulan tiba-tiba saja menjadi panas. Sambil menundukkan kepalanya ia berdesah beberapa kali. “Jangan cemas, Wulan,“ berkata Agung Sedayu kemudian, “aku akan membawanya pulang dengan tanpa cacat. Tubuh dan hatinya.” Rara Wulan masih saja berdesah. Tetapi bahwa Agung Sedayu masih mempunyai waktu satu dua hari sebelum berangkat, telah membuat Sekar Mirah agak terhibur. Ia masih sempat berbincang panjang dengan suaminya, yang baru saja pulang dari medan perang dengan mempertaruhkan jiwanya. Namun Sekar Mirah pun menyadari bahwa tugas yang diemban oleh Agung Sedayu itu pun bukan tugas yang ringan. Ia akan berada di tempat yang asing dalam tugas sandi. Namun akhirnya, sampai pula saatnya Agung Sedayu dan Glagah Putih harus berangkat meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Mereka masih akan singgah di sebuah padepokan kecil yang ditinggalkan oleh Kiai Gringsing. Padepokan Orang Bercambuk, yang kemudian dipimpin oleh Ki Widura. Semalam menjelang keberangkatan Agung Sedayu dan Glagah Putih, keduanya sempat mengunjungi dan minta diri kepada Ki Gede. Sedangkan untuk sementara Agung Sedayu minta agar Ki Lurah Branjangan berada di barak pasukan khususnya. Meskipun ia sudah mengatur tugas bagi para pembantunya, namun Ki Lurah Branjangan masih tetap mempunyai pengaruh di barak Pasukan Khusus itu. Meskipun Sekar Mirah mengerti sepenuhnya bahwa suaminya menjalankan tugasnya, namun rasa-rasanya berat juga melepaskannya pergi tanpa mengetahui kapan ia akan kembali. Demikian pula Rara Wulan. Meskipun kedudukan Rara Wulan masih belum sama seperti Sekar Mirah yang melepas Agung Sedayu, namun hati Rara Wulan pun terasa bergejolak pula. Berkuda Agung Sedayu dan Glagah Putih meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Mereka melarikan kuda mereka menyusuri bulak-bulak panjang dan pendek. Keduanya sama sekali tidak singgah di Mataram. Mereka justru menghindari agar perjalanan mereka tidak terhambat. Di perjalanan, keduanya harus berhenti untuk beristirahat serta memberi kesempatan kuda-kuda mereka istirahat pula. Sebagaimana mereka menghindari Kotaraja, maka mereka pun telah menghindari bekas perkemahan pasukan Mataram dan pasukan Pati di Prambanan. Mereka menyeberangi Kali Opak dan Kali Dengkeng beberapa ratus patok dari perkemahan. Kemudian keduanya melarikan kuda mereka langsung menuju Jati Anom, melingkar di kaki Gunung Merapi. Tidak ada hambatan yang mereka temui di perjalanan. Meskipun ada beberapa padukuhan yang masih nampak sepi, namun pada umumnya orang-orang yang mengungsi dari sekitar jalur jalan yang diperkirakan akan dilalui pasukan Pati, telah kembali. Padukuhan-padukuhan di sekitar Jati Anom pun telah mulai terisi. Pada umumnya orang-orang laki-laki telah kembali ke rumah mereka untuk mempersiapkan tempat bagi keluarganya. Bahkan ada juga satu dua keluarga yang seluruhnya telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Sementara itu, beberapa kelompok prajurit telah berada di Jati Anom untuk menjaga kemungkinan buruk yang dapat terjadi, jika ada sekelompok orang yang ingin mencari kesempatan bagi kepentingan mereka sendiri. Bahkan kemungkinan timbulnya kejahatan terhadap orang-orang yang pulang dari pengungsian. Sementara barang-barang yang berharga masih terkumpul di satu tempat khusus, sebagaimana mereka simpan selama mereka mengungsi. Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih memang tidak singgah dimana-mana. Tetapi kadang-kadang keduanya memang harus berhenti jika mereka berpapasan dengan sekelompok prajurit yang sedang meronda. Kepada para prajurit yang menghentikan mereka, Agung Sedayu dan Glagah Putih harus menjawab beberapa pertanyaan sebelum mereka diperkenankan melanjutkan perjalanan. Tetapi setiap kali keduanya menyatakan akan pergi ke padepokan kecil di Jati Anom yang dipimpin oleh Ki Widura, maka mereka dipersilahkan melanjutkan perjalanan. Kedatangan Agung Sedayu dan Glagah Putih telah disambut dengan gembira sekali oleh Ki Widura. Selain mereka memang sudah lama tidak bertemu, Widura juga selalu berdebar-debar jika ia mengingat anaknya yang berada di dalam lingkungan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Ki Widura tahu bahwa Glagah Putih dan Agung Sedayu terlibat dalam perang antara Mataram dan Pati. Namun ternyata bahwa di padepokan kecil itu terdapat empat orang yang sebelumnya tidak dikenal oleh Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tetapi Ki Widura pun segera memperkenalkan mereka, bahwa mereka adalah para pengungsi yang menyingkir dari para prajurit Pati, yang kadang-kadang bersikap bermusuhan dengan orang yang tidak bersedia membantu mereka memusuhi Mataram. “Siapakah Angger berdua ini?“ bertanya Ki Lurah Wiranata, salah seorang dari keempat orang pengungsi itu. Ternyata Agung Serayu tetap bersikap berhati-hati, justru karena tugasnya. Karena itu, maka iapun menjawab, “Aku kemenakan Ki Widura, Ki Sanak. Sedang adik sepupuku ini adalah putra Paman Widura sendiri.” “O,“ orang itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya pula, “Sekarang Angger tinggal dimana?” “Kami tinggal di Tanah Perdikan Menoreh, Ki Sanak. Istriku orang Tanah Perdikan itu. Sementara ini aku-lah yang menggarap sawah dan ladangnya, warisan dari orang tuanya.” Ternyata Ki Widura tanggap akan sikap Agung Sedayu. Iapun sudah menduga bahwa Agung Sedayu tentu sedang mengemban tugas penting, sehingga ia tidak dapat menyebut kenyataan tentang dirinya kepada orang yang memang belum begitu dikenalnya. Karena itu, maka justru iapun berkata, “Sementara ini anakku ikut bersamanya untuk membantunya.” Orang-orang itu mengangguk-angguk. Meskipun agaknya tersimpan beberapa pertanyaan lagi, namun orang itu sudah tidak bertanya lebih jauh. Agung Sedayu dan Glagah Putih bermalam satu malam di padepokan kecil itu. Ketika keduanya mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Ki Widura sendiri, keduanya telah mengatakan tugas apa yang sebenarnya sedang mereka pikul itu. “Hati-hatilah,“ pesan Ki Widura, “dalam suasana dan persiapan perang, para prajurit kadang-kadang menjadi kehilangan kesempatan untuk merenungi langkah-langkah yang mereka ambil. Mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan, justru karena mereka sendiri selalu merasa terancam.” “Ya, Paman,“ jawab Agung Sedayu. Namun dalam pada itu Glagah Putih bertanya, “Dimana kuda-kuda kita akan kita tinggalkan selama kita pergi ke Pati? Rencana kami kuda-kuda itu akan kami tinggalkan disini. Tetapi dengan demikian tentu akan menimbulkan pertanyaan pada keempat orang itu.” “Memang mungkin. Sementara itu aku juga masih belum dapat mengatakan apakah mereka benar-benar dapat dipercaya. Mereka nampaknya memang benar-benar menyingkir dari tekanan para prajurit Pati. Sementara itu, selama mereka di sini, mereka juga tidak berbuat sesuatu.” “Meskipun demikian, bukankah kita harus berhati-hati, Ayah?” “Ya,“ Ki Widura mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi biarlah kuda-kuda itu di sini. Mereka tidak akan tahu kemana kalian pergi.” Agung Sedayu mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah, Paman. Kami akan meninggalkan kuda-kuda kami di sini. Kami berharap bahwa orang-orang itu benar-benar orang yang sedang mengungsi, sehingga tidak mempunyai niat buruk, terutama kepada Mataram. Kemudian kami pun yakin bahwa mereka tidak akan tahu, kemana kami akan pergi.” Keesokan harinya, ketika keduanya minta diri untuk meneruskan perjalanan, Agung Sedayu dan Glagah Putih mengatakan bahwa mereka hanya akan melihat-lihat rumah mereka di Jati Anom dan Banyu Asri. Demikianlah, Agung Sedayu pun sudah mulai menempuh perjalanan mereka yang panjang dengan tugas yang berat pula. Glagah Putih menganggap bahwa perjalanan itu merupakan bagian dari laku yang harus ditempuhnya untuk menyempurnakan ilmunya. Ia akan mendapatkan banyak pengalaman yang akan berarti dalam hidupnya kelak. Karena itu, Glagah Putih Justru merasa bahwa tugas itu merupakan satu keberuntungan baginya. Langit yang bersih dan sinar matahari pagi yang menyiram batang padi di sawah, membuat pagi itu menjadi cerah. Embun yang bergayutan di ujung-ujung daun mulai menguap ketika panas matahari menyentuhnya. Meskipun perang setelah selesai, tetapi sawah yang terbentang luas itu masih belum digarap dengan baik. Masih ada kotak-kotak sawah yang masih belum dibersihkan dari rerumputan liar yang tumbuh di sela-sela batang padi. Di jalan-jalan masih belum nampak banyak orang yang berjalan hilir mudik. Baru satu dua orang yang berjalan dengan tergesa-gesa melintasi bulak yang panjang. Dengan demikian, jalan bulak yang panjang itu masih terasa sangat lengang. Ketika seorang laki-laki yang sudah separuh baya lewat mendahului mereka berdua, Agung Sedayu pun berusaha berjalan di sampingnya, sementara Glagah Putih pun melangkah dengan langkah-langkah panjang di belakangnya. Ternyata orang yang sudah separuh baya itu nampak menjadi sangat gelisah. Beberapa kali ia berpaling. Kemudian memandang Agung Sedayu dan Glagah Putih berganti-ganti. “Ki Sanak,“ sapa Agung Sedayu kemudian, “apakah aku boleh bertanya serba sedikit sambil berjalan bersama?” Orang itu nampak ragu-ragu. Namun ketika beberapa kali ia memandang wajah Agung Sedayu dan Glagah Putih, agaknya telah terjadi perubahan sikap batinnya terhadap kedua orang yang berjalan di sebelahnya itu. Meskipun masih dengan ragu, tetapi orang itu justru bertanya, “Apa yang akan kau tanyakan?” “Kenapa jalan yang cukup lebar, rata dan nampaknya terpelihara ini menjadi demikian sepi dan lengangnya?” “Banyak orang yang pergi mengungsi Ki Sanak,“ jawab orang yang sudah separuh baya itu. “Bukankah perang sudah selesai? Apakah mereka masih belum kembali dari pengungsian?” “Sebagian memang sudah. Tetapi sebagian memang belum. Sawah itu pun nampak ada yang sudah dipelihara dengan tertib, tetapi masih ada yang belum dijamah sejak kami pergi mengungsi.” “Kenapa masih ada yang belum bersedia kembali? Bukankah sudah tidak ada yang ditakuti lagi?” “Segala-galanya belum mapan di sini, Ki Sanak. Memang sebagian prajurit telah kembali. Tetapi jumlahnya nampaknya masih belum memadai. Karena itu, masih ada orang-orang jahat yang berani memanfaatkan keadaan ini untuk mencari kekayaan buat diri sendiri.” Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia memang sudah menduga, bahwa setelah perang akan banyak persoalan yang timbul. Orang-orang yang pada dasarnya mempunyai watak dan sifat yang kurang baik, suasana setelah perang akan dapat mendorongnya untuk melakukannya lagi. Apalagi jika orang-orang itu menjadi kekurangan, atau pada dasarnya memang belum menghentikan kegiatannya itu. Dalam pada itu, setelah beberapa saat mereka berjalan bersama, orang itu pun kemudian berkata, “Rumahku di padukuhan yang nampak itu. Karena itu, di simpang tiga itu aku akan berbelok ke kanan.” “O,“ Agung Sedayu mengangguk-angguk, “silahkan Ki Sanak. Aku akan berjalan terus.” Ketika orang itu berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih berjalan terus. Namun orang itu sempat berpesan, “Berhati-hati. Semakin jauh Ki Sanak berjalan, maka jalan-jalan akan menjadi semakin sepi. Banyak padukuhan masih kosong. Bahkan agak jauh ke utara, keadaan masih terlalu gawat.” “Kenapa?“ bertanya Agung Sedayu. “Para prajurit Pati yang terdesak mundur, nampaknya mengalami kesulitan di sepanjang perjalanan mereka. Kakakku yang datang dari utara mengatakan, bahwa masih ada kelompok-kelompok kecil prajurit Pati yang menelusuri jalan kembali. Di sepanjang jalan mereka harus mendapatkan makanan dan minuman. Tetapi kadang-kadang mereka tidak sekedar ingin makanan dan minuman, tetapi juga perhiasan dan barang-barang berharga lainnya.” “Mereka tentu bukan prajurit Pati,“ jawab Agung Sedayu. “Lalu, bagaimana aku harus menyebut, jika mereka pergi ke selatan bersama pasukan yang dipimpin sendiri oleh Kanjeng Adipati Pragola?” “Prajurit Pati yang sebenarnya, jumlahnya tidak mencukupi. Karena itu Kanjeng Adipati Pati telah mengumpulkan orang laki-laki yang tinggal di sebelah utara Gunung Kendeng. Nah, laki-laki yang berasal dari daerah yang demikian luasnya itu, tentu ada di antaranya yang kehilangan pegangan ketika mereka mengalami kesulitan.” Orang itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya sambil melangkah melanjutkan perjalanan lewat jalan yang lebih sempit, “Namun bagaimanapun juga, kalian harus berhati-hati.“ “Baiklah Ki Sanak. Terima kasih atas peringatan Ki Sanak,“ jawab Agung Sedayu. Demikianlah, Agung Sedayu dan Glagah Putih pun telah meneruskan perjalanan mereka. Ketika mereka lapar dan haus, ternyata mereka sangat sulit untuk menemukan sebuah kedai yang membuka pintunya. Namun akhirnya Agung Sedayu dan Glagah Putih berhasil menemukan sebuah kedai yang meskipun kecil, namun agaknya mencukupi kebutuhan sekedar untuk mengobati haus dan lapar. Apalagi Agung Sedayu dan Glagah Puth telah terbiasa makan sederhana. Sementara itu, matahari telah mulai turun. Sinarnya bagaikan membakar ikat kepala. Di kejauhan nampak bayangan ndeg amun-amun, sejak matahari menjadi semakin rendah. Tetapi demikian keduanya memasuki kedai itu, maka terasa satu suasana yang lain. Beberapa orang sudah duduk di dalam kedai itu. Di hadapan mereka sudah dihidangkan mangkuk-mangkuk minuman. Namun agaknya mereka sudah cukup lama duduk di kedai itu. Agung Sedayu dan Glagah Putih mencoba untuk tidak menghiraukan mereka. Keduanya hanya ingin makan dan minum. Tidak lebih. Seorang yang bertubuh tegap dan berdada bidang dengan jambang, kumis dan janggut yang pendek tetapi tebal, melangkah mendekati keduanya. Bajunya yang terbuka memperlihatkan dadanya yang ditumbuhi bulu-bulu yang lebat. Sebuah luka goresan menyilang di antara bulu-bulu dadanya itu. Dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan seorang yang berjualan makanan dan minuman, orang itu bertanya, “Kalian mau minum dan makan apa?” Agung Sedayu menarik nafas panjang. Digamitnya Glagah Putih yang hampir saja bangkit. Anak itu nampak tersinggung melihat sikap penjual di kedai itu. Agung Sedayu-lah yang kemudian menjawab, “Kami minta wedang sere saja Ki Sanak. Kemudian nasi dua mangkuk.” Orang itu tidak menjawab. Iapun kemudian menuang wedang sere ke dalam dua buah mangkuk. Menyenduk nasi, dengan sayur lodeh kluwih dan sepotong ikan ayam, dan sebungkus bothok mlandingan. Tanpa berkata apa-apa pula, orang itu menyodorkan pesanan itu kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih. “Minum dan makanlah,“ desis Agung Sedayu kepada Glagah Putih, yang menjadi semakin tidak senang terhadap sikap penjual di kedai itu. Tetapi ia tidak membantah. Sebagaimana Agung Sedayu, Glagah Putih pun menghirup minumannya. Wedang sere dan gula kelapa, sehingga tubuh Glagah Putih menjadi semakin segar. Namun ketika Glagah Putih akan mulai makan nasi dengan sayur lodehnya, Agung Sedayu memegang pergelangan tangan Glagah Putih. “Kau tidak usah makan. Biar aku saja yang makan,“ bisik Agung Sedayu. Glagah Putih mengerutkan dahinya. Ketika ia memandang wajah Agung Sedayu, Agung Sedayu itu mengangguk kecil. Glagah Putih pun segera tanggap. Tentu ada sesuatu yang gawat, sehingga kakak sepupunya itu melarangnya makan. Yang segera terkilas di kepalanya adalah racun. Nasi itu tentu mengandung racun, sementara kakak sepupunya itu tawar akan segala macam racun dan bisa. Pemilik kedai yang bertubuh tegap gelisah karena Glagah Putih tidak ikut makan nasi lodeh yang telah dihidangkan. Karena itu, orang itu pun kemudian melangkah medekati Glagah Putih sambil bertanya, “Kenapa kau tidak makan Anak Muda?” “Aku masih kenyang, Ki Sanak,“ jawab Glagah Putih. “Tetapi kenapa kalian memesan dua mangkuk nasi, jika kau masih kenyang?” “Kakakku ini terbiasa makan terlalu banyak. Ia akan menghabiskan dua mangkuk nasi dengan sayur lodeh itu.” “Kau jangan menyinggung perasaanku. Masakan kami sudah terkenal di seluruh daerah ini. Jika kau tidak mau makan, maka kau telah menghina kami.” “Maaf, Ki Sanak. Aku memang tidak lapar.” Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun seseorang yang ada di kedai itu memberinya isyarat untuk mendekat. Orang bertubuh tegap dan berdada bidang dengan bulu-bulu lebat di dadanya itu pun mendekati orang yang memanggilnya itu. Agung Sedayu yang curiga segera mengetrapkan ilmunya Sapta Pangrungu, sehingga ia dapat mendengar pembicaraan orang-orang itu, meskipun diucapkan sangat perlahan-lahan. Seorang yang berwajah gelap berdesis lemah, “Biarkan saja. Jika yang seorang mati, anak itu tidak akan berdaya.” Namun seorang yang lain berdesis, “Kita juga tidak yakin keduanya membawa barang-barang berharga. Apa yang ada pada mereka, tidak cukup untuk mengupah menggali dua lubang kubur.” Mereka pun kemudian terdiam. Sementara orang yang bertubuh tegap dan berdada bidang itu kembali ke tempatnya tanpa bertanya apa-apa lagi kepada Glagah Putih. Sementara itu Agung Sedayu telah selesai makan. Ia sadar sepenuhnya, bahwa nasi itu memang mengandung racun. Namun kekebalan tubuhnya terhadap racun dapat mengatasinya, sehingga racun itu sama sekali tidak menimbulkan akibat apapun bagi tubuhnya. Meskipun demikian, Agung Sedayu dan Glagah Putih harus semakin berhati-hati. Jika racun itu tidak berhasil membunuh mereka, maka orang-orang itu tentu akan mempergunakan kekerasan untuk membunuh keduanya. Dalam pada itu, Agung Sedayu pun telah selesai makan. Tetapi masih ada semangkuk nasi yang belum dimakan. Semangkuk nasi yang seharusnya dipesan bagi Glagah Putih. Orang-orang lain yang ada di kedai itu mulai menjadi gelisah. Orang yang makan dan menghabiskan semangkuk nasi itu masih tetap duduk di tempatnya. Ketika ia meneguk wedang serenya, ia masih tetap kelihatan segar. Racun yang tertelan bersama nasi yang dihidangkannya, nampaknya masih belum berpengaruh atasnya. Pemilik kedai itu mulai berkeringat. Sementara itu Agung Sedayu dan Glagah Putih seakan-akan tidak menghiraukan penjual nasi dan orang-orang lain yang ada di kedai itu. Beberapa saat kemudian, Agung Sedayu pun berkata, “Ternyata aku tidak dapat menghabiskan dua mangkuk nasi ini. Ketika aku memesan dua mangkuk, aku kira setiap mangkuk nasi tidak sebanyak ini.” Penjual nasi itu tidak sabar lagi. Racun di nasi yang dihidangkan ternyata tidak membunuh orang itu. Meski pun demikian orang itu sempat menjadi ragu. Tetapi ia merasa yakin bahwa ia sudah menaburkan racun itu di atas nasi sebelum diberinya sayur lodeh dan lauk-pauknya. “Apakah orang ini kebal racun?” orang itu bertanya kepada diri sendiri. Tetapi ia mempunyai alasan untuk memulai dengan pertengkaran. Karena itu, maka iapun melangkah mendekati Agung Sedayu dan Glagah Putih. Dengan kasar ia berkata, “Kalian atau salah seorang dari kalian harus menelan nasi yang sudah kalian pesan.” “Bukankah itu tidak perlu, Ki Sanak?“ jawab Agung Sedayu. “Tetapi aku akan menderita rugi. Jika kalian tidak makan nasi itu, lalu buat apa?” “Jangan merasa dirugikan. Aku akan membayar harganya,“ jawab Agung Sedayu pula. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kalian sudah menghina kami. Sudah aku katakan, bahwa masakanku dan istriku telah dikenal di daerah ini. Jika kalian memesannya dan tidak memakannya, itu berarti bahwa kalian telah merendahkan kemampuan kami.” “Ki Sanak. Aku bukannya baru sekali ini masuk ke dalam sebuah kedai. Tetapi aku tidak pernah mengalami perlakuan seperu ini,“ berkata Agung Sedayu. “Aku tidak peduli. Tetapi aku benar-benar merasa tersinggung dengan tingkah laku kalian.” “Sudahlan. Jangan berputar-putar. Apa sebenarnya yang kalian kehendaki?” Wajah orang itu menjadi tegang, sementara Agung Sedayu berkata selanjutnya, “Kau tentu mempunyai maksud buruk terhadap kami. Bahkan mungkin terhadap banyak orang yang telah singgah di kedaimu ini. Mungkin di belakang kedai ini terdapat sebuah kuburan yang luas tanpa pertanda apapun juga. Orang-orang yang mati karena kau racun, akan kau kubur di belakang kedai ini, atau di tempat lain yang jarang dikunjungi orang.” “Setan kau. Apa yang kau bicarakan itu?“ geram orang bertubuh tegap dan berbulu di dadanya itu. “Kita bukan anak-anak lagi. Buat apa kita harus berpura-pura? Katakan saja bahwa kau telah meracun kami berdua. Agaknya kau mempergunakan kesempatan selagi tatanan kehidupan belum mapan setelah terjadi perang. Mungkin kau berpikir, bahwa membunuh dalam suasana seperti ini sekedar untuk mendapatkan timang emas atau perak, pendok keris atau apapun juga, tidak akan ada yang mengurus, apalagi menangkap dan menghukum.” “Cukup,” orang yang semula duduk di kedai itu pun bangkit berdiri. Tiga orang yang garang. Wajah-wajah mereka geram memandang Agung Sedayu dan Glagah Putih. “Serahkan semua kekayaan yang ada padamu. Timang dan mungkin uang, cincin yang kau pakai dan segalanya.” Agung Sedayu itu pun menjawab sambil menjulurkan tangannya, “Nah, kau lihat. Aku tidak mengenakan cincin. Adikku juga tidak. Timang di ikat pinggangku pun tidak terbuat dari perak, apalagi emas. Timangku terbuat dari tembaga. Buatannya pun keras. Uang, aku hanya membawa secukupnya. Barangkali hanya cukup untuk membayar nasi dan minuman yang kami pesan, meskipun kau bubuhi racun di atasnya.” “Aku tidak peduli. Tetapi kau sudah mengetahui apa yang kami lakukan di sini. Karena itu, kau dan adikmu akan mati. Kalian akan aku kubur di belakang kedai ini. Meskipun kau tidak mempunyai barang-barang berharga, tetapi kau tidak boleh meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, karena mulutmu akan berbicara kepada banyak orang tentang kedai kami ini.” “Ki Sanak,“ berkata Agung Sedayu, “biarlah kami pergi. Kami berjanji bahwa kami tidak akan mengatakan apapun juga tentang kedai ini.” “Tidak,“ geram salah seorang di antara mereka, “satu-satunya kemungkinan terbaik bagi kalian adalah menyerahkan leher kalian. Karena dengan demikian, kalian akan dengan cepat mati. Tetapi jika kalian berusaha untuk melawan, maka kalian akan memperpanjang kesengsaraan kematian kalian.” “Kami adalah pengembara yang sudah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan seperti ini. Karena itu, jangan berharap bahwa kami akan menyerah,“ jawab Agung Sedayu. Keempat orang itu nampaknya tidak sabar lagi. Ketika keempatnya melangkah mendekat, maka Agung Sedaya dan Glagah Putih pun segera mengambil jarak di atara amben-amben bambu yang ada. bersambung

api di bukit menoreh 290